Connect with us

Kabar

“Kitab Omon-omon” Terbit di Yogya

Published

on

Istilah “omon-omon” viral di media sosial usai capres nomor urut 2, Prabowo Subianto, mengucapkannya dalam Debat Capres 2024. Jika merujuk pada penggunaannya dalam sebuah kalimat, omon-omon artinya omong-omong. Ini merupakan kata plesetan dari “omong-omong” yang berarti hanya omongan saja.

Lantas, bagaimana asal-usul lahirnya “Kitab Omon-omon” di Yogyakarta?

Begini. Bermula dari gagasan menerbitkan antologi puisi karya penyair dari berbagai kota di Indonesia. Saat itu, Tri Agus Susanto Siswowijarjo, pengajar Program Jurusan Komunikasi STPMN (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogya, mengusulkan tema “Humor Politik”.

Lalu, terkumpullah 100-an puisi. Komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP) dan STPMD sebagai penerbit, menjudulinya “Kitab Omon-omon”.

Kitab itu akan diluncurkan pada kegiatan Sastra Bulan Purnama edisi 170, Sabtu (22/11/2025) di aula STPMD ‘APMD’ Jl. Timoho, Baciro, Yogyakarta. Turut mendukung acara itu, Abidin Fikiri Pandjialam Foundation.

Dari 100-an penyair yang puisinya masuk dalam ‘Kitab Omon-Omon’ tidak semua bisa hadir. Yang hadir kurang lebih 20-an penyair. Mereka di antaranya: Yonas Suharyono (Cilacap), Lebe (Brebes), Yovi Tiptony (Cilacap), Ag. Andoyo Sulyantoro (Purbalingga), Acep Syahril (Indramayu), Selsa (Temanggung), Mulyadi J. Amalik (Surabaya), Toto S.Radik (Serang), Fajrul Alam (Purwokerto), Indri Kartika Putri (Magelang), Sabatina, Yuliani Kumudaswari, Purwanti, Heru Marwata, Mustofa W. Hasyim, Marwanto, Enes Pribadi, Dalle Dalminto, Afnan Malay, Sutirman Eka Ardhana (Yogyakarta), Yogira Yogaswara (Bandung), dan beberapa nama lain.

Menurut Tri Agus Siswowiharjo, humor dalam politik seringkali menjadi momen yang paling diingat oleh publik. Di media sosial, potongan video yang menampilkan politisi melontarkan lelucon sering kali menjadi viral, menarik perhatian jutaan warganet.

“Momen-momen ini memperkuat citra politisi sebagai sosok yang menyenangkan. Dengan bantuan humor, politisi berhasil menciptakan hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat, membuat publik merasa lebih dekat dan mendukung mereka dengan lebih antusias,” ujar Tri Agus Susanto Siswowiharjo.

Sementara itu, Abidin Fikri, Anggota DPR RI dan Ketua Abidin Fikri Pandjialam Foundation menyampaikan, bahwa ruang politik tidak pernah sepi dari humor. Dalam ketegangan, seringkali muncul celetukan jenaka, sehingga suasana kembali akrab.

“Politik tidak alergi terhadap humor. Ada banyak politisi yang sering menampilkan humor, bahkan sindiran, sehingga kualitas humornya tidak kosong atau konyol. Melalui puisi, para penyair mengajak humor kepada politisi. Bagi saya ini menyenangkan,” kata Abidin Fikri.

Di tempat terpisah, Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro mengatakan, menulis puisi humor tidak gampang. Mungkin lebih mudah menulis puisi bertema kritik sosial. Bahkan, sekalipun diniatkan menulis puisi humor politik, tetap saja bobot kritik sosialnya lebih tebal ketimbang humornya.

“Namun, dalam puisi kritik sosial tersebut, kita tetap bisa tersenyum dan tertaawa, meskipun tidak harus terpingkal-pingkal,” ujar Ons Untoro.

Penyair yang puisinya masuk dalam ‘Kitab Omon-Omon’ berasal dari berbagai kota di Indonesia: Jakarta, Bekasi, Serang, Bandung, Bogor, Majalengka, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Purwokerto, Cilacap, Purworejo,Yogyakarta, Magelang, Temanggung, Demak, Solo, Sragen, Sidoarjo, Madiun, Surabaya, Malang, Madura. Bali, Pekanbaru, Lampung, dan sejumlah kota lain. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement