• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Thursday, October 1, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

“Kitab Omon-omon” Terbit di Yogya

“Kitab Omon-omon” Terbit di Yogya

admin by admin
November 16, 2025
in Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Istilah “omon-omon” viral di media sosial usai capres nomor urut 2, Prabowo Subianto, mengucapkannya dalam Debat Capres 2024. Jika merujuk pada penggunaannya dalam sebuah kalimat, omon-omon artinya omong-omong. Ini merupakan kata plesetan dari “omong-omong” yang berarti hanya omongan saja.

Lantas, bagaimana asal-usul lahirnya “Kitab Omon-omon” di Yogyakarta?

Begini. Bermula dari gagasan menerbitkan antologi puisi karya penyair dari berbagai kota di Indonesia. Saat itu, Tri Agus Susanto Siswowijarjo, pengajar Program Jurusan Komunikasi STPMN (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogya, mengusulkan tema “Humor Politik”.

Lalu, terkumpullah 100-an puisi. Komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP) dan STPMD sebagai penerbit, menjudulinya “Kitab Omon-omon”.

Kitab itu akan diluncurkan pada kegiatan Sastra Bulan Purnama edisi 170, Sabtu (22/11/2025) di aula STPMD ‘APMD’ Jl. Timoho, Baciro, Yogyakarta. Turut mendukung acara itu, Abidin Fikiri Pandjialam Foundation.

Dari 100-an penyair yang puisinya masuk dalam ‘Kitab Omon-Omon’ tidak semua bisa hadir. Yang hadir kurang lebih 20-an penyair. Mereka di antaranya: Yonas Suharyono (Cilacap), Lebe (Brebes), Yovi Tiptony (Cilacap), Ag. Andoyo Sulyantoro (Purbalingga), Acep Syahril (Indramayu), Selsa (Temanggung), Mulyadi J. Amalik (Surabaya), Toto S.Radik (Serang), Fajrul Alam (Purwokerto), Indri Kartika Putri (Magelang), Sabatina, Yuliani Kumudaswari, Purwanti, Heru Marwata, Mustofa W. Hasyim, Marwanto, Enes Pribadi, Dalle Dalminto, Afnan Malay, Sutirman Eka Ardhana (Yogyakarta), Yogira Yogaswara (Bandung), dan beberapa nama lain.

Menurut Tri Agus Siswowiharjo, humor dalam politik seringkali menjadi momen yang paling diingat oleh publik. Di media sosial, potongan video yang menampilkan politisi melontarkan lelucon sering kali menjadi viral, menarik perhatian jutaan warganet.

“Momen-momen ini memperkuat citra politisi sebagai sosok yang menyenangkan. Dengan bantuan humor, politisi berhasil menciptakan hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat, membuat publik merasa lebih dekat dan mendukung mereka dengan lebih antusias,” ujar Tri Agus Susanto Siswowiharjo.

Sementara itu, Abidin Fikri, Anggota DPR RI dan Ketua Abidin Fikri Pandjialam Foundation menyampaikan, bahwa ruang politik tidak pernah sepi dari humor. Dalam ketegangan, seringkali muncul celetukan jenaka, sehingga suasana kembali akrab.

“Politik tidak alergi terhadap humor. Ada banyak politisi yang sering menampilkan humor, bahkan sindiran, sehingga kualitas humornya tidak kosong atau konyol. Melalui puisi, para penyair mengajak humor kepada politisi. Bagi saya ini menyenangkan,” kata Abidin Fikri.

Di tempat terpisah, Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro mengatakan, menulis puisi humor tidak gampang. Mungkin lebih mudah menulis puisi bertema kritik sosial. Bahkan, sekalipun diniatkan menulis puisi humor politik, tetap saja bobot kritik sosialnya lebih tebal ketimbang humornya.

“Namun, dalam puisi kritik sosial tersebut, kita tetap bisa tersenyum dan tertaawa, meskipun tidak harus terpingkal-pingkal,” ujar Ons Untoro.

Penyair yang puisinya masuk dalam ‘Kitab Omon-Omon’ berasal dari berbagai kota di Indonesia: Jakarta, Bekasi, Serang, Bandung, Bogor, Majalengka, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Purwokerto, Cilacap, Purworejo,Yogyakarta, Magelang, Temanggung, Demak, Solo, Sragen, Sidoarjo, Madiun, Surabaya, Malang, Madura. Bali, Pekanbaru, Lampung, dan sejumlah kota lain. (*)

Previous Post

Warisan Budaya Mitos Bocah Bajang

Next Post

Lentera dari Tanah Manusia

admin

admin

Next Post
Lentera dari Tanah Manusia

Lentera dari Tanah Manusia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version