Tides, Selamat Jalan Maecenas Wartawan Indonesia

 Tides, Selamat Jalan Maecenas Wartawan Indonesia
Foto kenangan saat wartawan senior Aristides Katoppo menerima buku bertajuk “Tides Masih Mengembara”, sebuah hadiah istimewa dari Sasmiyarsi Sasmoyo (Mimis), yang telah mendampinginya selama 27 tahun.[ Foto: Jakayakarta News/Courtesy SHNet/whm]

JAYAKARTA NEWS – Mungkin Tides tidak lebih hebat sebagai wartawan dibanding senior-senior wartawan lainnya. Tapi kehebatannya adalah membimbing dan memberi kesempatan kepada yunior-yuniornya. Saya salah satu diantaranya.

Ketika lepas dari redaktur majalah Gadis saya dia rekrut jadi stringer di Sinar Harapan (kemudian pecah, yang satunya menjadi Suara Pembaruan). Sebagai stringer saya bebas menulis apa saja. Termasuk membuat berita dari hasil bikin survei-survey sendiri.

Rasanya pada tahun 1980an SH lah media pertama yng menulis berdasar survei sendiri. Pada saat itu saya diberi label tidak resmi “associate editor” dan oleh Tides di attached ke redaktur nasional (alm) Agnes Samsuri dan Suryohadi.

Karena kedekatan dengan Tides bukan lagi sekadar “kawan gunung” tapi profesional, banyak yang iri bin dengki. Saat itu power Tides luar biasa untuk ukuran wartawan seperti kami.

Ia bisa meng endorse proposal anggaran “jalan-jalan” kami anak-anak gunung. Generasi Tides bukan climbers (pemanjat tebing), karena saat itu teknik climbing belum dikenal ( dan baru kemudian diperkenalkan oleh Harry Suliztiarso). Jadi kami yang trekkers ini bisa jalan-jalan ke seluruh Indonesia dibiayai Tides. Lebih tepatnya SH.

Hermawan Sulistyo, “cantrik” dan sahabat Tides.

Ketika tabloid keluarga Mutiara sebagai lampiran SH kembang kempis saya di-BKO-kan ke Mutiara, yang waktu itu Pemrednya Bondan Winarno (terkenal sabagai host kuliner yang mempopulerkan “mak nyus”). Agnes pun pindah ke Mutiara.

Segera saya ubah pendekatan Mutiara lebih saintifik. Pertama kali ada media massa umum yang mencantumkan sumber kepustakaan dalam tulisan-tulisannya. Dan laku.

Saya dan Agnes, seijin Tides, melakukan perubahan radikal. Captive market ingin saya bentuk, yaitu KIR. Kelompok Ilmiah Remaja yang saya bina lewat LIPI.

Alokasi 16 halaman. Karena saya anak gunung, dan isu-isu pencinta alam bisa memikat sasaran pembaca Mutiara, maka alokasi halaman saya bagi dua. KIR untuk kelompok ilmiah remaja dan Kaonak untuk pecinta alam.

Saya lalu minta Norman Edwin mengelola Kaonak, karena dia lebih aktif di kegiatan-kegiatan Pecinta Alam. Norman kemudian beken karena tulian-tulisannya tentang PA. Ia meninggal di Aconcagua dalam proyek Seven Summit.

Mutiara kemudian menjadi wahana saya untuk mendidik calon-calon wartawan dan penulis.

Mereka datang karena butuh uang honor tulisan, butuh pengalaman menulis di ruang publik, dan butuh eksistensi. Saya gunakan pola yang diterapkan Tides kepada saya.

Banyak diantara alumni Mutiara yang menjadi wartawan dan penulis hebat. Tidak etis kalau disebut namanya. Karena sebagian orang tidak ingin mengakui orang-orabf yang telah berjasa pada masa lampau.

Pada 1980an saya minta Tides menulis rekomendasi untuk mendapat beasiswa Fulbright ke AS. Sepulang dari studi, dia panggil saya untuk memimpin majalah TSM (Teknologi dan Strategi Militer) selama dua tahun. Posisi yg memaksa untuk jadi ahli militer.

Dua tahun kemudian saya pamitan ke Tides. Ingin meneruskan studi doktor kembali di US. Dia marah dan kami berantem cukup lama. Dia bilang, cukup Masters saja. Kamu say adidik ini untuk menjadi investigative reporter. Bukan jadi ilmuwan. Saya bersikukuh tetap ingin jadi ilmuwan. Akhirnya Tides menyerah.

Selesai studi saya memilih pulang ketimbang jadi profesor di States. Langsung terlibat dalam gerakan pro Reformasi menumbangkan Soeharto.

Tides panggil saya. Kikiek, saya mau minta maaf. For what? Saya bingung kenapa ini. Dia bilang menyesal dulu melarang saya mengambil PhD.

Sportivitas demikian juga ciri karakter Tides. Padahal sy sudah lupa peristiwa itu. Ciri khasnya yg lain. Saya hampir tidak pernah lihat Tides memakai sepatu, kecuali saat acara resmi. Kebiasaan yang saya ikuti. Sampai sekarang.

Semua itu tidak mungkin saya capai tanpa bantuan dan back up Tides. Orang yang melawan kemapanan dan tidak mau kompromi dan menyerah kalau urusan prinsip.

Orang yg tidak suka formalitas. Semua temannya hanya memanggil nama Tides. Anak-anaknya pun hanya memanggil Tides.

Tides. Tides. Selamat jalan. Maecenas wartawan Indonesia. Beritahu para malaikat supaya mengajari kaum intoleran tidak menulis berita-berita hoax lagi.

Hermawan “Kikiek” Sulistyo

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *