Ki Seno Nugroho Wafat, Seniman Besar Mangkat

 Ki Seno Nugroho Wafat, Seniman Besar Mangkat

Ki Seno Nugroho. (foto: Facebook)

Catatan Roso Daras

JAYAKARTA NEWS – Satu lagi seniman besar wafat. Dalang kondang asal Yogyakarta, Ki Seno Nugroho, meninggal dunia Selasa (3/11/2020) sekitar pukul 22.00 WIB di RS PKU Gamping, Sleman, Yogyakarta. Berita meninggalnya Ki Seno Nugroho tersebar di media sosial sekitar pukul 23.00 WIB.

Konfirmasi wafatnya Ki Seno akhirnya saya dapat dari dua sumber valid. Yang pertama dari Gunawan, admin Ki Seno Nugroho yang mengonfirmasi pertanyaan saya lewat whatsapp. Kedua, dari akun YouTube Gatot Jatayu yang melaporkan melalui live streaming langsung dari kediaman almarhum di Sedayu, Bantul, Yogyakarta sekitar pukul 00.10 WIB (4/11/2020).

Para wiyogo (penabuh gamelan) Wargo Laras tampak mulai berdatangan di rumah duka sambil menunggu kedatangan jenazah. Selain keluarga besar Wargo Laras, juga hadir para dalang Yogyakarta, serta “sobat ngebyar”, pecinta seni wayang, khususnya penggemar Ki Seno Nugroho.

Foto terakhir Ki Seno saat bersepeda.

Dalam laporan tersebut, Gatot menjelaskan bahwa sore hari sekitar pukul 16.00 Ki Seno bersepeda. Dilaporkan pula, beberapa waktu terakhir, Ki Seno ini rajin bersepeda. Namun sore itu, sekitar pukul 17.00 WIB, almarhum menelepon Agnes, istrinya, minta dijemput memakai mobil.

Setiba di rumah, Ki Seno mengeluh kurang enak badan. Pukul 19.00 WIB, minta diantar ke rumah sakit. Agnes pun mengantar ke RS PKU Gamping. Sekitar pukul 22.00 WIB didapat berita duka bahwa Ki Seno Nugroho wafat.

Gatot melaporkan, dalam beberapa hari terakhir, sama sekali tidak ada keluhan sakit yang dirasakan. Termasuk, tidak ada tanda-tanda atau isyarat kepergian Ki Seno. Tak heran jika semua kerabat dekat, semua “sobat ngebyar” begitu tersentak, kaget, dan sangat berduka. Namun beberapa bulan lalu, ia sempat mendapat serangan jantung. Dan sejak itu pula, ia –antara lain—mengurangi merokok.

“Ini saya berada di kediaman Ki Seno Nugroho. Di sana tampak pendopo yang biasa digunakan untuk pertunjukan climen. Wayang-wayang sudah dikukut dan disimpan. Kelir juga sudah digulung. Perangkat gamelan sudah disimpan. Di pendopo ini nanti jenazah Ki Seno disemayamkan,” kata Gatot, mantan sopir yang sudah menjadi “saudara” Ki Seno Nugroho.

Di antara keluarga Wargo Laras, tampak penggender Ki Geter. Ia termasuk salah satu penabuh gamelan yang sudah sangat lama mengiringi Ki Seno. Ketika Gatot memintanya berbicara dalam siaran langsung Gatot Jatayu, Ki Geter Pramudji Widodo tampak sangat terpukul. Matanya masih sembab.

Tak kuasa berkata-kata, Ki Geter hanya mengatakan, “Mohon dimaafkan semua kesalahan Ki Seno. Beliau saestu piyantun ingkang sae. Kulo mboten saget ngucap….,” kata Ki Geter tak kuasa menahan rasa dukanya. Katanya, Ki Seno orang yang benar-benar baik (hati).

Jenazah Ki Seno Nugroho tiba di rumah duka sekitar pukul 02.00 dinihari (04/11/2020). Setelah disemayamkan di pendopo, para pelayat pun menggelar shalat jenazah. (foto: YouTube Gatot Jatayu)

Anggota Wargo Laras lain, Sumantri juga tampak ada. Ia adalah penabuh kendang andalan Ki Seno, dan termasuk yang sudah sangat lama bersahabat dan mengiringi Ki Seno mendalang. Ia pun tak kuasa berbicara, kecuali ekspresi duka yang sangat dalam. Demikian pula kru Wargo Laras lainnya.

Jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 02.00 dinihari (04/11/2020). Ratusan warga setia menanti di rumah duka. Jenazah disemayamkan di pendopo, tempat Ki Seno biasa mendalang climen. Para pelayat pun melakukan shalat jenazah. Sementara, masyarakat terus berdatangan untuk memberi doa dan penghormatan terakhir kepada dalang kesayangan.

Tentang Ki Seno

Ki Seno Nugroho lahir di Yogyakarta, 23 Agustus 1972, dikenal secara luas sebagai dalang melalui pergelaran wayang kulit yang memadukan antara gagrag Surakarta dan Yogyakarta. Kekhasan lain yang membuatnya terkenal adalah saat menampilkan panakawan (Semar, Garèng, Pétruk, Bagong) dengan guyonan spontan, kontekstual, aktual, dan lucu. Selain mendalang di Indonesia, Seno Nugroho juga pernah diundang tampil di negara Belanda, Belgia, dan sejumlah negara lain.

Seno kenal dunia pedalangan sejak 10 tahun, dan mengawali kariernya sebagai dalang pada usia 15 tahun, saat masih duduk di Sekolah Menengah Kesenian Yogyakarta. Kekagumannya terhadap sosok Ki Manteb Soedharsono yang membuat dia tertarik pada pedalangan dan terus menggelutinya.

Ki Suparman (alm), ayahanda Ki Seno Nugroho.

Ayahnya, Ki Suparman, adalah salah satu dalang kondang Yogyakarta yang cukup disegani di kalangan para dalang, baik dalang Yogyakarta maupun Surakarta. Almarhum Ki Suparman pun menggadang-gadang putranya, Seno, menjadi dalang. Karenanya, Seno kecil sering diajak ke mana pun Ki Suparman mendalang.

Seno sendiri pernah mengaku, awalnya tidak terlalu tertarik mendalang. Karenanya, setiap diajak ayahnya mendalang, ia tak jarang duduk memunggungi kelir tempat pertunjukan wayang dimainkan ayahnya. Toh, Ki Suparman tak kurang gigih. Ia memasukkan Seno ke SMKI Pedalangan.

Hati Ki Suparman begitu “bungah” manakala melihat anaknya sudah mulai (mau) mendalang. Bisa dipastikan, perasaan Ki Suparman terhadap Ki Seno Nugroho, sama seperti perasaan Ki Seno Nugroho saat melihat putra kesayangannya, Gading Pawukir sudah menampakkan ketertarikannya terpadap seni pedalangan.

Bahkan, saat ulang tahun Ki Seno Nugroho 23 Agustus 2020 lalu, putranya memberinya hadiah terindah dalam hidup Ki Seno. Hadiah berupa pertunjukan wayang oleh “Ki Gading Pawukir”.

Gading Pawukir, calon penerus Ki Seno Nugroho, memberi kejutan “mendalang” saat ultah ayahnya. (foto: YouTube Dalang Seno)

Hari itu, hari Sabtu tanggal 22 Agustus 2020. Ki Seno Nugroho  mendapat tanggapan wayang climen. Seperti biasa, wayang climen dimulai sekitar pukul 21.00 sampai 23.00. Menjelang akhir pertunjukan, diam-diam Gading dan anak angkat Ki Seno yang bernama Nizar, didandani dandanan surjan dan blangkon dalang oleh Agnes, sang ibu.

Ya, istri dan anak Ki Seno rupanya tengah mempersiapkan “kado terindah” untuk ayahandanya. Kado terindah sekaligus kado kejutan.

Singkat cerita, pertunjukan climen Ki Seno Nugroho usai sudah. Seperti biasa, lepas pertunjukan, Ki Seno sebentar akan ngobrol dengan kru Wargo Laras dan para sinden. Setelah itu, masuk kamar untuk ganti pakaian dan istirahat.

Nah, saat Ki Seno masuk kamar hendak istirahat, lamat-lamat ia mendengar suara gamelan. Antara percaya dan tidak percaya, Ki Seno masih menduga-duga. “Siapa mereka tengah malam main gamelan?”

Kecamuk pikir yang lain berkata, “Wayang climen sudah selesai kok masih nabuh gamelan?”

Suara hati menimpali, “Apa teman-teman Wargo Laras sedang latihan? Tapi mengapa latihan tengah malam?”

Belum pupus kecamuk di pikirnya, Agnes tercinta masuk kamar. Pelan ia menggandeng tangan suaminya kembali ke pendopo yang belum lama ditinggalkannya, usai mendalang tadi.

Seno mencium Agnes istrinya, yang telah merancang kado ulang tahun terindah dalam hidup Ki Seno Nugroho. (foto: YouTube Dalang Seno)
Dalang Seno (kanan) usai potong tumpeng. Di depannya adalah istri dan anak-anaknya: Kinan (paling kiri), Nizar (paling kanan), Gading (kedua dari kanan), dan Jenar (kedua dari kiri). (foto: YouTube Dalang Seno)

Ki Seno terbelalak demi melihat putra tercinta Gading Pawukir sedang mendalang, dengan iringan lengkap kru Wargo Laras dengan dengan para sinden (yang ternyata belum pulang). Gading memainkan petikan wayang bersama anak angkat Ki Seno yang bernama Nizar, secara bergantian.

Keseluruhan pertunjukan Gading kurang dari setengah jam. Jarum jam sudah menunjuk pukul 00.00, dan sedetik kemudian bergulir hari ke tanggal 23 Agustus 2020, tanggal ulang tahun ki Seno Nugroho.

Gamelan pun melantunkan irama lagu Ulang Tahun. Admin Gunawan dan staf diiring Agnes, putri sulung Kinan, putri bungsu Jenar, dan beberapa kru, membawa tumpeng. Sebagian lain membawa tart dengan lilin menyala.

Saat itu Ki Seno tak kuasa menyembunyikan rasa bahagia sekaligus haru. Ia mendekap Gading dari belakang, mencium dan menangis. Tangisan bahagia seorang bapak demi melihat putra tersayang yang sudah siap mengambil estafet pedalangan dari tangannya, kelak.

Kelak.

Bukan hari kemarin atau hari ini.

Pelopor Streaming

Tak dipungkiri bahwa saat ini Ki Seno adalah dalang paling fenomenal di Tanah Air. Dia pula yang menjadi pelopor tayangan live streaming melalui YouTube. Dalam setiap pergelaran, jumlah viewer bisa belasan bahkan puluhan ribu penonton.

Siaran langsung mereka lakukan dengan peralatan yang sangat sederhana. Diawali dengan berbagai kendala. Kini, orang-orang yang berjasa saat pertama mengunggah video Ki Seno di YouTube dan kru lain, masih setia mengawal akun YouTube Ki Seno Nugroho. Dengan viewer dan subsrciber yang begitu besar, pundi-pundi adsense sudah mengalir.

Sebagian kru streaming Dalang Seno. (foto: YouTube Gatot Jatayu)

Tak heran jika saat ini, tim kru streaming dalang Seno sudah memilik peralatan lengkap dan canggih. Kinerja mereka tak ubahnya dalang, wiyogo (penabuh gamelan), maupun para sinden dan kru lain. Saat Ki Seno mendalang ke berbagai daerah, dalam hitungan frekuensi yang nyaris setiap hari (sebelum pandemi), tim streaming juga ikut serta.

Seketika pula, terbentuk organisasi pecinta Ki Seno yang dinamakan PWKS (Penggemar Wayang Ki Seno). PWKS kemudian bermunculan di berbagai kota, tidak saja di Jawa bahkan hingga ke luar Jawa. Akun Facebook PWKS beranggotakan lebih dari 50.000 Facebooker. Hingga berita ini ditulis, sudah ratusan ucapan bela sungkawa dari para Sobat Ngebyar, julukan penggemar Ki Seno. Dipastikan, aliran ucapan duka cita masih akan terus mengular.

Garis Tengah

Kepiawaian Ki Seno Nugroho tidak saja diakui para pecinta wayang kulit, tetapi juga oleh para dalang. Termasuk Ki Manteb Sudharsono, yang oleh Ki Seno disebut-sebut sebagai guru sekaligus idolanya.

Dalam membawakan pakem pakeliran (seni pedalangan), Seno mengambil garis tengah. Ia tidak mau berkiblat ke Surakarta atau Yogyakarta. Ia ada di tengah. Bahkan, Ki Seno satu-satunya dalang yang tidak tabu menjejak kecrekan (logam yang disusun dan dibunyikan dengan kayu cempolo) Solo, meski ia berasal dari Yogyakarta.

Kecrek wayang Solo, efek bunyinya crek-crek-crek. Sedangkan kecrekan Yogyakarta lebih nyaring, kling-kling-kling. Jika ia ditanggap mendalang di wilayah Solo dan sekitarnya, tak jarang penanggap meminta Ki Seno memakai “gaya Solo”, dan ia pun menyanggupi dengan menjejak kecrek gaya Solo. Dalam banyak kesempatan mendalang pula, Seno mengaku berdarah Klaten (aliran pedalangan gaya Solo) dari kakek buyutnya.

Dalam menjalin kekerabatan, Ki Seno rajin beranjangsana ke dalang-dalang Solo. Persis seperti yang dilakukan almarhum ayahnya, Ki Suparman dulu. Ki Suparman termasuk yang rutin menyambangi teman-teman sesama dalang di Solo.

Termasuk Ki Seno kemudian berguru secara khusus kepada Ki Manteb Sudharsono. Tentang ini, Ki Suparman pernah “pasrah bongkokan” (menyerahkan bulat-bulat) anaknya (Seno) untuk dididik oleh Ki Manteb, sahabatnya. Tidak heran jika sabetan Ki Seno banyak memakai trik-trik Ki Manteb yang atraktif. Bahkan kemudian dikembangkan lebih menarik.

Jika Anda bertanya, dalam hal apa Ki Seno memiliki kelebihan sebagai seorang dalang dengan penggemar terbanyak saat ini? Tanpa ragu saya mengatakan, kelebihan utama Ki Seno adalah pada kecakapannya merasuk ke dalam semua tokoh wayang yang dimainkannya lengkap dengan karakter suara yang berbeda dan khas. Kecakapan itu membuat semua tokoh wayang yang dimainkannya menjadi hidup. Sangat hidup. Dan berkarakter.

Bukan hanya itu. Dalang Seno juga piawai memainkan dialog cepat dengan karakter suara yang berbeda-beda. Seperti misalnya, saat tiga punokawan yang biasa muncul saat adegan Goro-goro: Gareng-Petruk-Bagong. Tiga punokawan lucu dengan karakter suara berbeda-beda, oleh Seno bisa dimainkan dalam rangkaian dialog lucu dengan perpindahan yang cepat.

Secepat itu ia bisa mengubah suara dari Petruk ke Gareng, dari Gareng ke Bagong, dari Bagong ke Petruk. Dan itu ia lakukan melalui dialog lucu (dagelan) yang cepat dan sahut-menyahut. Jika Anda mendengar sambil menutup mata, atau memalingkan pandang dari kelir, maka Anda seolah sedang mendengarkan “tiga orang” sedang melawak dengan tiga karakter berbeda.

Unjuk kebolehan dialog yang menonjolkan karakter suara berbeda, sering juga ia pertontonkan saat kemunculan dua tokoh punokawan lain, yakni Togog dan Bilung. Togog berkarakter suara besar, sedangkan Bilung berkarakter suara kecil cenderung cempreng. Dua-duanya bisa bersahut-sahutan dengan sangat cepat, benar-benar seperti dua manusia dengan dua karakter suara yang sedang bicara sahut-menyahut.

Di tangan Ki Seno, di pita suara Ki Seno, semua tokoh wayang menjadi hidup dan mewujud. Termasuk pada dua tokoh wayang dengan karakter suara yang mirip. Contoh, suara senopati Kerajaan Dwarawati yang bernama Setyaki dan suara Gatotkaca, putra Werkudara. Kedua ksatria protagonis ini memiliki “timbre” senada: Berat berwibawa. Tapi jika Ki Seno yang melakonkan, maka para penonton –meski tidak melihat ke arah pertunjukan wayang—bisa dengan mudah membedakan mana Gatotkaca dan mana Setyaki.

Masih banyak contoh lain. Anda bisa membuktikannya di akun YouTube Dalang Seno.

Bagong sang Idola

Ki Seno, bisa jadi merupakan dalang yang secara personal mengidolakan tokoh Bagong. Bagong adalah anak ragil dari Ki Lurah Semar Bodronoyo. Punakawan protagonis ini oleh Seno benar-benar diistimewakan. Hampir di setiap pertunjukannya, tokoh Bagong selalu nge-roll.

Dalam banyak kesempatan, melalui tokoh Bagong, Ki Seno melemparkan kritik-kritik sosial yang tajam. Melalui karakter vokal yang khas, berat cenderung serak, tokoh Bagong pun menjadi tokoh yang banyak dinanti kemunculannya oleh para sobat ngebyar.

Dalam banyak testimoni di akun medsos, tokoh Bagong pula yang banyak menyeret generasi milenial menyukai wayang. Banyak yang tidak suka wayang, menjadi suka menonton wayang. Bahkan –ini sungguh-sungguh terjadi—tidak sedikit masyarakat suku Sunda yang menjadi penggemar Ki Seno Nugroho. Di antara mereka, bahkan akhirnya bisa dan mengerti bahasa Jawa dari menonton Ki Seno. Itu semua –antara lain– berkat Bagong. Bagong-nya Ki Seno Nugroho.

Silakan buka channel YouTube Dalang Seno. Di sana banyak sekali lakon carangan yang menampilkan tokoh Bagong sebagai tokoh sentral. Dengan kreativitas mengarang cerita, lahirlah lakon-lakon seperti Bagong Kuliah, Bagong Emosi, Bagong Dadi Pandito, Bagong Kuliah, Bagong Mbangun Kampus, Bagong Dadi Dewo, dan masih banyak lagi cerita dengan tokoh utama Bagong.

Tidak hanya itu. Ki Seno juga membuat karakter Bagong dalam banyak tokoh wayang yang lain. Misal, tubuh raksasa berwajah Bagong, tubuh Kresna berwajah Bagong, tubuh Arjuna berwajah Bagong, tubuh Baladewa berwajah Bagong, dan lain-lain. Pendek kata, banyak tokoh wayang familiar lain yang “di-Bagong-kan” oleh Ki Seno.

Wajah Bagong, tubuh Gatotkaca. (foto: YouTube)

Dan keisimewaannya, manakala Bagong menjelma menjadi –misalnya—Arjuna, maka karakter vokal yang keluar adalah perpaduan antara suara Arjuna yang halus dan lembut dengan karakter suara Bagong yang serak-sember. Dan itu bisa dimainkan Ki Seno dengan sangat piawai.

Alhasil, tokoh Arjuna jadi-jadian itu pun mampu mengundang gelak tawa penonton. Bahkan dalam salah satu lakon, para sinden pun ikut tertawa terpingkal-pingkal, menyaksikan kelucuan “Arjuna-Bagong” dengan karakter suara serta dialog lucu. Sinden Ayu Purwa Lestari bahkan tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata. Mungkin, sakit juga perutnya…..

Begitu istimewa tokoh Bagong buat Ki Seno, sampai-sampai ia membuat akun YouTube khusus dengan nama Ketua Pemuda Karang Kadempel. Meski baru berusia beberapa bulan, akun ini sudah menggaet 5,55 ribu subscriber.

Selain akun terbaru Pemuda Karang Kadempel, Ki Seno sudah lebih dulu memiliki dua akun YouTube. Kedua akun yang sering dijadikan ajang live streaming pertunjukannya adalah akun “dalang seno” (447 ribu subscriber), dan akun “ki seno nugroho” (120 ribu subscriber).

Dramaturgi Wayang

Masih ada lagi yang patut kita kenang dari Ki Seno Nugroho. Ini masih bicara skill sekaligus kreativitas. Bisa dipastikan, pergaulannya dengan orang-orang teater di Yogya, mendatangkan inspirasi yang kemudian dituang dalam seni pedalangan.

Unsur dramaturgi pun ia masukkan dalam setiap pertunjukannya. Bisa jadi, itu pula yang membuat seni pertunjukan wayang kulit Ki Seno Nugroho begitu hidup dan menghipnotis penggemarnya.

Bahkan, Ki Seno acap memainkan efek “voice over”. (Awalnya) Hanya di pertunjukan Seno, tokoh wayang yang ada dalam kotak bisa berdialog dengan tokoh wayang yang sedang ditampilkan di kelir.

Trik-trik dialog antara wayang yang ada (kelihatan) di kelir, dengan wayang yang ada dalam kotak (tidak kelihatan di kelir), sungguh merupakan terobosan di seni pedalangan. Itu dimainkan Seno dengan sangat apik dan menarik.

Dengan semua kelebihannya, tidak heran jika pertunjukan wayang kulit Ki Seno Nugroho bisa dibilang selalu penuh sesak oleh penonton. Jika dalam kebanyakan pertunjukan wayang, sebagian penonton pulang pasca adegan Limbukan atau adegan Goro-goro, maka tidak demikian pada pertunjukan Ki Seno.

Di mana pun Ki Seno mendalang, sebagian besar penontonnya membludak. Mereka sudah memadati area pertunjukan sejak murwa atau pelungan (suluk pembuka pertunjukan wayang), hingga tancep kayon, pertanda usainya pertunjukan wayang.

Sinden Milenial

Sebegitu banyak kelebihan Ki Seno Nugroho, toh masih menyisakan hal lain yang tak mungkin dinafikan. Harus diakui, faktor yang satu ini sebagai bagian dari sukses pergelaran Ki Seno secara utuh. Yang saya maksud adalah para waranggana atau pesinden. Para sinden Ki Seno Nugroho bergaya milenial.

Saat acara Limbukan atau Goro-goro, para sinden tidak hanya menjual kecantikan wajah, tetapi juga keluwesan dalam menari Jawa, dari yang halus klasik sampai yang gumyak (ramai, ceria).

Elisha Orcarus Allaso. (foto IG)

Salah satu sinden milenial andalan Ki Seno adalah Ni Elisha Orcarus Allasso. Sinden cantik asal Lambelu, Sulawesi Tengah ini benar-benar menyedot perhatian penonton wayang milenial.

Elisha juga sosok sinden berpendidikan. Selain gelar sarjana pedalangan ISI Yogyakarta, Elisha juga sudah menyelesaikan S2 tahun lalu. Saat ini bahkan sedang menyiapkan proposal penelitian untuk mengambil S3. Bahasa Jawa yang kaku (karena bukan asli Jogja), membuatnya lucu kalau berbicara. Ditambah tabiatnya yang ceplas-ceplos, sehingga sering memancing dialog lucu dengan Ki Seno saat Limbukan atau Goro-goro.

Bukan hanya ceplas-ceplos, tapi Elisha juga cerdas dan pantai menghidupkan suasana. Sadar akan kelebihan Elisha, Ki Seno juga mengeksplor di atas panggung. Bahkan sesekali Elisha diminta duduk sebagai dalang. Masih dengan dialog-dialog lucu, Elisha pun mengambil-alih posisi dalang.

Dengan memerankan tokoh Cangik, “dalang” Ni Elisha spontan nyeletuk, “No… Seno… kowe saiki nembang (Seno, sekarang kamu nyanyi),” kata tokoh Cangik kepada dalang Ki Seno, seperti kalau dalang Seno menyuruh sindennya nembang (nyanyi). Dengan penuh keakraban, Seno pun “njenggung” (memukul pelan seperti seorang bapak njenggung kepala anak dengan kasih) kepala Elisha dari belakang. Penonton pun ger-geran.

Elisha tidak hanya mencerminkan profil sinden cerdas dan berpendidikan (tinggi), tetapi ia juga bersuara merdu. Berbagai tembang Jawa bisa dibawakan Elisha dengan sangat baik, tidak kalah dengan para sinden yang asli Jawa. Dalam banyak kesempatan, Elisha mengaku sudah “menyatu” dengan Ki Seno dan Wargo Laras. Awalnya, ia hanya sinden cadangan. Manggung hanya kalau ada sinden utama yang absen. Kurang lebih setahun terakhir, Elisha sudah menjadi salah satu sinden utama Ki Seno.

Para sinden Wargo Laras. (foto: YouTube)

Sinden-sinden lain Ki Seno tidak kalah apik. Mereka benar-benar digembleng Ki Seno menjadi sinden berkarakter. Tidak hanya mampu menyinden dengan baik, tetapi juga harus menguasai panggung sebagai aktris. Sinden-sinden Ki Seno yang banyak dikenal masyarakat antara lain Tatin Lestari Handayani, Aryu Purwa Lestari, Oriza Widyasari, Agnes Silvia, Prastiwi, Hana Pertiwi, Ika Suhesti, Wahyu Krisnawati, Neti Sulandari, dan beberapa yang lain. Beberapa di antara mereka bahkan sudah punya akun YouTube dengan ribuan subscriber.

Wayang Climen

Di akhir hidupnya, Ki Seno Nugroho kembali menampilkan kreativitasnya dengan menggelar pertunjukan wayang climen. Wayang climen adalah pertunjukan wayang yang dikemas secara sederhana dengan durasi ringkas antara dua hingga tiga jam.

Bukan saja cerita yang diringkas, tetapi jumlah gamelan pun dikurangi. Termasuk jumlah sinden. Jika pada pertunjukan normal Ki Seno bisa membawa delapan, sembilan, atau sepuluh sinden, maka dalam pertunjukan climen, jumlah sinden hanya empat atau lima orang.

Pertunjukan climen “dijual” dengan tarif “miring”. Pertunjukan climen dimainkan di pendopo kediaman ki dalang di Sedayu, sekitar 16 kilometer sebelah barat kota Yogyakarta. “Pesan sponsor” dari penanggap, dinarasikan pada saat Goro-goro.

Climen adalah solusi atau tepatnya usaha survival Ki Seno dengan Wargo Laras-nya di masa pandemi Covid-19. Awalnya, pertengahan April 2020, Ki Seno menggelar pertunjukan climen secara gratis. Tujuannya benar-benar untuk memberi hiburan masyarakat di tengah pandemi melalui streaming YouTube.

Sekali menggelar climen, respon masyarakat luar biasa antusias. Mereka meminta Ki Seno meneruskan climen, untuk menghibur masyarakat. Bak gayung bersambut, para peminat dan penanggap berdatangan. Order demi order climen pun masuk ke admin Ki Seno Nugroho.

Karena sifatnya adalah pertunjukan survival, Ki Seno membuat aturan “bagito” alias bagi roto (rata) atas pundi-pundi rupiah yang didapat. Para penabuh gamelan serta para sinden digilir penampilannya.

Jika ada saweran saat penonton (virtual) meminta lagu di ajang Goro-goro, Ki Seno tidak memperkenankan transferan langsung ke para sinden yang diminta menyanyi. Uang saweran itu termasuk yang dihimpun, dan dibagi rata setiap akhir bulan. Semua keluarga besar Wargo Laras mendapat bagian.

Maaf, sedikit lupa… saya mundur ke era di awal pandemi, bulan April 2020. Saat itu Ki Seno turut membantu masyarakat dengan membagi-bagikan beras dan uang kepada warga sekitar tempat tinggal, dan warga tak mampu di Yogyakarta dan sekitar. Aksi sosial ini juga mendapat simpati dan dukungan banyak pihak. Di tengah keprihatinan, Ki Seno menunjukkan rasa kepedulian dan jiwa sosial yang sangat tinggi. Simak link berita terkait: https://jayakartanews.com/dalang-seno-galang-bantuan-bagi-korban-corona/

Nah kita lanjut ke era climen. Sekitar Juni 2020, frekuensi pertunjukan climen semakin sering. Bahkan akhir-akhir ini, September – Oktober, penanggap climen terbilang belasan, puluhan, meski tidak pernah mencapai satu bulan penuh. Bahkan di bulan November 2020 ini, tak kurang dari 19 penanggap climen sudah confirmed, sudah terjadwal.

Jika itu disebut hutang, maka itulah hutang almarhum. Namun kiranya, admin Gunawan pasti akan menyelesaikan “hutang” yang tak sempat “dibayar” oleh Ki Seno Nugroho tadi.

Tadi malam, melalui tayangan live streaming Gatot Jatayu, saya merasakan benar, betapa masyarakat berduka. Terlebih keluarga inti serta keluarga besar Wargo Laras. Mereka begitu shock, kaget, dan tidak menyangka, Ki Seno Nugroho akan pergi meninggalkan kita semua. Dengan begitu tiba-tiba.

Tokoh Bagong khas Ki Seno. (foto: Facebook)

Jika narasi berikut ini bisa sedikit menghibur serta menebalkan rasa ikhlas kita melepas kepergian Ki Seno, baiklah, saya kutipkan dialog Bagong dengan Petruk pada pertunjukan terakhir Ki Seno.

Bagong memberi “wejangan” kepada Petruk…..

Urip iku sing dienteni apa, aku tak takon…. hah? Wong urip sing dienteni apa Petruk? Sugiho, nduweni drajat, pangkat, bandane sak tumpuk seprapat jagat, ning wong urip ki mung koyo ngimpi. Gagasen umurmu saiki pira. Kowe eling jaman cilikanmu, rak gelis tho? Ming koyo wong ngimpi tho? Tur kuwi mung kari ngenteni le modar….”

Artinya kurang lebih, “Hidup itu yang ditunggu apa, aku tanya. Orang hidup itu yang ditunggu apa Petruk? (Meski) kaya, punya derajat-pangkat, hartanya bertumpuk seperempat dunia, tapi orang hidup ini hanya seperti mimpi. Pikirkan umurmu sekarang berapa. Kamu (masih) ingat zaman kecil, begitu cepat kan? Hanya seperti mimpi kan? Dan itu tinggal menunggu kematian.”

Teramat panjang catatan tentang dirimu, “pak Eno”…. Dan ini adalah catatan dari endapan rasa tanpa prasangka. Catatan dari orang yang mengagumi kiprah kreativitasmu dalam memupuk dan menyuburkan seni tradisi bernama wayang kulit.

Menyesal saya belum sempat mengenalmu secara personal. Kukira itu baik-baik saja buat kita. Apalagi, kata Elisha, pak Eno itu susah bicara dengan orang yang belum dikenalnya secara baik. Meski akhirnya semua orang akan tahu, pak Eno “saestu piyantun sae”, kata pak Geter, sahabatmu si penabuh gender itu.

Aku setuju, pak Geter…. almarhum memang “sungguh manusia baik”. Lebih dari baik, ia adalah manusia yang membawa manfaat bagi orang lain. Semoga baik pula di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih.

Selama jalan, “mBendol”, kata mbak Prastiwi.

Selamat jalan, “Say No”, kata Elisha.

Selamat jalan, “Pak Bagong,” kata pecinta Pemuda Karang Kadempel.

Selamat jalan, “SENIMAN BESAR”, kata saya. (*)

*) Penulis, wartawan senior, Pemimpin Redaksi Jayakarta News

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *