Love Kim dari BigRed Irlandia

Oleh Dahlan Iskan

Dari Pyongyang saya harus bermalam di Beijing. Satu-satunya jalan hari itu. Pesawat dari Pyongyang tiba di Beijing sudah jam 5 sore.

Kebetulan pula. Saya harus nonton Liverpool malam itu. Tidak mau meneruskan terbang malam ke Tokyo.

Di Beijing saya tidak pernah mengharapkan ini: bisa nonton liga Inggris di hotel. Biar kelas hotel St Regis sekali pun. Harus cari cafe sport. Nobar di cafe seperti itu.

Saya pun ke sana. Masih mengenakan jaket. Yang ada lambang bendera Korea Utara.

Cafe itu penuh sesak. Mayoritas kulit putih. Pendukung Liverpool. Saya sendiri yang Indonesia.

Saat saya tiba, ada yang sudah setengah mabuk. Kebanyakan minum bir. Tidak henti-hentinya pula: menyanyikan lagu-lagu Liverpool. Kadang sampai badannya menutupi layar. Saya harus menggeser kepala. Untuk tidak ketinggalan jalannya bola.

Tiba-tiba yang nyanyi-nyanyi itu mendekati saya. Mendekatkan matanya ke jaket saya: ke lambang yang menempel di dada.

Melihat lambang Korea Utara itu ia langsung melupakan Liverpool. Ia berteriak-teriak. Sambil merangkul-rangkul saya. Dari mulutnya keluar aroma bir yang berbusa.

”I love Kim Jong-Un, I love Kim Jong-Il, I love Kim Il Sung,” teriaknya. Berkali-kali. Berulang-ulang. Sambil terus memeluk tubuh saya. Menunjuk-nunjuk lambang di dada saya.

Ia orang kulit putih. Badannya kecil –untuk ukuran orang bule. Saya ingin tahu siapa ia. Tapi masih begitu emosionalnya. Biarlah puas dulu dengan emosinya: memuja Kim Il-Sung. Dalam setengah mabuknya.

Setelah agak reda baru saya rangkul ia. Saya beritahu bahwa saya dari Indonesia. Saya khawatir ia mengira saya dari Korea Utara.

”Saya baru datang dari Pyongyang. Sore tadi,” kata saya: mengapa mengenakan lambang Korea Utara.

Ia ternyata tidak peduli. Bahkan kian semangat.

”Kita semua cinta Kim Jong-Un,” teriaknya. Sambil jalan muter-muter. Di dalam cafe. Sambil menenteng pegangan gelas birnya.

Ternyata ia orang Irlandia. Sudah dua tahun tinggal di Beijing. Membawa serta cinta Liverpoolnya.

Ia adalah guru bahasa Inggris. Untuk anak-anak TK sekolah swasta. Ia menyukai anak-anak. Ia ingin terus memperpanjang kontraknya. Sampai setidaknya lima tahun. Gajinya memuaskannya: Rp 50 juta/bulan.

Kami makin akrab. Saya beritahu bahwa saya pernah ke Irlandia. Sampai ke pelosoknya. Saya tunjukkan peta pedalaman itu. Ia kaget. Kampungnya tidak jauh dari situ.

Merangkul saya lagi. Lebih lama.

April lalu ternyata ia juga ke Pyongyang. Yang lagi semarak. Memperingati hari kelahiran Kim Il Sung.

Ia jatuh cinta pada Pyongyang. Ia setuju semua apa yang saya ucapkan. Tentang penilaian saya atas Pyongyang. Seperti yang saya tulis beberapa seri di Disway.

Emosinya tambah meluap. ”Saya mau ke sana lagi. I love Kim Jong-Un”, teriaknya.

Lalu menghilang.

Eh, datang lagi.

Membawa tiga botol bir. Yang sudah dibuka tutupnya. Diletakkan di depan saya. Dengan hentakan botol yang menimbulkan bunyi mengagetkan. ”Mari bersulang. Untuk kim Jong-Un,” teriaknya.

Saya ambil satu botol. Saya angkat tinggi-tinggi. Saya benturkan ke gelasnya. ”Kim Jong-Un wan sui,” kata saya.

Ia tertawa lebar. Ia sudah mengerti sedikit-sedikit bahasa Mandarin. ”Wo ai Kim Jong-Un,” balasnya. Dalam Mandarin logat Irlandia.

Ia memaki-maki pemimpin negara barat. Yang memberi kesan Korea Utara begitu buruknya.

Gooollll…!

Liverpool cetak gol. Lewat kaki Mohamad Salah.

Ia kaget. Semua pengunjung cafe berteriak. Ia bergegas melihat ke layar. Melihat ulangan terjadinya gol. Lalu meneriakkan nyanyian berjudul Mo Salah. Khas pendukung Liverpool. Sambil keliling dari meja ke meja. Mengajak yang lain menyanyi. Saya ikut menyanyi. Hafal sedikit. Ketularan teman-teman BigRed. Saat sering nonton bareng Liverpool di Surabaya. Di Cafe DejaVu. Yang tanpa AC. Seperti terbakar. Yang penuh asap rokok. Yang nuansa riuhnya mirip di stadion.

Di situ juga: sering ada orang bule ikut nobar. Asal Austria. Gila Liverpoolnya ampun-ampun. Dan minum birnya.

Mirip yang Irlandia di Beijing itu.

Saat si Irlandia merayakan gol Liverpool itulah: saya angkat satu botol bir. Saya tuangkan isinya ke gelasnya. Dua botol lainnya saya balikkan ke meja bar tender.

Pasti ia mabuk kemenangan. Mengira saya menghabiskan tiga botol bir traktirannya. ***

Beda Bersih Karena Baru Dibersihkan

Bersihnya kota Pyongyang, Korea Utara–foto dahlan iskan

Oleh: Dahlan Iskan

 

Saya kira hanya saya. Ternyata orang-orang asing juga berpikiran sama: Kota Pyongyang ini bersih sekali.

Saya bertanya ke beberapa turis dari Beijing. ”Saya juga tidak menyangka Pingrang sebersih ini,” ujar turis itu.

Ia seorang pengusaha konstruksi. Umur 60an tahun. Juga untuk pertama kali ke Korea Utara. Dengan rombongan 8 orang.

Kami ngobrol asyik dalam bahasa Mandarin. Saat makan pagi bersama. ”Anggota rombongan kami juga kaget. Kota ini bersih sekali,” kata istrinya.

Dalam bahasa Mandarin, Pyongyang disebut Pingrang (平壤). Tanah yang datar. ”Satu puntung rokok pun tak terlihat,” tambahnya.

Mereka sudah tiga hari di Pyongyang. Terheran-heran. Jauh dari yang mereka duga.

”Lebih bersih dari Singapura,” ujar turis Singapura itu. Agak berlebihan.

”Ini kota terbersih yang pernah saya kunjungi,” ujar turis Belanda. Yang rombongannya 20 orang. Semua naik kereta. Dari Beijing. Satu malam suntuk. Tepatnya 20 jam.

Turis Belanda ini senang sekali saya ajak berbincang. Setelah lebih dulu saya puji. ”Belanda sekarang hebat. Mengalahkan Jerman 3-0,” kata saya.

Mereka langsung bersorak. ”Sekarang kami calon juara dunia,” ujarnya.

Saya sendiri sudah dua hari di Pyongyang. Dari rencana lima hari. Juga terheran-heran.

Di Jakarta memang banyak lokasi indah. Makmur. Dan bersih. Seperti di SCBD. Tapi tidak jauh dari situ sudah terlihat kampung miskin. Kumuh. Kotor. Apalagi di bagian lain Jakarta. Banyak yang sangat parah. Miskinnya. Dan kumuhnya.

Di Beijing, Shanghai, Guangzhou juga begitu. Kemakmurannya campur dengan kemiskinannya. Kebersihannya rukun dengan kejorokannya. Keindahannya bergandengan dengan kekumuhannya.

Tidak di Pyongyang.

Memang tidak ada mall mewah. Tidak ada kompleks yang megah. Tidak ada hotel wah. Tapi juga tidak ada kaki lima. Tidak ada sampah.

Bahkan tidak banyak tong sampah. Di pinggir jalan sekali pun. Yang di negara kita sering terlihat tongnya pun sudah begitu jeleknya. Sudah menjadi sampah itu sendiri.

Kualitas jalan, kualitas berm, kualitas trotoar dan kualitas tamannya memang bukan yang kualitas tinggi. Sedang-sedang saja. Tapi bersihnya itu lho!

Saya bisa membedakan bersih dadakan, bersih belum lama dan bersih kultural.

Saya mengambil kesimpulan: bersihnya kota Pyongyang bukan bersih mendadak. Bukan bersih ‘belum lama dibersihkan’. Bersihnya karena akar kebersihan sudah begitu dalam.

Dan sungai-sungainya itu.

Bersih luar biasa.

Pinggirnya.

Tengahnya.

Hulunya.

Hilirnya.

Banyak kota bersih. Tapi hanya di jalan-jalan utamanya. Banyak kota indah. Hanya bagian tertentunya.

Pyongyang  bersih di seantero wilayahnya.

Bandingkan dengan kota-kota modern di Tiongkok. Atau kota-kota di Indonesia. Yang dapat Adipura sekali pun. Pyongyang di atas semua itu.

Tentu juga jangan dibandingkan dengan kota seperti Perth, Australia Barat. Yang begitu komplitnya: indah, bersih, megah, makmur menjadi satu.

Pyongyang masih jauh dari kelas itu.

Perkampungan di Pyongyang  berupa apartemen tinggi. Tidak ada lagi kampung lama. Atau kampung kumuh. Bukan apartemen mewah, memang. Tapi juga bukan kelas rumah susun yang kita kenal.

Bangunan luarnya, umumnya,  terlihat seperti kelas hotel bintang tiga.

Tidak terlihat tempelan-tempelan AC di luarnya. Tidak terlihat ada tiang jemuran. Kesannya rapi. Meski tidak mewah.

Di jalan-jalan juga tidak ada sepeda motor. Hanya ada mobil. Tidak terlihat mobil tua. Atau gerobak. Atau truk peyot. Memang terlihat banyak juga sepeda. Tapi dikayuhnya di trotoar. Sehingga pemandangan di jalan raya tidak terasa ruwet.

Mobil-mobil umumnya buatan Tiongkok: VW, Audi, Ford, Buick, BYD, Yiji, dan lainnya. Kira-kira 70 persen buatan Tiongkok. Sisanya mobil Jepang. Atau mobil Korut hasil asembling mobil Tiongkok. Ada empat merk yang diasembling dengan nama lokal: Pyonghwa, Naenara, Huipharam, dan  Samchonri.

Anda ingat baik-baik merk itu. Siapa tahu kelak akan ikut menyerbu Indonesia.

Terlihat juga sedan Mercy hitam. Sesekali. Mungkin juga buatan Tiongkok.

Tidak terlihat sama sekali mobil Korea Selatan: Hyundai, Kia atau Daewoo.

Permusuhannya dengan saudaranya di selatan sampai ke merk mobil. Rupanya.

Di Pyongyang jalan raya sudah sangat ramai dengan mobil.

Tapi belum sampai ke tingkat macet. Saya belum pernah lihat satu titik pun yang macet.

Ramainya lalu-lintas ini juga tidak saya sangka. Kok sudah ramai begini. Waktu pertama ke Beijing dulu (awal 1980-an), hampir tidak terlihat mobil di jalan raya. Yang lebar-lebar itu.

Hanya sesekali ada mobil lewat. Jalan raya dipenuhi oleh sepeda. Atau gerobak. Yang ditarik sepeda.

”Sekarang ini memang sudah tiga kali lebih ramai. Dibanding lima tahun lalu,” ujar teman Pyongyang saya.

Kalau boleh usul, jangan tambah mobil lagi. Atau maksimum tambahnya 10 persen saja. Jangan ulangi kasus Jakarta, Bangkok, Beijing, Mumbai. Yang macetnya bikin pusing itu.

Sekarang ini ideal sekali. Ramai tapi tidak macet.

Tapi mana mungkin. Tampaknya sulit sekali mencegah pertambahan mobil. Di negara komunis sekali pun.***

Green Street Itu Bernama Ryomyom

Berfoto pra-wedding di halaman Museum Perang–foto dahlan iskan

Oleh Dahlan Iskan

Pemandangan ini tidak saya sangka. Sama sekali.

Tiba-tiba muncul banyak gedung tinggi. Di depan mata saya. Di beberapa kawasan strategis di pusat kota Pyongyang.

Itulah kawasan baru. Yang baru dibangun. Salah satunya baru selesai tahun lalu. Disebut kawasan Green Street.

Orang Korea Utara menyebutnya kawasan Jalan  Ryomyom. Jalan Fajar Menyingsing.

Kawasan Green Street, kawasan Jalan Ryomyom–foto dahlan iskan

Menjelang senja itu saya diajak jalan-jalan di kawasan ini. Saya hitung. Ada 18 gedung tinggi.

Semuanya baru. Semua dicat dengan nuansa warna daun muda.

Yang tertinggi 70 lantai. Arsitekturnya sudah indah. Jauh dari arsitektur era  komunisme.

Lihatlah foto-fotonya.

 

 

”Kim Jong-Un sendiri yang memerintahkan pembangunan kawasan ini. Kim Jong-Un bilang setahun harus jadi,” ujar pejabat yang mengantarkan saya itu.

Awal tahun lalu pembangunan dimulai. Akhir tahun lalu semua jadi.

Itulah ‘rapor’ setahun di tahun 2017. Bagi Kim Jong-Un. Di bidang pembenahan kota.

Pembangunan ‘hutan gedung’ itu tidak pakai kontraktor. Dikerjakan langsung oleh tentara. Angkatan Darat. Oleh devisi yang memiliki kemampuan membangun gedung-gedung. Mungkin sejenis kesatuan zeni di struktur angkatan darat kita.

Hanya desainnya dikerjakan oleh para arsitek. Lima tahun terakhir Kim Jong-Un banyak mengirim arsitek ke luar negeri: Prancis, Jerman, Singapura dan Shanghai.

Hasilnya: kawasan baru seperti Ryomyom ini.

Tidak ada mall di kawasan baru ini. Yang ada toko-toko. Atau salon kecantikan. Dan sebangsanya.

Semua gedung tinggi itu adalah perumahan. Apartemen. Untuk rakyatnya. Gratis.

Sampai malam hari saya di kawasan ini. Ingin lihat suasana malamnya. Cukup terang. Tapi tidak gemerlap. Tidak terasa ingin menonjolkan kemewahan.

Bangunan baru begitu banyak di Pyongyang. Juga restoran baru. Pusat kebugaran baru. Sauna baru.

Tahun pertama kepemimpinannya Kim Jong-Un juga bikin kejutan. Membangun museum perang yang amat megah. Juga setahun jadi. Halamannya sangat luas. Pas saya ke museum itu lagi ada yang berfoto pra-wedding.

Di sisi kanan halaman museum dipamerkan persenjataan Amerika. Yang berhasil direbut dalam perang. Atau tank yang dilumpuhkan. Atau pesawat-pesawat tempur yang ditembak jatuh.

Di satu bagian museum itu ada gedung bundar. Diorama perang. Kita duduk diam di bangku. Lampu dimatikan. Muncul suara bom. Dan sinar dari ledakan bom itu.

Itulah awal Perang Korea. Di tahun 1950. Pesawat Amerika menjatuhkan bom di Taejon. Dekat Seoul. Di waktu subuh.

Fajar menyingsing. Diorama itu menjadi seperti suasana pagi. Di pedesaan. Di pegunungan.

Kita lupa kalau lagi berapa di dalam gedung. Kita seperti berada di planetarium. Lantai yang kita duduki berputar pelan 360 derajat. Adegan pertempuran terjadi seperti sungguhan.

Semua foto pahlawan dipajang di museum itu. Saya kira militer akan bangga pada museum ini. Rakyat juga mengagumi cara penyajiannya.

Di bidang ekonomi hampir tidak ada yang tahu: Kim Jong-Un mulai membenahi sistem perbankan. Sudah 30 bank yang mulai disesuaikan dengan sistem perbankan modern.

Rakyat sudah diperbolehkan menabung di bank. Dengan mendapat bunga tabungan 5 persen/tahun. Kim Jong-Un mengijinkan dimulainya persaingan antar 30 bank itu. Dalam menambah nasabah. Dan dalam memberi bunga.

Ada yang sudah berani memberi bunga 7 persen.

Di bidang telekomunikasi ternyata juga sudah mulai terbuka: rakyat boleh punya smartphone. Dengan jaringan 3G. Sudah ada iklan untuk mempromosikan 3G.

Pembangunan dua jalur jalan tol juga sedang disiapkan. Yang 50 Km dan 800 Km.

Hanya saja masih sulit merumuskan bagaimana penarifannya. Agar sejalan dengan ideologi Juche. Semacam ideologi komunisme ala Korut. Manusia adalah tuan bagi dirinya sendiri. Rakyat sudah terbiasa serba gratis. Atau serba sangat murah. Bagaimana harus menghadapai jalan tol.

Rumah gratis. Sekolah gratis. Ke dokter gratis. Naik bus kota hanya bayar setara dengan Rp 75. Tujuh puluh lima rupiah. Segitu juga tarif kereta bawah tanah.

Saya juga banyak ditanya soal sistem penarifan listrik. Yang tidak memberatkan rakyat. Yang tidak bertentangan dengan Juche-isme.

Selama ini rakyat mendapat listrik 450 kw. Dengan hanya membayar Rp 7 ribu untuk tiga bulan.

Saya pun melihat fenomena modern. Saat ke kota kecil Kaesong. Dekat Pamunjom: ada orang membawa solar panel di sepedanya.

Ternyata memang lagi musim solar panel di kota itu. Saya mendongak ke atas. Ke gedung-gedung tinggi itu. Di jendela-jendela apartemen mereka itu terlihat tambahan solar panel. (Lihat foto).

Itu menunjukkan kebutuhan listrik yang meningkat. Juga menunjukkan mulai ada daya beli. Menandakan rakyat di kota kecil itu mulai tidak puas. Dengan jatah listrik yang 450 kV.

Proyek Ryomyom adalah lompatan kasat mata ketidaksabaran pemimpin muda Korea Utara: untuk maju.

Saya tidak bisa membayangkan: bagaimana kalau sanksi dunia atas blokade ekonomi Korea Utara dicabut. Rasanya akan langsung take off.

Dalam posisi diblokade total saja tetap menggeliat seperti itu. Dengan cepatnya.

Saya bisa memahami mengapa Kim Jong-Un ingin segera bebas dari blokade. Sekarang ini Korut merasa sangat tidak puas. Sudah merasa berbuat banyak.

Dengan pembatalan program nuklirnya. Tapi belum sedikit pun ada pelonggaran blokade.

”Korea Utara sudah membuat lima langkah. Mereka berharap pihak Amerika juga membuat langkah. Sekecil apa pun. Tidak usah lima langkah. Dua langkah pun cukup,” ujar seorang diplomat di Pyongyang.

Yang sangat mereka harapkan adalah: mulai boleh ekspor. Satu-dua komoditi saja dulu. Misalnya: batubara. Ke Korea Selatan dan ke Tiongkok.

Tapi Kim Jong-Un tidak menyerah. Ia terus melangkah: untuk terus membuat Ryomyom-Ryomyom baru. Di berbagai bidang.

Sejak itu tiap tahun ada proyek baru di Pyongyang. Terakhir kawasan Ryomyom itu.

Jelas sekali Kim Jong-Un terinspirasi oleh Singapura. Atau Shanghai. Dan ia ingin mengejarnya.***

 

Bayar Renminbi, Kembalian Dollar

Dahlan Iskan naik kereta bawah tanah di Pyongyang, Korea Utara. Karcisnya 5 Won atau senilai Rp75—foto istimewa

Oleh: Dahlan Iskan

Ini makan malam pertama saya di Korea Utara: bayar pakai Renminbi. Kembaliannya Dollar Amerika.

Memang bisa. Membayar dengan Renminbi dan Dollar. Tapi mata uang resmi untuk orang asing sebenarnya bukan itu. Euro.

Tidak ada tempat penukaran uang. Di bandara.

Semua serba cash. Tidak ada kartu kredit. Tidak ada pembayaran elektronik. Harus bawa uang banyak.

Restoran kelas menengah di Korea Utara, jauh dari kesan ndeso–foto istimewa
Dahlan Iskan ditemani redaktur Rakyat Merdeka Online (RMOL) Teguh Santosa, dalam lawatan jurnalistik di Pyong Yang, Korea Utara—foto istimewa

Malam itu saya pilih makan malam di luar hotel. Ingin tahu suasana kulinernya. Pilihannya sebuah restoran kelas menengah. Masakan Korea.

Saya pilih mi hitam panas. Yang diberi tiga lembar irisan daging tipis. Dan telur rebus separo. Dua teman Korea saya pilih nasi. Terbalik.

Restoran ini bersih sekali. Penataan meja kursinya juga rapi dan serasi. Di salah satu ruangannya seperti lagi ada pesta. Seperti reuni. Atau arisan. Nyanyi-nyanyi bersama. Tidak henti-hentinya.

Pakaian pelayannya juga sangat rapi. Serasi. Tidak norak. Juga tidak lusuh. Cuttingnya bagus. Bahannya juga baik. Bukan kain murahan.

Tidak mengesankan ini restoran di sebuah negara miskin. Jauh dari kesan ndeso. Bisa dibilang masuk kategori keren. Rasanya penampilan pelayan restoran kita pun kalah. Untuk sekelas itu.

Tidak pula terkesan ini sebuah restoran di negara komunis.

Dan harga makanan ini murah.
Makan berempat hanya sekitar  Rp 200 ribu. Saya bayar dengan Renminbi. Satu lembar. Seratusan. Saya diminta menunggu uang kembalian.

Dia buka laci. Menyerahkan satu lembar kembalian. Ternyata lembaran Dollar Amerika. Satu Dollar.
Bayar 100 Renminbi. Dapat kembalian 1 Dollar.

Naik taksi juga pakai Renminbi. Bayar telepon pakai Renminbi.
Yang naik taksi hampir pasti orang asing. Terlihat cukup banyak turis.

Saya ketemu yang dari Rusia, Jerman, Taiwan, Hongkong, Singapura  dan terutama Tiongkok.

Rakyat setempat naik kendaraan umum: tram listrik. Bayarnya pakai Won. Satu kali jalan hanya 5 Won. Itu tidak ada artinya sama sekali. Hanya sekitar Rp 75. Ulangi: tujuh puluh lima rupiah. Sekedar untuk terlihat rakyat juga bayar.

Di Pyongyang sudah ada  kereta bawah tanah. Dua line. Karcisnya juga hanya 5 Won.
Saya ikut merasakan kereta bawah tanah itu. Tanpa tujuan. Ke lima stasiun. Lalu balik lagi.

Stasiunnya nyeni. Banyak ornamen. Juga lukisan perjuangan. Tidak ada iklan sama sekali. Kelihatan  komunisnya.

Kereta yang pertama lewat. Terlihat kuno. Berisik. Bentuk gerbongnya sederhana. Kelihatan komunisnya.

Saya tidak boleh naik yang itu. Mereka ingin memamerkan  gerbong yang baru. Satu menit kemudian kereta dimaksud  datang. Gerbongnya baru. Terlihat beda. Desainnya lebih modern. Sedikit. Tidak semodern yang di Tiongkok. Atau Jepang.

Baliknya kami pakai kereta yang lama. Kecepatannya sama saja. Tempat duduknya juga sama-sama empuk. Bukan keras seperti umumnya MRT di negara lain.

Memamg terasa sekali. Kim Jong-Un mau mengubah Korea Utara. Hanya saja ia harus agak sabar. Menghadapi blokade ekonomi dunia. Yang dimotori Amerika.

Juga harus sabar. Menghadapi  aliran keras di senior militernya. Yang ini Kim Jong-un sudah bisa mengatasinya. Toh sudah banyak yang pensiun juga. Tiga tahun terakhir.

Masyarakatnya juga kelihatan sudah siap berubah. Berbeda sekali kesan saya. Dibanding  saat saya ke Uni Soviet. Di awal keterbukaannya. Juga berbeda dengan saat saya ke Tiongkok. Di awal keterbukaannya. Atau ke Jerman Timur menjelang penggabungannya.

Di Soviet dulu toko-toko komunisnya kosong. Tidak ada barang. Di Tashken malam-malam saya didatangi penjual uang gelap. Yang mengetok pintu kamar hotel. Lirih.

Di Tiongkok, saat itu, rakyatnya serba ketakutan. Saya beli sepeda kala itu. Saat mau pulang, sepeda itu saya berikan ke pelayan hotel. Ia menolak. Sangat ketakutan.
Demikian juga saat saya ke pasar. Beli buah. Pedagangnya ketakutan. Saat saya menyodorkan uang Yuan.

Ternyata mereka dilarang menerima yuan. Yuan untuk orang asing. Untuk rakyat biasa pakai uang Renminbi.

Di Pyongyang saya tidak merasakan rakyatnya dalam ketakutan. Wajah orang-orangnya bukan wajah ketakutan. Bukan wajah yang tegang.

Rasanya tidak akan lama lagi. Korut berubah total.***