Semangat Pantang Menyerah Seorang Tuna Daksa

 Semangat Pantang Menyerah Seorang Tuna Daksa

wibowo sedang membuat siluet

CACAT bukan berarti tidak berdaya. Cacat bukan berarti tidak bisa hidup mandiri. Itulah prinsip yang dipegang Wibowo sejak tahu fisiknya tidak sempurna. Wibowo, pria asal Wonogiri yang terkena polio saat berusia delapan bulan.

“Tidak ada manusia yang ingin cacat anggota tubuhnya, namun ketika hal itu terjadi—entah karena cacat sejak lahir atau sebab kecelakaan atau penyakit— tak ada yang mampu menolak. Takdir!” Kata Wibowo yang berjuang menghidupi dirinya lewat penjualan lukisan karyanya.

Pelukis tuna daksa ini lahir tahun 1959. Menurutnya ketika itu di kampungnya Wonogiri, Jawa Tengah, belum ada imunisasi polio. Kalaupun ada, mungkin, sulit didapat oleh warga biasa seperti dirinya. Karena di Indonesia sendiri, imunisasi baru dimulai sekitar tahun 1956 yakni untuk cacar. Sedang polio baru diperkenalkan sekitar tahun 1980.

Maka tak heran pada masa itu banyak orang, khususnya yang tinggal di daerah, terkena virus polio yang memang mudah menular. Kasus tersebut tak berbeda dengan di Amerika pada tahun 50-an dimana polio menjadi momok bagi masyarakat. Sampai akhirnya vaksin polio ditemukan dan mulai digunakan untuk imunisasi tahun 1956 di Amerika.

“Orangtua saya tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi kami orang kampung. Yang bisa dilakukan orangtua hanya mempersiapkan masa depan saya dengan kemampuan yang disesuaikan dengan kondisi fisik saya,” ujar Wibowo yang bersyukur meski menyandang tuna daksa orangtuanya tetap menyekolahkannya hingga lulus SMA.

Wibowo bertutur, sejak menyadari dirinya berbeda dengan yang lain, termasuk ketidakmampuannya bekerja berat, membuat ia memperdalam kemampuannya dalam hal melukis. Ketrampilan melukis jadi pegangan hidup karena disadari, meski lulus SMA namun untuk mendapat pekerjaan kantoran tidak lah mudah untuk seorang penyandang cacat.

“Pada saat saya muda, akses penyandang cacat untuk dapat pekerjaan kantoran kecil sekali, meski lulus SMA. Penyandang disable sejak dulu seolah menjadi  ’warga negara kelas dua’ yang sulit mendapat akses kemana-mana seperti halnya orang normal,” tambahnya.

Tapi, sejak dulu pula, ia mengaku sudah menerima keadaannya, bahkan merasa bersyukur karena memiliki keahlian tertentu untuk kehidupannya. “Semua saya jalani dengan penuh keikhlasan dan syukur. Dengan begitu kesusahan apapun yang mampir dalam hidup saya tidak akan menjadi terlalu menyusahkan,” tutur Wibowo yang beberapa waktu lalu bersama tujuh temannya menggelar pameran lukisan di Gedung DPR/MPR RI.

Dari kerja kerasnya melukis, tambahnya, ia mampu menghidupi anak-istri meski sederhana. Namun, kata Wibowo, ‘ruang’ untuk mengais penghasilan dari melukis kian hari terasa kian sempit, khususnya di daerah yang selain jumlah pelukis makin banyak juga konsumen yang terbatas jumlahnya. Untuk orang seperti dirinya tentu hal tersebut menjadi sangat menyulitkan karena tidak memiliki pekerjaan sampingan lain. “Saya tidak memiliki pekerjaan sampingan selain melukis. Istri saya petani, saya tidak bisa bantu. Saya tidak kuat angkat berat,” tambahnya.

Karena itu pula, meski dengan penuh keterbatasan ia merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. “Saya berangkat sendiri, istri dan anak tetap di kampung. Istri tetap bertani,” katanya. Sudah 16 tahun, aku Wibowo, ia merantau, dan kini menetap di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Meski diakuinya hidup di kota Jakarta dan sekitarnya lebih sulit ketimbang di kampung, namun dalam hal mendapatkan rejeki dari melukis terasa lebih mudah.

Wibowo mengaku punya semangat tinggi untuk memperjuangkan kehidupannya. Kondisi yang penuh keterbatasan tidak menyurutkan langkah untuk menjual karyanya. Bahkan kalau perlu, katanya, door to door ke berbagai tempat untuk menawarkan ketrampilannya. “Upaya door to door tidak selalu berhasil tapi saya tidak patah semangat karena akhirnya ada saja yang mau membeli lukisan saya. Bagi saya penghasilan besar atau kecil, tetap harus disyukuri, jangan mengeluh,” katanya.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *