Pesona Kerajinan Batik Kayu Mendunia

 Pesona Kerajinan Batik Kayu Mendunia

KERAJINAN batik kayu Indonesia sudah sejak lama dikenal di manca negara. Bahkan sebelum dikenal luas di dalam negeri, kerajinan batik kayu sudah menjadi favorit para kolektor kerajinan di Eropa. Maka tak heran, di era 90 an ekspor kerajinan batik kayu tergolong tinggi. Miyono dan kakaknya yang pengusaha kerajinan batik kayu, sempat merasakan masa keemasan batik kayu di era 90-an dimana banyak produknya diekspor ke mancanegara. “Dulu kerajinan batik kayu kita justru sangat dikenal buyer asing. Permintaan ekspornya tinggi. Sementara permintaan di dalam negeri tidak terlalu banyak,” tutur Miyono, pengusaha batik kayu dari Klaten, Jawa Tengah.

Namun seiring waktu, tambahnya, masyarakat kita pun sudah semakin mengenal kerajinan batik kayu, sehingga permintaan dalam negeri pun tak kalah banyaknya. Saking tingginya permintaan, tuturnya, ia dan kakaknya kerap didatangi pedagang-pedagang besar yang minta dibuatkan kerajinan batik kayu.

“Mereka (pedagang besar) sudah menyiapkan bahan-bahan mentahnya. Kami tinggal membatik dan memberi pewarnaan saja. Hasil produk kami itu kemudian disuplay ke berbagai daerah seperti Jakarta, Bali, dan daerah lain, sebagian lagi untuk ekspor,” jelasnya.

Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, tempat dimana Miyono berasal, merupakan desa pengrajin batik kayu. Kebetulan, kata bapak dua anak ini, di desanya bahan mentah (kayu) untuk pembuatan kerajinan tidak sulit didapat. “Kayu mahoni, sengon dan albasia, misalnya, mudah  dibudidayakan,” ucapnya.

Ketika kerajinan batik kayu booming, tutur Miyono, banyak pengrajin desanya beralih menjadi pengusaha kerajinan. “Sebagian warga desa kami yang pengrajin batik kayu mulai mengembangkan bisnisnya ke luar Klaten. Mereka umumnya datang ke Yogyakarta, karena di sana terkenal sebagai daerah wisata. Banyak turis mancanegara datang ke sana, termasuk kakak saya yang membuka usaha kerajinan batik kayu di Yogyakarta di awal tahun 90-an,” lanjutnya.

Entah bagaimana, tambahnya, orang luar justru mengira asal usul kerajinan batik kayu dari Yogyakarta, padahal  sebenarnya ‘embrio’ justru dari Klaten, khususnya dari Kecamatan Bayat. Saat ini, katanya, kerajinan batik kayu yang tersebar di seluruh Indonesia kebanyakan berasal dari tiga daerah yakni; Kecamatan Bayat Klaten, Dusun Krebet Bantul dan Gunung Kidul. “Jadi yang di Jakarta, Bali, dan daerah-daerah lainnya adalah produksi dari tiga daerah itu,” tambahnya.

Miyono sendiri mengaku mulai menekuni bisnis ini diawali dengan membantu sang kakak di bagian produksi tahun 1998.  “Saya banyak belajar dari beliau. Mulai dari produksi hingga pemasaran. Dua tahun belajar, kemudian saya pun membuka usaha sendiri. Jadi saya dan kakak mempunyai usaha yang sama, kami saling membantu,” tutur Miyono yang hingga kini rutin melakukan ekspor ke mancanegara. “Salah satu pelanggan saya ada di Belanda. Sudah dua tahun ini saya rutin ekspor ke sana,” ungkap Miyono yang rajin mempromosikan produknya lewat dunia maya.

Sukses menekuni kerajinan batik kayu, Miyono melakukan diversifikasi kerajinan, salah satunya dengan membuat kain batik pewarna alam yang dimulai tahun 2008. “Saya ikut pelatihan di Balai Batik Yogya tahun 2007, kemudian 2008 mulai mencoba membuat. Ternyata hasilnya bagus, banyak yang suka karena pewarnanya dari alam (tumbuh-tumbuhan),” jelasnya.

Beberapa pewarna alami yang digunakannya antara lain; kulit mahoni untuk mendapatkan warna coklat, untuk warna biru menggunakan tanaman tarum atau juga dikenal dengan sebutan indigo, dan buah jolawe yang menghasilkan warna kuning kehijauan hingga hitam. “Sebenarnya kunyit juga bisa, namun dari hasil penelitian di Balai Batik, warna kunyit tidak begitu tahan, maka saya tidak menggunakannya,” tambah Miyono.

Dulu, tambahnya lagi, saat baru memulai bisnis kain batik tulis pewarna alami, pemain di bisnis tersebut belum lah sebanyak sekarang. Namun seiring waktu, ketika permintaan akan batik pewarna alami meningkat tajam, maka penjual pun semakin banyak.

“Dulu permintaan batik pewarna alami banyak sekali. Saya sempat kewalahan karena memproduksinya membutuhkan waktu lama. Memproduksi satu kain batik sampai siap digunakan membutuhkan waktu 2-3 hari. Karena rumitnya memproduksi ini maka harganya pun berlipat-lipat dibanding batik pewarnaan sintetis. Di sisi lain SDM pengrajin batik kurang karena mereka banyak yang sudah membangun bisnis sendiri,” kata Miyono yang menjual satu lembar kain batiknya ukuran 2,5 M x 1,1 M seharga Rp400 ribu.

Meski produksi tergolong rumit, ia mengaku belum berminat merambah ke pembuatan batik pewarna sintetis. “Memang batik sintetis lebih cepat laku karena harganya lebih murah, tapi saya sekarang ingin belum terpikir  ke sana (memproduksi batik pewarna sintetis), ya. Saya masih bertahan dengan pewarna alami saja,” ucapnya. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *