Connect with us

Kolom

Penyelaman Mata Batin Cinta Terlarang Gajah Mada

Published

on

Gde Mahesa

To the point saja, dalam penyelaman mata batin antara spiritual dan logika, saya curiga Gajah Mada ada main cinta dengan Tribhuwana Tunggadewi. Kenapa?

Penulis belum pernah dapat informasi jelas suami dari Tribuana Tunggadewi. Sedangkan Ratu tersebut punya anak.
Nah…..

Entah apa namanya, namun jelas hal ini merupakan “ganjalan” yang dalam. Sebab tentunya hal ini bisa dikatakan peka, karena tak pernah ada buku atau literasi yang membahasnya.

Keusilan batin dan logika tentang kecurigaan ini, bisa dicoba dengan 2 pisau.
Data naskah dan logika celah sejarah.

Data Naskah.
Siapa sebenarnya suami dari Tribhuwana Tunggadewi ?
Dalam catatan Negarakertagama Pupuh 48:1-2 :
Tribhuwana Tunggadewi punya suami bernama Kertawardhana yang bergelar Bhre Tumapel, dan ayah biologis Hayam Wuruk & Dyah Nertaja.

Namun dalam hal ini Kertawardhana ibarat sosok misterius, yang ada hanya namanya, serta tidak ada peran politik dalam pemerintahan Majapahit. Tidak ada satu prasastipun yg menceritakannya, serta tiada epos peperangan yg dilakukan serta tidak ada dharma atas nama Kertawardhana. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan
suami raja lain seperti Cakradhara suami Gayatri.

Tribhuwana Tunggadewi naik tahta 1328 M, Hayam Wuruk lahir 1334 M. Artinya 6 tahun pertama Tribhuwana menjadi ratu, belum punya anak. Kemudian munculah sosok Kertawardhana.

Gelar Bhre Tumapel yang mengandung arti
Singhasari/Malang. Tapi Kertawardhana tidak pernah berbuat apapun di Tumapel.
Mencermati hal ini, maka bisa disimpulkan bahwa Kertawardhana hanya sekedar ” suami diatas kertas “. Maka tak heran jika ada sejarawan curiga tentang tokoh tersebut yang notabene seperti sebagai simbolis/kompromi politik.

Logika Celah Sejarah
Kenapa kecurigaan bahwa Gajahmada ada main asmara dengan Tribhuwana Tunggadewi ? Tentunya ada beberapa fakta keganjilan pada 1328 M
saat Jayanegara wafat, Tribhuwana naik takhta umur 18 th, seorang Ratu muda, cantik, belum nikah. Patihnya Gajah Mada, umur 30-an, jenius, setia.

Pada 1331 M ketika terjadi pemberontakan Sadeng. Gajah Mada dapat memadamkan peristiwa tersebut, lalu diangkat sebagai Mahapatih. Kekuasaan Gajah Mada sangat absolut dimana Tribhuwana sangat mendukung dan mempercayai.

Baru pada 1334 M Hayam Wuruk lahir, disebutkan ayahnya “Kertawardhana”.
Namun yang mengherankan, anak tsb mirip Gajah Mada, juga sifat-sifatnya yang ambisius, ekspansionis, visioner.

Ketika Tribhuwana lengser 1350 M, Hayam Wuruk naik tahta, dan Gajah Mada tetap sebagai Mahapatih. Transisi suksesi berjalan mulus. Tanpa drama dan intrik rebutan kuasa antara ibu dan anak.
1357 M Sumpah Palapa Gajah Mada tuntas mencapai puncak keberhasilan, dan setelah 7 tahun kemudian Gajah Mada “lengser” tanpa jejak jelas.

Pola kejanggalan yang nyata-nyata jelas :

  1. Kesetiaan Tribuana yang tanpa batas diberikan kepada Gajah Mada untuk membuat keputusan dan tindakan. Semua musuh Gajah Mada berarti musuh negara. Hal yg tidak wajar jika hanya sebatas relasi antara Ratu dan Patih.
  2. Konon tidak ada catatan Gajah Mada menikah, mempunyai istri atau anak. Sehingga terasa janggal
    untuk seorang pejabat setinggi itu di era yang menganggap garis keturunan berarti menggenggam kekuasaan.
  3. Sedangkan dalam versi yang lain, Gajah Mada disingkirkan secara halus oleh Wikramawardhana menantu dari Hayam Wuruk.
  4. Teori “permainan cinta” keduanya sebetulnya bukan hal yang baru. Sejarawan Slamet Muljana & Agus Aris Munandar pernah nyinggung secara samar-samar, bahwa mereka Tribhuwana dan Gajah Mada menjalin hubungan gelap dan sangat pribadi.
    Sementara dalam tradisi lisan Bali, ada kidung yang menyebut
    “Sang Mahapatih Amengkubhumi Tan kagraha, nanging garbini sang Sri Naranatha” yang artinya
    “Sang Mahapatih tak berumah tangga, tapi menghamili sang Ratu”. Namun, sumber ini sangat lemah tidak bisa jadi bukti akademik.
  5. Jika hal-hal tsb maka semua tanda-tanda bisa masuk akal.
    5a. Kenapa Kertawardhana dinyatakan sebagai sosok misteri ?
    Karena dia hanya berkedudukan sebagai suami politik, untuk menutup aib istana.

5b. Kenapa Gajah Mada tidak dikudeta pada 1331 M-1350 M, sebab tidak ada yang berani, karena dia dianggap “suami siri ratu dan bapak putra mahkota”. c. Ketika Hayam Wuruk dewasa, faksi istana tidak sepakat jika “anak selir” terus berkuasa. Maka Gajah Mada dengan legowo mundur (1357 M) menjadi resi di Wilis/Condrogeni, atau bisa disebut “disingkirkan” tapi terhormat.

5c. Dalam Negarakertagama ditulis raja sangat berduka, yang mengandung makan bahwa Hayam Wuruk menangis sedih atas wafatnya Gajah Mada pada 1364 M padahal ia cuma patih.

5d. Ini yang terpenting untuk diketahui, sebab semua yang diurai merupakan ranah “dugaan” bukan fakta. Tidak ada prasasti tentang cinta antara “Gajah Mada dan Tribhuwana”.

Sejarawan tentu tidak akan menulis hal ini di jurnal karena tidak ada bukti primer.
Tapi penyelaman batin dalam mencari tau dg berbagai cara itu syah.
Sejarah kuno banyak celah-celah kosongnya.
Sehingga terkadang logika, rasa dan pola kekuasaan lebih jujur dari prasasti yang disensor. Tentunya jika disimpulkan maka
Kertawardhana merupakan suami resmi.
Sedangkan Gajah Mada ? Hanya semesta yang menyaksikannya dengan membisu.
Namun juga lewat pendalaman rasa hubungan Tribhuwana dan Gajah Mada tertangkap vibrasi sangat tidak normal, sebagai Ratu dan Patih.

Epos, legenda tokoh terkadang tertangkap kurang masuk akal, namun sejarah itu milik sang pemenang, dan firasat itu milik yang jujur.

Tulisan ini bukan untuk mengadili masa-lalu, tetapi untuk meraba, merasakan denyut nadi jiwa suci manusia dibalik prasasti.

Bullllll….. bullllll…. klepussss…..

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *