‘Nyanyi Sunyi Revolusi’ #NontonTeaterDiRumahAja

 ‘Nyanyi Sunyi Revolusi’ #NontonTeaterDiRumahAja

Adegan dalam pentas teater ‘Nyanyi Sunyi Revolusi’ (foto2 Image Dynamic)

JAYAKARTA NEWS— Bakti Budaya Djarum Foundation mengajak penikmat seni menikmati #NontonTeaterDiRumahAja secara streaming rekaman dari pertunjukan  teater bertajuk ‘Nyanyi Sunyi Revolusi’ pada Sabtu (2/5) dan Minggu (3/5) pk 14.00 WIB di website www.indonesiakaya.com serta chanel YouTube IndonesiaKaya.

Pertunjukan teater yang mengangkat kisah hidup penyair Amir Hamzah ini pernah tayang di Gedung Kesenian Jakarta tanggal 2 dan 3 Februari 2019. Amir Hamzah adalah tokoh penting dalam perkembangan Bahasa Indonesia dan kecintaannya pada Bahasa Indonesia dibuktikan dengan mendukung Sumpah Pemuda yang baru dua tahun diresmikan tanggal 28 Oktober 1928.

Komitmennya menggunakan Bahasa Indonesia diucapkan dalam pertemuan dan kehidupan sehari-hari. Perjalanan kehidupan, kisah cinta dan perjuangan kepada tanah air divisualisasikan dalam teater ini sehingga ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Terjadinya Revolusi Sosial yang meletus di Sumatera Timur menjadi catatan sejarah terbentuknya Republik Indonesia. Dua puisinya yang terkenal yaitu ‘Nyanyi Sunyi’ (1937) dan ‘Buah Rindu’ (1941) sehingga kritikus sastra HB Jassin menjulukinya sebagai ‘Raja Penyair Pujangga Baru’.

foto Image Dynamic

“Saya sudah lama jatuh hati dengan puisi-puisinya yang syahdu dan penuh kesenduan. Namun, banyak lapisan baru dalam puisinya zaman itu. Amir Hamzah berperan besar lahirnya Republik Indonesia dan ia aktif dalam perkumpulan pemuda yang menyuarakan kesadaran nasionalisme melawan kolonialisme Belanda di Sumatera Timur. Walau ia termasuk salah satu keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat di Sumatera Timur pada masa Hindia Belanda,” ujar Happy Salma, produser Titi Mangsa pertunjukan ini.

Sedangkan pemeran Amir Hamzah, Lukman Sardi mengemukakan, banyak belajar literasi sastra Indonesia lebih dalam lagi. “Ternyata, karya-karya Amir Hamzah sarat bertema cinta dan agama serta cermin konflik batin yang mendalam. Ia memberi pelajaran yang sangat berarti, seumur hidupnya ia mempertahankan rasa cinta dan memaafkan di tengah hasrat yang penuh kebencian yang sangat kuat,” papar Lukman Sardi.

Lakon ini ditulis Ahda Imran, sutradara ditangan Iswadi Pratama dari Teater Lampung. Pemain Lukman Sardi (Amir Hamzah), Prisia Nasution (Tengku Tahura), Sri Qadariatin (Iliek Sundari) dan Dessy Susanti (Tengku Kamaliah). Berkisah ihwal cinta hubungan dengan manusia dan negaranya, dan endingnya adalah kematiannya dalam kerusuhan sosial diwarnai kekacauan dan kepentingan politik. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *