Nonton Wayang Bareng Maryadi

 Nonton Wayang Bareng Maryadi
Ayu Laras (paling kanan) dan sejumlah penyanyi (waranggono) lainnya,  turut memeriahkan acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Bekasi, (Foto : Nanang S)

JAYAKARTA NEWS – Adalah Maryadi, anggota DPRD Kota Bekasi (2014-2019) yang punya strategi unik untuk kembali meraih kepercayaan rakyat. Benar, ia maju kembali menjadi calon anggota DPRD Kota Bekasi dalam Pemilu 2019, 17 April mendatang, dari Partai Golkar.

Strategi Maryadi adalah menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di depan Rumah Sakit THB Kelurahan Pejuang Jaya, Kecamatan Medan Satria, Bekasi Kota. Sabtu (23/3/2019) malam. Wilayah itu termasuk dalam Dapil 6, yang meliputi Kecamatan Bekasi Barat, Medan Satria.

Selain nonton bareng warga, pertunjukan wayang kulit yang menampilkan dalang Ki Wahyu Darma S., itu dihelat dalam rangka HUT Kota Bekasi ke-22 sekaligus pengukuhan Komunitas Jawa Bekasi (KJB). Ribuan penonton hadir memadati area pertunjukan.

Undangan lain yang turut hadir adalah Komunitas Forum RW, Komunitas-komunitas Jawa yang ada di Bekasi, tokoh masyarakat, serta penggemar wayang kulit. Sedangkan dari unsur pemerintahan, hadir Lurah, Camat, hingga Kepala Dinas.

Maryadi, Anggota DPRD Kota Bekasi 2014-2019 (tengah memakai bangkon kuning) dan istri (paling kiri) didampingi Suyanto Ketua Komunitas Jawa Bekasi (memakai blangkon hitam) beserta sejumlah tokoh masyarakat, bersama masyarakat lainnya saat sedang menonton pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Bekasi. (Foto : Nanang S)

Pergelaran wayang digelar mulai pukul 22.00 WIB hingga pukul 04.00 dengan lakon Wahyu Topeng Wojo. Beberapa seniman, anggota KJB, dalang dan penyanyi cilik turut hadir memeriahkan acara tersebut.

Untuk Komunitas Jawa Bekasi (KJB), yang malam itu dikukuhkan, Maryadi duduk sebagai Pembina. Sedangkan Ketua dijajbat Suyanto. Komunitas Jawa Bekasi ini berasal dari berbagai komunitas Jawa yang ada di Bekasi terhimpun dalam satu wadah komunitas yang lebih luas yaitu Kumunitas Jawa Bekasi (KJB). Saat ini anggota resminya 150 orang, dan sekitar lima ratus orang anggota lain sedang dalam proses aktivasi menjadi anggota aktif.

Nantinya KJB diharapkan dapat mengakomodir penduduk yang berasal dari Jawa dan tinggal di wilayah Kota Bekasi. Tahukah Anda, dari total 2,8 juta penduduk kota Bekasi tak kurang dari 1,2 juta di antaranya berasal dari Jawa (42 persen). “Ke depan, KJB akan ikut berkontribusi membangun Kota Bekasi,” ujar Anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi Golkar ini, seraya menambahkan, “tujuan akhirnya adalah mendorong terciptanya ekonomi berbasis kerakyatan.”

Sejumlah dalang dan penyanyi cilik dari Bekasi turut diundang, saat menujukkan bakatnya diatas panggung dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Bekasi. (Nanang S.)

Wahyu Topeng Wojo

Waktu menunjuk pukul 22.00, ketika dalang Ki Wahyu Darma membuka pertunjukan. Lakon Wahyu Topeng Woojo menceritakan perjuangan mendapatkan wahyu yang merupakan enugerah para dewa. Wahyu itu turun diberikan kepada Gatotkaca karena jasanya membantu para dewa memindahkan khayangan. Tetapi upaya mendapatkan wahyu tersebut banyak halangan dari Boma Narakasura, putra Prabu Kresna, yang ingin merebut wahyu topeng wojo dari pemiliknya yang sah. Dengan bantuan ayahnya yang bernama Prabu Kresna, Boma Narakasuro berubah rupa menjadi Gatotkaca dan pergi ke khayangan menghadap para dewa untuk mengambil wahyu topeng wojo.

Tapi sayang, rencana jahatnya diketahui adik sepupu Gatotkaca yang bernama Wisanggeni dan mencegah mereka pergi ke khayangan sehingga terjadi perang antara Wisanggeni dan Kresna yang sama-sama sakti. Karena sama-sama sakti, sehingga tidak ada yang menang dan kalah. Kresna bersama Boma langsung kabur terbang ke khayangan meminta bantuan para Dewa untuk merebut Wahyu Topeng Wojo dengan cara halus. Para Dewa akhirnya terpedaya dan meyerahkan Wahyu Topeng Wojo kepada Boma yang telah menyamar sebagai Gatotkaca.

Setelah Kresna dan Boma pergi, datanglah Wisanggeni, Gatotkaca asli dan Petruk untuk meminta haknya yang ternyata telah diambil Kresna dan Boma. Akhirnya mereka pergi ke kerajaan Dwarawati. Di sana Gatotkaca bertemu Boma, sang pencuri wahyu topeng wojo dan akhirnya terjadi duel Gatotkaca kembar. Karena Gatotkaca asli memiliki kesaktian, akhirnya Boma (Gatotkaca palsu) kalah terbunuh.

Tetapi Boma memiliki aji pancasona dan ia bisa hidup kembali jika ia depak tanah dan dilompati oleh  Kresna ayahnya. Dan Gatotkaca pun bingung Boma bisa hidup kembali, dan ia minta bantuan ayahnya, Werkudara (Bima) dan saudara-saudara Pandawa lainnya. Kresna tahu kalau putranya akan dihabisi oleh para Pandawa, akhirnya Kresna mengajak putranya menghadap Pandawa untuk membuat berbagai fitnah dan adu domba untuk menutupi tipu muslihatnya agar bisa mengambil Wahyu Topeng Wojo yang bukan haknya dan akhirnya terjadi kegaduhan di keluarga Pandawa.

Pesan yang ingin disampaikan melalui lakon ini, kata Maryadi, antara lain menggambarkan betapa sengitnya perebutan wahyu atau sebuah kekuasaan yang diwarnai tindakan-tindakan yang menghalalkan segala cara, fitnah, informasi hoax, pemaksaan kehendak, pengerahan massa dan sebagainya. Bila dikaitkan kondisi negara kita saat ini, sekarang kita sedang berada dalam tahun politik menjelang pesta demokrasi pemilihan anggota Legislatif dan pemilihan Presiden dan wakil presiden pada tanggal 17 April 2019. Kita semua berharap dengan cerita lakon Wahyu Topeng Wojo itu bisa mengingatkan kita untuk mencegah agar dalam pelaksanaan pesta demokrasi yang tinggal beberapa lagi ini bisa berjalan dengan aman dan kondusif.

Sementara itu dalang Ki Wahyu Darma S, dalam alur ceritanya menyisipkan sebuah pesan empat pilar kebangsaan untuk menjaga persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia, yaitu, Pancasila, Undang Undang dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI harga mati.

Ia juga berharap kepada generasi muda, walapun sudah hijrah dari daerah asalnya jangan sampai budaya itu punah, seni budaya wayang ini harus terus dilestarikan, generasi muda harus mempelajari wayang karena merupakan aset bangsa, makanya untuk generasi muda nikmati dan pelajari wayang ini karena disitu banyak filsafat dan pelajaran yang bisa kita ambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan banyak pagelaran wayang bisa menjadi tolok ukur bahwa wayang telah banyak di akui.

Karena dari kecil sudah hobi nonton wayang, jiwa seninya, terutama kesenian wayang kulit seolah telah melekat dalam dirinya. ia sangat menikmatinya saat menonton wayang dari awal acara hingga akhir, rasa mengantuk tidak nampak pada dirinya, untuk mengusir rasa kantuknya, sekali-kali ia beranjak dari kursi duduknya sambil menyapa penonton di sekelilingnya. Didampingi istri dan putranya dan beberapa tokoh masyarakat, ia bercerita kalau ia sangat mengagumi sosok wayang Werkudoro atau Bima, karena sifatnya yang jujur, pemberani, tidak takut kepada siapapun. Ia hanya patuh dan takut kepada Dewaruci, artinya ia hanya takuti kepada yang  satu yaitu Tuhan, kalau kita merasa benar kenapa kita harus takut ? banyak hal yang kita ambil dalam kisah wayang, pada kisah perang bubat misalnya, akhirnya yang menang itu adalah yang benar.ujanya.

Ki Dalang pun seolah paham, beberapa kali ia di daulat oleh Ki dalang untuk naik ke atas panggung menyumbangkan lagu kesukaannya, tepuk tangan dari para penonton menambah suasana jadi segar kembali dan rasa kantok penontonpun jadi hilang. didampingi Ayu Laras salah satu penyanyi campursari, ia pun memenuhi ajakan Ki Dalang, istrinya yang duduk di kursi  depan panggung hanya ikut senyum-senyum. Selain hobi nonton wayang, ia juga suka hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat banyak atau sosial, waktu sekolah selalu menjadi Ketua Kelas, Ketua Osis dan Pramuka, di percaya menjadi Ketua RT hingga tiga belas tahun, kalau di dalam rumah tidak betah, pinginnya ngobrol dengan komunitas  masyarakat, untuk jenis makanan ia sangat suka dengan masakan oseng-oseng pepaya, ujarnya dalam penutupan wawancara dengan jayakartanews hampir jelang waktu subuh ini. (Nanang S.)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *