Melawan Corona dengan Wayang

 Melawan Corona dengan Wayang

Ki Ardhi Poerboantono, S.Pd

Jayakarta News – Ada pemikiran menarik dari dalang muda asal Malang, Ki Ardhi Poerboantono, S.Pd. Mengacu kepada hasil penelitian virolog, bahwa ukuran virus corona itu 120 nanometer. Pakar lain menyebut angka 400 – 500 mikrometer.

Jika Anda seorang awam, tidak akan bisa membayangkan sebuah jazad renik berukuran sepermiliar meter untuk bilangan nanometer (NM). Kalimat-kalimat ini hanya untuk mempertegas, bahwa makhluk ini teramat-sangat kecil. “Tidak bisa dilibas dengan rumus fisika atau kimia. Lawan paling ampuh adalah dengan ‘suara’,” ujar Ki Ardhi.

Leluhur kita katanya, juga pernah melewati masa-masa seperti ini. Dulu, leluhur kita menyebutnya “pagebluk”. Wabah yang sering dinarasikan “isuk loro sore mati” (pagi sakit sore meninggal). Menggambarkan keadaan betapa ganasnya pagebluk pada masa itu.

“Kita bisa belajar dari para leluhur dalam mengatasi wabah. Mereka mengusirnya dengan suara. Yakni dengan melantunkan tembang-tembang mantra macapat, diiringi irama gamelan yang magis. Ini terbukti ampuh mengatasi pageblug,” ujar dalang otodidak yang sempat menekuni seni beladiri karate semasa kecil.

Satu fakta lagi, bahwa ada tiga daerah yang terdeteksi sangat rendah tingkat penyebaran Covid-19. Masing-masing Yogyakarta, Bali, dan Aceh. Ardhi menengarai, tiga daerah itu memiliki tradisi budaya yang kental.

Di Yogya hampir di setiap penjuru tempat, terdengar alunan gamelan atau alunan tembang macapat. Di Bali, hampir di setiap banjar memiliki sanggar lengkap dengan seperangkat gamelan yang hampir tiap malam ditabuh. Di Aceh, tradisi mendaras, atau mengaji sangat kental. Semua “suara” itu ia percaya menjadi “pengusir” virus corona.

Wayang Haul Bung Karno

Memanfaatkan momentum Bulan Bung Karno, dalang Ki Ardhi Poerboantono sedia menggelar pertunjukan wayang kulit pada hari Minggu (21/6/2020). Pakeliran yang dihelat di Gedung KNPI Malang ini dimaksudkan juga untuk memperingati haul Bung Karno yang ke-50 tahun.

“Saya berterima kasih atas dukungan Pemkot Malang. Semoga ini menjadi titik awal untuk pergelaran wayang selanjutnya,” ujar Ardhi yang berencana menggelar wayang akbar pada bulan Agustus 2020, di Malang.

Makna pergelaran wayang nanti, benar-benar multi dimensi. Secara spiritual, kami maksudkan untuk menangkal virus corona. Bersamaan itu, memperingati haul Bung Besar. Dan yang terakhir, menghidupkan aktivitas para seniman dan budayawan, khususnya di Kota Malang, agar tetap berkreasi.

“Seniman kalau tidak berkarya, hatinya sangat perih. Saya mengajak para seniman untuk bangkit dan berkarya. Jangan berorientasi uang. Utamakan untuk kesehatan jiwa. Baik jiwa seniman itu sendiri, maupun jiwa masyarakat penggemar seni tradisi,” ujarnya.

Ditambahkan, di luar protokol kesehatan, jangan sekali-kali kita melupakan faktor kejiwaan. Biarpun kita menerapkan protokol kesehatan, makan cukup, olahraga cukup, tetapi kalau jiwanya kering, tetap saja ada satu relung di hatinya yang kosong. Keadaan ini justru rentan menurunkan imunitas yang pada akhirnya rentan termasuki virus.

Pertunjukan wayang  nanti pun, tetap dilakukan dengan protokol kesehatan. Jumlah penonton dibatasi. Selebihnya, bisa menyaksikan lewat streaming. “Inilah bentuk kolaborasi yang harmonis antara tradisi luhur dan perkembangan teknologi,” katanya.

Ardhi bahkan punya gagasan, untuk mengubah pola pikir seniman terkait dengan “uang lelah” atau honorarium setiap kali menjual jasanya di bidang kesenian atau kebudayaan. “Tentang imbalan, mari kita berpikir cara leluhur. Dulu, imbal jasa seniman sering diwujudkan dalam bentuk beras, palawija, atau kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Bahkan orang zaman dulu, terbiasa melakukan barter kebutuhan. Ayam ditukar beras. Sayur-mayur ditukar gula-kopi. Orang bekerja diberi upah beras. Bahkan saat ini masih ada beberapa komunitas tradisional yang melaksanakan pola barter seperti itu. “Mari kita berpikir bagaimana menyiasati pandemi ini dari berbagai dimensi, dengan memasukkan unsur kearifan lokal,” ujar lulusan Universitas Negeri Malang itu. (heri/roso)

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • “Beri aku seribu orang tua maka akan aku cabut mahameru dari akarnya …
    Beri aku sepuluh pemuda yang militansi maka akan aku guncang dunia ..”
    Ir. Soekarno
    Alfatihan
    🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨
    menyambut haul ke-50 Ir. Soekarno
    #gpansorbansergadingkasri
    #arema

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *