Sentuhan Jiwa di Balik Bayangan : Kisah Perajin Wayang Kepuhsari

Di tengah hiruk pikuk modernisasi, Desa Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri, masih teguh menjaga warisan adiluhung budaya Jawa : seni pembuatan wayang kulit. Di desa ini, setiap pahatan, setiap ukiran, bukan sekadar bentuk, melainkan penjelmaan dari jiwa para perajin yang berdedikasi. Merekalah para penjaga tradisi yang memastikan bayangan-bayangan ini terus menari di panggung kehidupan.

Sejarah kerajinan wayang di Kepuhsari berakar kuat. Turun temurun, keahlian ini diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan hanya sekedar mata pencarian, membuat wayang di Kepuhsari adalah bagian dari identitas, napas kehidupan yang tak terpisahkan dari denyut nadi desa. Wayang-wayang yang lahir dari tangan terampil mereka bukan hanya pajangan, melainkan media untuk menyampaikan nilai-nilai luhur, cerita-cerita epik, dan filosofi kehidupan. 

Para pengrajin di Kepuhsari dikenal dengan dengan ketelitian dan detail dalam setiap karyanya. Bahan baku utama, seperti kulit kerbau pilihan, tanduk kerbau/sapi, diolah dengan cermat.

Proses panjang dan penuh kesabaran, dimulai dari pengeringan, perendaman, penipisan, hingga pewarnaan yang menggunakan pigmen alami, menghasilkan wayang dengan kualitas estetika dan daya tahan tinggi.

Sosok di Balik Layar: Dedikasi Sang Maestro

Salah satu maestro yang menjadi ikon di Kepuhsari adalah Sutarno, Ia adalah contoh nyata bagaimana kecintaan pada seni dapat membentuk sebuah karya agung, Setiap goresan pahatannya bukan hanya teknik, tetapi juga ekspresi dari pengalaman hidup dan pemahaman mendalam tentang karakter wayang yang diciptakan.

Perajin di Kepuhsari memahami betul pakem (aturan) dalam membuat wayang, namun juga tak jarang berinovasi, menciptakan karakter-karakter baru atau memadukan elemen modern tanpa menghilangkan esensi tradisi.

Di tengah gempuran produk massal dan hiburan digital, para perajin wayang di Kepuhsari menghadapi berbagai tantangan. Regenerasi menjadi isu krusial; minat generasi muda untuk meneruskan tradisi ini perlu terus dipupuk.

Selain itu, pemasaran dan promosi juga menjadi kunci agar wayang Kepuhsari dapat menjangkau pasar lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun, semangat para perajin tak pernah padam. Mereka terus berkarya, berinovasi, dan berharap agar seni wayang ini dapat terus hidup dan lestari.

Pemerintah daerah, komunitas seni, dan masyarakat memiliki peran penting untuk mendukung kelangsungan seni adiluhung ini, baik melalui pelatihan, pameran, maupun dukungan pemasaran.

Dengan mengunjungi Desa Kepuhsari, kita tidak hanya melihat proses pembuatan wayang, tetapi juga menyaksikan semangat dan dedikasi yang luar biasa dalam melestarikan budaya. Setiap wayang yang lahir dari tangan mereka adalah bukti bahwa seni tak akan pernah mati selama ada jiwa-jiwa yang mendedikasikan diri untuknya. ***

Khofifah: Wayang Kulit bukan sekadar Hiburan

PONOROGO, JAYAKARTA NEWS – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyaksikan secara langsung pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Hari Jadi Ke-78 Provinsi Jatim yang digelar di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo, Minggu (19/11) dini hari.

Gelaran yang juga dihadiri Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko merupakan titik kedua, dari total lima titik rangkaian pegelaran Wayang Kulit yang digelar dalam rangka Hari Jadi Ke-78 Provinsi Jatim oleh Pemprov Jatim.

Pagelaran wayang kulit ini dibawakan oleh Ki Rudiyanto dari Blitar dengan lakon Wahyu Manik Moyo. Sedangkan Limbukan atau lawakan dibawakan oleh Cak Kirun dan Cak Marwoto.

Pada kesempatan tersebut, di tengah adegan limbukan, Gubernur Khofifah menyempatkan menyapa ribuan masyarakat yang hadir sekaligus berdialog santai bersama Cak Kirun dan Cak marwoto.

Secara khusus, ia menyampaikan, seni wayang kulit bukan hanya digelar untuk sekadar menghibur. Melainkan sarat akan pesan moral dan etika dalam kehidupan. Maka, tak heran jika Wayang mampu mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Untuk itu, upaya pelestarian wayang harus terus dilakukan.

Wayang sendiri, telah ditetapkan oleh UNESCO sejak 7 November 2003 sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi dan warisan budaya yang indah dan berharga. Kemudian penetapan wayang tersebut kembali masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO per tanggal 4 November 2008 di Istanbul Turki.

Menurut Khofifah, pengakuan UNESCO pada Wayang menjadi prestasi membanggakan bagi Indonesia. Hal ini juga menempatkan wayang pada posisi yang tepat sebagai alat yang kuat untuk mempromosikan, melestarikan dan memahami warisan budaya Indonesia yang kaya dan beragam.

“Dalam Rangkaian Hari Jadi Ke- 78 Jatim saya meminta kepada kawan-kawan di Pemprov Jatim ayo menggelar wayangan di lima titik di Jatim. Bukan tanpa alasan, ini sebagai upaya pelestarian wayang yang sudah diakui UNESCO agar makin intensif dan bisa menginspirasi dan mendidik generasi mendatang,” ungkapnya.

Khofifah menambahkan, banyak sekali filosofi kehidupan yang bisa dinarasikan melalui wayang. Dan seni dalam pewayangan ini tidak mudah ditirukan oleh teatrikal dan drama karena ceritanya yang panjang dan sarat nilai nilai filosofis baik kesejarahan, kehidupan maupun perjuangan.

“Wayang menjadi ikon budaya yang mendunia dan menjadi pintu gerbang untuk memahami lebih dalam tentang budaya Indonesia,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gubernur Khofifah juga mengajak seluruh masyarakat Jawa Timur agar terus menjaga kedamaian, ketenteraman, persatuan dan persaudaraan jelang Pemilu Februari 2024.

Ia menegaskan, siapapun pemimpin Indonesia hasil Pemilu terpilih nantinya merupakan kader terbaik bangsa yang mampu menjaga negara agar tetap tentram dan damai. Ini penting, karena seperti yang sedang dialami Palestina tidak ada kedamaian dan ketenangan, maka harta pun tidak ada harganya.

“Maka dari itu jaga persaudaraan dan persatuan saat Pemilu. Sanggup nggeh (sanggup ya),”? ajak Gubernur Khofifah yang langsung dijawab dengan antusias oleh masyarakat yang hadir.

“Dan semoga seluruh masyarakat Ponorogo selalu diparingi kesejahteraan,kebahagiaan, kebarokahan dan kesehatan,” pungkasnya.

Wejangan wejangan yang disampaikan Gubernur Khofifah ini pun ditanggapi Cak Kirun. Ia mengatakan, perhatian Gubernur Khofifah terhadap seni wayang dilandasi pada Pancasila dan agama. Sehingga upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa terus terjaga.

“Beliau mengamati dan menaruh perhatian terhadap wayang maka diibaratkan seperti tokoh perwayangan Kunti Tali Broto yang mana mengayomi masyarakat Jatim berdasarkan asas Pancasila,” tandasnya. (poedji)

Seniman Malang Sukses Gelar Wayangan dengan Protokol Kesehatan

Jayakarta News – Dalang Ki Ardhi Poerboantono S.Pd melakukan terobosan baru di tengah pandemi Covid-19, dengan menyelenggarakan Pergelaran Wayang Kulit di gedung KNPI Malang minggu (21/6/2020) kemarin. Pergelaran wayang yang mengambil tema “Memetri Tekane Jaman Anyar” juga diselenggarakan dalam rangka memperingati haul Bung Karno yang ke-50 tahun.

Pergelaran kemarin dihadiri antara lain Walikota Malang Sutiaji, Wakil Walikota Malang Sofyan Edi Jarwoko, Ketua Fraksi PDIP Jatim Sri Untari, Ketua DPRD Kota Malang  I Made Rian Diana Kartika, Bupati Malang Sanusi, perwakilan Kapolresta Malang serta sejumlah pejabat lainya.

Di samping undangan terbatas di gedung KNPI, pergelaran wayang ini juga disiarkan secara online lewat streaming di situs Youtube. Di luar dugaan, pemirsa online melalui youtube mencapai 500 orang lebih. Sepertinya target dalang Ki Ardhi menghidupkan kembali roda ekonomi seniman Malang nampaknya telah membuahkan hasil yang positif. (heri)

Link Wayang Kebangsaan Ki Ardhi Poerboantono

https://youtu.be/IZv-Q-sdc_o

Melawan Corona dengan Wayang

Jayakarta News – Ada pemikiran menarik dari dalang muda asal Malang, Ki Ardhi Poerboantono, S.Pd. Mengacu kepada hasil penelitian virolog, bahwa ukuran virus corona itu 120 nanometer. Pakar lain menyebut angka 400 – 500 mikrometer.

Jika Anda seorang awam, tidak akan bisa membayangkan sebuah jazad renik berukuran sepermiliar meter untuk bilangan nanometer (NM). Kalimat-kalimat ini hanya untuk mempertegas, bahwa makhluk ini teramat-sangat kecil. “Tidak bisa dilibas dengan rumus fisika atau kimia. Lawan paling ampuh adalah dengan ‘suara’,” ujar Ki Ardhi.

Leluhur kita katanya, juga pernah melewati masa-masa seperti ini. Dulu, leluhur kita menyebutnya “pagebluk”. Wabah yang sering dinarasikan “isuk loro sore mati” (pagi sakit sore meninggal). Menggambarkan keadaan betapa ganasnya pagebluk pada masa itu.

“Kita bisa belajar dari para leluhur dalam mengatasi wabah. Mereka mengusirnya dengan suara. Yakni dengan melantunkan tembang-tembang mantra macapat, diiringi irama gamelan yang magis. Ini terbukti ampuh mengatasi pageblug,” ujar dalang otodidak yang sempat menekuni seni beladiri karate semasa kecil.

Satu fakta lagi, bahwa ada tiga daerah yang terdeteksi sangat rendah tingkat penyebaran Covid-19. Masing-masing Yogyakarta, Bali, dan Aceh. Ardhi menengarai, tiga daerah itu memiliki tradisi budaya yang kental.

Di Yogya hampir di setiap penjuru tempat, terdengar alunan gamelan atau alunan tembang macapat. Di Bali, hampir di setiap banjar memiliki sanggar lengkap dengan seperangkat gamelan yang hampir tiap malam ditabuh. Di Aceh, tradisi mendaras, atau mengaji sangat kental. Semua “suara” itu ia percaya menjadi “pengusir” virus corona.

Wayang Haul Bung Karno

Memanfaatkan momentum Bulan Bung Karno, dalang Ki Ardhi Poerboantono sedia menggelar pertunjukan wayang kulit pada hari Minggu (21/6/2020). Pakeliran yang dihelat di Gedung KNPI Malang ini dimaksudkan juga untuk memperingati haul Bung Karno yang ke-50 tahun.

“Saya berterima kasih atas dukungan Pemkot Malang. Semoga ini menjadi titik awal untuk pergelaran wayang selanjutnya,” ujar Ardhi yang berencana menggelar wayang akbar pada bulan Agustus 2020, di Malang.

Makna pergelaran wayang nanti, benar-benar multi dimensi. Secara spiritual, kami maksudkan untuk menangkal virus corona. Bersamaan itu, memperingati haul Bung Besar. Dan yang terakhir, menghidupkan aktivitas para seniman dan budayawan, khususnya di Kota Malang, agar tetap berkreasi.

“Seniman kalau tidak berkarya, hatinya sangat perih. Saya mengajak para seniman untuk bangkit dan berkarya. Jangan berorientasi uang. Utamakan untuk kesehatan jiwa. Baik jiwa seniman itu sendiri, maupun jiwa masyarakat penggemar seni tradisi,” ujarnya.

Ditambahkan, di luar protokol kesehatan, jangan sekali-kali kita melupakan faktor kejiwaan. Biarpun kita menerapkan protokol kesehatan, makan cukup, olahraga cukup, tetapi kalau jiwanya kering, tetap saja ada satu relung di hatinya yang kosong. Keadaan ini justru rentan menurunkan imunitas yang pada akhirnya rentan termasuki virus.

Pertunjukan wayang  nanti pun, tetap dilakukan dengan protokol kesehatan. Jumlah penonton dibatasi. Selebihnya, bisa menyaksikan lewat streaming. “Inilah bentuk kolaborasi yang harmonis antara tradisi luhur dan perkembangan teknologi,” katanya.

Ardhi bahkan punya gagasan, untuk mengubah pola pikir seniman terkait dengan “uang lelah” atau honorarium setiap kali menjual jasanya di bidang kesenian atau kebudayaan. “Tentang imbalan, mari kita berpikir cara leluhur. Dulu, imbal jasa seniman sering diwujudkan dalam bentuk beras, palawija, atau kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Bahkan orang zaman dulu, terbiasa melakukan barter kebutuhan. Ayam ditukar beras. Sayur-mayur ditukar gula-kopi. Orang bekerja diberi upah beras. Bahkan saat ini masih ada beberapa komunitas tradisional yang melaksanakan pola barter seperti itu. “Mari kita berpikir bagaimana menyiasati pandemi ini dari berbagai dimensi, dengan memasukkan unsur kearifan lokal,” ujar lulusan Universitas Negeri Malang itu. (heri/roso)

Nonton Wayang Bareng Maryadi

Ayu Laras (paling kanan) dan sejumlah penyanyi (waranggono) lainnya,  turut memeriahkan acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Bekasi, (Foto : Nanang S)

JAYAKARTA NEWS – Adalah Maryadi, anggota DPRD Kota Bekasi (2014-2019) yang punya strategi unik untuk kembali meraih kepercayaan rakyat. Benar, ia maju kembali menjadi calon anggota DPRD Kota Bekasi dalam Pemilu 2019, 17 April mendatang, dari Partai Golkar.

Strategi Maryadi adalah menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di depan Rumah Sakit THB Kelurahan Pejuang Jaya, Kecamatan Medan Satria, Bekasi Kota. Sabtu (23/3/2019) malam. Wilayah itu termasuk dalam Dapil 6, yang meliputi Kecamatan Bekasi Barat, Medan Satria.

Selain nonton bareng warga, pertunjukan wayang kulit yang menampilkan dalang Ki Wahyu Darma S., itu dihelat dalam rangka HUT Kota Bekasi ke-22 sekaligus pengukuhan Komunitas Jawa Bekasi (KJB). Ribuan penonton hadir memadati area pertunjukan.

Undangan lain yang turut hadir adalah Komunitas Forum RW, Komunitas-komunitas Jawa yang ada di Bekasi, tokoh masyarakat, serta penggemar wayang kulit. Sedangkan dari unsur pemerintahan, hadir Lurah, Camat, hingga Kepala Dinas.

Maryadi, Anggota DPRD Kota Bekasi 2014-2019 (tengah memakai bangkon kuning) dan istri (paling kiri) didampingi Suyanto Ketua Komunitas Jawa Bekasi (memakai blangkon hitam) beserta sejumlah tokoh masyarakat, bersama masyarakat lainnya saat sedang menonton pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Bekasi. (Foto : Nanang S)

Pergelaran wayang digelar mulai pukul 22.00 WIB hingga pukul 04.00 dengan lakon Wahyu Topeng Wojo. Beberapa seniman, anggota KJB, dalang dan penyanyi cilik turut hadir memeriahkan acara tersebut.

Untuk Komunitas Jawa Bekasi (KJB), yang malam itu dikukuhkan, Maryadi duduk sebagai Pembina. Sedangkan Ketua dijajbat Suyanto. Komunitas Jawa Bekasi ini berasal dari berbagai komunitas Jawa yang ada di Bekasi terhimpun dalam satu wadah komunitas yang lebih luas yaitu Kumunitas Jawa Bekasi (KJB). Saat ini anggota resminya 150 orang, dan sekitar lima ratus orang anggota lain sedang dalam proses aktivasi menjadi anggota aktif.

Nantinya KJB diharapkan dapat mengakomodir penduduk yang berasal dari Jawa dan tinggal di wilayah Kota Bekasi. Tahukah Anda, dari total 2,8 juta penduduk kota Bekasi tak kurang dari 1,2 juta di antaranya berasal dari Jawa (42 persen). “Ke depan, KJB akan ikut berkontribusi membangun Kota Bekasi,” ujar Anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi Golkar ini, seraya menambahkan, “tujuan akhirnya adalah mendorong terciptanya ekonomi berbasis kerakyatan.”

Sejumlah dalang dan penyanyi cilik dari Bekasi turut diundang, saat menujukkan bakatnya diatas panggung dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Bekasi. (Nanang S.)

Wahyu Topeng Wojo

Waktu menunjuk pukul 22.00, ketika dalang Ki Wahyu Darma membuka pertunjukan. Lakon Wahyu Topeng Woojo menceritakan perjuangan mendapatkan wahyu yang merupakan enugerah para dewa. Wahyu itu turun diberikan kepada Gatotkaca karena jasanya membantu para dewa memindahkan khayangan. Tetapi upaya mendapatkan wahyu tersebut banyak halangan dari Boma Narakasura, putra Prabu Kresna, yang ingin merebut wahyu topeng wojo dari pemiliknya yang sah. Dengan bantuan ayahnya yang bernama Prabu Kresna, Boma Narakasuro berubah rupa menjadi Gatotkaca dan pergi ke khayangan menghadap para dewa untuk mengambil wahyu topeng wojo.

Tapi sayang, rencana jahatnya diketahui adik sepupu Gatotkaca yang bernama Wisanggeni dan mencegah mereka pergi ke khayangan sehingga terjadi perang antara Wisanggeni dan Kresna yang sama-sama sakti. Karena sama-sama sakti, sehingga tidak ada yang menang dan kalah. Kresna bersama Boma langsung kabur terbang ke khayangan meminta bantuan para Dewa untuk merebut Wahyu Topeng Wojo dengan cara halus. Para Dewa akhirnya terpedaya dan meyerahkan Wahyu Topeng Wojo kepada Boma yang telah menyamar sebagai Gatotkaca.

Setelah Kresna dan Boma pergi, datanglah Wisanggeni, Gatotkaca asli dan Petruk untuk meminta haknya yang ternyata telah diambil Kresna dan Boma. Akhirnya mereka pergi ke kerajaan Dwarawati. Di sana Gatotkaca bertemu Boma, sang pencuri wahyu topeng wojo dan akhirnya terjadi duel Gatotkaca kembar. Karena Gatotkaca asli memiliki kesaktian, akhirnya Boma (Gatotkaca palsu) kalah terbunuh.

Tetapi Boma memiliki aji pancasona dan ia bisa hidup kembali jika ia depak tanah dan dilompati oleh  Kresna ayahnya. Dan Gatotkaca pun bingung Boma bisa hidup kembali, dan ia minta bantuan ayahnya, Werkudara (Bima) dan saudara-saudara Pandawa lainnya. Kresna tahu kalau putranya akan dihabisi oleh para Pandawa, akhirnya Kresna mengajak putranya menghadap Pandawa untuk membuat berbagai fitnah dan adu domba untuk menutupi tipu muslihatnya agar bisa mengambil Wahyu Topeng Wojo yang bukan haknya dan akhirnya terjadi kegaduhan di keluarga Pandawa.

Pesan yang ingin disampaikan melalui lakon ini, kata Maryadi, antara lain menggambarkan betapa sengitnya perebutan wahyu atau sebuah kekuasaan yang diwarnai tindakan-tindakan yang menghalalkan segala cara, fitnah, informasi hoax, pemaksaan kehendak, pengerahan massa dan sebagainya. Bila dikaitkan kondisi negara kita saat ini, sekarang kita sedang berada dalam tahun politik menjelang pesta demokrasi pemilihan anggota Legislatif dan pemilihan Presiden dan wakil presiden pada tanggal 17 April 2019. Kita semua berharap dengan cerita lakon Wahyu Topeng Wojo itu bisa mengingatkan kita untuk mencegah agar dalam pelaksanaan pesta demokrasi yang tinggal beberapa lagi ini bisa berjalan dengan aman dan kondusif.

Sementara itu dalang Ki Wahyu Darma S, dalam alur ceritanya menyisipkan sebuah pesan empat pilar kebangsaan untuk menjaga persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia, yaitu, Pancasila, Undang Undang dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI harga mati.

Ia juga berharap kepada generasi muda, walapun sudah hijrah dari daerah asalnya jangan sampai budaya itu punah, seni budaya wayang ini harus terus dilestarikan, generasi muda harus mempelajari wayang karena merupakan aset bangsa, makanya untuk generasi muda nikmati dan pelajari wayang ini karena disitu banyak filsafat dan pelajaran yang bisa kita ambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan banyak pagelaran wayang bisa menjadi tolok ukur bahwa wayang telah banyak di akui.

Karena dari kecil sudah hobi nonton wayang, jiwa seninya, terutama kesenian wayang kulit seolah telah melekat dalam dirinya. ia sangat menikmatinya saat menonton wayang dari awal acara hingga akhir, rasa mengantuk tidak nampak pada dirinya, untuk mengusir rasa kantuknya, sekali-kali ia beranjak dari kursi duduknya sambil menyapa penonton di sekelilingnya. Didampingi istri dan putranya dan beberapa tokoh masyarakat, ia bercerita kalau ia sangat mengagumi sosok wayang Werkudoro atau Bima, karena sifatnya yang jujur, pemberani, tidak takut kepada siapapun. Ia hanya patuh dan takut kepada Dewaruci, artinya ia hanya takuti kepada yang  satu yaitu Tuhan, kalau kita merasa benar kenapa kita harus takut ? banyak hal yang kita ambil dalam kisah wayang, pada kisah perang bubat misalnya, akhirnya yang menang itu adalah yang benar.ujanya.

Ki Dalang pun seolah paham, beberapa kali ia di daulat oleh Ki dalang untuk naik ke atas panggung menyumbangkan lagu kesukaannya, tepuk tangan dari para penonton menambah suasana jadi segar kembali dan rasa kantok penontonpun jadi hilang. didampingi Ayu Laras salah satu penyanyi campursari, ia pun memenuhi ajakan Ki Dalang, istrinya yang duduk di kursi  depan panggung hanya ikut senyum-senyum. Selain hobi nonton wayang, ia juga suka hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat banyak atau sosial, waktu sekolah selalu menjadi Ketua Kelas, Ketua Osis dan Pramuka, di percaya menjadi Ketua RT hingga tiga belas tahun, kalau di dalam rumah tidak betah, pinginnya ngobrol dengan komunitas  masyarakat, untuk jenis makanan ia sangat suka dengan masakan oseng-oseng pepaya, ujarnya dalam penutupan wawancara dengan jayakartanews hampir jelang waktu subuh ini. (Nanang S.)

Hikayat Wayang Pucung (1)

KESENIAN wayang kulit, adalah salah satu warisan budaya asli Indonesia yang telah mendapat pengakuan badan PBB UNESCO, sejak 13 tahun lalu. Sayangnya, eksistensi wayang makin terpinggirkan di negeri sendiri. Di Jawa sekalipun.

Syahdan, sejumlah pemuda Desa Pucung, Wukirsari, Bantul – Yogyakarta merasa prihatin. Tidak sekadar prihatin, mereka pun berbuat. Caranya, mengembangkan kerajinan wayang kulit.

“Kebanyakan pemuda desa kami lebih memilih bekerja di pabrik, toko, dll. Mereka enggan menjadi perajin wayang karena penghasilannya kecil. Walhasil, regenerasi perajin wayang kulit di desa kami sulit berjalan. Yang tersisa hanyalah para perajin wayang yang sudah lanjut usia,”  tutur Demy  Raharja mewakili  Wisata Wayangan Desa Pucung.

Demy awalnya juga terbilang tidak terlalu suka wayang. “Dulu bapak saya minta bantuan ngurus wayang tapi saya tolak. Saya pikir, ngapain susah-susah ngurusi wayang. Lagian, zaman sekarang apa masih ada yang suka wayang,” tutur jebolan S2 Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini.

Kesadaran akan perlunya melestarikan budaya sendiri, dalam hal ini wayang, baru muncul saat kuliah. Ketika itu ada pelajaran kebangsaan, saya banyak membaca buku tentang kebangsaan, budaya Indonesia, dll. Hal ini menjadi ‘titik-balik’ dalam kehidupan saya. Saya berpikir, teman-teman yang memperjuangkan budaya Indonesia apa pun itu karena cinta Indonesia.

Sedangkan saya, dibesarkan oleh orangtua yang perajin wayang bahkan kuliah dari hasil  wayang, tidak melakukan apa-apa untuk budaya sendiri. Jadi dari peristiwa itulah kesadaran saya muncul dan akhirnya sampai seperti ini (membangun Wisata Wayang Desa Pucung),” papar lelaki yang juga menjalani bisnis tour and travel ini. ***