• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Sejarah Mata Uang Kertas Pertama Dunia dan Filosofi di Balik Nilai

Sejarah Mata Uang Kertas Pertama Dunia dan Filosofi di Balik Nilai

January 18, 2026
Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

October 23, 2026
Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

October 23, 2026
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

October 22, 2026
Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

October 22, 2026
Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

October 22, 2026
Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

October 22, 2026
Empat Tahun Berperang Rusia Kehilangan 350.000 Tentaranya, Putin: ‘Kemenangan akan Selalu Milik Kita!

Jalan Perdamaian Terbuka? Presiden Putin Setuju Perundingan Damai dengan AS dan Ukraina

October 22, 2026
Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

October 22, 2026
Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

October 22, 2026
BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

October 22, 2026
Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

October 21, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Friday, October 23, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Sejarah Mata Uang Kertas Pertama Dunia dan Filosofi di Balik Nilai

by admin
January 18, 2026
in Kabar
0
Sejarah Mata Uang Kertas Pertama Dunia dan Filosofi di Balik Nilai
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Heri Mulyono

Pada suatu pagi di tahun 1023 Masehi, seorang pedagang teh bernama Zhang Wei berdiri di tepi Sungai Min, provinsi Sichuan, Tiongkok. Di tangannya tergenggam selembar kertas tipis berlukisan rumit, bernilai seribu koin tembaga. Kertas itu bernama jiozi (交子)—sebuah inovasi yang kelak mengubah cara manusia memahami kekayaan, nilai, dan kepercayaan. Tanpa disadari, Zhang Wei tengah memegang cikal bakal sistem moneter modern yang akan mendominasi dunia selama seribu tahun ke depan.

Genesis Revolusi: Ketika Logam Menjadi Beban

Untuk memahami kelahiran jiozi, kita perlu mundur ke era Dinasti Song (960-1279 M), periode yang paradoks: zaman kemakmuran ekonomi sekaligus krisis praktis. Perdagangan berkembang pesat, kota-kota tumbuh, dan aktivitas ekonomi meledak. Namun, sistem moneter berbasis logam—terutama koin tembaga—menghadapi masalah fundamental.

Bayangkan seorang pedagang sutra yang hendak membeli 100 gulung kain senilai 100.000 koin tembaga. Dengan berat sekitar 65 kilogram, koin-koin itu memerlukan beberapa kuda atau keledai untuk mengangkutnya. Biaya transportasi, risiko perampokan, dan ketidakpraktisan menjadi hambatan serius bagi ekspansi ekonomi. Sichuan, provinsi yang kaya akan besi namun miskin tembaga, menghadapi masalah lebih akut: koin besi yang mereka gunakan lebih berat dan kurang bernilai.

Menurut catatan sejarawan Song, Song Shi (宋史), pada tahun 997 M di Chengdu, ibukota Sichuan, sekelompok pedagang kaya membentuk konsorsium. Mereka menciptakan sistem sederhana: para pedagang bisa menitipkan koin logam mereka dan menerima sertifikat tertulis sebagai bukti deposit. Sertifikat inilah yang kemudian berkembang menjadi jiozi—uang kertas pertama dalam sejarah umat manusia.

Anatomi Kepercayaan: Bagaimana Kertas Menjadi Emas

Jiozi awal bukanlah mata uang negara, melainkan instrumen pribadi yang diterbitkan oleh enam belas rumah pedagang terkemuka di Sichuan. Setiap lembar jiozi memiliki karakteristik unik: stempel tanda tangan, segel rumit, dan gambar kompleks untuk mencegah pemalsuan. Yang lebih penting, jiozi memiliki nilai tukar tetap—satu jiozi setara dengan jumlah koin tertentu yang disimpan.

Namun sistem privat ini mengandung benih kehancurannya sendiri. Ketika beberapa rumah pedagang bangkrut atau melarikan diri dengan deposit, kepercayaan publik runtuh. Tahun 1023 M, pemerintah Song mengambil alih, mendirikan “Kantor Jiozi” (Jiozi Wu) di Chengdu, menjadikannya mata uang resmi negara pertama berbasis kertas dalam sejarah.

Pemerintah menerapkan tiga prinsip revolusioner: pertama, monopoli pencetakan untuk mencegah inflasi liar; kedua, cadangan logam sebagai jaminan nilai; ketiga, masa berlaku terbatas (setiap emisi berlaku tiga tahun) untuk mengontrol jumlah uang beredar. Sistem ini menunjukkan cikal bajal pemahaman modern tentang ekonomi moneter—pemahaman yang baru muncul kembali di Eropa 700 tahun kemudian.

Filosofi Nilai: Dari Substansi ke Kesepakatan

Kemunculan jiozi memicu debat filosofis mendalam di kalangan cendekiawan Song. Bagaimana mungkin selembar kertas tanpa nilai intrinsik bisa setara dengan logam mulia? Pertanyaan ini menyentuh jantung filsafat nilai yang telah diperdebatkan sejak era klasik.

Para filsuf Konfusian seperti Zhu Xi (1130-1200 M) bergumul dengan paradoks ini. Dalam tradisi Tiongkok, konsep nilai terkait erat dengan li (理)—prinsip atau pola alamiah. Emas dan perak memiliki li intrinsik: langka, tahan lama, indah. Namun kertas? Kertas adalah artifisial, mudah rusak, melimpah.

Solusinya terletak pada konsep xin (信)—kepercayaan atau kredibilitas. Zhu Xi dan pemikir Neo-Konfusian lainnya menyadari bahwa nilai ekonomi bukan semata-mata soal substansi material, tetapi tentang konsensus sosial. Jiozi bernilai bukan karena kertas itu sendiri, melainkan karena jaringan kepercayaan: kepercayaan pada penerbit, pada sistem hukum yang melindunginya, pada pedagang lain yang akan menerimanya.

Ini adalah lompatan epistemologis monumental. Umat manusia bergerak dari pemahaman nilai sebagai properti objektif benda (nilai intrinsik) menuju pemahaman nilai sebagai konstruksi sosial (nilai konsensual). Filosofi Buddha Mahayana yang populer di era Song turut memperkuat pandangan ini melalui konsep sunyata (kekosongan)—bahwa semua fenomena, termasuk nilai ekonomi, adalah konstruksi mental yang bergantung pada kondisi dan konteks.

Eksperimen Agung dan Kehancurannya

Kesuksesan awal jiozi luar biasa. Pada 1107 M, pemerintah Song telah mencetak jiozi senilai total 2,5 juta guan (串, unit akun setara dengan 1.000 koin). Ekonomi Sichuan berkembang pesat, perdagangan meningkat, dan sistem ini menyebar ke provinsi lain dengan nama berbeda: huizi (會子) di wilayah selatan, guanzi (關子) di utara.

Namun godaan untuk mencetak uang tanpa batas terlalu kuat. Ketika Dinasti Song menghadapi ancaman militer dari suku Jurchen di utara, pemerintah mulai mencetak jiozi secara berlebihan untuk membiayai perang. Tanpa cadangan logam yang memadai, inflasi meledak. Pada 1160-an, jiozi yang seharusnya bernilai seribu koin hanya bisa membeli barang senilai beberapa ratus koin.

Ini adalah pelajaran pertama dalam sejarah tentang bahaya inflasi mata uang fiat—pelajaran yang akan diulang berkali-kali oleh peradaban lain. Ketika Dinasti Yuan (Mongol) menggantikan Song, mereka mengadopsi sistem uang kertas (chao) namun dengan kesalahan yang sama: pencetakan berlebihan menyebabkan hiperinflasi yang berkontribusi pada keruntuhan dinasti.

Makna Sejati Nilai: Refleksi Filosofis

Perjalanan jiozi menghadirkan pertanyaan fundamental: apa makna sejati dari nilai? Sepanjang sejarah filsafat ekonomi, terdapat tiga pendekatan utama.

Teori Nilai Intrinsik berpendapat nilai berasal dari properti objektif suatu benda. Emas berharga karena langka, indah, dan tahan lama. Pandangan ini dominan dari Aristoteles hingga ekonom klasik seperti Adam Smith. Namun jiozi menantang teori ini—kertas tidak memiliki nilai intrinsik, namun berfungsi sebagai uang.

Teori Nilai Subjektif, yang berkembang di era modern, berpendapat nilai ditentukan oleh kegunaan marginal bagi individu. Uang bernilai karena orang menginginkannya untuk transaksi. Namun ini tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa orang mau menerima kertas untuk emas.

Teori Nilai Sosial-Institusional mungkin paling tepat untuk memahami jiozi. Nilai adalah produk institusi sosial, jaringan kepercayaan, dan kekuatan hukum negara. Jiozi berfungsi karena sistem kompleks: pemerintah menjamin konversi ke logam, hukum memaksa penerimaan sebagai alat pembayaran sah, pedagang saling percaya untuk menerima, dan sistem pencetakan yang teratur mencegah devaluasi.

Filosof kontemporer seperti John Searle menyebutnya “fakta institusional”—realitas yang ada bukan karena properti fisik, tetapi karena kesepakatan kolektif. Selembar kertas menjadi “uang” melalui deklarasi kolektif: “Ini adalah uang.” Deklarasi ini memerlukan struktur institusional untuk bertahan.

Warisan Abadi: Dari Chengdu ke Blockchain

Lebih dari seribu tahun setelah pedagang Sichuan menciptakan jiozi, prinsip-prinsip fundamentalnya masih menggerakkan ekonomi global. Uang kertas modern, meskipun tidak lagi dijamin emas sejak 1971, beroperasi dengan logika yang sama: kepercayaan pada institusi penerbit.

Bahkan cryptocurrency seperti Bitcoin, yang tampak revolusioner, sebenarnya adalah evolusi dari konsep jiozi: nilai tanpa substansi intrinsik, bergantung sepenuhnya pada konsensus jaringan. Bedanya, jika jiozi bergantung pada otoritas negara, Bitcoin bergantung pada algoritma kriptografi dan konsensus terdesentralisasi.

Perjalanan dari jiozi ke Bitcoin mengungkapkan pola: setiap era mencari solusi untuk masalah kepercayaan dengan teknologi zamannya. Song menggunakan kertas dan birokrasi, era modern menggunakan bank sentral dan kebijakan moneter, era digital menggunakan blockchain dan matematika. Namun tantangan dasarnya tetap sama: bagaimana menciptakan sistem nilai yang stabil, adil, dan dipercaya?

Epilog: Pelajaran dari Sungai Min

Kembali ke tepi Sungai Min di Chengdu hari ini, tidak ada monumen megah untuk mengenang jiozi. Namun setiap kali kita menggunakan uang kertas, kartu kredit, atau transfer digital, kita mewarisi inovasi jenius para pedagang Sichuan seribu tahun lalu.

Jiozi mengajarkan bahwa nilai sejati bukan terletak pada materi, tetapi pada kepercayaan. Bahwa peradaban maju bukan hanya dengan teknologi, tetapi dengan kemampuan membangun institusi yang dipercaya. Bahwa uang adalah, pada esensinya, janji kolektif—janji yang rapuh namun powerful, yang memerlukan kebijaksanaan untuk dipelihara dan keberanian untuk diinovasi.

Warisan terbesar jiozi mungkin bukanlah kertas itu sendiri, melainkan kesadaran filosofis: bahwa realitas ekonomi kita adalah konstruksi sosial yang bergantung pada kepercayaan bersama. Kesadaran ini, kini lebih relevan dari sebelumnya di era mata uang digital dan sistem keuangan global yang kompleks, tetap menjadi panduan untuk memahami—dan memperbaiki—dunia ekonomi kita. (*)

Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

October 23, 2026
Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

October 23, 2026
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version