Connect with us

Kolom

Menjemput Hikmah ke Management & Science University Malaysia

Published

on

Foto dari kiri ke kanan: Dr. (Cand) Achmad Fachrudin, Prof. Dr. Indang Ariati Ariffin, Dr. Nanang Kuswara, MM, dam Mohammad Hairulnizam Ibrahim

Jika sekitar  dekade 70-an hingga 80-an,  dunia pendidikan Malaysia banyak belajar dari Indonesia, pada dua dekade belakangan ini, ada trend justeru sebaliknya. Malaysia kini menjelma menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi (centres of exellence) bergengsi di Asia dan Asia Tenggara. Bahkan sejumlah universitasnya, baik negeri maupun swasta, mampu menembus universitas kelas dunia (word class university). Salah satunya adalah Management & Science University (MSU) yang berlokasi di Shah Alam, Selangor Darul Ehsan, Malaysia

Difasilitasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDIK) Universitas PTIQ Jakarta, rombongan yang terdiri dari Ketua Program Studi (Kaprodi) Manajemen Dakwah (MD) Dr. Nanang Kuswara, MM,  Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Dr. (Cand) Acmad Fachrudin, M.Si, didampingi Sri Haryati dan Fajaruddin (staf fakultas) selama tiga hari berada di negeri jiran (21-23 Agsutus 2024). 

Perjalanan terasa nyaman dan berwarna karena dukungan  traveler guide Rema Gusnawati dan Lukman  di bawah pimpinan Dito Alif Pratama.  Rombongan sebelumnya dipimpin oleh Dekan Fakultas Dakwah Universitas PTIQ Dr. Topikurahman MA, juga sudah berkunjung ke negeri jiran Malaysia  untuk tujuan yang kurang lebih sama.

Tujuan utama ke negeri serumpun tersebut untuk memantau mahasiswa FDIK yang tengah melakukan Kuliah Khidmah Mahasiswa (KKM) di  sejumlah Sanggar Bimbingan (SB) Malaysia selama kurang lebih sebulan lamanya dan pada Sabtu (23 Agustus 2025) peserta KKM kembali ke Jakarta dengan aman dan selamat.  Diantara kegiatan penting di Malaysia adalah melakukan Letter of Intend (LoI) antara FDIK Universitas PTIQ dengan MSU pada Jum’at 22 Agustus 2025.  

Hadir pada acara yang penuh kehangatan dan keakraban dari pihak MSU Prof. Dr. Indang Ariati Ariffin (Wakil Rektor) bidang Research & International Affairs, Mohammad Hairulnizam Ibrahim (Regional Manager (Indonesia) Global Affairs Office & Lecturer International Medical School), serta Ghafar, salah seorang mahasiswa asal Indonesia yang juga bekerja di MSU.

MSU  didirikan pada 1981 oleh Profesor Tan Sri Dato’ Wira Dr. Mohd Shukri Ab Yajid. Prof.  MSU berawal dari sebuah institusi bernama Kolej PTPL (Pusat Teknologi dan Pengurusan Lanjutan), lalu berkembang menjadi universitas penuh dengan nama Management & Science University (MSU). Keberhasilan MSU yang mempunyai visi “To be the leading transformative university” antara lain dibuktikan dengan peringkat Quacquarelli Symonds (QS) yang cukup mentereng:  #541-550 di QS World University Rankings 2020, dan Peringkat #129 di QS Asia University Rankings 2025. QS adalah lembaga independen dan pemeringkat universitas di seluruh dunia.

Kelebihan lain, MSU mempunyai Pusat-pusat Keunggulan (Centres of Excellence) di bidang Software Engineering & Digital Innovation,Leadership & Entrepreneurship Advance Institute, International Centre for Halal Studies, Centre of Cyber Security and Big Data, Clinical Centre of Excellence, MSU Centre for Complementary & Alternative Medicine, MSU Centre of Excellence for Vision and Eye Care.

Di atas itu semua, MSU merupakan salah satu model pendidikan tinggi yang mampu mengintegrasikan Al-Qur’an dengan sains modern  secara teoritik-normatif sekaligus juga secara substansial dan empirik. Keberhasilan tersebut dibuktikan dengan berbagai rekognisi yang diperolehnya; adanya sekitar 20 persen (3.000 mahasiswa dari total sekitar 15 ribu mahasiswa MSU) berasal dari manca  negara (internasional), termasuk dari Indonesia; memiliki mahasiswa  dari 70 kewarganegaraan berbeda. Serta sekitar 99  persen lulusan MSU terserap di dunia kerja. 

Peserta KKM kembali ke Jakarta melalui bandara Internasional Kua Lumpur, Sabtu (23 Agustus 2025)

Sependek informasi, dalam khasanah pendidikan dikenal beberapa bentuk model integrasi Al-Qur’an dengan sains. Diantaranya model Islamisasi Ilmu pengetahuan dengan tokoh utamanya Ismail Raji al-Faruqi, dan Syed Muhammad Naquib al-Attas Malaysia; model Tauhidi (tidak ada dikotomi antara sains dan agama); model Ulul Albab mencetak penghafal Qur’an (huffaz) sekaligus memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual; model Iqra’ (Integrasi Wahyu & Ilmu Empiris); model integrasi penguasaan ayat Kauniyah & ayat Qawliyah; Model Bayani, Burhani, dan ‘Irfani yang dikembangkan Muhammad Abid al-Jabiri. Konsep integrasinya adalah  sains modern (burhani) dengan wahyu (bayani) dan hikmah batin (‘irfani).

Pada sesi dialog antara rombongan FDIK dengan pihak MSU di sela penandangan LoI, banyak hal digagas dan dibicarakan rencana tindak lanjut. Diantaranya seperti dikatakan Prof. Dr. Indang Ariati Ariffin, pihaknya akan  senang hati manakala Rektor dan Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA  dapat menjadi keynote speaker di MSU, membuka kemungkinan program double degree antara Mahasiswa S1, S2 atau S3 UPTQ dengan MSU, transfer pengetahuan dan teknologi di bidang ilmu-ilmu kedokteran,  manajemen, Islamic Banking,  digital, dan sebagainya.

Sementara dari rombongan FDIK sebagaimana dikatakan Kaprodi MD Nanang Kuswara, menyampaikan apresiasi tinggi dan tulus kepada pihak MSU yang telah menerima kunjungan. Nanang juga tanpa sungkan mengatakan, kedatangannya lebih banyak untuk belajar dari succces story yang ditorehkan  oleh MSU. Sementara Kaprodi KPI Achmad Fachrudin menyatakan, integrasi antara sains dan agama Islam (Al-Qur’an) yang sudah mampu diterapkan secara memadai dan konkrit oleh MSU dapat menjadi salah satu model yang bisa diadaptasi dan dimodifikasi dengan karakteristik atau kekhasan studi di  Universitas PTQ. (abah).

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement