Memuliakan Para Lansia di “Hari Lanjut Usia Internasional 2017”

 Memuliakan Para Lansia di “Hari Lanjut Usia Internasional 2017”
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof Dr Yohana Susana Yembise pada acara “Hari Lanjut Usia Internasional 2017” di Jakarta, baru-baru ini.

MENJADI tua bukanlah pilihan, melainkan kepastian. Manusia terikat oleh waktu yang terus berjalan mengiringi pertambahan usia. “Para orang tua kita, manusia lanjut usia (lansia) ini, memiliki kebajikan, kearifan, dan pengalaman hidup yang bisa diteladani generasi penerusnya,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof Dr Yohana Susana Yembise dalam keterangan pers peringatan Hari Lanjut Usia Internasional 2017.

Budaya bangsa Indonesia, lanjutnya, sangat menekankan prinsip menghormati dan memuliakan orang tua. “Cara kita menghargai orang tua merupakan potensi sosial yang membentuk karakter dan citra budaya Indonesia. Citra dan identitas budaya bangsa Indonesia yang santun, dan penuh penghormatan terhadap orang tua. Perayaan yang kita laksanakan hari ini, bertujuan memuliakan para Lansia,” tambah Bu Menteri.

Para Lansia, tambah dia, sudah seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah. Selama ini, kaum Lansia belum mendapat perhatian khusus dari Pemerintah secara optimal. Menurut Yohana, di tahun 2015 Indonesia sudah melewati tahapan pembangunan Millennium Development Goals (MDGs). Saat ini Indonesia sudah masuk tahap Sustainable Development Goals (SDGs). Perempuan masuk pada indikator ke-5 yaitu kualitas kesetaraan gender, selain masalah lingkungan, sosial dan ekonomi.

Ada empat pilar, ungkap Menteri PPPA, menjadi perhatian untuk melakukan cita-cita mulia perempuan, anak, disabilitas, dan Lansia. “Kita harus peduli terhadap empat pilar ini, karena menjadi indikator maju atau tidaknya sebuah negara. Jika hal ini bagus, negara dianggap bebas dari kemiskinan,” imbuhnya.

Peringatan “Hari Lanjut Usia Internasional 2017” ditandai dengan pergelaran budaya bertajuk “Gerakan 1000 Perempuan dan Lansia Indonesia Merawat Lingkungan – Peduli Bencana,” yang dikemas karya apik oleh seniman dan budayawan, Bambang Oeban.

Menampilkan sejuta aksi, refleksi serta pembacaan puisi dan pernyataan dari para seniman, budayawan, pejabat, birokrat, dan para perempuan lanjut usia. Termasuk penampilan Menteri PPPA Yohana Susana Yembise, Deputi Menteri PPPA bidang Perlindungan Hak Perempuan Prof Dr Vennetia Ryckerens Danes, Sekretaris Menteri PPPA DR Pribudiarta Nur Sitepu, serta Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dan Situasi Darurat Kondisi Khusus Kementerian PPPA Nyimas Aliah yang membacakan puisi “Perempuan dan Lansia Indonesia Peduli Bencana dan Merawat Lingkungan.”

Aksi menghibur lainnya berupa Senam Three End dan Senam Lansia, serta pembagian seribu batang pohon untuk masyarakat. Di antara gerakan 1000 perempuan yang ikut hadir memeriahkan acara ini, adalah para perempuan lanjut usia berprofesi pemulung binaan Rumah Singgah Bunda Lenny Humaniora Foundation dari kawasan Kranggan Permai, Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat.

“Merawat lingkungan dan peduli bencana menjadi perhatian, dan keprihatinan kami. Hal ini kemudian kami angkat menjadi tema acara ini. Kesadaran dan kepedulian kita tak lain adalah untuk dapat mencegah dan mengendalikan lingkungan dari ancaman kerusakan mau pun pengrusakan,” ujar Bambang Oeban, yang bertindak sebagai Penata Kemas Acara.

Hari Lanjut Usia Internasional (International Day of Older Persons), ditetapkan dalam Sidang Umum PBB setiap 1 Oktober berdasarkan resolusi No.45/106, tertanggal 14 Desember 1990. Penetapan tersebut merupakan kelanjutan dari Vienna International Plan of Action on Aging (Vienna Plan), yang diputuskan di Wina tahun 1982 dengan resolusi No. 37/1982. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *