Kolom
Membedah Suku Sasak: Jiwa yang Tersembunyi di Balik Gili dan Rinjani
Oleh : Heri Mulyono
Sebelum Lombok menjadi tujuan wisata yang dipuja wisatawan, Suku Sasak telah mendiami pulau ini selama berabad-abad — memikul kosmologi Hindu-Buddha, lalu Islam, lalu modernitas, tanpa pernah kehilangan denyut adat yang paling dalam.
Lelaki Tua di Pelabuhan Lembar
Di pelabuhan Lembar, pagi berbau solar dan ikan asin. Kapal feri dari Bali baru saja merapat, memuntahkan ratusan ransel, koper beroda, dan pasang mata yang mencari-cari pantai berpasir putih. Di ujung dermaga, seorang lelaki tua bersorban putih duduk di atas tumpukan tali tambang, menjual pisang goreng dari keranjang rotan. Tak satu pun turis berhenti. Mereka melaju menuju Gili, menuju Rinjani, menuju versi Lombok yang telah dikemas dan dijual di brosur. Lelaki itu — yang mungkin adalah salah satu dari 3,1 juta jiwa Sasak yang mendiami sekitar 80 persen pulau ini — menatap kerumunan itu dengan tenang, lalu menggigit pisangnya sendiri.
Tanah yang Menyimpan Nama Sendiri
Lombok bukan pulau yang besar. Luasnya sekitar 4.725 kilometer persegi, lebih kecil dari Bali, lebih kecil dari Sumbawa tetangganya di timur. Tapi justru di ruang yang sempit itulah sejarah mengendap berlapis-lapis seperti sedimen.
Nama “Sasak” sendiri masih diperdebatkan. Satu teori menyebut kata itu berasal dari sa’sa — berarti “satu tanah” atau “satu” dalam bahasa kuno setempat — sebuah deklarasi identitas dari orang-orang yang merasa berakar pada tanah yang sama. Teori lain menunjuk pada gelombang migrasi Austronesia yang mengalir dari utara ribuan tahun silam, lalu diperkuat oleh pengaruh Jawa-Bali pada abad ke-14. Dalam Nagarakretagama karya Mpu Prapanca tahun 1365, Lombok disebut sebagai salah satu wilayah di bawah pengaruh Majapahit — sebuah catatan kecil yang menjadi bukti bahwa pulau ini telah lama masuk dalam peta kekuasaan besar, meski tak pernah benar-benar tunduk.
Apakah Sasak adalah penduduk pertama tanah ini, atau pewaris dari migrasi panjang? Para akademisi di FISIP Universitas Mataram masih berargumen. Sementara itu, orang Sasak sendiri cukup menjawab: kami ada di sini, dan sudah lama.
Bahasa yang Menyimpan Hierarki
Di Pasar Bertais, Mataram, bahasa Sasak mengalir dalam tiga arus yang berbeda. Seorang pedagang perempuan berbicara kepada sesama pedagang dengan Ngeno-Ngene — dialek paling umum di Lombok tengah dan timur, penuh konsonan yang menggelinding seperti batu sungai. Tapi ketika seorang lelaki bergelar Lalu — penanda darah bangsawan Sasak — mendekat untuk menawar, perempuan itu seketika berganti register. Kalimatnya memanjang, intonasinya melunak, beberapa kata berubah menjadi bentuk halus yang hanya digunakan untuk orang-orang dari lapisan atas.
Bahasa Sasak mengenal tingkatan seperti bahasa Jawa: ada yang kasar untuk sesama, ada yang tengah untuk orang asing, ada yang halus untuk yang dihormati. Tiga dialek utama — Kuto-Kute di barat laut, Meno-Mene di tengah, Ngeno-Ngene yang paling luas — bukan sekadar perbedaan pengucapan. Mereka adalah peta batas wilayah, kelas sosial, dan ingatan kolektif yang tersimpan dalam cara orang membuka mulut.
Yang mengkhawatirkan: di sekolah-sekolah dasar Mataram, anak-anak kini lebih fasih berbahasa Indonesia. Penelitian linguistik yang dilakukan LIPI mencatat bahwa dalam satu generasi terakhir, penggunaan bahasa Sasak di ranah domestik perkotaan turun signifikan. Bahasa Sasak pelan-pelan bergeser ke pinggir meja makan, hanya digunakan saat berbicara dengan kakek-nenek — sebuah kepunahan yang bergerak diam-diam, tanpa pengumuman.
Dua Islam di Bawah Satu Langit
Pura Lingsar berdiri sejak abad ke-17 di kaki bukit barat Lombok, dan ia adalah bangunan yang seharusnya tidak mungkin ada. Di dalam satu kompleks yang sama, orang Hindu Bali bersembahyang di pura utama, sementara Muslim Sasak penganut Wetu Telu melakukan ritual di kemaliq — ruang suci yang menggabungkan unsur animisme, Hindu, dan Islam dalam satu napas.

Suasana kelompok Muslim Sasak penganut Wetu Telu yang sedang melakukan ritual bersama di dalam kemaliq yang kaya ornamen.
Wetu Telu, secara harfiah “tiga waktu”, adalah sistem kepercayaan yang hanya mengenal tiga waktu salat — bukan lima — dan masih mempertahankan pemujaan leluhur serta pantangan-pantangan pra-Islam yang telah berusia ratusan tahun. Erni Budiwanti, dalam kajiannya yang telah menjadi rujukan wajib, menyebut Wetu Telu bukan sebagai Islam yang salah kaprah, melainkan sebagai adaptasi yang berakar dalam — sebuah teologi negosiasi antara dunia lama dan dunia baru.
Tapi sejak paruh kedua abad ke-20, tekanan untuk “meluruskan” keyakinan ini menguat. Para Tuan Guru — ulama karismatik yang otoritasnya jauh melampaui mimbar masjid, menyentuh arena politik dan ekonomi lokal sejak era Orde Baru — membawa Waktu Lima, Islam lima waktu yang lebih ortodoks, ke pelosok desa. Kini Wetu Telu hanya bertahan di kantong-kantong kecil, seperti bara yang dijaga agar tidak benar-benar padam. Di Pura Lingsar setiap tahun, dalam festival Puja Wali, dua kelompok itu masih berbagi tanah suci yang sama — sebuah keajaiban kecil yang luput dari kamera turis.
Kain, Rotan, dan Kawin Lari
Di Desa Sukarare, perempuan-perempuan duduk di beranda dengan alat tenun kayu yang berderit ritmis, menghasilkan kain-kain dengan motif geometris yang tak bisa dibaca sembarangan. Setiap belah ketupat, setiap garis diagonal, setiap kombinasi warna merah-hitam-kuning adalah aksara dari sistem pengetahuan yang tak pernah dibukukan. Kain sukarare dan pringgasela bukan sekadar tekstil — mereka adalah dokumen sosial. Motif tertentu hanya boleh dikenakan saat upacara begawe, pesta adat yang berfungsi seperti bank komunal: kekayaan dikeluarkan, disirkulasikan, dibagikan, lalu perlahan dikembalikan melalui hadiah dan timbal-balik yang bisa berlangsung bertahun-tahun.

Di seberang desa, para lelaki muda berlatih peresean — duel menggunakan rotan panjang dan perisai kulit kerbau — bukan untuk saling melukai, melainkan untuk memanggil hujan. Darah yang mungkin menetes dianggap persembahan bagi tanah. Dan ketika sepasang pengantin meninggalkan rumah perempuan tanpa pamit di malam hari — merariq, kawin lari — itu bukan skandal. Itu adalah awal dari negosiasi panjang antar keluarga tentang martabat, mahar, dan posisi sosial yang akan berlangsung berhari-hari setelahnya.
Budaya Sasak bekerja seperti kode yang butuh waktu untuk dipelajari: apa yang tampak di permukaan hampir selalu punya lapisan makna di bawahnya. Ketika gendang beleq — dua buah gendang besar yang dimainkan berpasangan, bunyinya seperti jantung raksasa yang berdetak di dada — ditabuh dalam prosesi pengantin, itu bukan sekadar musik pengiring. Itu adalah ingatan kolektif tentang perang, tentang keberanian, tentang siapa orang Sasak ketika mereka berdiri di atas tanah mereka sendiri.
Antara Mandalika dan Reruntuhan
Gempa 5 Agustus 2018 — magnitudo 7,0, yang terbesar dalam serangkaian guncangan yang menghantam Lombok sepanjang Juli-Agustus tahun itu — merobohkan lebih dari 83.000 bangunan dan menewaskan lebih dari 500 orang menurut data BNPB. Tapi ia juga merobohkan sesuatu yang tak tercatat dalam laporan resmi: kepercayaan bahwa adat cukup untuk bertahan. Banyak rumah tradisional bale yang terbuat dari bambu dan kayu justru selamat — sementara bangunan beton baru, yang dibangun dengan uang kiriman pekerja migran, rata dengan tanah. Ironisnya, rekonstruksi yang didanai pemerintah mendorong pembangunan rumah beton baru yang serupa, menggerus satu lagi lapisan identitas arsitektur Sasak.
Lombok kini adalah laboratorium dari dua kecepatan yang berbeda. Di Senggigi dan Kuta Mandalika, resort dan jalan tol dibangun untuk menampung 3,7 juta wisatawan yang datang setiap tahun sebelum pandemi, berdasarkan data Dinas Pariwisata NTB 2019. Di desa-desa pedalaman Lombok Timur, di mana angka kemiskinan menurut BPS NTB 2020 masih berada di atas rata-rata nasional, anak-anak muda memilih menjadi pemandu wisata atau konten kreator yang memvideokan upacara adat untuk ditonton jutaan orang asing — sambil bertanya-tanya apakah cara itu melestarikan, atau justru perlahan mengosongkan.
Keranjang Kosong di Tepi Dermaga
Di pelabuhan Lembar, ketika feri sore bersiap berangkat kembali ke Bali, lelaki tua penjual pisang itu masih ada. Keranjangnya kini kosong. Ia memasukkan uang receh ke dalam lipatan sarungnya, berdiri, dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan arus turis. Entah ke mana. Mungkin ke desa tempat cucunya malam ini akan belajar tenun. Mungkin ke tempat di mana suara gendang beleq masih terdengar di antara lampu-lampu yang mulai menyala.
Orang Sasak telah bertahan dari Majapahit, dari ekspansi Kerajaan Karangasem Bali, dari kolonialisme Belanda, dari gempa bumi. Pertanyaannya bukan lagi tentang apakah mereka akan bertahan. Pertanyaannya adalah: setelah semua yang datang dan pergi, apa yang akan mereka pilih untuk dibawa — dan apa yang akan mereka putuskan untuk ditinggalkan di tepi jalan? (*)
—
Referensi
Buku & Jurnal
– Budiwanti, Erni. Islam Sasak: Wetu Telu versus Waktu Lima. Yogyakarta: LKiS, 2000. — Kajian antropologi paling komprehensif tentang dualisme kepercayaan di Lombok; menjadi acuan utama perdebatan Wetu Telu–Waktu Lima hingga hari ini.
– Prapanca, Mpu. Nagarakretagama (Desawarnana), Pupuh XIII–XIV, 1365. — Kronik Majapahit yang menyebut Lombok sebagai wilayah taklukan; salah satu bukti tertulis tertua tentang eksistensi pulau ini dalam peta politik Nusantara.
– Ikram, M. et al. Penelitian Dialektologi Bahasa Sasak. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, LIPI, 1995. — Pemetaan tiga dialek utama Sasak beserta distribusi geografisnya.
– Jurnal Etnografi Indonesia, berbagai volume. FISIP Universitas Mataram, Mataram. — Kumpulan riset etnografis lapangan tentang adat, sistem kekerabatan, dan perubahan sosial komunitas Sasak.
Data & Laporan Resmi
– Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat. Lombok Dalam Angka 2020. Mataram: BPS NTB, 2020. — Sumber data populasi (3,1 juta jiwa Sasak, ~80% penduduk Lombok), angka kemiskinan, dan indikator pendidikan.
– Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Laporan Penanganan Bencana Gempa Lombok 2018. Jakarta: BNPB, 2018. — Data korban jiwa (500+), bangunan rusak (83.000+), dan rekonstruksi pascagempa.
– Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat. Statistik Kunjungan Wisatawan 2019. Mataram: Dinas Pariwisata NTB, 2019. — Angka 3,7 juta kunjungan wisatawan sebelum pandemi sebagai konteks tekanan modernisasi.
Sumber Pendukung
– Goris, R. “The Position of the Blacksmiths.” dalam Bali: Studies in Life, Thought, and Ritual. The Hague: W. van Hoeve, 1960. — Konteks perbandingan sistem kasta di kepulauan Sunda Kecil.
– Hitchcock, Michael. Islam and Identity in Eastern Indonesia. Hull: University of Hull Press, 1996. — Perspektif komparatif tentang identitas Islam di kawasan Nusa Tenggara.
