Membaca dan Berkarya di Boemi Pustaka

 Membaca dan Berkarya di Boemi Pustaka
Kak Ari bersama anak-anak yang mengikuti kegiatan pelatihan melukis di Boemi Pustaka. Foto: Monang Sitohang

MEMBACA sangat besar manfaatnya. Sayang, kegiatan yang kelihatannya mudah untuk dilakukan, ternyata sulit dilakukan bagi kebanyakan orang. Padahal, dengan membaca, bisa membuka jendela dunia. Minat baca pun masih rendah di kalangan anak-anak. Mereka lebih gemar main gadget daripada membaca buku.

Hal itulah yang menggerakan Achmad Azhari mendirikan Boemi Pustaka pada 7 Januari 2018, dengan dukungan anak dan istrinya. “Gerakan ini dinamakan simpulitrasi yang artinya mendorong minat baca anak-anak terdekat di dalam keluarga, tetangga dan sekitar tempat tinggal, dan kebetulan saya selama ini banyak bergerak di bidang literasi,” ujarnya, ketika ditemui di Boemi Pustaka.

Hari itu, Achmad Azhari sedang mengadakan kegiatan melukis bersama 35 orang anak, Minggu (8/4) di Jalan Kewilhan, Gg. Madrasah, Gg. Berdikari No. 82, Kecamatan Namo Rambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Achmad Azhari disapa anak-anak Om Ari. Anak-anak mengenalnya sebagai pendiri Rumah Baca Lembah Sibayak di Tanah Karo, yang didirikan 5 Juni 2017.

Sedangkan di Boemi Pustaka, program utamanya, bagaimana anak-anak memiliki minat baca yang tinggi, kemudian diajarkan juga beberapa hal seperti cara membuat surat, kegunaannya untuk membangun komunikasi kepada anak seusianya, kemudian berkirim surat ke teman-teman relasi Boemi Pustaka yang ada di Papua, Singapura, Tanah Karo, Jawa, dan lainnya.

Mereka juga diajarkan cara membuat postcard, memanfaatkan kertas bekas digunting seukuran postcard terus diajarkan menggambar sendiri. Misal, menggambar pemandangan, menuliskan nama, usia, hobby, dan alamat. Mereka tak lupa minta dibalas dengan postcard bergambar objek yang diinginkan. Selain itu, anak-anak juga diajarkan cara menulis puisi dan melukis.

Di Boemi Pustaka setiap anak diperbolehkan meminjam dua judul buku dan batas pengembalian buku diberi waktu selama tiga hari untuk mengembalikannya, memang ada juga beberapa anak yang tidak disiplin, umpamanya mengembalikan sampai lima hari tetapi tetap diberi toleransi agar mendorong minat bacanya tidak kendur. Dan dipesankan juga disarankan kepada setiap anak-anak untuk bertanggung jawab dalam buku yang telah dipinjam, jika buku yang dipinjam agar tetap dipulangkan, karena buku ini milik bersama yang mana buku ini juga masih banyak menanti untuk dipinjam.

Ada beberapa jenis buku bacaan yang ada di Boemi Pustaka, utamanya mengenai ilmu pengetahuan umum, misalnya buku gunung berapi, gua, laut, pantai, pohon dan itu jenis buku yang sangat digemari anak-anak yang isinya ada pesan moral seperti cerita kancil dan buaya, ikan arwana. Buku-buku yang ada relatif tipis, full calour, fontasi yang besar, sehingga dalam tempo sekitar 15 menit selesai dibaca. Jadi dalam 1 jam duduk di rumah Boemi Pustaka bisa membaca empat buku.

Sebagian anak di sini sudah memahami dan melakukan praktik silent reading (membaca diam) dan ada juga anak-anak yang membaca dengan suara kuat. Ada juga pelajaran teknik membaca sesuai standar usianya, dan memberi pengertian dari kata-kata dalam buku yang tidak dipahami oleh anak. Contohnya anak yang bertanya mengenai elaborasi, konservasi, tentang internet dan banyak pertanyaan lain. Mereka pun mendapatkan penjelasan dengan gambling sesuai tingkat pemahaman seorang anak.

Anak-anak dengan tekun belajar melukis di bawah bimbingan kak Ari di Boemi Pustaka. Foto: Monang Sitohang

Sementara itu, pendirian Boemi Pustaka ini semua dilakukan secara swadaya. Dalam perjalanan, beberapa teman berdonasi berdonasi. Manajemen juga melakukan fund rising dengan berbagai cara yang inovatif, termasuk menjual karya lukis anak-anak dengan cara lelang melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Dana yang terhimpun, kemudian digunakan untuk mendanai kegiatan berikutnya. Misalnya untuk sekali membuat kegiatan melukis ini, harus menyisihkan biaya Rp 450.000. dan terpenuhi. Sebelum kegiatan ini, Boemi Pustaka sudah menjual 10 lukisan dengan harga Rp.50.000  per lukisan. Salah satu lukisan yang berhasil terjual adalah gambar pemandangan yang dilukis Salwa (9) yang dibeli oleh orang Batam. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *