Aneh, Negara Maritim tetapi Tidak Punya Jurusan Pariwisata Maritim

 Aneh, Negara Maritim tetapi Tidak Punya Jurusan Pariwisata Maritim

 

Prof Christian Fenie. Foto: Monang S

KONSULTAN Wisata Kelautan (Marine Tourism) asal Perancis, Prof Christian Fenie menyampaikan satu tips penting terkait pengembangan wisata. Menurutnya, pengembangan pariwisata harus dimulai dengan pelestarian alam dan budaya. Faktor lain, seperti SDM, sarana transportasi, akomodasi dan lain-lain, menjadi elemen ikutan.

Menurut Prof Fenie, berdasar fakta di negara mana pun, terbukti bahwa pariwisata dapat memberi kontribusi bagi peningkatan perekonomian daerah dan masyarakatnya. Ia mengemukakan hal itu ketika ditemui Jayakartanews di Hotel Kanasha, Jalan Dolok Sanggul, No. 8, Medan, Sumatera Utara.

Ditegaskan, persoalan pelestarian alam, pengendalian pencemaran lingkungan harus menjadi perhatian utama pemerintah. Sebab, terganggunya alam serta terjadinya pencemaran, akan menjadi ancaman serius bagi industri pariwisata di Indonesia. Ia memberi contoh soal limbah, yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa merusak lingkungan. “Dampak ikutannya tentu saja bisa mengakibatkan perekonomian daerah ikut terpuruk,” ujar Prof Fenie.

Ia kembali menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap apa yang menjadi concern-nya. Mulailah dengan menjaga dan melestarikan rumah adat, tari-tarian, dan berbagai kekayaan budaya lain.

Di luar itu semua, masyarakat harus memperhatikan kelestarian lingkungan, ekologi dan ekosistimnya. “Intinya begini, sangat tidak masuk akal kita bisa menjual keindahan alam bila lingkungannya tidak nyaman (tercemar) atau rusak. Karena itu, pemerintah juga sebaiknya tidak hanya melulu mengejar kemajuan ekonomi, tetapi abai terhadap ekologi,” kata Prof Fenie pula.

Hal fundamental lain yang ia sampaikan, bahwa pelestarian alam dan budaya sejatinya sebuah pelestarian alam semesta kepada anak dan cucu kita. “Wariskan alam dan tradisi serta budaya yang terjaga. Itu jauh lebih bernilai dibanding mewariskan harta atau uang,” tegasnya.

Usai bicara tentang lingkungan hidup dan budaya, Prof Fenie menyoal sarana transportasi dalam dunia pariwisata yang tak boleh diabaikan. Transportasi yang ia maksud tidak hanya sarana atau alat transportasi. Lebih penting dari itu adalah interkoneksi. “Tidak adanya konektivitas transportasi, jangan harap pariwisata bisa berkembang,” ujarnya.

Ia mencontohkan survei lokasi yang dilakukannya di Pulau Weh, Provinsi Aceh Darussalam. Sebagus apa pun objek wisata, akan sulit dipasarkan di luar negeri, seperti di Eropa, jika tidak ada jaminan seat pesawat, jadwal yang ajeg, serta konektivitas antara satu objek dan destinasi lainnya.

Kritik tajam Prof Christian Fenie ia tujukan kepada perilaku membuang limbah langsung ke laut. Cepat atau lambat, hal itu akan mengganggu wisata laut (marine tourism). Ia menyesalkan, minimnya perhatian pemerintah terhadap pengelolaan limbah. Masyarakat perkotaan, ia perhatikan membuang limbah langsung ke selokan yang mengarah ke sungai, dan selanjutnya menuju laut bebas. “Itu akan mengganggu ekosistem dan biota laut,” ujar Prof Fenie yang sudah menjadi warga negara Indonesia ini.

Ia menyebutkan keindahan pemandangan bawah laut. Dunia terumbu karang Indonesia luar biasa indah. Dan itu tersebar di banyak spot. “Yang harus diketahui adalah, jika terumbu karang itu sampai rusak akibat limbah, jangan harap bisa pulih seketika. Terumbu karang itu tercipta dari proses panjang puluhan, bahkan ratusan tahun lamanya,” tegasnya.

Hal menarik lain yang ia soroti adalah penargetan 1 juta wisatawan ke Pulau Komodo. Ia prihatin karena seolah target itu sama sekali hanya berbicara faktor ekonomi, tetapi mengabaikan faktor dampak negatif. “Bayangkan, yang benar kan manusia takut pada komodo, tetapi yang terjadi sekarang adalah komodo takut dengan manusia. Itu artinya, komodo-komodo itu stres, dan mengganggu habitatnya. Ini maksud saya. Tidak bisakah mengembangkan pariwisata tanpa mengganggu ekosistem, termasuk habitat binatang langka seperti komodo? Kalau sampai komodo gagal berkembang biak dan akhirnya punah, Indonesia juga yang rugi,” papar Prof Fenie.

Terakhir, lelaki 74 tahun itu menyampaikan rasa prihatinnya demi melihat di Indonesia tidak ada sekolah pariwisata yang mengembangkan jurusan Pariwisata Maritim. Padahal, Indonesia adalah negara maritim. “Kita bilang, Indonesia negara maritim, tetapi tidak ada sekolah marine tourism. Sejak tahun 1984 saya sudah memperjuangkan sekolah itu, tetapi masih belum berhasil. Saya melihat ego sentral di sini,” ujarnya prihatin.

Konsultan Pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara itu juga mengingatkan kembali bahwa manusia perlu alam tetapi alam tidak perlu manusia. “Lingkungan harus diutamakan, bukan ekonomi. Kalau ekologi hancur maka negara ini hancur,” tutupnya. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *