Kebon Ijo Jogja, Asyiknya Kulineran, Petik Jambu dan Swafoto

 Kebon Ijo Jogja, Asyiknya Kulineran, Petik Jambu dan Swafoto

Bangunan utama resto Kebon Ijo. (foto: ernaningtyas)

JAYAKARTA NEWS – Apa sih yang menjadi pertimbangan untuk kulineran keluarga yang asyik? Tentunya tak sekadar pilihan menu yang lezat, tetapi juga tempat yang nyaman buat ngobrol bersama, spot yang indah untuk swafoto dan fasilitas menikmati buah segar langsung dari pohonnya.  Semua kenikmatan untuk kebersamaan keluarga itu ada di satu tempat, Kebon Ijo.    

Kebon Ijo berada di jalan Sawah Joglo, Lojajar, Kelurahan Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tempat ini memadukan wisata petik jambu kristal dan kulineran.  Waktu buka untuk pengunjung mulai pukul 12.00 hingga 22.00.      

Rumah panggung dan Merapi dari depan Joglo Kebon Ijo. (foto: fimel)

Hamparan kebun seluas sekitar 2.000 meter menjadi tempat yang menghadirkan sensasi tersendiri hampir di setiap titiknya. Jambu kristal tak mengenal musim. Setiap saat, mata ini dimanjakan oleh penampakan buah yang bergelantungan baik yang masih muda, mengkal dan tentu saja yang sudah matang. Di Kebon Ijo, para tamu bisa memetik sendiri jambu kristal yang pendek pohonnya, manis-segar rasanya dan renyah-empuk teksturnya. Buah tropis kualitas super dengan berat rata-rata 200-300 gram per buah itu dibanderol dengan harga Rp 20.000 per kg.

Aktivitas berfoto menjadi bagian yang tak terpisahkan. Merekam gambar di Kebon Ijo tidak sekadar mendapatkan keindahan dari taman pohon jambu sarat buah sebagai latar belakang. Areal persawahan dan rumah panggung di sekitarannya serta Merapi yang menjulang tinggi di kejauhan adalah lukisan alam yang menghadirkan spot foto ciamik.  Masih ada lagi, di pagi hari, jauh di belahan timur tampak sunrise. Sebaliknya, menjelang sore, sunset kuning kemerahan si ufuk barat bakal menggampari indera penglihatan. Keduanya menambah keindahan pada hasil jepretan kamera.

Fimel (kiri), Kiki (tengah) berfoto bersama Putri (karyawan Kebon Ijo) dengan latar belakang kebun jambu dan sunset. (foto: fimel)

Setelah puas menjelajahi kebun jambu kristal dengan segala pernak-perniknya, tibalah saatnya pengunjung dimanjakan oleh rupa-rupa kuliner khas Jawa. Harga yang ditawarkan cukup ramah di kantong.  Semua menu tersaji apik, minuman pun tampil artistik, sangat instagramable.       

Menu utama menyediakan ramesan nasi putih/biru plus wader goreng krispi, oseng daun pepaya, oseng bunga pisang dan sayur lombok. Semuanya disajikan dalam satu paket komplit seharga Rp 15 ribu/porsi.  Mau nambah sayur? Bisa. Sayur lombok dan aneka oseng dibanderol Rp 4.000 per porsi.  Ayam goreng gurih favorit para bocah juga tersedia.  Pepes tuna bakar dan pepes patin bakar pun ada. Para milenial bisa mengorder nasi goreng atau mie instan.        

Kiri: Sebuah komunitas gowes bersantai di Kebon Ijo. Kanan: Barista Kebon Ijo menyeduh kopi dari biji segar. (foto: fimel)

Bagi yang hanya ingin cemal cemil sembari wedangan, Kebon Ijo menyediakan banyak varian snack dan minuman.  Di tempat ini ada camilan tradisonal yang legit dan empuk seperti combro, misro, bakpao dan pisang goreng aneka toping yang dipatok dari harga Rp 6 ribu hingga Rp 9.000 per porsi.   Bagi penyuka snack dengan tekstur renyah ada kentang, jamur dan singkong goreng krispi.  Semua disajikan panas.  Sementara rujak jambu kristal dihargai Rp 10 ribu per porsi.   

Untuk minuman, ada banyak pilihan seperti wedang Alkali, Bee Polen Lemon Tea, Telang Tea, sendang ayu, teh pandan dll. Untuk seporsi minuman dengan penampilan cantik ini cukup dibanderol dengan harga Rp 6 ribu hingga Rp 12.000.  Kopi pun ada, termasuk yang digrinder dari biji sebelum disajikan seperti Espresso, Vietnam Drip, V60 dll. Harganya cukup ramah di kantong yakni kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 17 ribu. Minuman coklat dan jahe pun disediakan hangat dan dingin.

Martini Wahyudi, menikmati menu Nasi Wader krispi. (foto: ernaningtyas)

Ada bangunan joglo terbuka sebagai lokasi  wedangan dan menyantap hidangan. Sejumlah tujuh setel kursi siap menjadi tempat bersantai sambil berbincang. Dari arah joglo, pandangan mata akan menyapu kebun jambu di sisi barat dan areal sawah di sisi timur lengkap dengan angkasa di kejauhan. Di depan joglo, ada areal terbuka sebagai tempat parkir. Dari sini, tampak Merapi jauh di sisi utara. Bila cuaca cerah, bagian puncak yang berlubang memanjang di sisi selatan tampak jelas.

Dikala malam menjelang, joglo ditutup kerai bambu. Lampu-lampu gantung berkap kurungan kayu menambah romantis suasana. Jauh ke arah kebun jambu tampak deretan lampu gantung dengan penyangga bambu berdiri rapi di pinggir jalan setapak hingga ke ujung terjauh. Barisan bohlam penerang ini menciptakan suasana hangat, romantis dan syahdu. Pemandangan ini seperti mengingatkan siapa saja akan suasana senja di bulevar masuk sebuah perkampungan yang indah.

Senja di kebun jambu. (foto: ernaningtyas)
Pemandangan sore hari dari depan Joglo ke sisi timur. (foto: ernaningtyas)

Mudah Dicari

Kebon Ijo ada di tempat yang tersembunyi. Jalan masuk ke tempat ini merupakan areal persawahan yang sepi.  Tetapi tempat ini sama sekali tidak sulit dicari, terlebih di era digital yang bisa memanfaatkan Google Maps. Lama perjalanan ke Kebon Ijo cukup 20 menit-an berkendara dari perempatan Tugu Yogya.  

Dari titik anjak Monumen Tugu di kota Yogya, perjalanan ditempuh lurus ke arah utara menyusuri jalan Palagan.  Kira-kira sampai kilometer 8, tepatnya di pertigaan Jalan Damai, rute maps akan memberikan instruksi belok ke timur. Cukup dengan tiga kali belok menyusuri jalanan yang tidak begitu panjang, para kandidat penikmat Kebon Ijo sampai di depan joglo.

Tepat di bagian depan joglo seluas sebelas kali sembilan meter dengan empat tiang penyangga di tengah-tengahnya, tersedia tempat cuci tangan.  Suara air keran yang mengucur di atas wastafel terakota warna tanah menambah alami suasana. Begitu memasuki joglo, mata ini langsung menyorot pohon-pohon jambu kristal yang terhampar memenuhi halaman belakang.  Persis di tengah-tengahnya, tampak jalan setapak membelah areal kebun menjadi dua bagian yang sama. 

Suasana nyaman di dalam bangunan joglo. (foto: ernaningtyas)

Memasuki areal kebun, ada dua buah reranting kering di kiri kanan jalan setapak yang disatukan pucuknya membentuk gapura. Gerbang kayu kering itu mirip sepasang penerima tamu yang berdiri berhadapan dan sedang memberi salam hormat. 

Di tengah pendapa, ada sebuah pot bunga Kuping Gajah setinggi dada manusia dewasa.  Kursi-kursi kayu pendek bergaya jadul menambah kesan antik. Gerobak barista di pojok utara menambah kesan klasik.  Para petugas berkaos hijau cerah menciptakan suasana segar seperti penampakan alam di sekitaran.

Semua yang ada di Kebon Ijo adalah hasil gagasan para pemiliknya: Fimelia, Hiasinta Kiki Barata dan Unggul Putranto. Ketiganya karyawan Pertamina, BUMN yang mengurusi soal energi di Indonesia.  Kiki dan Fimel, demikian keduanya akrab disapa telah memasuki masa purna tugas.  Hanya Unggul yang masih berstatus karyawan aktif dan berdomisili di Jakarta. 

Menikmati masa tua dan membuka usaha di Yogya menjadi cita-cita trio pemilik Kebon Ijo.  Pilihan pun jatuh pada wisata petik jambu kristal dipadu dengan kulineran menu khas Jawa dan lokasi yang ciamik untuk berfoto ria. (Ernaningtyas)

Sambil kulineran bisa menikmati wisata petik jambu. (foto: kiki)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *