Jiwa Genting yang Terayun-ayun

 Jiwa Genting yang Terayun-ayun
Penulis (Irawati) naik sepeda gantung (bike zipline) di kawasan wisata Candi Prambanan. (foto: dok pri)

JAYAKARTA NEWS – Semua peserta gathering Jayakarta News ke Yogyakarta, tanggal 1 – 4 Februari 2019, mengatakan sangat berkesan, masakan saya bilang sebaliknya? Pendeknya, sepadan dengan persiapan berangkat ke Yogya naik kereta api dari stasiun Pasar Senen, dan mengharuskan saya menginap di penginapan dekat stasiun, agar tidak ketinggalan kereta. Kereta api Fajar Utama jurusan Yogya, berangkat pukul 06.15, sedangkan saya tinggal di Depok.

Di antara momen-momen yang mengesankan, saya mencatat naik sepeda gantung di komplek Candi Prambanan sebagai momen paling mendebarkan. Yang tak jua kunjung kutemukan jawabnya adalah pertanyaan, “bagaimana ceritanya saya jadi berani naik sepeda gantung?” Entah bisikan apa yang membuat aku senekad itu, sementara aku tahu persis ketakutanku akan ketinggian. Aneh bukan?

Alhasil, kejadian Sabtu, 2 Februari 2019 pagi itu tak akan kulupakan. Mungkin karena begitu mendadak dan tiba-tiba, membuat peristiwa itu tampak istimewa. Diam-diam aku bahkan sering mendengar kalau Agus suka mengolok-olokku di belakang….. “Ada apa dengan mbak Ira yaaa? Orang yang begitu pendiam, kalem, eh… bisa-bisanya naik sepeda gantung sambil dadah-dadah…..”

Jangankan Agus…. aku sendiri bingung, kok aku bisa senekad ini?

Syahdina dan Irawati, naik sepeda gantung (bike zipline) di Candi Prambanan. (foto: dok pri)

Yang pasti, suasana bertamasya ke Candi Prambanan pagi hari itu sangat menyenangkan. Cuaca tidak saja cerah, tetapi sangat-sangat cerah. Langit biru, lebih biru dari samudera. Bahkan lebih biru dari hati sang Arjuna. Tidak keliru kiranya, kalau semua teman begitu menikmati suasana dan begitu asyik berfoto-foto.

Puas berfoto-ria, kami berjalan mengikuti rute keluar candi. Pedestrian yang lebar dengan pepohonan rindang di kiri-kanan jalan, melengkapi kepuasan berwisata di sana. Tiba-tiba mata ini tertumbuk pada satu spot sepeda gantung di depan sana. Ah… inilah objek berfoto yang banyak viral. Ini kiranya sepeda gantung atau bike zipline yang sering diposting di medsos teman-teman. Kegiatan ini punya banyak nama, mulai dari sky cycling, sky bike, dan zip bike.

Seketika berdesir rasa ingin menjajal. Apalagi, di bagian lain saya lihat teman serombongan, Rina Ginting sedang asyik berpose dan berfoto-foto cantik di ayunan gantung. Ayunan gantung? Kurang “nendang” rasanya, mengapa tidak sepeda gantung? Ah… betapa senangnya kalau saya bisa naik sepeda gantung, begitu pikirku spontan.

Spontan pula aku ajak Syahdina, teman seperjalanan. Ia menjawab spontan, “OK.” Maka dengan hati deg-degan kami berdua mulai naik ke atas, ke tempat pemandu wisata sepeda gantung berada. Setiba di atas, belum ada perasaan apa-apa, kecuali sensasi berdiri di ketinggian. Sang pemandu mulai memasang tali pengaman, setelah kami membayar Rp 20.000 per orang.

Bayar sudah. Tali pengaman sudah. Selanjutnya ucap bismillah… dan meluncurlah. Baru satu meter kukira, ketika aku melihat ke bawah dan… wow…. takuuutttt…. Astaga, aku benar-benar takut ketinggian. Ini bukan saja uji nyali, tapi benar-benar bikin jiwa merasa genting. Makin ciut nyali ketika otak ketakutanku menakut-nakutiku dengan, “hayo lhooo…. awas jatuh lhooo….. hayo lhooo…. tinggi lhooo…..”

Demi melihat wajahku pucat, kukira…. seorang teman di bawah mencoba menyemangatiku, “Mba Ira… lihat ke depaan….” Baiklah, aku mulai menatap ke depan, tak mau lagi melihat ke bawah. Apa ketakutanku hilang? Tidak sepenuhnya. Karena yang kulihat kemudian adalah bentang kawat seukuran jari telunjuk. Haduuh…. ketakutan itu menyergap lagi, jatung berdegup lebih kencang lagi, dan otak ketakutanku kembali meracuni kecemasan, “bagaimana kalau kawat itu putus?”

Jujur, aku sempat meminta pemandu yang memasang tali tadi untuk menarikku ke belakang. Ingin rasanya mengurungkan niat. Tapi entahlah, tidak dengar permintaanku atau pura-pura tidak mendengar, sepeda makin melaju. Kini posisinya benar-benar ada di tengah bentang tali. Ya Allah, kuatkan hatiku.

Alhamdulillah, seketika doaku seperti terjawab. Hati mulai tenang, rasa takut sedikit-demi-sedikit menyingkir. Yang ada kemudian rasa asyik. Fotografer di bawah memberi aba-aba supaya berpose dengan mengangkat kedua tangan. Awalnya foto berdua, lalu satu-satu. Sepeda gantung terus melaju hingga ke ujung. Di ujung sana, aku menebar pandang ke sekeliling… amboy… Prambahan jauh lebih indah dipandang dari ketinggian sepeda gantung. Taman-taman jauh lebih indah, dilihat dari ketinggian.

Sementara di bawah, semakin banyak saja teman-teman Jayakarta yang berkerumun dan menyorakiku. Entah sorak-sorah memberi semangat, atau sorak-sorai senang-bercampur-heran melihat aku ada di atas sepeda gantung. Bisa tertawa-tawa pula. Sorakan-sorai mereka lebih heboh ketika aku melambai-lambaikan tangan lagaknya seperti sang pemberani.

Akhir kata, aku mengucap alhamdulillah ketika kaki kembali menginjak tanah. (irawati)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *