UMKM Melompat Lebih Tinggi Bersama Tiki di Saat Pandemi

 UMKM Melompat Lebih Tinggi Bersama Tiki di Saat Pandemi

Lisa dan koleksi tanaman Sarbinah Garden/foto: Ernaningtyas

JAYAKARTA NEWS— “Sarbinah Garden” berada di jalan Sawah Joglo, Lojajar, Kelurahan Sinduharjo, Kecamatan  Ngaglik, Sleman, DIY.   Kawasan ini relatif sepi dan berjarak dari jalan besar.  Hamparan persawahan terbentang di kiri dan kanannya.  Kompleks Sarbinah Garden berada persis di tengah-tengah jalan yang membujur tiga ratusan meter dari utara ke selatan itu.  Bangunannya  memanjang ke arah belakang, berpagar dan dikelilingi tembok.   

Dari luar, tak tampak tanda-tanda bahwa di tempat itu ada aktivitas penjualan tanaman hias.  Hanya papan nama berbentuk kotak yang terpampang di tepi jalan, persis di atas pagar sisi utara, yang dipasang sebagai penanda. “Kami berjualan lewat media online,” kata Maylisa Puspa Pandu, si empunya.

Sarbinah Garden

Berjualan lewat dunia maya, tak perlu memajang tanaman agar memikat hati siapa saja yang sedang melintas.   Teknologi memberikan kemudahan bagi Lisa untuk menampilkan foto-foto tanamannya di media sosial. Para pelanggan tinggal memainkan jari jemari untuk menggapainya.  Media sosial yang bisa menjangkau belahan bumi manapun, membuat pelanggan “Sarbinah Garden” pun berasal dari berbagai tempat baik di seluruh Indonesia maupun manca negara saat musim panas.  “Hampir setiap hari kami melakukan pengiriman barang,” kata Lisa, panggilan akrabnya.  

Lisa menyadari, agar bisnisnya terus berkembang, ia mesti menjaga kepercayaan pelanggan.  Dua hal yang mesti ia junjung tinggi dalam perkara pengiriman barang adalah kecepatan, keamanan dan tentu saja berbiaya murah.  “Tanaman pesanan pelanggan harus sampai tepat waktu dalam kondisi tanpa cacat seperti pada saat pengiriman,” tegasnya.  Untuk memenuhi tuntutan kecepatan dan keamanan itu Lisa mesti pandai-pandai memilih perusahaan ekspedisi. “Sejak awal berusaha tahun 2018, saya menggunakan Tiki,” aku Lisa. 

Sejak mulai berbisnis dan melakukan pengiriman barang, ekspedisi  Tiki menjadi andalannya.  Sebab, kala itu hanya Tiki yang menerima pengiriman tanaman,  Tiki pula yang  bisa mengirimkan barang lebih cepat termasuk ke luar pulau.  “Pakai Tiki tidak ribet, surat karantina sudah diurus,  kita tinggal membayarnya,” tambah Lisa.  Menurut penuturannya, beban biaya untuk satu surat karantina tanaman adalah Rp 5000 ditambah Rp 100 per batang.

Foto: Ernaningtyas

Ledakan Permintaan

Dua tahun usaha berjalan, dunia dilanda pandemi.  Beruntung “Sarbinah Garden” tidak  terimbas.  “Justru pada saat pandemi itulah, penjualan meningkat pesat,” cerita Lisa.  Di saat pandemi, ketika semua aktivitas dijalankan di rumah, banyak orang  memiliki waktu luang dan mereka memanjakan diri dengan mengerjakan hobi.   Mengoleksi tanaman hias  salah satunya.  Dan “Sarbinah Garden” menjadi salah satu yang dilirik para kolektor.  Karena itu bisnis tanaman hias Lisa mengalami ledakan permintaan. 

Paket monstera seharga Rp 15 juta siap dikirim ke kota Malang. Foto: istimewa

“Pada saat Pandemi, kami bekerja sepanjang hari untuk mengepak barang,” kata Lisa.  Pagi mengepak untuk pengiriman pukul 12.00 siang.  Setelah itu proses pengepakan tetap berlangsung untuk pengiriman hari berikutnya.  Omzet penjualan pun melambung.  Ia bercerita, sebelum pandemi rata-rata omzetnya berada di kisaran angka Rp 30 juta per bulan.      Pada saat pandemi omzet per bulan mencapai di atas Rp 100 juta.  “Bahkan pernah kami menjual tanaman hingga Rp 200 juta lebih sebulan,” tegasnya.   

Siang itu, Senin (15/8) Lisa memperlihatkan koleksi tanamannya yang berada di areal belakang kompleks “Sarbina Garden”.  Tempatnya tertutup.  Rupa-rupa tetumbuhan cantik yang berjumlah ribuan tertata rapi di dua lantai.   Bagian atas tertutup atap sebagai pelindung  yang memberikan kesan teduh.  Untuk mencapai tempat ini, ada sebuah pintu gerbang besar yang mesti dilewati.  

Rupa-rupa koleksi tanaman hias milik “Sarbinah Garden”. Semuanya berkelas dari  harga ratusan ribu hingga belasan bahkan puluhan juta rupiah. Ada Philodendron, Monstera, Scindapsus, Anthurium, Epipremnum, Syngonium.  Setiap nama itu masih memiliki beberapa jenis.  “Suami saya yang membiakkan tanaman-tanaman ini, saya yang menjualnya,” tutur Lisa.  Harga tanaman yang mahal biasanya dipengaruhi oleh tingkat kesukaran pembiakan,  lamanya proses pembiakan, disamping panampakannya yang memang indah.  

Lisa dan anthurium seharga Rp35 juta/foto: Ernaningtyas

“Tanaman ini harganya Rp 6,5 juta,” katanya sambil menunjuk sebuah pot berisi tumbuhan berdaun dua buah beda warna,  jenis monstera.  Sebuah pot besar berisi pohon jenis anthurium dengan banyak daun dibanderol dengan harga Rp 35 juta.  “Tanaman ini sudah laku, tetapi dititipkan di sini dulu oleh pembelinya yang berada di Bali,” tuturnya.  “Kami pernah mengirim monstera  harga Rp 15 juta ke kota Malang, kemasannya setinggi orang dewasa, pakai Tiki aman sampai tujuan,” tambahnya.         

Tiki Reguler   

“Tiki Reguler,” jawab Lisa saat disodorkan pertanyaan fasilitas pengiriman apa  yang ia pilih dari Tiki.  Fasilitas ini menarik sebab, biaya lebih murah dan paket dijemput di rumah tanpa tambahan ongkos.  “Kalau waktu sampainya, paling hanya beda tipis dengan yang kilat.  Satu dua hari bedanya,” ungkapnya.  Selisih waktu tersebut bagi Lisa tak berpengaruh signifikan, sebab tanaman miliknya tahan sampai satu minggu berada di perjalanan.  Dan menurut pengalamannya selama ini, kiriman lewat Tiki tak pernah ada yang melampaui batas satu minggu.  Lewat aplikasi Tiki, admin “Sarbinah Garden” bisa memantau perjalanan barang dari rumah sampai ke tangan pelanggan. 

Paking tanaman di Sarbinah Garden. Foto istimewa

Lisa pernah memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan.  Di  waktu lampau, ia berpindah ke agen Tiki yang lain karena tergiur oleh fasilitas gratis karantina.   “Awalnya berjalan baik.  Suatu kali ada barang kembali, setelah saya cek ternyata pemesan tidak mau menerima barang karena tulisan yang tercantum adalah barang pecah belah, bukan tanaman. Usut punya usut, rupanya pihak agen  yang curang.  Akhirnya saya pindah ke agen Tiki langganan awal saya dan beres sampai sekarang ini,” cerita Lisa panjang lebar.    

Punya satu pengalaman tak mengenakkan tidak lantas membuat Lisa berpaling.  Ia tetap mempercayakan pengiriman tanaman kepada Tiki.  Pengalamannya selama ini membuktikan bahwa Tiki menjamin keamanan barang dan sampai tujuan tepat waktu, disamping ongkosnya lebih murah.  Soal keamanan,  Lisa menempatkan Tiki di tangga paling atas.  “Lewat Tiki, kondisi dus sampai di alamat tujuan tetap  mulus, tak ada peyoknya,” tuturnya. Namun Lisa tetap melayani pelanggan yang menginginkan pengiriman lewat ekspedisi lain.  “Ada banyak pengalaman, barang diterima dalam kondisi paking peyok,” ungkapnya.

Lisa menceritakan, tak hanya dirinya yang militan menggunakan jasa ekspedisi Tiki.  Ada juga koleganya yang hanya mempercayakan pengiriman barang lewat Tiki.   Saat pandemi lalu, Lisa mengalami lonjakan permintaan dan waktu itu ekspedisi  yang ia gunakan Tiki.  “Tiki membawa kami melompat lebih tinggi,” tegas Lisa. 

Foto: Ernaningtyas

Pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) tanaman hias  seperti Lisa tidak sedikit.  Menurut cerita Lisa, rata-rata mereka memiliki pengalaman yang sama.  Mengalami lonjakan di saat pandemi menerpa, dan mempercayakan pengiriman tanaman lewat Tiki.  Kini setelah pandemi mereda, omzet ikut menurun.  Tetapi, tingkat penurunan itu tak sampai di bawah omzet sebelum pandemi.  “Biasalah, orang pada sibuk kerja dan mengurangi waktunya untuk melakukan hobi,” kata Lisa. 

Seperti yang disebutkan Lisa di awal, bahwa omzetnya mencapai Rp 30 an juta per bulan sebelum pandemi, melonjak ke angka ratusan juta saat pandemi.  Setelah wabah mereda, omzetnya turun di angka Rp 60 juta sampai di bawah Rp 100 juta.   Naik turunnya omzet seperti ini juga dialami oleh kolega Lisa, sesama pebisnis tanaman hias.   

Lisa mengakui bahwa turunnya omzet setelah pandemi tetap bertengger jauh di atas omzet sebelum pandemi.  “Tiki membawa kami melompat lebih tinggi di saat pandemi.  Dan  sekarang pun kami tetap eksis dengan omzet jauh di atas angka sebelum pandemi ,” pungkas Lisa ibu seorang putri yang memiliki tiga orang karyawan. (Ernaningtyas)          

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.