Kohibora Sokong Kemandirian Pangan

 Kohibora Sokong Kemandirian Pangan

Panen sayuran hidroponik. (foto: ist)

Jayakarta News – Kesadaran masyarakat, khususnya warga Bogor dalam mengonsumsi sayuran yang sehat dan bebas pestisida semakin meningkat. Terlihat semakin banyaknya penjualan sayuran dan buah buahan berlabel organik dan hidroponik, baik di mall maupun di pasar modern.

Hal ini merupakan trend yang menggembirakan dengan dampak minatnya masyarakat akan sayuran  tanpa pestisida. Namun dengan harganya lebih tinggi dari sayur yang di jual di pasar tradisional, apakah memungkinkan, masyarakat umum dapat serta mengkonsumsinya.

Latar belakang inilah yang mendorong terbentuknya Komunitas Hidroponik Bogor Raya (KoHiBoRa). Sehingga bisa terealisasi tujua nya agar masyarakat Bogor bisa memproduksinya sendiri. Sehingga kepastian sayur dan hortikultur lain benar-benar bebas pestisida dengan harga yang lebih terjangkau.

Menurut Ketua KoHiBoRa, Dra Hanny Nabila, M Si, komunitas ini terbentuk tanggal 18 November 2017. Pembentukan komunitas dilandasi keprihatinan atas banyaknya peserta latihan Hidroponik yang gagal mengaplikasikan pengetahuan berhidroponik setelah mengikuti berbagai Program Pelatihan. Penyebabnya, tidak adanya bimbingan lanjutan.

Di pihak lain ternyata muncul berbagai kendala teknis mulai dari pendederan, pembesaran, pendewasaan tanaman, pemanenan sampai ke pengolahan serta pemasaran hasil. Kohibora merupakan wadah dan prasarana untuk berkumpul, berdiskusi berkenaan dengan Hidroponik serta pengaplikasiannya baik untuk dikonsumsi sendiri maupun dipasarkan.

Diharapkan para penggiat Hidroponik di Kota Bogor mendapatkan kemudahan informasi perkembangan ilmu hidroponik melalui berbagai media baik media sosial, pertemuan maupun kunjungan lapang ke berbagi Green House anggota maupun di luar anggota.

Kohibora melatih hidroponik utuk mahasiswa Politeknik Pertanian Bogor. (ist)
Marketing Kohibora go digital (ist).

Saat ini anggota Kohibora mencapai 150 orang. Di lain pihak, ketersediaan lahan pertanian untuk tanaman pangan di Kota Bogor semakin terbatas, dan profesi penduduk sebagai petani semakin berkurang. Juga ditandai dengan semakin langkanya nenas bogor, kacang Bogor yang benar benar berasal dari petani yang berdomisili di Kota Bogor.

Meski demikian sayur-mayur dan hortikultura lainnya masih disuplai dari kabupaten Bogor yang masih memiliki lahan yang relatif lebih luas. Selain itu penduduk Kota Bogor lebih banyak yang bekerja sebagai pegawai kantoran, pabrik dan profesi lainnya yang non pertanian.

Menurut Ketua Panitia Pelaksana HUT ke-2 Kohibora yang jatuh pada tanggal 30 November, Dr.Ir.Teddy Rahmat M.M. pada peringatan HUT tahun lalu Kohìbora menggelar Seminar dan Pameran HIdroponik yang dihadiri para ahli dalam hidroponik sepert “Bapak”nya Hidroponik yaitu Ir Yos Sutioso, praktisi dan akhli eddible flower ibu Eva L A Madarona. Dihadiri lebih dari 400 orang masyarakat hidroponik dari berbagai kota seperti Tanggerang, Bandung, Surabaya, dan Bogor.

Menindak lanjuti kegiatan tersebut, KoHiBoRa merapatkan langkahnya kepada Dinas Pertanian Kota Bogor dan menggalang pelatihan untuk PKK dan Kelompok Wanita Tani Kota Bogor yang tersebar di 6 Kecanatan Kota Bogor.

Pada bulan November lalu Kohibora mencoba meraih para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Persatuan Orgaanisasi Wanita (POW) Kota Bogor da Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Bogor untuk memperkenalkan Budidaya Hidroponik Sayur, melalaui pelatihan untuk para pemula. Ternyata mereka dapat diandalkan menjadi Laskar Hidroponik Kota Madya Bogor.

Berdasarkan evaluasi pelaksanaan HUT KOHIBORA ke1 dan menyerap aspirasi masyarakat, Peringatan HUT ke -2 kali ini mengambil Thema “Bersama KOHIBORA, Wujudkan Kemandirian Pangan Keluarga dan Ekspor Hortikultura Dalam Rangka Mendukung Kebijakan Pembangunan Pertanian”.

Kursus Anggrek, kultur jaringan. (ist)
Farm trip ke Cidahu, Sukabumi. (ist)

Dalam hal ini diharapkan dapat mengeksplorasi komoditas lain yang dapat dikembangkan dengan hidroponik di antaranya;

1. menghapus anggapan sayuran bunga, hanya baik dikembangkan di dataran tinggi yang dingin.

2. Budidaya anggrek dengan hidroponik. Dan tidak kalah pentingnya apa yang dapat diperbuat dengan Eddible Flowers. Untuk pelaksanaannya telah dibentuk Panitia Pelaksana dan kami mengharapkan dapat menjaring para sponsor sehingga Investasi peserta seminar dan workshop tidak terlalu besar.

-Diharapkan kegiatan ini dapat menjaring kurang lebih 500 orang peserta seminar dan 1000 orang laskar hidroponik.

-Diharapkan pula akan terjalin Silaturahim antar KOHIBORA denagan Komunitas Hidroponik lainnya.

Seminar dan Workshop kali ini direncanakan dilaksanakan pada hari Sabtu 30 November  2019 di POLBANGTAN yang dulu dikenal sebagai SPMA Bogor, Jl Aria Surialaga No 1 Pasir Kuda Bogor Barat. (*/srh)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *