Habibie Afsyah: “Stephen Hawking” E-Commerce Indonesia

 Habibie Afsyah: “Stephen Hawking” E-Commerce Indonesia
Habibie Afsyah. (ist)

Jayakarta News – Bermodal sekitar satu juta, kita meraih untung sekitar Rp 100 juta setelah setahun berusaha. Tidak sedikit penyandang disabilitas yang dibimbingnya terjun di e-commerce.

Apa yang ada dibenak dan bayangan saat melihat seorang bocah berusia empat tahun tergolek tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya, menatap polos soal masa depannya?

Pasrah, frustasi atau entah hal buruk apalagi yang mungkin menjangkit di hati dan pikiran orang pada umumnya jika melihat seseorang terkena Muscular dytrophy, sebuah penyakit bawaan  yang terus menrongrong otot dan motorik tubuh, apalagi jika menjadi korban yang mengalaminya.

Tapi tak begitu halnya dengan Habibie Afsyah. Bungsu dari delapan bersaudara yang lahir di Jakarta 6 Januari 1988 ini tak patah semangat, frustasi apalagi putus asa terus mengasah pengetahuan dan kemampuannya dalam dunia e-commerce.

“Untung ada internet & sekarang semakin mudah jadi internet marketer. Coba kalo gak? Saya pasti kalah. Adu jalan aja saya kalah, mengetuk pintu saja saya gak bisa. Gimana mau jadi marketing door to door?” Ucap Habibie Afsyah saat berbincang dengan Jayakartanews.com, di depan jejeran komputer di tempat kantornya belum lama ini.

Habibia Afsyah dengan peralatan medisnya. (ist)

Di ruang tamu rumahnya yang difungsikan sebagai kantor, yang terletak di Jalan Sumbangsih V No. 3, Karet Setiabudi, Jakarta Selatan itulah sang bocah malang, yang kini sedang sibuk-sibuknya membangun perusahaan digital marketing agency dan konsultan pemasaran online dan hal lain yang berhubungan dengan internet itu, mewujudkan cita-cita dan tekadnya. “Aku ingin membesarkan apa yang aku bangun sekarang. Sekarang saya sudah punya perusahaan yang bergerak di bidang digital marketing,” tegas penerima Danamon Award 2012 ini.

Meski hanya dua jari tangan saja yang bisa digerakkan putra pasangan H. Nasori Sugianto dan Hj. Endang Setyati itu tergolek lunglai di kursi roda berpenggerak otomatis yang membawanya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tak membuat Habibie malas atau enggan bergerak. Pendiri Yayasan Habibie Afsyah dan Indonesian Disabled Care Community (IDCC) tersebut terus menggali pengetahuan, mengasah kemampuan dan membangun kekuatan serta jaringan usaha maupun aktivitas sosialnya, termasuk sociopreneur (enterpreneur sosial) yang terus dijalananinya bergandengan atau mendukung program dan gerakan pemerintah.

Melalui DigitalPreneur.co.id yang bergerak di bidang digital marketing dan berbagai kebutuhan online marketing mulai dari jasa pembuatan website, web design, optimasi SEO untuk menaikkan web ke halaman 1 Google dan jasa Facebook Ads, digital marketing, termasuk web developer, web progamming, web content, maintenance, konsultasi maupun jasa e-commerce lainnya.

Menurut Habibie, arena e-commerce merupakan kancah bisnis bermasa depan cerah yang akan terus berkembang pesat di Indonesia. Dengan modal awal relatif begitu kecil, lanjutnya,  bahkan untuk beberapa proyeknya nyaris tanpa modal dan hanya berbekal nama baik, keahlian, ketekunan dan jaringan atau data pelanggan.

Habibied dan teman-temannya. (ist)

Tak sekadar bicara, Habibie pun segera beraksi dan tekun bekerja, mulai dari seorang diri dan kini setidaknya ada empat kawannya yang ahli di bidang masing-masing, membantunya dalam memenuhi tuntutan pasar e-commerce baik swasta maupun pemerintah. Belum lagi kawan atau jaringannya di daerah yang bekerja freelance.

Gak iklan, gak keluar biaya lainnya untuk ini dan itu. Modal awal sekitar sejuta lah, sekarang omset saya sudah berada di kisaran tiga digit-lah, untuk total selama setahun sekitar 100 jutaan sih ada, jika digabung semuanya ya keuntungan kotor juga sudah sampai 100-an juta juga lah, tapi belum dipotong gaji pegawai atau kawan yang bantu,” tuturnya.

Meski baru berjalan setahun membangun bisnis di kancah e-commerce, tapi sudah di atas 30 klien yang ditangani perusahaan e-commerce Habibie Afsyah ini, dari yang kecil hingga yang besar.  Tidak hanya UMKM, perusahaan swasta dan pemerintahan pun masuk dalam pelanggannya. Setidaknya, sudah 10 UMKM yang menjadi klien digitalpreneur.co.id yang dipimpin Habibie ini. “Salah satu kesulitan saya, ditanya oleh klien lulusan dari kampus mana? Padahal, semua project dari Swasta & pemerintah bisa saya selesaikan dengan baik,” katanya.

Di luar itu, tidak sedkit juga orang yang senasib dengannya sebagai sesama penyandang disabilitas yang diajak dan dibimbingnya melalui dua lembaga sosialnya itu, lalu berhasil membangun usahanya sendiri di bidang e-commerce, khususnya internet marketing dan digital preneur.

Habibie Afsyah dan keluarga. (ist)

Melalui Yayasan Habibie Afsyah di Jakarta dan Indonesian Disabled Care Community (IDCC) di Solo, Jawa Tengah, penyandang disabilitas tersebut diberdayakan dan kini telah mandiri di jalur e-commerce. Dengan demikian, langsung maupun tidak langsung, perekonomian daerah, setidaknya taraf ekonomi penyandang disabilitas pun turut terangkat, meningkat dan maju.

Debut Habibie sebagai suhu atau master internet marketing atau digital preneur ini, tak hanya diakui kalangan disabilitas yang dibinanya, tapi juga masyarakat umum secara luas. “Ya, sayang memang, IDCC jadi agak vakum karena semua sudah mandiri. Saya sendiri makin sibuk, ini saya mau ke dokter karena saat jadi pembicara sebagai konsultan di Padang, kena kabut asap, ya memang badan saya juga lemah. Karena memang sumber asap atau titik apinya kan di Riau, tapi saya tetap kena ISPA,” ucap Habibie.

Sukses dan pencapaian Habibie kini, tak lepas dari perjuangan sang ibu, Hj. Endang Setyati. Bermodal lebih dari Rp 5 juta Hj. Endang mengajak bungsunya, pria muda lulusan SMA dengan kondisi seperti peraih Nobel Fisika Stephen Hawking ini, untuk mengikuti kursus internet marketing tingkat dasar, hingga akhirnya bertemu seorang mentor internet marketing yang membimbingnya.

“Sekarang saya berharap pemerintah semakin beri perhatian dan dukungan materil mauun immateril kepada disabilitas. Karena yang disabel kan tubuhnya, bukan otaknya atau kemampuannya. Tapi juga jangan hanaya karena memandang kasihan, pandanglah hasil dan kerja nyatanya yang baik.” ujarnya. (herawatmo)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *