Food Truck, sebuah Revolusi Kuliner

 Food Truck, sebuah Revolusi Kuliner
Berjualan makanan di atas truk, menjadi terobosan bisnis kuliner di Ibukota Jakarta, dan mulai merambah kota-kota besar lain di Indonesia. Foto: Eben

IDENYA memang bukan orisinal milik anak bangsa, tapi berjualan kuliner di atas mobil, betapa pun merupakan terobosan menarik. Bahkan bisa dibilang revolusi kuliner. Sebelum ada food truck, siapa pernah membayangkan membawa-bawa restoran ke mana-mana, dan bisa berjualan di lokasi-lokasi strategis, bahkan berdampingan dengan tenda kaki-lima sekalipun.

Geliat bisnis kuliner menggunakan kendaraan roda empat juga diakui oleh Vincent. Pemuda 30 tahun warga Jl Bungur, Jakarta Pusat, ini, mengaku telah 1,5 tahun menekuni bisnis food truck. “Dulu  boleh dibilang masih jarang, tapi sekarang jumlahnya sudah semakin banyak,” kata Vincent.

Ihwal kuliner, ia melihat paling eksis dalam segala situasi. Ia memulai dari menjual roti bakar menggunakan gerobak, setelah itu mencoba mendirikan ‘bengkel cafe’, memanfaatkan mobil mini bus yang sudah dimodifikasi. Tapi kurang berkembang. Lalu ia beralih ke food truck yang ternyata sukses. Ia bahkan berhasil membeli lagi sebuah truk seharga Rp 300 juta yang disulapnya jadi ‘food truck’.

Menu food truck yang baru, berbeda dengan menu food truck sebelumnya. Kali ini, ia berjualan “nasi mangkok’. “Saya senang, karena sambutan penikmat kuliner cukup baik terhadap menu ini,” tutur Vincent yang ditemui di kawasan Kemayoran.

Demi memperluas pasar, kata Vincent, ia sangat rajin mengikuti berbagai event yang sudah terjadwal di kalender event Jabodetabek, di luar itu dia juga rajin memasarkan produknya ke masyarakat. “Tahun ini boleh dibilang aktivitas kami padat sekali, ada banyak event yang kami ikuti. Bahkan sampai tahun depan agenda kami cukup banyak. “

“Malah salah satunya adalah ada customer yang memesan kami untuk meramaikan pesta pernikahan. Hahahha…bayangkan food truck saya akan masuk dalam acara pesta pernikahan. Ini order yang lumayan,” kata pemuda itu dengan wajah semringah. Di luar itu, food truck nya juga mangkal di sebuah SMA swasta terkenal di Jakarta.

Untuk bisa berjualan di event-event atau di tempat-tempat strategis, Vincent harus membayar sewa antara Rp500-Rp1 juta per hari. Tergantung besar-kecilnya event. “Saya rasa bisnis food truck lebih menguntungkan dibanding bisnis kuliner yang hanya stay di satu tempat. Kalau kita rasa nggak ramai, ya kita bisa pindah. Itu kan tidak bisa dilakukan oleh mereka yang berjualan di tempat permanen,” kata Vincent. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *