Ecoprint dan Shibori di Godod Gallery

 Ecoprint dan Shibori di Godod Gallery

Pameran batik tulis, ecoprint, dan shibori di Godod Gallery, Suryodiningratan, Yogyakarta. (foto: rakhmat s)

Jayakarta News – Wanita turis asal Jepang, Azusa Makita tak bisa menyembunyikan kegirangannya. Dengan senyum lebar yang terus merekah di bibirnya yang pucat tanpa lipstick, Makita melihat, memegang, dan mengagumi materi pameran batik tulis, ecoprint, dan shibori.

Pameran itu digelar di Godod Gallery, Jl. Suryodiningratan, MJ II No 641, Suryodiningratan, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, tanggal 3 – 8 Maret 2020. “Colourfull,” kata Makita dengan wajah berbinar.

Hadirnya Azusa Makita di pameran batik itu bukan kebetulan. Sebab, selama berlibur di Jogja, ia memang menginap di Godod Gallery. Gallery milik perupa Godod Sutejo itu juga menyediakan beberapa kamar homestay yang nyaman dan terletak di tengah kota.

Nah, melihat pameran batik di “tempat tinggal”-nya, Makita tertarik dengan shibori. Corak menyerupai batik, bahkan ada yang menyebut sebagai “batik Jepang”. Bagi pegiat kesenian dan tekstil, istilah shibori bukanlah hal yang asing.

Azusa Makita, turis asal Jepang di Godod Gallery. (foto: rakhmat s)

Shibori berasal dari kata kerja ‘shiboru’ yakni teknik pewarnaan kain yang mengandalkan ikatan dan celupan. Motif yang dihasilkan seringkali tak jauh berbeda dengan batik (meskipun dari segi pengerjaan lebih mudah dan sederhana).

Konsep pembuatannya serupa dengan teknik tie dye yang mengandalkan teknik ikat celup. Dengan teknik ini, beberapa kain ‘dilindungi’ agar tidak terkena corak pewarna sehingga pada hasil akhirnya tercipta pola sesuai dengan bagian yang diwarnai dan ‘dilindungi’.

Di Indonesia teknik tie dye dikenal dengan istilah jumputan (Jawa). Di luar Jawa juga ada teknik batik sejenis, yakni sasirangan (Banjarmasin) dan pelangi (Palembang).

Dari sisi teknik (shibori), tampak Makita tidak menyoal. Ia hanya terkesan dengan perbedaan shibori di negaranya dengan yang ia lihat di Yogya. Makita mengakui, shibori bikinan orang-orang Indonesia cenderung warna-warni (colourfull). Berbeda dengan di Jepang yang cenderung monokrom, satu nada warna.

Lain lagi tanggapan para turis domestik asal Jakarta. Hari itu, Godod Gallery kedatangan rombongan turis lokal dari Jakarta yang kebetulan penggemar dunia fashion. Jika Makita tertarik dengan shibori, maka para turis Jakarta tampak lebih tertarik dengan batik tulis.

“Batik tulis lebih bermutu dari segi teknik, desain, dan pewarnaan. Itu alasan teman-teman yang lebih menyukai batik tulis,” ujar Slamet Haryadi, yang mengajak tujuh turis Jakarta menghadiri pameran batik yang diadakan Rakhmat Supriyono dan kawan-kawan.

Kiri, Rakhmat Supriyono, penyelenggara pameran, dan Slamet Haryadi, pimpinan rombongan turis dari Jakarta. (foto: ist)
Marion Lafuste, wanita turis asal Perancis di Godod Gallery. (foto: rakhmat s)

Lain lagi kesan Marion Lafuste, wanita turis asal Perancis yang tampak lebih pendiam –dibanding Makita. Berbaju batik warna kombinasi hijau dan oranye, Lafuste mencermati batik-batik cantik yang ada di ruang pamer. Sesekali ia bahkan mengambil dan mematut-matutkan di tubuhnya yang tinggi lagi langsing.

Pendek kalimat, Rakhmat sangat puas dengan prakarsa pameran batik dadakan yang ternyata mendapat sambutan luar biasa. “Sungguh tidak mengira, sambutannya ternyata sangat bagus,” ujar Rakhmat Supriyono, perupa dan pengamat batik, yang menggagas pameran itu.

Lulusan STSRI “ASRI” Yogyakarta ini, niatnya hanya ingin menjajagi seberapa besar minat masyarakat terhadap ketiga jenis motif sandang yang ia pamerkan: batik tulis, eco print, dan shibori. Karenanya, delapan pengrajin yang dilibatkan dalam pameran itu, terdiri atas pengarjin batik tulis, eco print, dan shibori.

Kedelapan pengrajin itu memamerkan antara lain kain bahan pakaian, baju, kaos oblong, sprei batik, syal, dsb. Batik tulis kualitas bagus dibanderol dengan harga Rp 450 ribu, jauh lebih murah dibanding harga batik tulis di toko-toko Malioboro.

Sedangkan eco print dipajang dengan harga Rp 250 ribu  – Rp 800 ribu. Lalu shibori dijual dengan harga antara Rp 250 ribu – Rp 300 ribu. Untuk souvenir juga dijual batik cap seharga Rp 150 ribu. Ukuran kain panjang antara 200 – 250 cm. Tidak saja cukup untuk dibuat baju pria atau wanita, bahkan untuk yang ukuran 250 cm, bisa dijadikan gamis.

Suasana pameran batik tulis, ecoprint, dan shibori di Godod Gallery, Yogyakarta. (foto: rakhmat s)

“Saya menjadi paham, mengapa pengrajin batik di Yogyakarta yang konvensional, cukup cemas dengan maraknya kain sandang corak baru, yakni eco print dan shibori,” kata Rakhmat. Disadari, bahwa dunia fashion pada galibnya berputar. “Bisa jadi, trend eco print dan shibori sedang merangkak ke puncak,” tambah pria asal Kebumen itu.

Menurut Rakhmat, eco print menduduki urutan kedua. Peminat ecoprint, suka corak itu karena warna-warna yang alami, soft, dan harmonis dengan warna kulit orang Asia. “Ecoprint dibuat dengan dedaunan tertentu yang ditempelkan pada kain, dan dikukus,” kata Rakhmat menyebutkan proses pembuatan eco print.

Sementara shibori, mengandalkan teknik pewarnaan tie dye, yakni dengan cara melipat-lipat kain kemudian dicelupkan ke pewarna. Banyak juga yang suka, tetapi tidak sebanyak yang eco print. “Alasan yang kurang suka shibori karena pattern atau motifnya geometris, monoton dan kaku,” tambah Rakhmat.

Seprei batik tulis karya maestro batik tulis Nunung Ribanu. (foto: rakhmat s)

Ia juga menyebutkan satu peserta yang sudah tidak asing lagi di jagad batik. “Pameran ini diikuti maestro pembatik Nunung Ribanu. Beliau menyertakan dua lembar seprei batik tulis,” ujarnya. Dua seprei batik tulis itu berukuran 175 x 215 cm dan 150 x 150 cm. “Harganya sembilan-ratus-ribu, jauh lebih murah dibanding harga di toko,” kata Rakhmat.

Dengan trend yang ada, Rakhmat Supriyono makin mantap menekuni batik. Termasuk eco print dan shibori. Bahkan, ada kemungkinan ia akan menggelar pameran sejenis lebih intens. Tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di kota-kota lain.

Ditanya ihwal penataan pameran yang begitu apik, sambil tersenyum Rakhmat mengaku, “Ada dua teman yang membantu, Etty Kawuryani dan Menoek Rukmawati. Mereka memang sudah berpengalaman di Matahari Dept Store.” (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *