Godod Sutejo tak Hadir di Pameran Tunggalnya

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Pelukis senior Godod Sutejo tak hadir di pameran tunggalnya yang ke-17 di Kiniko Art Room, SaRanG Building II Tirtonirmolo Bantul Yogyakarta, 14 hingga 31 Agustus 2024. Empat hari menjelang pembukaan, Godod dijemput ambulan RSUD Kota Yogyakarta (Wirosaban) dan langsung dibawa ke ruang IGD. Diagnosa dokter menyatakan pelukis berusia 71 tahun ini kena penyumbatan jantung, radang paru-paru, dan sekaligus asam lambung. Rombongan penyakit yang selama ini dia abaikan.

Pameran Tunggal kali ini Godod tampak lebih total. Menyajikan 33 karya, 30 di antaranya merupakan karya-karya terbaru (Mei – Agustus 2024) ditambah karya-karya terbaiknya di tahun 1980, 2015, dan 2022. Dari segi teknik, tema, dan pemilihan subject matter, Godod masih konsisten. Sosok manusia divisualisasikan dengan ukuran kecil di hamparan alam yang maha luas. Satu penggambaran spiritual, betapa manusia terlalu kecil jika dibanding alam semesta.

Pameran Tunggal kali ini dibuka oleh sahabat sekaligus dosen di STSRI ASRI (ISI) Yogyakarta Subroto Sm. Dihadiri puluhan seniman Yogyakarta dan beberapa dari luar kota. Pak Broto, sapaan akrab para mahasiswa, memahami benar perjalanan kesenilukisan Godod semenjak mahasiswa hingga perkembangan terkini.

Dalam sambutannya, Subroto sempat menceritakan proses Godod dalam penemuan jatidiri. “Bermula dari kegelisahan kurikulum,” ujar Broto. Pada semester 6 di Jurusan Seni Lukis ASRI dulu setiap mahasiswa diwajibkan memiliki ciri khas yang unik dan kreatif. Dalam usahanya mencari ide-ide kreatif, Godod pergi menyepi ke Pantai Samas. Di saat Godod merenung, dari kejauhan ia melihat kerumunan dan gerak-gerik orang yang tampak kecil sekali, di hamparan pasir yang luas dan sepi. Seketika pemandangan ini telah menggugah kesadaran estetisnya untuk melukiskannya di kanvas. Sejak peristiwa tersebut, sekitar tahun 1974, Godod merasa mantap dengan pilihan gayanya yang ia pegang dengan teguh hingga hari ini. Dari tradisi pendidikan di ASRI yang khas ini jelas memberi landasan kuat bagi perjalanan Godod dalam menapaki kariernya sebagai seniman. Banyak seniman sering tidak mempedulikan gaya pribadi.

“Ketika kita menyaksikan lukisan-lukisan karya Godod Sutejo, kita dihadapkan dengan pemandangan alam yang luas, sepi, dan terasa nglangut,” kata Subroto dalam sambutannya. Ada kerumunan orang dalam berbagai aktivitas. Namun kerumunan orang tersebut dalam ukuran sangat-sangat kecil.

Ketemu Harapan

Manjing

Pameran Tunggal Godod Sutejo yang berbarengan dengan ingar-bingar perayaan Hari Kemerdekaan ini diberi tajuk Manjing (Bahasa Jawa), bisa diartikan masuk atau merasuk. Menurut Subroto, Godod Sutejo sedang Menggapai ke-Kesempurnaan. Godod Sutejo bersama lukisan-lukisan Alam Sepinya, yang diekspresikan secara artistik, unik, dan memiliki muatan spiritual kuat itu, adalah Pribadi yang sedang menuju ke keluhuran atau ke kesempurnaan. Mengamati lukisan-lukisan Godod yang menyajikan manusiamanusia berukuran sangat kecil di tengah alam raya yang luas, sepi, dan nglangut itu menjadikan manusia bagaikan debu, kecil dan seolah tak berarti.

Dalam pandangan Subroto, lukisan Godod mempunyai pesan agar manusia sadar, rendah hati, dan jangan jumawa. Oleh karenanya, jika manusia ingin bahagia, mesti bisa menjaga kesatuan hidup yang harmonis dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta langit, bumi, dan seiisinya. (Rakhmat Supriyono)

“Nungsung Suryo” di Bukit Moyeng

Kolaborasi Puluhan Seniman Yogya

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Tak kurang dari 20 seniman lukis, tari, teater, musik Jawa, dan penggiat yoga berkolaborasi di puncak bukit Moyeng Menoreh, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, 12 – 13 September 2023. Perhelatan seni budaya ini merupakan rangkaian acara Saparan Rebo Pungkasan (Rabu terakhir di bulan Sapar). Tidak jauh dari tempat itu juga digelar ritual ngguyang jaran kepang (memandikan kuda lumping) di aliran Sungai Bendung Kayangan.

Acara “Ngguyang Jaran Kepang” (memandikan kuda lumping). (foto: rakhmat s)

Hajat seni budaya yang diberi tajuk Nungsung Suryo (menyongsong matahari) ini digelar mulai pukul 05.00. Sebelum beraksi, para seniman ikut “Dhahar Kembul Bujana”, sebuah tradisi makan “tumpeng” bersama dengan pelayanan istimewa. Setelah menyantap hidangan nasi tumpeng dan ingkung (ayam jawa yang dimasak utuh, tidak dipotong-potong) di Puncak Mustikaning Moyeng, para seniman yang dikomandani Godod Sutejo langsung menuju puncak bukit Moyeng. Tanpa banyak bicara, mereka langsung beraksi sesuai keahliannya.

Pemain siter melantunkan irama magis. Sosok penari meliuk-liukkan tubuh mengikuti bunyi getaran senar siter yang makin jarang terdengar. Sastrawan Syamsu Setiaji membacakan geguritan dengan penuh penghayatan. Para pelukis dari kabupaten Kulonprogo dan Yogyakarta mulai mencari posisi strategis sambil menenteng kanvas. Sementara belasan penggiat Yoga duduk bersila menghadap matahari yang baru muncul dari garis horizon.

Ritual seni budaya yang diselenggarakan tiap Rabu-pungkasan di bulan Sapar ini berlangsung hingga pukul 09.00. Setelah itu mereka mengikuti sarasehan “Pengembangan Budaya Desa” dengan narasumber Niken Probo Laras dan Godod Sutejo. Sarasehan yang digelar di Pondok Moyeng milik Priyo Mustiko ini dihadiri Ketua RT, Dukuh, Kelurahan, hingga Camat. Terjadi dialog cukup padat, mampu membakar semangat warga Moyeng dan sekitarnya.

Pembicara sarasehan Niken Probo Siwi dan Godod Sutejo, dipandu oleh moderator Dian SP. (foto: rakhmat s)
Beberapa seniman berfoto bersama dengan narasumber. (foto: rakhmat s)

Niken Probo Laras yang pernah menjabat Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo menekankan pentingnya “Tiga A” dalam mengelola desa wisata. Tiga A adalah singkatan dari Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas. Menurutnya, obyek wisata harus mampu menyuguhkan atraksi-atraksi yang menarik wisatawan. Semua event perlu dikemas dengan baik sehingga menyenangkan penonton. Selanjutnya, akses menuju lokasi diusahakan mudah dan nyaman. Dan yang tak kalah pentingnya adalah Amenitas, ketersediaan fasilitas seperti warung makan, ATM, dan sebagainya.

Peserta sarasehan Rakhmat Supriyono menambahkan, selain “Tiga A” yang disampaikan Niken, masih perlu upaya-upaya publikasi yang bisa menjangkau publik seluas-luasnya. Menurut Rakhmat, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi event-event budaya yang ada di daerah Moyeng. Tetapkan agenda acara tahunan. Selanjutnya adalah branding dan membuat narasi yang persuasive supaya masyarakat tertarik.

Ia menambahkan, tak kalah pentingnya adalah rambu-rambu arah menuju lokasi yang dapat terbaca jelas. Untuk amenity, menurut Rakhmat yang paling utama adalah ketersediaan MCK, air, dan sumber listrik yang tampaknya tidak mudah diadakan di bukit Moyeng. Acara Nungsung Suryo ini mendapat dukungan sepenuhnya dari tokoh budayawan dan pelaku seni tradisional Priyo Mustiko.

Pelukis Godod Sutejo mengekspresikan puncak bukit Moyeng yang masih natural. (foto: rakhmat s)

Godod Sutejo dalam paparannya menekankan, perlunya inovasi dan kreativitas warga dalam menyajikan acara-acara kesenian tradisional. Di daerah Moyeng banyak mitos menarik yang bisa dikemas menjadi tontonan.

“Jangan meniru pertunjukan yang sudah dilakukan di daerah lain,” tegasnya. Godod sudah membuktikan satu ritual memandikan kuda lumping di sungai Bendung Kayangan. Semula upacara tradisional ini tidak banyak ditonton. Berkat terobosan Godod, bekerja sama dengan wartawan, seniman, budayawan, dan tokoh-tokoh masyarakat, kini upacara “Ngguyang Jaran Kepang” menjadi atraksi yang banyak mendatangkan penonton. (Rakhmat S)

Teguh Paino dan pelukis-pelukis Kulonprogo. (foto: rakhmat s)
Beberapa pelukis penuh kegembiraan melukis on the spot. (foto: rakhmat s)

ART-DONK: Seni Mendongkrak Seni Rupa

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – ART-DONK Pameran Seni Rupa di Balai Budaya Jakarta digelar dari tanggal 5 sampai 9 Agustus 2023. Pameran dibuka Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, pukul 20.00 WIB. Tema pameran ART-DONK adalah upaya “seni mendongkrak seni rupa”.

Gelar seni rupa ART-DONK ini bertujuan untuk (1) Mendongkrak nilai kreativitas dan upaya untuk meningkatkan daya apresiasi seni rupa di Indonesia. (2). Wadah bagi seniman untuk berinteraksi, berkumpul, dan saling berbagi pengalaman dalam mengembangkan ideide kreatifnya. (3). Mempromosikan hasil karya seniman Indonesia sebagai upaya untuk meningkatkan reputasi seni rupa Indonesia.

Para perupa Indonesia yang mengikuti ART-DONK berjumlah 48 peserta dengan menampilkan 78 karya seni rupa estetik yang terdiri dari seni lukis (mayoritas), seni kriya, seni furniture, dan seni fotografi. Keikutsertaan para perupa yang sudah dikenal luas, bahkan senior yang telah memiliki jam terbang tinggi seperti Godod Sutejo, M. Dwi Marianto, Timbul Raharjo, Akbar Linggaprana, Astuti Kusumo, dan masih banyak lagi perupa “jawara” yang ikuserta merupakan keistimewaan ART-DONK.

Apalagi didukung pula oleh semangat luar biasa dari para perupa pemula yang antusias menggelar karya-karya kreatifnya. Sambutan katalog ART-DONK dari Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Prof. Dr. Drs. Timbul Raharjo, M. Hum, dan rencana hadir Rektor Universitas Tarumanagara, Jakarta. Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan, M.T., M.M., IPU., ASEAN Eng. Keduanya sebagai representasi apresiasi dari perguruan tinggi.

Rakhmat Supriyono
Judul : kucing
Tahun : 2023
Ukuran : 70 x 70 cm
Media : Akrilik

Selain itu, bagi para peminat, kolektor, pemilik galeri, dan para pecinta seni rupa dapat melihat, mengapresiasi, memilik, membeli, bahkan mengoleksi karya-karya seni rupa yang tersaji. Panitia memberikan nilai apresiasi mulai dari Rp. 3.500.000,- sampai Rp. 60.000.000,- Sebuah nilai yang terjangkau bagi para peminat/kolektor seni rupa, baik pemula maupun yang sudah senior. Apabila ada yang berminat memiliki karya-karya dalam katalog/pameran ini dapat menghubungi panitia ARTDONK.

Pameran seni rupa ART-DONK yang beragam jenis ini diselenggarakan oleh STUNIDO (Studio Seni Donkmax) di bawah naungan manajemen Donkmax Strategi Kreatif (Donkmax Creative Strategic), sekretariat di Tangerang Selatan. STUNIDO bekerjasama dengan tim panitia gabungan seniman-seniwati, praktisi, dan akademisi dari Jakarta, Tangerang Selatan, serta Yogyakarta untuk menyelenggarakan ART-DONK ini. Selain pameran ART-DONK digelar juga bursa penjualan karya koleksi oleh STUNIDO selama dua hari, juga saresehan para perupa, musik biola, baca puisi, serta peragaan melukis saat pembukaan.

Adapun pengunjung yang diharapkan hadir adalah para pecinta seni rupa, pengusaha, kolektor, rektor, akademisi, dan masyarakat umum. Operating committee, Ketua Nano Supartono, Sekretariat Endang P. Sar. Wakil-wakil Ketua Bidang: Rakhmat Supriyono (Yogyakarta), Sri Feriyanti Pane (Jakarta), Ferdinand (Jakarta), Kurniawan Junaedhie (Tangerang), yang didukung anggota tim sukses. Kurator Dr. Budi Waluyo (Tangsel). Steering Committee, Tenggono Chandra P. (expert advisor/Tangsel), Eddy S. Marizar (Tangsel), Marsma (Purn) Akbar Linggaprana (Jakarta), dan Godod Sutejo (Yogyakarta).

Pameran dibuka sejak tanggal 5 sampai 9 Agustus 2023, jam 10.00-21.00 WIB, bertempat di Gedung Balai Budaya, Jl. Gereja Theresia No. 47. Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. (pr)

Impresi Jagat Cilik dan Jagat Gede

Pameran Tunggal Godod Sutejo

Oleh Rakhmat Supriyono

Memasuki usia 70 tahun, pelukis dekoratif Godod Sutejo menggelar hajat pameran di Gallery & Gomestay Posnya Seni Godod Yogyakarta. Pameran tunggal bertajuk Nandur Ati ini menyajikan 70 lukisan, berlangsung selama 70 hari, dari 12 Januari hingga 23 Maret 2023.

Memasuki tahun baru 2023, karya-karya Godod belum terlihat berubah. Ia masih konsisten mengekspresikan keagungan Sang Pencipta. Korelasi jagat cilik dan jagat gede. Figur-figur manusia digambarkan sangat kecil berada dalam hamparan alam semesta yang kelewat luas. Pada akhir dekade 1970 dan 1980 ia banyak mengekspos pohon-pohon atau ranting-ranting lebur dalam suasana alam yang sepi dan damai, merupakan ungkapan kekaguman terhadap ciptaan Tuhan Yang Maha Indah. Dilukiskan secara dekoratif impresionis.

Godod Sutejo. (foto: rakhmat s)

Dalam dua dasawarsa terakhir, pelukis lulusan STSRI ASRI (ISI Yogyakarta) ini cenderung mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali obyek pohon. Sejalan dengan penjelajahan spiritual Godod, karya-karya yang terpajang di galerinya saat ini lebih meminimalisir obyek, menyederhanakan bentuk, dan banyak mengekspos ruang kosong (emptiness) yang tenteram damai dan sepi.

Godod tertarik membidik ritual-ritual tradisional, upacara adat dan religius. Dapat disimak karya-karyanya yang diberi judul Nungging Suryo, Sesaji Pagi, Garis Imajiner, Labuhan Parangtritis, Gereja Kotabaru, Masjid Kotagede, Rindu Kabah, dan Upacara Adat. Kesemuanya disajikan penuh imajinasi dan perenungan spiritual sehingga tampak lengang, kosong, dan impresionistik. Selebihnya adalah konten-konten sosial, potret kehidupan masyarakat tradisional yang unik dan humanis. Lihatlah karya bertajuk Panen Padi, Pesta Pitulasan, Mancing di Laut, Ke Pasar, Penjual Kayu Bakar, dan Main Bola. Diungkapkan dengan warna-warna temaram, sejuk, dan misteri.

Gereja Kotabaru (20 x 20), akrilik di atas kanvas. (foto: rakhmat s)

Satu keunikan yang sekaligus menjadi ciri khas karya Godod adalah, sosok-sosok manusia digambarkan sangat kecil, beraktivitas dalam hamparan ruang mahaluas yang lengang, kosong, nglangut, jauh dari kebisingan. Menikmati karya-karya Godod dalam suasana tenang, pemirsa seakan terbawa pada atmosfer yang serupa: damai, ayem, tenteram, dan sunyi senyap.

Sebagai perupa senior, sosok Godod Sutejo terbilang unik dan memiliki kekuatan khusus. Keseharian Godod diwarnai ritual-ritual Kejawen guna mengasah sensitivitas imajinasi dan mengasah ketajaman rasa. Hampir setiap malam di rumahnya selalu dikunjungi kawan-kawan spiritual dari berbagai kelompok, seperti Hosoko, Kapribaden, dan Hardo Pusoro. Tidak sedikit spiritualis luar kota hadir ke tempat Godod sekadar tukar-kawruh seputar Manunggaling Kawulo-Gusti.

Kepelukisan Godod tak bisa lepas dari ikatan memori masa kecilnya yang tidak lembek. Sejak bayi Godod diasuh oleh kakek Ronggo Tarusarkoro, seorang penari Mangkunegaran Solo dengan pangkat Jajar Ongko Loro. Neneknya bernama Sumani, keturunan trah Banteng Lanang Kediri yang sangat kondang kesaktiannya. Selain dikenal sebagai spiritualis, Eyang Sumani punya kemampuan menyembuhkan luka bakar atau luka akibat terkena api. Dengan sekali usap, luka bakar separah apapun bisa kembali normal.

Kiri: Ke Pasar 1 (60 x 50), akrilik di atas kanvas. Kanan: Pohon Perdamaian (40 x 40 cm), akrilik di atas kanvas. (foto: rakhmat s)

Lingkungan keluarga Jawa yang memiliki kedekatan dengan istana Mangkunegaran Solo telah membentuk Godod Sutejo sebagai pribadi yang lentur, punya watak kesatria yang pantang menyerah, punya greget, berani mengambil risiko dan ora mingkuh. Keterlibatannya dengan ritual-ritual kejawen di masa kecil telah terekam dengan baik di ruang memorinya. Setiap hari Godod kecil menerima gemblengan rasa dari kakek neneknya. Jiwa dan perilaku Jawa sudah nyawiji dengan kesehariannya.

Godod Sutejo lahir di desa Tameng Girikikis Wonogiri, 12 Januari 1953. Anak kedua dari pasangan Siswomiharjo dan Sutihartini. Ayahnya adalah seorang Kepala Sekolah. Namun soal pendidikan karakter, neneknya jauh lebih dominan menanamkan prinsip-prinsip perilaku sosial dan spiritual orang Jawa. Sehari sebelum pameran dibuka, Godod menghelat doa bersama mengundang puluhan tokoh kejawen dari kelompok Hosoko dan Kapribaden. (*)

Sambut Natal dan Tahun Baru, Lima Pelukis Senior Gelar Pameran

Oleh: RAKHMAT SUPRIYONO *)

Rakhmat Supriyono

Menyongsong perayaan Natal dan Tahun Baru 2023, lima pelukis senior tampilkan karya-karya terbaru mereka di “Posnya Seni Godod”, kawasan Suryodiningratan Yogyakarta, 11 hingga 25 Desember 2022. Kelima pelukis tersebut adalah Subroto, Godod Sutejo, Tulus Warsito, Herjaka, dan Hendro Purwoko.

Subroto, dosen senior jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta masih konsisten mengeksploitasi garis-garis minimalis yang spontan dan ekspresif. Pelukis kelahiran Klaten 1946 ini telah menggeluti dunia lukis sejak 1967 dan aktif berpameran di dalam dan luar negeri. Karya-karyanya menunjukkan ketangkasan menangkap subject matter, dituangkan ke kanvas secepat tarikan nafas. Lukisan berjudul Gambar Model (30 x 30 cm) diseslesaikan tak lebih dari sepuluh menit. Tak ada garis yang sia-sia. Subroto sangat efisien dalam penggunaan garis. Selebihnya, dia gunakan warna-warna transparan untuk memberi penekanan pada obyek sembari menggenapi komposisi. Teknik melukis yang menuntut skill tinggi ini sudah dilakoni Subroto selama puluhan tahun. Hasilnya adalah karya-karya lukis yang punya greget, unik, dan berkarakter.

Gambar Model (30 x 30 cm), acrylic, 2022.

Di samping Subroto ada pelukis spiritual Godod Sutejo, seniman ternama yang pernah malang melintang di Pasar Seni Jaya Ancol Jakarta, 1975 – 1990. Godod lahir di Giriwoyo Wonogiri, 1953. Sejak bocah ia diasuh eyangnya yang sangat kental dengan ajaran-ajaran kejawen, termasuk lelaku prihatin sebagai upaya pendekatan diri pada Sang Pencipta. Karya-karya Godod senantiasa merefleksikan keheningan alam semesta. Sosok-sosok manusia digambarkan sangat kecil dalam hamparan ruang kosong yang agung dan tak berbatas. Begitulah cara Godod mengagungkan Tuhan. Manusia adalah makhluk kecil dibandingkan jagat raya. Godod masuk ASRI tahun 1972 – 1977, lulus program Sarjana Muda. Tahun 1979 – 1982 melanjutkan studi jenjang Sarjana di STSRI ASRI (sekarang ISI Yogyakarta). Karya-karyanya tak sekadar goresan kuas, melainkan semacam torehan batin yang dilandasi mantra spiritual. Ada aura magis yang bisa dirasakan getarannya sesuai kadar sensitivitas pemirsa.

Air Terjun Bendung Kayangan (90 x 70 cm), acrylik, 2022.

Berikutnya adalah Tulus Warsito, pelukis yang pernah beberapa tahun tinggal di Amerika untuk mengajar batik dan kegiatan seni rupa. Tulus pernah belajar di STSRI ASRI (ISI Yogyakarta) jurusan Seni Patung. Kepekaan terhadap ruang tiga dimensional terlihat pada karya-karya lukisnya. Tulus Warsito sangat piawai mengelola elemen-elemen visual, terutama permainan bidang, garis, warna, titik, dan tekstur. Salah satu ciri khas dan keunikan karya Tulus adalah cara dia bermain shadow atau efek bayangan. Sesekali ia membuat tipuan optik melalui gradasi warna untuk membentuk kesan lekukan kain atau drapery. Menikmati karya-karya Tulus selalu menyenangkan, karena menawarkan komposisi visual yang dinamis, ritmik yang variatif, dan imajinasi yang unexpected.

Herjaka adalah pelukis yang sudah tidak asing dan cukup dikenal publik. Bergelut dengan kanvas sejak 1975 saat ia mulai belajar melukis secara akademis di SMSR Yogyakarta. Selain sekolah, Herjaka bekerja sebagai ilustrator majalah berbahasa Jawa. Tak jarang ia harus menggambar wayang purwa sebagai ilustrasi majalah. Bentuk-bentuk visual wayang purwa ia pelajari langsung dari beberapa dalang dan pengrajin wayang kulit.

Tangga ke Antah Berantah (90 x 90 cm), acrylik, 2019.

Setelah berproses selama satu dasawarsa, Herjaka melanjutkan studi ke jurusan Seni Rupa IKIP Yogyakarta, 1985 hingga selesai. Ketertarikannya pada wayang tidak surut, bahkan diperkaya lagi dengan narasi tembang macapat yang sarat makna. Pelukis kelahiran 1957 ini mulai tak puas dengan desain wayang purwa yang pipih (unprofil). Muncullah gagasan “liar” untuk mendeformasi wujud visual wayang yang pipih ke gambaran manusia yang volumetris. Tanpa menghilangkan karakter visual wayang. Herjaka melukis obyek wayang tidak dalam setting kelir wayang, melainkan adegan keseharian di taman, hutan, perbukitan, dan di ruang-ruang interior rumah Jawa. Tak jarang Herjaka menyisipkan pesan-pesan tekstual dalam lukisan, berupa pitutur Jawa yang sangat “jero” maknanya.

Gusti, Kula Nyuwun Tamba (60 x 80 cm), cat minyak, 2022.

Last but not least, Hendro Purwoko adalah pelukis kelahiran Jawa Timur, 1954. Kepiawaian menggambar figur manusia membuat kagum teman-temannya di jurusan Desain Interior STSRI ASRI (ISI Yogyakarta). Obyek manusia dan arsitektur perkotaan (cityscape) banyak singgah di kanvasnya. Hendro sangat patuh menjaga proporsi, perspektif, dan anatomi manusia. Latar akademisi sangat melekat pada karya-karyanya. Tak sampai di situ, Hendro menguasai berbagai teknik melukis, dry and wet drawing. Pada pameran kali ini ia menampilkan keduanya, lukisan dengan teknik transparan menggunakan media cat air dan sebagian lagi dengan teknik kering, crayon di kertas.

Belajar dari Anak-anak (50 x 38 cm), crayon on paper.

Tampilnya lima pendekar lukis di arena yang sama ini tentu layak disimak. Tidak saja sebagai hiburan visual, melainkan bisa menjadi inspirasi sekaligus terapi mental setelah sekian lama tersekap Pandemi Covid-19. Pameran bertajuk TOSCA ini diresmikan oleh pelaku budaya Yani Saptohudoyo. Dalam sambutan singkatnya Yani berpesan pada para pelukis agar tetap semangat berkarya, mengembangkan ide-ide kreatif, dan mencari terobosan-terobosan baru yang inovatif. Yani berharap semoga pameran yang sangat istimewa ini dapat diapresiasi masyarakat luas.

*) Rakhmat Supriyono adalah Penulis dan Penyelenggara Pameran.

Sejuta Dapat Lukisan Bagus? Cuma di Sini

JAYAKARTA NEWS – Adalah Godod Sutejo, pelukis senior Yogya yang menggelar kegiatan “gila”. Sebanyak 30 pelukis berbagai aliran, diajaknya pameran lukisan sekaligus bursa lukisan dengan catatan harga lukisan maksimal dibandrol Rp 1 juta. Padahal, di antara mereka terdapat nama-nama pelukis ngetop.

“Saya bermaksud memaknai bulan spesial dan kondisi luar biasa dengan tetap berkarya. Dalam konteks semua keistimewaan tadi, faktor harga kami kebelakangkan,” ujar pelukis kelahiran Wonogiri, itu.

Sejumlah keistimewaan ia sebutkan. Pertama, pameran digelar untuk memeriahkan peringatan ulang tahun Kemerdekaan RI ke-77. Kedua, momentum HUT kemerdekaan RI bertepatan jatuh di bulan Suro/Muharram.

Ketiga, pandemi Covid-19. Manusia di seluruh dunia sedang dilanda wabah covid-19 yang belum berakhir. “Pageblug ini adalah peristiwa bersejarah. Siklusnya bisa berbilang abad. Jika kita selamat, itu artinya rahmat. Di tengah keprihatinan itu, manusia diwajibkan tetap ikhtiar,” ujarnya.

Gagasan itulah yang disampaikan kepada rekan-rekan pelukis. Tak kurang 30 pelukis “nyengkuyung” gawe Godod dan menyatakan keikutsertaannya pada Pameran dan Bursa Lukisan yang digelar di Posnya Seni Godod, Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogyakarta. Event itu diberinya tajuk Laga Rupa Suro Nusantara.

Catat tanggalnya. Pameran dan bursa lukisan dibuka Selasa Kiwon tanggal 2 Agustus 2022 pukul 01.00 dinihari. Aneh, mungkin. Tapi menurut Godod, penetapan tanggal dan waktu didasarkan pada perhitungan kelender Jawa, paralel dengan pemaknaan bulan Suro. Pameran dan bursa lukisan itu akan ditutup Selasa Kliwon bulan berikutnya, yang jatuh pada 6 September 2022.

Di antara deretan pelukis yang mendukung event ini dapat kita temui Hajar Permadi, Tulus Warsito, Syaiful Adnan, Nanang Widjaya, Hatta Hambali, Ikhman, Nunuk Ribanu, Ledek Sukadi, dan Godod Sutejo. Pameran lukisan di-display di lantai bawah, sementara bursa lukisan ditempatkan di lantai atas.

Satu hal menarik, bursa lukisan dipatok harga maksimal Rp 1 juta. Bagi penikmat lukisan tenti ini kesempatan menarik. Sangat ramah dompet, dengan Rp 1 juta dapat memiliki lukisan-lukisan berkualitas. Sepertinya Godod dan kawan-kawan lebih berniat sedekat lewat lukisan.

Daftar Peserta Pameran

Agus Winarso, Arfial Arsad Hakim, Ari Sugiarto, Dewobroto, Edi Purwanto, Fatkur  Rochman, Godod Sutejo, Hajar Pamadhi, Harsono, Haryadi, Hatta Hambali, Hendro Purwoko, Heri Mujiono, Ikhman, Indarin, Joko Sarjono, Kondang Sugito, Ledek Sukadi, Mahroji, Nanang Wijaya, Naryo, Nunuk Ribanu.

Pebri Valentino, Purwadmadi, Rakhmat S, Ris Maryono, Rujiman, Sabar Jambul, Semi Kaswara, Sumadi, Skren Karya, Sukamto DS, Sukaptianto, Sumaji Madura, Supri Cemen, Suradi PW, Syaiful Adnan, Teguh Suwarto, Totok Buchori, Trimakno, Tulus Warsito, Ukaptianto, Yarno, Yulianto, Yusuf Santoso. (rr)

Evolusi Perubahan Bentuk Keris

JAYAKARTA NEWS – Perubahan bentuk (dapur) keris adalah sebuah keniscayaan. Pada galibnya, sudah begitu sejak zaman dahulu kala. “Dari generasi ke generasi terjadi perubahan selera. Itu yang mendasari evolusi bentuk atau dapur keris. Karenanya, generasi sekarang dan generasi yang akan datang pasti aka nada selera baru terhadap dapur di dunia perkerisan,” ujar Godod Sutejo, seniman lukis, pelaku spiritual, yang juga penggiat perkerisan.

Godod menyampaikan hal itu di sela acara Saparan Rebo Pungkasan “Kembul Sewu Dulur” di Desa Pendoworejo, Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta (6/10/2021). Pada kesempatan itu, tidak hanya Godod yang mengupas soal perkerisan. Ia berbicara bersama dua seniman Yogya lain: Kondang Sugito dan Ardian Krisna.

Kembali ke soal keris. Godod menambahkan, perubahan selera atas dapur keris, terkait erat dengan kemajuan teknologi dan gaya hidup masyarakat yang dengan sendirinya mempengaruhi selera pandang masyarakat.

Untuk itulah, Godod dan para seniman lukis lain belakangan getol membuat sket varian baru keris Nusantara. Hal itu dibenarkan oleh Kondang Sugito.

Desain keris karya Ardian Krisna.

Kondang menegaskan, sket varian baru perkerisan Nusantara adalah sebuah jawaban atas kebutuhan akan selera masyarakat yang juga berubah. “Bukan tidak mungkin, adanya varian baru dapur keris, justru bisa lebih menarik minat kaum milenial terhadap keris, yang nota bene warisan luhur bangsa kita,” ujar Kondang.

Betapa pun harus diakui, bahwa keris merupakan salah satu warisan budaya yang sampai saat ini masih eksis, dan menarik untuk terus dikaji. Kajian keris dilakukan di berbagai komunitas, mulai dari wujud yang unik, nilai luhur yang terkandung di dalam bentuknya, serta fungsi serta falsafah keris itu sendiri.

Agar warisan budaya itu tidak luntur hingga akhirnya punah, maka perlu dilakukan berbagai upaya pelestarian. Salah satunya adalah memperkenalkan keris kepada generasi muda. Bila perlu, sejak anak-anak sudah diperkenalkan tentang keris dengan bahasa dan pemahaman yang paling sederhana dan elementer. “Bertahap kemudian dilakukan pengenalan kepada kaum remaja,” tambah Ardian Krisna.

Ia menambahkan, tanpa upaya mengenalkan keris sejak dini, bisa dipastikan akan terjadi degradasi pemahaman di tengah masyarakat. Hal itu akan diikuti dengan menurunnya kadar apresiasi bangs aini terhadap warisan budaya tadi. “Saat ini saja, generasi muda kita banyak yang tidak paham tentang keris,” tambahnya.

Tidak sedikit generasi muda yang justru lebih tertarik main game online. Menghentikan budaya baru sebagian anak muda terhadap game, adalah mustahil. Setidaknya, Godod, Kondang, maupun Ardian berharap ada elemen keris di dalam game tadi.

“Dalam berbagai game, utamanya yang berbau combat atau pertarungan, para tokoh imajinatif banyak yang memakai senjata untuk bertarung. Sayangnya, tidak ada yang menyelipkan senjata keris di antara banyak senjata di game tadi. Padahal, banyak game online bikinan anak-anak Indonesia,” papar Ardian seraya menambahkan, “itulah perlunya memperkenalkan keris terhadap mereka.”

Sosialisasi keris kepada generasi betapa pun akan mendatangkan apresiasi. Di awal mereka mengenal keris, barangkali mereka memahaminya sebagai senjata yang ada di game online. Kemudian keris dipahami sebagai senjata. Lalu, keris dipahami sebagai benda seni. Begitu seterusnya sehingga saat mereka beranjak dewasa, seiring dengan literatur yang mereka baca, akan muncul apresiasi keris sebagai warisan budaya yang perlu dibanggakan dan dilestarikan.

Jual-beli Keris

Hisyam A. Fachri

Sementara itu, seorang psikolog Hisyam A. Fachri menambahkan, keris, pada zaman dahulu adalah simbol kebangsawanan, benda yang dikeramatkan, bahkan dianggap sebagai pusaka. Lambat laun, persepsi itu berubah. Kini, keris juga dimaknai sebagai benda budaya sehingga di zaman modern ini, keris bida diperjual-belikan. Tidak sedikit komunitas pecinta keris, bahkan kolektor keris.

Hal positif yang dilihat Hisyam dalam perkembangan keris adalah perkembangan yang paralel antara bertambahnya peminat keris dengan perkembangan pengetahuan masyarakat tentang filosofi keris. Tentu, kondisi ini baru berlaku bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap keris.

Mudahnya akses literasi juga memungkinkan masyarakat mengetahui sedikit lebih dalam hal-ihwal keris. Misalnya memahami filosofi religiusitas keris. Keris lejer (lurus) yang bermakna manusia harus hidup lurus yang artinya manusia harus memiliki arah atau tujuan yang jelas dalam hidupnya. Lalu adanya luk, dimaknai bahwa manusia harus luwes atau tidak saklek.

Bahkan tidak sedikit yang mengapresiasi keris dari sisi teknologi tempa besi yang telah dimiliki oleh peradaban masa lalu nenek moyang atau leluhur kita. “Di sisi lain, bagi kalangan kolektor, semakin tua dan langka sebuah keris, memiliki nilai ekonomi yang juga semakin tinggi. Di sini kita sepakat, bahwa keris juga memiliki nilai ekonomi, karenanya banyak kolektor menjadikan keris sebagai sebuah investasi,” tambah Hisyam. (rr)

Hari ini, Arts & Heritage Festival Dibuka

JAYAKARTA NEWS – Hari ini (13/12/2020) “Arts & Heritage Festival 2020/2021” di Rest Area 260-B, Banjaratma, Brebes, Jawa Tengah, dibuka. Ingat Banjaratma, ingat situs bersejarah: Pabrik Gula Panjaratma, warisan Belanda.

Rest Area 260B Heritage-Banjaratma, Brebes adalah satu-satunya rest area di jalan tol Trans Jawa yang memiliki nilai historis. Bahkan yang terluas dan terbesar di sepanjang tol Trans Jawa yang membujur dari Merak (Banten) ke Banyuwangi (Jawa Timur). Total luas rest area ini adalah 10,6 hektare dan diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, tahun lalu.

Gubernur Ganjar juga mendukung terselenggaranya Arts & Heritage Festival 2020-2021. Ia bahkan membuat video pendek, turut mempromosikan event seni terbesar yang pernah digelar di tepi jalan tol. (simak videonya di link yang ada di bawah)

Pesan Gubernur Ganjar kepada panitia adalah, selalu mengedepankan protokol kesehatan. Panitia diminta menyediakan sarana mencuci tangan, menyediakan masker dan memberikannya kepada pengunjung yang tidak bermasker, serta senantiasa menjaga jarak.

Ketua Panitia Festival, Yani Saptohoedojo menyambut positif pesan Gubernur. Karenanya, ia telah menyiapkan cairan hand sainitzer 10 liter, menyiapkan sarana mencuci tangan, menyiapkan masker yang akan dibagikan kepada pengunjung tak bermasker, serta beberapa unit thermo gun untuk mengukur suhu tubuh pengunjung, sebelum menyaksikan festival.

Festival yang diresmikan hari ini, 13 Desember 2020 akan berlangsung hingga 10 Januari 2021. Menilik tanggalnya, dapat dipahami, panitia penyelenggara ingin memanfaatkan momentum libur akhir tahun.

“Karena masih suasana pandemi, tentu tidak akan seramai sebelum pandemi. Setidaknya, ini kami jadikan sebagai deklarasi kebudayaan. Deklarasi kesenian. Jadi, liburan-liburan berikutnya, masyarakat sudah lebih aware, dan memilih istirahat di Banjaratma. Sambil melepas lelah, bisa memanjakan mata dan batin menyakskan karya-karya para seniman dalam dan luar negeri. Sukur-sukur bisa menemukan koleksi seni yang cocok untuk dipajang di rumah atau kantor,” ujar Rakhmat S, seniman sekaligus kurator festival ini.

Ditambahkan, tak kurang dari 30 pelukis akan pamer karya di Banjaratma. Di antara mereka, terdapat sejumlah pelukis papan atas Indonesia. Sebut saja, Kartika Affandi, V.A. Sudiro, Suwadji, Erica. Bukan hanya itu, tercatat tiga pelukis dari manca negara juga ikut ambil bagian dalam event yang didominasi kegiatan pameran lukisan itu. Ketiga pelukis asing itu berasal dari Mexico, Ecuador, dan Inggris.

International Exhibition

“Dengan keterlibatan para pelukis asing, maka Arts & Heritage Festival 2020-2021 ini bisa juga disebut sebagai sebuah international exhibition,” ujar Rakhmat.

Rakhmat Supriyono bersama Godod Sutejo bertindak selaku kurator pameran ini. Dua sosok penggiat seni rupa Yogyakarta yang “menolak terkapar corona”, “menolak pasrah”. Selama pandemi Covid-19, keduanya sudah beberapa kali menggelar pameran lukisan virtual dan melukis bersama di sejumlah spot menarik di Yogyakarta.

Sekadar menyebut nama, berikut adalah para perupa yang bakal ambil bagian dalam “Arts & Heritage Festival 2020/2021”: Alan Aaronson (Manchester, Inggris), Astuti Kusumo, Cristina Rodriguez Sosa (Mexico), Ebo (Brebes), Erica Hestu Wahyuni, Fakturohman, Godod Sutejo, Herjaka, Ikhman, Nanang Widjaya, Ledek Sukadi, Sumadi, Subandi Giyanto, Sutarman, Rakhmat S., Klowor Waldiyono, Kartika, Rujiman, Tulus Warsito, M. Salim Ancol, Suwaji, Santiago Erazo (Ecuador), Syaiful Adnan, Nedit, Hajar Pamadhi, Dewobroto, Joko Sarjono, VA Sudiro, Sani Santana, dan Dunadi (patung).

Selain lukisan dan patung, festival nanti juga akan memamerkan koleksi sepeda kuno dan pusaka.

Nama besar lain yang terlibat dalam “Arts & Heritage Festival 2020/2021” adalah Yani Saptohoedojo. Tak kurang, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun secara spesial membuat video ucapan selamat kepada panitia yang menyelenggarakan kegiatan Arts & Heritage Festival 2020-2021, seraya menyerukan tetap jaga protokol kesehatan di era pandemi covid-`19.

Pilihan waktu festival yang digelar akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021 adalah sebuah penyiasatan tersendiri. Meski pandemi belum berlalu, tetapi pada moment libur bersama, masyarakat yang bepergian menunjukkan grafik yang meningkat.

Panitia memang didihadapkan pada situasi sulit. Menyerah pasrah atau tetap gelisah berkarya. Alhasil, pameran virtual, melukis bersama, atau ajang festival skala besar di rest area ini adalah sebuah penyiasatan. Lokasi yang terbilang eksklusif, memudahkan panitia dalam menjaga dan mengawal protokol kesehatan selama festival berlangsung.

Alhasil, melalui “Arts & Heritage Festival 2020/2021” yang diselenggarakan 13 Desember 2020 sampai 10 Januari 2021, para seniman berusaha menjaga elan kreativitas serta produktivitas. Di sisi lain, festival ini akan menjadi percontohan terselenggaranya event di masa pandemi. Tetap produktif dan tetap 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun). (roso daras)

Online Art Sale Covid-19

Jayakarta News – Serangan covid-19 telah melumpuhkan perekonomian, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Dampak “stay at home” sangat dirasakan masyarakat, khususnya pekerja seni.

Mereka tidak berdaya, tak mampu lagi mengais penghasilan untuk menghidupi keluarga. Dengan semangat solidaritas dan gotong-royong sesama profesi, Rakhmat Supriyono dan Godod Sutejo, didukung para perupa Yogya, menginisiasi kegiatan Online Exhibition Art Sale Covid-19.

“Kami mengajak sesama profesi untuk berpartisipasi, membantu meringankan penderitaan kawan-kawan perupa dengan mengikuti pameran online, Art Sale Covid-19,” ujar Rakhmat kepada Jayakarta News, hari ini (13/6/2020).

Para perupa yang berminat, cukup mengisi form dan dikirim ke panitia disertai foto karya yang tajam (resolusi tinggi). Panitia menunggu kiriman form dan foto karya tanggal 10 Juni 2020. “Untuk pengiriman form dan foto karya, lewat email posnyasenigodod@gmail.com,” ujar Rakhmat.

Setiap peserta bisa mengikutkan maksimal tiga karya, ukuran bebas. Harga lukisan berkisar antara Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta. “Karya yang terjual, kami bagi dua. Separuh untuk pelukis, separuh lagi kami sumbangkan kepada pekerja seni yang terdampak covid-19, setelah dipotong biaya operasional,” ujar Rakhmat.

Para perupa yang sedia mengikuti Art Sale Covid-19, harus menyiapkan karyanya di rumah. Sewaktu-waktu ada yang membeli, maka lukisan itu harus dikirim ke sekretariat panitia di Posnya Seni Godod, Suryodiningratan, Jl. Suryodingratan MJ II/641, Mantrijeron, Yogyakarta 55141. “Pameran ini berlangsung mulai 11 Juni sampai 5 September 2020,” ujar Rakhmat.

Untuk konfirmasi dan keterangan lebih lanjut, ia memberikan dua contact person: Unik di telepon 0856-4082-3992 dan Rakmat di nomor 0857-9930-5947. (rr)

Ecoprint dan Shibori di Godod Gallery

Jayakarta News – Wanita turis asal Jepang, Azusa Makita tak bisa menyembunyikan kegirangannya. Dengan senyum lebar yang terus merekah di bibirnya yang pucat tanpa lipstick, Makita melihat, memegang, dan mengagumi materi pameran batik tulis, ecoprint, dan shibori.

Pameran itu digelar di Godod Gallery, Jl. Suryodiningratan, MJ II No 641, Suryodiningratan, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, tanggal 3 – 8 Maret 2020. “Colourfull,” kata Makita dengan wajah berbinar.

Hadirnya Azusa Makita di pameran batik itu bukan kebetulan. Sebab, selama berlibur di Jogja, ia memang menginap di Godod Gallery. Gallery milik perupa Godod Sutejo itu juga menyediakan beberapa kamar homestay yang nyaman dan terletak di tengah kota.

Nah, melihat pameran batik di “tempat tinggal”-nya, Makita tertarik dengan shibori. Corak menyerupai batik, bahkan ada yang menyebut sebagai “batik Jepang”. Bagi pegiat kesenian dan tekstil, istilah shibori bukanlah hal yang asing.

Azusa Makita, turis asal Jepang di Godod Gallery. (foto: rakhmat s)

Shibori berasal dari kata kerja ‘shiboru’ yakni teknik pewarnaan kain yang mengandalkan ikatan dan celupan. Motif yang dihasilkan seringkali tak jauh berbeda dengan batik (meskipun dari segi pengerjaan lebih mudah dan sederhana).

Konsep pembuatannya serupa dengan teknik tie dye yang mengandalkan teknik ikat celup. Dengan teknik ini, beberapa kain ‘dilindungi’ agar tidak terkena corak pewarna sehingga pada hasil akhirnya tercipta pola sesuai dengan bagian yang diwarnai dan ‘dilindungi’.

Di Indonesia teknik tie dye dikenal dengan istilah jumputan (Jawa). Di luar Jawa juga ada teknik batik sejenis, yakni sasirangan (Banjarmasin) dan pelangi (Palembang).

Dari sisi teknik (shibori), tampak Makita tidak menyoal. Ia hanya terkesan dengan perbedaan shibori di negaranya dengan yang ia lihat di Yogya. Makita mengakui, shibori bikinan orang-orang Indonesia cenderung warna-warni (colourfull). Berbeda dengan di Jepang yang cenderung monokrom, satu nada warna.

Lain lagi tanggapan para turis domestik asal Jakarta. Hari itu, Godod Gallery kedatangan rombongan turis lokal dari Jakarta yang kebetulan penggemar dunia fashion. Jika Makita tertarik dengan shibori, maka para turis Jakarta tampak lebih tertarik dengan batik tulis.

“Batik tulis lebih bermutu dari segi teknik, desain, dan pewarnaan. Itu alasan teman-teman yang lebih menyukai batik tulis,” ujar Slamet Haryadi, yang mengajak tujuh turis Jakarta menghadiri pameran batik yang diadakan Rakhmat Supriyono dan kawan-kawan.

Kiri, Rakhmat Supriyono, penyelenggara pameran, dan Slamet Haryadi, pimpinan rombongan turis dari Jakarta. (foto: ist)
Marion Lafuste, wanita turis asal Perancis di Godod Gallery. (foto: rakhmat s)

Lain lagi kesan Marion Lafuste, wanita turis asal Perancis yang tampak lebih pendiam –dibanding Makita. Berbaju batik warna kombinasi hijau dan oranye, Lafuste mencermati batik-batik cantik yang ada di ruang pamer. Sesekali ia bahkan mengambil dan mematut-matutkan di tubuhnya yang tinggi lagi langsing.

Pendek kalimat, Rakhmat sangat puas dengan prakarsa pameran batik dadakan yang ternyata mendapat sambutan luar biasa. “Sungguh tidak mengira, sambutannya ternyata sangat bagus,” ujar Rakhmat Supriyono, perupa dan pengamat batik, yang menggagas pameran itu.

Lulusan STSRI “ASRI” Yogyakarta ini, niatnya hanya ingin menjajagi seberapa besar minat masyarakat terhadap ketiga jenis motif sandang yang ia pamerkan: batik tulis, eco print, dan shibori. Karenanya, delapan pengrajin yang dilibatkan dalam pameran itu, terdiri atas pengarjin batik tulis, eco print, dan shibori.

Kedelapan pengrajin itu memamerkan antara lain kain bahan pakaian, baju, kaos oblong, sprei batik, syal, dsb. Batik tulis kualitas bagus dibanderol dengan harga Rp 450 ribu, jauh lebih murah dibanding harga batik tulis di toko-toko Malioboro.

Sedangkan eco print dipajang dengan harga Rp 250 ribu  – Rp 800 ribu. Lalu shibori dijual dengan harga antara Rp 250 ribu – Rp 300 ribu. Untuk souvenir juga dijual batik cap seharga Rp 150 ribu. Ukuran kain panjang antara 200 – 250 cm. Tidak saja cukup untuk dibuat baju pria atau wanita, bahkan untuk yang ukuran 250 cm, bisa dijadikan gamis.

Suasana pameran batik tulis, ecoprint, dan shibori di Godod Gallery, Yogyakarta. (foto: rakhmat s)

“Saya menjadi paham, mengapa pengrajin batik di Yogyakarta yang konvensional, cukup cemas dengan maraknya kain sandang corak baru, yakni eco print dan shibori,” kata Rakhmat. Disadari, bahwa dunia fashion pada galibnya berputar. “Bisa jadi, trend eco print dan shibori sedang merangkak ke puncak,” tambah pria asal Kebumen itu.

Menurut Rakhmat, eco print menduduki urutan kedua. Peminat ecoprint, suka corak itu karena warna-warna yang alami, soft, dan harmonis dengan warna kulit orang Asia. “Ecoprint dibuat dengan dedaunan tertentu yang ditempelkan pada kain, dan dikukus,” kata Rakhmat menyebutkan proses pembuatan eco print.

Sementara shibori, mengandalkan teknik pewarnaan tie dye, yakni dengan cara melipat-lipat kain kemudian dicelupkan ke pewarna. Banyak juga yang suka, tetapi tidak sebanyak yang eco print. “Alasan yang kurang suka shibori karena pattern atau motifnya geometris, monoton dan kaku,” tambah Rakhmat.

Seprei batik tulis karya maestro batik tulis Nunung Ribanu. (foto: rakhmat s)

Ia juga menyebutkan satu peserta yang sudah tidak asing lagi di jagad batik. “Pameran ini diikuti maestro pembatik Nunung Ribanu. Beliau menyertakan dua lembar seprei batik tulis,” ujarnya. Dua seprei batik tulis itu berukuran 175 x 215 cm dan 150 x 150 cm. “Harganya sembilan-ratus-ribu, jauh lebih murah dibanding harga di toko,” kata Rakhmat.

Dengan trend yang ada, Rakhmat Supriyono makin mantap menekuni batik. Termasuk eco print dan shibori. Bahkan, ada kemungkinan ia akan menggelar pameran sejenis lebih intens. Tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di kota-kota lain.

Ditanya ihwal penataan pameran yang begitu apik, sambil tersenyum Rakhmat mengaku, “Ada dua teman yang membantu, Etty Kawuryani dan Menoek Rukmawati. Mereka memang sudah berpengalaman di Matahari Dept Store.” (roso daras)