Dunia Kecam Trumplomasi atas Golan

 Dunia Kecam Trumplomasi atas Golan

PM Israel Benyain Netanyahu (tengan) berada di Dataran Timggi Golan. Amerika Serikat, sekutu terdekat bangsa Yahudi tersebut, memgakui wilayah yang dianeksasi Israel itu milik bangsa Israel.


Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari Israel, kanan tengah, mengunjungi Dataran Tinggi Golan bulan ini bersama Senator Lindsey Graham dari South Carolina, kiri tengah, dan David Friedman, kanan, duta besar Amerika Serikat untuk Israel. [Ronen Zvulun / Reuters]

JAYAKARTA NEWS – Tweet tengah hari Presiden Trump menyentak dunia. Trump menyuarakan dukungannya penguasaan Israel atas Dataran Tinggi Golan.

Trumplomasi itu sekalus membalikkan dekade kebijakan Amerika Serikat yang telah diambil para pemimpin Amerika sebelumnya.

Langkah ini mendorong Dataran Tinggi Golan —dataran tinggi subur di samping Danau Galilea yang telah menjadi salah satu perbatasan Israel yang lebih tenang selama setengah abad— kembali menjadi berita utama internasional.

Trumplomasi —untuk menyebut gaya dan arah kebijakan diplomasi Trump— ini diperkirakan akan memicu ketenganan global.

Untuk dikatahui, wilayah Golan mencakup kawasan yang luasnya di bawah 500 mil persegi. Dataran Tinggi Golan menawarkan pandangan luas ke Suriah dan Israel.

Posisi inilah yang membuat Golan memiliki nilai tinggu untuk kepentingan strategis militer. Golan direbut oleh Israel dari Suriah selama Perang Enam Hari 1967, dan sejak itu, telah diklaim oleh kedua negara

Perang Enam Hari

Perang Enam Hari yang terjadi pada Juni 1967, berakhir dengan kemenangan yang amat menentukan menentukan bagi Israel, yang berhasil menganeksasi Dataran Tinggi Golan dari Suriah.

Pada tahun 1973, Suriah mencoba merebut kembali wilayahnya dari pasukan Israek, namun perjuangan tentara Suriah gagal. Perang tersebut kemudian berakhir dengan gencatan adanya senjata, dimana sebagian besar Dataran Tinggi Golan berada di tangan Israel. Pada 1981, Israel menerbitkan Undang-Undang yang secara efektif Golan menjadi wilayah yang dicaploknya.

Tetapi langkah itu tidak pernah diakui secara internasional, dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun itu mengatakan bahwa “keputusan Israel untuk memberlakukan hukum, yurisdiksi dan administrasi di Dataran Tinggi Golan Suriah yang didudukinya itu, adalah batal demi hukum dan tanpa efek hukum internasional.”

Ada yang coba untuk menghentikan negosiasi atas Dataran Tinggi Golan, tetapi konflik di Suriah pada 2011 telah menimbulkan ketegangan baru di daerah itu. Situasi itu memberikan keuntungan kepada Israel, yang dengannya makin mengefektifkan usaha untuk menghentikan upaya-upaya tersebut.

Penduduk Golan
Dataran Tinggi Golan tidak padat penduduk. Menurut beberapa perkiraan, penduduk wilayah itu sekitar 50.000 orang, dimana hampir setengah dari mereka adalah pemukim Yahudi Israel. Sisanya, sebagian besar orang-orang keturunan Suriah penganut Druze, sebuah agama yang telah digambarkan sebagai cabang dari Islam Ismaili.

Penduduk Druze dari Dataran Tinggi Golan sebagian besar menolak memperoleh kewarganegaraan Israel dan telah mempertahankan hubungan yang kuat dengan Suriah selama beberapa dekade.

Terlepas dari kedekatannya – megafon dan teropong telah menghubungkan orang-orang di Dataran Tinggi Golan dengan teman-teman mereka di seberang perbatasan – dimana koneksi itu telah diuji oleh konflik yang menghancurkan di Suriah.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *