UE ‘Ngawur’ Tuding Sawit Biang Deforestasi

 UE ‘Ngawur’ Tuding Sawit Biang Deforestasi

JAYAKARTA NEWS – Kalangan produsen minyak sawit dunia, jengkel atas tudingan Uni Eropa (UE) yang menuduh sawit sebagai penyebab deforestasi, dan menyebut sawit bukanlah produk minyak nabati berkelanjutan.

Sejauh ini pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia, dua negara sebagai penghasil minyak sawit terbesar di dunia, melalui prosedur berkelanjutan. Pengelolaan sawit di tanah air pun sesuai dengan standar Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono, perkebunan kelapa sawit di seluruh dunia hanya menggunakan 17,32 juta hektare lahan. Jumlah itu hanya 6 persen dari total luas lahan perkebunan minyak nabati dunia yang luasnya mencapai 278,2 juta hektare.

Grafis perbandingan luas lahan, produksi dan produktivitas untuk minyak nabati di dunia

Kelapa sawit justru menjadi komoditas paling efisien dalam penggunaan lahan. Dengan luas lahan 17,32 juta hektare, mampu memproduksi 56,65 juta ton atau 40 persen dari total produksi minyak nabati global.

“Sekitar 17 juta hektare lahan sawit dari 278 juta hektare kebun minyak nabati. Kalau dibilang sawit ‘the main cause of deforestation‘, ini justru sumbangan terhadap minyak nabati lebih besar dari kedelai yang menggunakan 110 juta hektare lahan,” kata Joko.

Data menunjukkan, sebanyak 48,23 juta ton minyak nabati yang diproduksi dari kacang kedelai diperoleh dari penggunaan lahan seluas 110,36 juta hektare.

Joko menambahkan, penurunan fungsi lahan tidak hanya terjadi pada rantai produksi minyak nabati, tetapi juga untuk peternakan atau grazing land yang mencapai 400 juta hektare.

Sejak dibentuk pada 2011 lalu, Komite Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) telah mengeluarkan 502 sertifikasi ISPO yang meliputi areal lebih dari empat juta hektare.

Ketua Sekretariat Komisi ISPO R. Azis Hidayat mengatakan 502 sertifikat tersebut terdiri atas 493 perusahaan, 5 koperasi swadaya, dan 4 KUD plasma dengan luas total areal areal 4.115.434 hektare.

“Ini menjadi pembuktian bahwa ISPO sebagai penyelamat lingkungan,” katanya dalam acara 3rd International Conference and Expo on Indonesia Sustainable Palm Oil (ICE-ISPO).

Dari sertifikasi tersebut, tanaman menghasilkan seluas 2.765.569 hektare dengan total produksi tandan buah segar (TBS) 52.209.749 ton per tahun dan CPO 11.567.779 ton per tahun serta produktivitas 18,81 ton per hektar dan kadar rendemen rata-rata 22,23 persen.

Aziz merinci dari 502 sertifikasi tersebut terdiri dari perusahaan swasta 459 sertifikat, dengan luas areal 3.905.138 hektare atau 50,66 persen dari luas total 7,707 juta hektare.

Kemudian PT Perkebunan Nusantara 34 sertifikat, dengan luas areal 204.590 hektare atau 28,80 persen dari luas total 710 ribu hektare, dan koperasi pekebun plasma-swadaya 9 sertifikat seluas 5.796 hektare atau 0,11 persen dari luas total 5,613 juta hektare.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *