Dulu, Orangtua Sering Memukul Anak

 Dulu, Orangtua Sering Memukul Anak

ADALAH Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Nusa Indah yang mengawali perubahan di Pulau Pasaran, Teluk Betung. Hadirnya PKBM itu mulai dirasakan warga pulau yang hanya berjarak 20 km dari Kota Bandar Lampung itu. “Anak-anak sudah bersekolah,” kata Purwigati, pengelola PKBM Nusa Indah.

Tak hanya itu, kini di pulau yang  dihuni 320 Kepala Keluarga (KK) itu sudah ada sejumlah fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Tamah Kanak-kanak serta Sekolah Dasar (SD). Bahkan ada juga fasilitas Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Pojok Baca. “Masyarakat kini sudah mulai gemar membaca,” ujar Purwigati bangga.

Padahal sebelumnya, Pulau Pasaran tak tersentuh pendidikan. Banyak anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Maklum, selain tidak adanya sarana dan prasarana pendidikan, para orang  tua juga kurang peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Akibatnya banyak anak-anak tak terurus. Kalimat-kalimat kotor seringkali meluncur dari mulut anak-anak. Tingkah lakunya juga kasar dan seringkali merugikan orang lain. “Ini terjadi karena mereka belum mengenal pendidikan,” kata Purwigati.

Menurutnya, faktor pendidikan orang tua di rumah juga menjadi penyebab perilaku anak seperti itu. Purwigati mengaku, pertama datang ke Pulau Pasaran tahun 2007, seringkali melihat anak-anak  mendapat perlakuan kekerasan dari orang tuanya. Hal ini terjadi karena para orang tua tidak tahu bagaimana mendidik anak. “Anak dipukuli orang tua, sudah jadi pemandangan biasa,” kata Purwigati.

Nah, berangkat dari keprihatinan itulah, Purwigati tergerak membina anak-anak. Kebetulan, sang suami yang bekerja di Dinas Perikanan dan Kelautan mendapat tugas membina nelayan di Pulau Pasaran.  “Apa salahnya saya membantu pendidikan anak-anak, kebetulan saya juga punya latar belakang pendidik,” kata Purwigati.

Purwigati memang memiliki basis pendidikan guru. Ia pernah mengenyam pendidikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Bahkan di Kota Bandar Lampung ia menjadi guru Taman Kanak-kanak. “Di tahun-tahun pertama sebelum dibangun jembatan, saya menuju ke Pulau Pasaran menggunakan perahu,” katanya.

Mengawali usahanya Purwigati mendirikan PAUD di Pulau Pasaran. Namun sebelum mendidik anak-anak, ia juga memberikan sosialisasi kepada para kaum ibu. Ia menyambangi rumah-rumah. Di sana ia menjelaskan mendidikan anak tidak perlu menggunakan kekerasan.

Upaya tersebut tak kunjung menuai hasil. Kekerasan masih dilakukan para orang tua dalam mendidik anak. Masyarakat belum paham. Tidak kehabisan akal, Purwigati menghadirkan psikolog dari Universitas Lampung (Unila). “Tujuan saya untuk mengubah ibu-ibunya,” kata  Purwigati.

Purwigati bersyukur, upayanya menuai hasil. Lambat laun para ibu mulai menyadari bahwa mendidik anak tidak perlu dengan kekerasan. Kekerasan mulai jarang terjadi dalam mendidik anak. Metodenya dengan menyajikan tayangan tentang dampak kekerasan. Dari sana masyarakat banyak yang terharu dan menyesal. “Butuh waktu sekitar enam bulan untuk mengubah sikap tersebut,” kata Purwigati. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *