Derita Anak-anak Rusun Marunda Akibat Pencemaran Abu Batubara: Dari Gatal-Gatal Sampai Kornea Mata Alami Kerusakan

 Derita Anak-anak Rusun Marunda Akibat Pencemaran Abu Batubara: Dari Gatal-Gatal Sampai Kornea Mata Alami Kerusakan

Dampak abu batu bara pada anak-anak di Rusun Marunda/sumber foto: KPAI

JAYAKARTA NEWS— Komisioner KPAI Retno Listyarti bersama Jhonny Simandjuntak, anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP menemui warga Rusunawa Marunda Blok A/10, Jumat (11/3/2022). Pertemuan yang berlangsung di Balai Warga tersebut berlangsung dari pukul 20 hingga 22 WIB.

Hadir dalam pertemuan itu perwakilan beberapa RT/RW yang tergabung dalam Forum Warga Marunda. Adapun tujuannya adalah menyediakan ruang bagi warga untuk menyampaikan kesaksiannya atas dampak pencemaran abu batu bara.

“Secara umum warga menyampaikan bahwa dampak pencemaran mulai dirasakan sejak 2018 hingga sekarang.  Semakin hari semakin memburuk terhadap kesehatan warga termasuk anak-anak. Selain penyakit pernafasan yang kerap dialami warga,  sekarang penyakit kulit yang membuat gatal di sekujur tubuh kerap dialami warga, bahkan anak-anak kerap terbangun di malam hari karena rasa gatal yang menyerang sekujur tubuh,” ungkap Retno lewat siaran pers Sabtu (12/3/2022).

Seorang ayah yang memiliki 3 anak yang masih usia Sekolah Dasar (SD) menceritakan bahwa mereka sekeluarga mengalami penyakit kulit yang menimbulkan gatal di sekujur tubuh. Sudah berobat ke klinik terdekat yang sekali berobat bisa menghabiskan biara Rp 300 ribu.

Dampak abu batu bara pada anak-anak di Rusun Marunda/sumber foto: KPAI

Saat pertemuan, salah satu anak dibawa serta dan si anak sepanjang pertemuan tampak mengalami  gatal-gatal dan sang ayah membantu menggaruk badan anaknya itu.

“Dengan mata berkaca-kaca dan suara serak, sang ayah menceritakan bahwa anak-anaknya menjadi tidak nyenyak tidur pada malam hari karena rasa gatal yang tidak tertahankan, bahkan sang anak pernah berkata sudah tidak kuat lagi,” kisah Retno.

Seorang ibu dari 4 orang anak yang di antaranya ada yang berkebutuhan khusus (autis)  dan sensitive dengan udara kotor terpaksa dititipkan kepada neneknya. Si ibu juga mengatakan bahwa saat memasak, makanan juga sudah terkontaminasi dengan abu batubara.

Cerita mengenaskan menimpa seorang anak yang terpaksa harus ganti kornea mata dari donor mata. Hal tersebut bermula pada tahun 2019, si anak yang kerap bermain di RPTRA mengku matanya sakit dan terus menerus mengeluarkan air mata.

Dia mengucek matanya karena gatal dan diduga kuat partikel halus dari abu batu bara mengenai mata si anak. Mata bernanah dan terus mengeluarkan air. Perawatan mata dilakukan oleh RSCM  dalam jangka lumayan panjang, sampai akhirnya dokter menyatakan sudah rusak total dan harus donor mata.

Baru pada tahun 2021, si anak mendapatkan donor mata. Si ibu awalnya tidak yakin kalau si anak mengalami kerusakan mata akibat abu batu bara, namun lama kelamaan si ibu yakin bahwa hal itu karena terpapar abu batu bara di lingkungan tempat tinggalnya.

Warga yang tinggal di RW 07, dimana posisi towernya dekat pelabuhan Marunda  menyatakan bahwa penyakit pernafasan kerap dialami oleh keluarganya, begitupun warga sekitar.

“Saya pernah mau diberi sembako oleh PT yang melakukan pengolahan batu bara itum namun saya tolak, Kesehatan kami tidak setara dengan sembako”, ungkap salah seorang warga.

Salah seorang petugas RPTRA Rusun Marunda juga menyampaikan bahwa  setiap hari mereka harus menyapu lantai RPTRA dan membersihan mainan anak-anak di halaman RPTRA karena debu abu batu bara yang  cukup banyak. Tempat bermain anak yang seharusnya menjadi tempat yang  nyaman menjadi tempat yang tidak aman bagi anak-anak.

“Kisah-kisah yang disampaikan warga menunjukkan bahwa pencemaran batu bara ini nyata dan sudah level membahayakan kesehatan warga Rusun Marunda. Apalagi derita anak-anak yang terdapak dari pencemaran ini. Pemerintah Provinsi harus segera bertindak untuk menyelamatkan anak-anak, kepentingan terbaik bagi anak harus menjadi dasar tindakan cepat. Anak-anak harus dilindungi, diselematan dan dipenuhi hak-haknya sebagaimana diamantakan dalam UU Perlindungan Anak,” ucap Retno.

Rekomendasi

Berdasarkan data dari pengelola (UPRS) Rusunawa Marunda, ada 10.158 penghuni Rusun Marunda dari 5 (lima) tower, dengan rincian balita sebanyak 344 orang, anak-anak usia 5-13 tahun sebanyak 1.457 orang, remaja usia 14-17 tahun sebanyak 762, dan usia dewasa 18 tahun ke atas sebanyak 7.595 orang.

Pencemaran abu batu bara di Rusun Marunda/sumber foto: KPAI

Mengingat banyak warga usia anak yang terdampak  dari pencemaran batu bara ini, maka KPAI merekomendasi banyak pihak untuk bertindak sesegera mungkin menyelamatkan warga terutama anak-anak, yaitu sebagai berikut :

1.KPAI akan menindaklanjuti laporan warga rusun marunda ke pihak Pemprov DKI Jakarta, karena penyelesaiannya harus melibatkan Dinas-dinas terkait, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Dinas pendidikan, dll, bahkan Kementerian Lingkungan Hidup;

2.KPAI sudah berkoordinasi dengan Bagus Ahmad (Direktur WALHI Jakarta) untuk berkoordinasi pasca KPAI turun ke lokasi dan sekaligus mendorong WALHI Jakarta untuk melakukan advokasi sesuai kewenangannya. KPAI juga akan berkoordinasi dengan JATAM dan LBH Jakarta jika warga memerlukan pendampingan hukum atas kerugian dari pencemaran yang timbul dan berdampak pada mereka;

3.KPAI mendorong DPRD Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan pengawasan ke lapangan dan sekaligus memanggil pemerintah dan juga perusahaan pencemar untuk dimintai penjelasan> Saat ini yang baru turun ke lokasi baru Jhonny Simandjuntak dari Fraksi PDIP;

4.KPAI mendorong perlunya pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan investigasi Amdal dan dampak-dampak pencemaran terhadap lingkungan Rusun Marunda.

5.KPAI juga mendorong pelibatan laboratorium yang independen untuk melakukan uji laboratorium pada air dan tanah warga, serta uji medis terkait dampak kesehatan yang dirasakan warga, termasuk anak-anak. ***/din

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.