Entertainment
Dance for All 2 di GKJ Pukau Penonton
JAYAKARTA NEWS— Tari Ballet (baca bale atau baley, bahasa Inggris) ditemukan pada abad 15 di Italia.
Penari alias ballerina pertama yang menari di Istana Renaisans adalah Catherine de Medici. Istilahnya kala itu dia menari ballare yang berfokus pada gerakan kreatif, motorik dan ritme.
Belajar ballet butuh kerja keras dan disiplin karena tubuh dilatih untuk bergerak diluar kebiasaan alami. Seperti memutar kaki 180 derajat dari pinggul.
Dari beberapa sumber referensi, tantangan terberat seorang penari balet adalah membangun kekuatan inti (core), fleksibilitas dan keseimbangan yang sempurna.
Secara bertahap dari tingkat pemula akan terasa senang. Kelas khusus ini tertuju pada bentuk postur dan pengenalan gerak dasar.
Apakah menimbulkan rasa sakit ?
“Wajar. Karena ada peregangan dan kegunaan otot,” ujar Aiko Senosoenoto, pandita dan pimpinan kelompok Eksotika Kharmawibangga Indonesia (EKI) yang telah berusia 25 tahun.
Cedera ?

“Lakukan pemanasan dan pakai sepatu yang pas serta konsultasi pada instruktur tari jika rasa sakit berlanjut,” ungkap Ade Setiowibowo selaku pendiri dan pengajar Cicilia Ballet School (CBS) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dalam pementasan ‘Dance for All 2’, Sabtu (11/7).
Berapa usia yang ideal untuk membentuk ballerina dan ballerino andal dan profesional ?
Antara 3 dan 4 tahun anak-anak sedini mungkin guna membangun fondasi fisik yang kuat dan lebih disiplin.
Usia 4 sampai 6 tahun seorang anak lebih cepat menguasai teknik dasar.
“Dan ini jangan telat. Dan kelas remaja (adult ballet) untuk kebugaran dan hobby yang sangat populer,” timpal Alim Sudio, senior di EKI yang juga aktif menulis skenario film.
Bolehkah usia diatas 40 tahun baru belajar ballet ?
“Bisa keseleo, kepelintir dan kecetit. Ketika melakukan
gerakan melompat dan berputar akan cedera dan patah tulang. Ini bahaya,” imbuh Aiko Senosoenoto.
Dalam pentas ‘Dance for All 2’ di GKJ ada 21 nomor tari ballet disajikan selama 2 jam lebih (dengan 2 kali istirahat 15 menit).
“Ini tarian indah dan profesional dengan teknik tinggi,” jelas Ade Setiowibowo dari CBS.

Bersama Ballet Manila, Etoile dan CBS, EKI tampak menonjol pada nomor-nomor tari remaja.
Disuguhkan juga nomor tari ballet anak yang mencuatkan pesona dan memukau.
Tengok ketika nomor ‘Sleeping Beauty pas de Deux’ yang ditarikan secara duo oleh Shanina Drapete dan Joe Davis Andes benar-benar sebuah nomor tari ballet klasik yang menimbulkan kesan indah.
Atau saat EKI unjuk diri ‘Corporate Jam’ yang mengangkat tema ihwal budak korporate dan ‘Manohara’ yang terinspirasi dari ular dan racun.
‘Rem’ oleh koreografer Ara Ajiisiwi berkisah tentang wanita yang luka dan penderitaan yang berbeda tapi menemukan kekuatan lewat solidaritas.
Sebuah nomor kolaborasi berjudul ‘Underwater from the Pharaoh’s Daughter’ oleh koreografer Marinus Petipa yang dibawakan penari-penari dari EKI, CBS dan Ballet Manila tak urung juga beroleh tempik sorak menggemuruh.
What next ?
Tinggal kesan mendalam di hati penonton.
Bahwa tari ballet yang telah melampaui berbagai zaman masih tetap ada.
Dan tak boleh mati. (pik)
