Assad, Mulai Diserang Media Barat

 Assad, Mulai Diserang Media Barat
Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

PRESIDEN Suriah Bashar al-Assad oleh media Barat mulai disudutkan dengan julukan seorang diktator. Seorang tiran yang kejam. Simak tulisan Nadim Houry dari Human Right Watch, yang mengaku 11 tahun mengamati rezim Assad.

Ia menulis, “Orang ini sangat tenang, laptop Apple selalu ada di atas mejanya dan berbicara dengan tenang. Dia jauh dari citra diktator Arab seperti Saddam atau Qadaffi yang menenteng senapan. Namun kalau Anda melihat perilaku rezim ini, dia berlaku sangat mirip dengan kediktatoran Arab –penyiksaan besar-besaran, pembantaian penduduk sipil, pengeboman tanpa pandang bulu (orang bersenjata atau sipil).”

Hampir bisa dipastikan, Bashar al-Assad adalah pemimpin yang tidak dikehendaki oleh kekuatan Barat. Seperti halnya Saddam Hussein, Moamar Qadaffi dan tokoh-tokoh belahan dunia lain yang menentang Amerika Serikat, maka serta merta dia akan menjadi “musuh” Amerika, dan karenanya harus digulingkan. Tidak bisa melalui propaganda media, bukan tidak mungkin dengan kekuatan militer.

Siapa Assad? Dia adalah putra kedua Presiden Suriah (mendiang) Hafez al-Assad. Penampilan sehari-hari sangat sederhana. Tidak banyak orang tahu bahwa dia putra presiden. Sementara kakaknya, Bassel al-Assad berkarier di militer. Ia meninggal dunia dalam kecelakaan mobil tahun 1993. Sejak itu, kehidupan Bashar al-Assad berubah.

Assad sedang kuliah di London ketika kakaknya meninggal. Dia langsung dipanggil pulang ke Suriah dan ayahnya menjulukinya “harapan baru” bagi rakyat Suriah.Tujuh tahun kemudian, setelah ayahnya meninggal, Assad menjadi presiden Suriah.

Ternyata, Assad bertangan besi. Tahun 2013, pecinta lagu-lagu Phil Collins ini menggunakan senjata pemusnah masal dan mengakibatkan tewasnya 1.400 orang. Bahkan, belum lama ini, 4 April 2017, ada laporan ia kembali menggunakan bom kimia untuk membunuh rakyatnya sendiri.

Dosen sejarah Trinity University, Texas, Amerika Serikat mengatakan, bahwa Assad adalah anak perang dingin yang berposisi di kubu Soviet. Dalam konflik Arab – Israel, ia berada di sisi Arab.

Usai menggantikan bapaknya yang berkuasa selama 29 tahun, Assad menyerukan demokrasi, transparansi, kritik bertanggung jawab terhadap pemerintah, yang ketika itu terdengar sebagai angin segar. Orang menyebutnya “musim semi Damaskus”. Partai oposisi diizinkan. Media massa lebih bebas. Ratusan tahanan politik dibebaskan.

Namun masa keterbukaan ini berlangsung singkat. Kelompok oposisi memanfaatkannya untuk menyerang rezim Assad. Petisi-petisi mengarah ke tujuan penggantian rezim. Dua bulan kemudian, 10 tokoh opsisi ditahan.

Spontan, pers Barat melalui para analisnya menuding rezim Assad sebagai diktator. Sedangkan Assad, bertindak atas nama hukum yang berlaku di Suriah. Ketika negara dalam keadaan terancam oleh aksi makar, tentu saja negara mana pun memiliki instrumen untuk mencegah, menangkal, bahkan menindak. Tapi itu tidak pernah muncul di pers Barat.

Invasi Amerika Serikat ke Irak, adalah salah satu alasan Assad mulai menutup diri terhadap reformasi atau demokratisasi liberal ala Amerika. Apalagi ketika itu, Presiden George W. Bush melempar promosi demokrasi dan perubahan rezim.

Kecaman Assad mengenai invasi AS makin mendinginkan hubungannya dengan Amerika. Apalagi Bush memperluas “Poros Kejahatan” pada tahun 2002 memasukkan Suriah, Kuba, dan Libya. Masih ditambah dengan serangan langsung, pada Desember 2003, Bush menetapkan sanksi atas Suriah karena dituduh menduduki Lebanon dan mendukung kelompok-kelompok teroris.

Assad menjadi kelihatan sangat menentang Barat. Pada tahun 2010, dia berjanji akan menekan Hezbollah, namun intelejen AS memastikan Assad justru memberi mereka rudal Scud. Ketika Menteri Luar Negeri (saat itu) John Kerry menyampaikan temuan itu kepada Assad, dia membantah.

Pers Barat seolah lupa akan aksi Bush menginvasi Irak, dengan dalih-dalih yang kemudian tidak terbukti. Mereka terus menulis ihwal peran Suriah membiarkan para kaum jihad memasuki Irak untuk bertempur melawan Amerika Serikat. Kini, Suriah terus disudutkan dengan isu menjadi sarang ISIS, sementara ISIS adalah “produk” Barat yang gagal dikendalikan oleh mereka sendiri.

Dengan kondisi tersebut, hampir bisa dipastikan, Suriah tidak akan tenang dalam waktu dekat. Pihak Barat makin intensif menekan Suriah dengan berbagai cara. Bukan tidak mungkin pada akhirnya kita akan melihat aksi polisionil seperti yang pernah dilakukan Amerika kepada sejumlah negara berdaulat sebelumnya. Di Suriah sendiri, Assad bertekad tidak akan mundur. Baginya hanya ada satu tekad, “maju terus atau hancur”. ***

Sumber: gz.com tulisan Max de Haldevang, dll

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *