Kolom
Ancaman Cuaca Ekstrem Indonesia : Antara Perubahan Iklim dan Kerentanan Geografis
Oleh : Heri Mulyono
Indonesia kembali dihadapkan pada tantangan serius akibat fenomena cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah. Intensitas hujan yang tinggi, banjir bandang, tanah longsor, hingga gelombang tinggi menjadi ancaman nyata bagi jutaan masyarakat di negeri kepulauan ini. Pertanyaan mendasar pun muncul: apa sebenarnya yang memicu kondisi ini, berapa lama akan berlangsung, dan daerah mana saja yang paling berisiko?
Kondisi Terkini: Darurat Cuaca di Berbagai Provinsi
Memasuki awal 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan signifikan kejadian cuaca ekstrem di wilayah Indonesia. Beberapa provinsi melaporkan kejadian banjir dan tanah longsor yang mengakibatkan korban jiwa serta kerugian material.
Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi daerah yang paling sering mengalami curah hujan tinggi. Sementara itu, provinsi-provinsi di Sumatera seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Lampung juga menghadapi ancaman serupa. Di kawasan timur Indonesia, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur melaporkan dampak signifikan dari cuaca buruk.
Data terkini menunjukkan bahwa intensitas curah hujan di beberapa wilayah mencapai kategori ekstrem, dengan volume air hujan melebihi 150 milimeter per hari. Angka ini jauh di atas ambang batas normal dan memicu respons darurat dari pemerintah daerah setempat.
Akar Masalah: Perubahan Iklim Global dan Fenomena Lokal
Para ahli meteorologi dan klimatologi mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memicu cuaca ekstrem di Indonesia. Pertama, perubahan iklim global yang mengubah pola cuaca tradisional. Pemanasan global menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut, yang pada gilirannya meningkatkan penguapan dan pembentukan awan hujan yang lebih masif.
Fenomena La Niña, meskipun telah melemah dalam beberapa bulan terakhir, masih memberikan efek residual terhadap pola cuaca di Asia Tenggara. Kondisi ini memperpanjang musim hujan dan meningkatkan intensitas presipitasi di wilayah tropis, termasuk Indonesia.
Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di perairan Indonesia turut berkontribusi. MJO adalah pola sirkulasi atmosfer skala besar yang bergerak dari Samudera Hindia menuju Pasifik, membawa massa udara basah yang memicu hujan lebat ketika melintas di atas kepulauan Indonesia.
Posisi geografis Indonesia di garis khatulistiwa dengan karakteristik iklim tropis juga membuat negara ini sangat rentan terhadap variabilitas cuaca. Kombinasi antara suhu tinggi, kelembaban udara yang tinggi, dan tekanan atmosfer yang berfluktuasi menciptakan kondisi ideal untuk pembentukan sistem cuaca konvektif yang menghasilkan hujan deras.

Suara Para Pakar: Analisis dari Dalam dan Luar Negeri
Dr. Friederike Otto, direktur Climate Science di Imperial College London dan salah satu pionir dalam attribution science, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di Asia Tenggara tidak bisa dilepaskan dari jejak perubahan iklim antropogenik. Penelitiannya menunjukkan bahwa probabilitas kejadian hujan ekstrem di kawasan tropis telah meningkat hingga 40 persen dibandingkan era pra-industri.
“Indonesia berada di garis depan dampak perubahan iklim. Sistem cuaca yang dulunya dapat diprediksi dengan baik kini menunjukkan perilaku yang semakin erratik. Intensitas hujan meningkat, sementara periode kering menjadi lebih panjang dan keras,” ujar Otto dalam wawancara dengan media internasional.
Sementara itu, Professor Kevin Trenberth dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) di Amerika Serikat menekankan peran pemanasan laut dalam mengamplifikasi cuaca ekstrem. Menurut analisisnya, suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang meningkat 0,5-1 derajat Celsius dalam dua dekade terakhir telah mengubah dinamika pembentukan awan dan pola presipitasi.
“Setiap kenaikan satu derajat Celsius pada suhu permukaan laut dapat meningkatkan kandungan uap air di atmosfer sekitar 7 persen. Ini berarti potensi hujan yang lebih lebat dan risiko banjir yang lebih tinggi,” jelas Trenberth.
Dari dalam negeri, Dr. Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG, memberikan gambaran spesifik tentang kondisi Indonesia. Menurutnya, fenomena cuaca ekstrem yang terjadi saat ini merupakan kombinasi dari faktor global dan lokal, termasuk deforestasi masif yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air.
“Kami mencatat bahwa dalam 20 tahun terakhir, frekuensi hujan ekstrem di Indonesia meningkat sekitar 25 persen. Ini sejalan dengan data global tentang intensifikasi siklus hidrologi akibat pemanasan global,” kata Karnawati.
Dr. Edvin Aldrian, ahli klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menambahkan bahwa perubahan tutupan lahan memperburuk dampak cuaca ekstrem. Hutan yang berfungsi sebagai spons alami telah berkurang drastis, terutama di Kalimantan dan Sumatera, menyebabkan air hujan langsung mengalir ke sungai-sungai dan memicu banjir bandang.
“Kehilangan hutan tidak hanya mengurangi penyerapan karbon, tetapi juga menghilangkan buffer alami terhadap bencana hidrologi. Ketika hujan ekstrem terjadi, tidak ada yang menahan air, sehingga langsung menjadi banjir,” ungkap Aldrian.
Durasi dan Proyeksi: Sampai Kapan Kondisi Ini Berlangsung?
Berdasarkan proyeksi model iklim terkini, BMKG memperkirakan intensitas curah hujan tinggi akan berlanjut hingga akhir Maret 2026, seiring dengan puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun, pola cuaca tidak akan kembali sepenuhnya normal setelah periode tersebut.
Analisis dari World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan bahwa tahun 2026 diprediksi akan menjadi salah satu tahun terhangat dalam catatan sejarah, yang berimplikasi pada ketidakstabilan pola cuaca global, termasuk di Indonesia. Fenomena El Niño yang diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan tahun dapat membawa konsekuensi baru, mulai dari kekeringan di beberapa wilayah hingga potensi kebakaran hutan.
“Kita perlu memahami bahwa cuaca ekstrem bukan lagi anomali, tetapi menjadi kondisi baru yang harus kita antisipasi secara berkelanjutan,” tegas Dr. Karnawati.
Peta Risiko: Daerah-Daerah Rawan Bencana
BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengidentifikasi sejumlah wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap banjir dan tanah longsor:
Jawa Barat menjadi provinsi dengan risiko tertinggi, khususnya wilayah Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung. Topografi berbukit dengan curah hujan tinggi membuat daerah ini sangat rentan terhadap longsor. Beberapa kecamatan di Bogor telah ditetapkan dalam status siaga darurat.
Jawa Tengah, terutama wilayah Banjarnegara, Purworejo, dan Kebumen, memiliki riwayat longsor yang berulang. Struktur tanah yang labil ditambah aktivitas pertanian di lereng bukit meningkatkan risiko bencana.
Jawa Timur menghadapi ancaman ganda: banjir di dataran rendah seperti Lamongan dan Tuban, serta longsor di wilayah pegunungan seperti Ponorogo dan Trenggalek.
Di Sumatera, Sumatera Barat dengan wilayah Padang dan sekitarnya menghadapi risiko banjir bandang akibat aliran sungai yang deras dari pegunungan Bukit Barisan. Aceh dan Sumatera Utara juga dalam status waspada tinggi.
Kalimantan Selatan yang pernah mengalami banjir besar pada 2021 kembali terancam akibat meningkatnya curah hujan dan pengelolaan tata air yang belum optimal. Sementara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah menghadapi risiko longsor di wilayah pegunungan.
Khusus untuk Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, ancaman banjir bandang sangat tinggi mengingat kondisi tanah yang gersang di musim kemarau menjadi keras dan tidak dapat menyerap air dengan baik saat musim hujan tiba.

Dimensi Gempa: Ancaman Terpisah yang Tetap Nyata
Meskipun tidak langsung terkait dengan cuaca ekstrem, risiko gempa bumi tetap menjadi ancaman konstan bagi Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik. Zona subduksi aktif di sepanjang pantai barat Sumatera, selatan Jawa, hingga wilayah timur Indonesia membuat negara ini rentan terhadap gempa besar.
Dr. Andi Arief, seismolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengingatkan bahwa gempa bumi bisa terjadi kapan saja tanpa memandang musim. Namun, kombinasi antara bencana gempa dengan kondisi tanah yang jenuh air akibat hujan ekstrem dapat memperburuk dampak likuifaksi dan longsor.
“Kami mencatat beberapa zona dengan potensi gempa besar: Mentawai, selatan Jawa, Lombok, dan Papua. Masyarakat di wilayah ini harus selalu siap dengan protokol evakuasi,” kata Arief.
Data dari Pusat Gempa Nasional menunjukkan aktivitas seismik yang cukup tinggi pada awal 2026, dengan puluhan gempa magnitude 4-5 tercatat di berbagai wilayah. Meskipun sebagian besar tidak menimbulkan kerusakan, ini adalah pengingat akan ancaman yang selalu mengintai.
Respons dan Mitigasi: Apa yang Harus Dilakukan?
Menghadapi ancaman cuaca ekstrem dan bencana alam, pemerintah Indonesia telah menggulirkan berbagai program mitigasi. BNPB memperkuat sistem peringatan dini dengan memasang lebih banyak sensor curah hujan dan alat deteksi gerakan tanah di wilayah rawan.
Program penghijauan dan reboisasi dipercepat, terutama di daerah tangkapan air. Namun, para ahli menekankan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk penegakan hukum terhadap pembukaan lahan ilegal dan penataan ruang yang lebih ketat.
Di tingkat masyarakat, edukasi tentang kesiapsiagaan bencana harus terus ditingkatkan. Setiap keluarga di daerah rawan perlu memiliki rencana evakuasi dan tas siaga bencana.
Professor Michael Oppenheimer dari Princeton University menegaskan pentingnya adaptasi jangka panjang. “Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan respons reaktif. Investasi dalam infrastruktur tahan bencana, sistem drainase yang baik, dan tata kelola air yang berkelanjutan adalah kunci untuk mengurangi kerugian di masa depan,” ujarnya.
Penutup: Hidup di Era Ketidakpastian Iklim
Cuaca ekstrem yang melanda Indonesia adalah cerminan dari krisis iklim global yang semakin nyata. Meskipun tantangannya besar, bukan berarti tanpa solusi. Kombinasi antara mitigasi perubahan iklim global, adaptasi lokal yang kuat, dan kesadaran masyarakat dapat mengurangi dampak bencana.
Yang pasti, Indonesia harus bersiap menghadapi realitas baru di mana cuaca ekstrem bukan lagi pengecualian, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kesiapsiagaan, infrastruktur yang tangguh, dan solidaritas sosial akan menjadi kunci bertahan di tengah ketidakpastian iklim yang semakin mendalam. (*)
