Connect with us

Feature

Misteri Candi Banyunibo: Jejak Kejayaan Buddha di Lereng Prambanan

Published

on

Oleh : Heri Mulyono

Di balik kemegahan Candi Prambanan yang menjulang, tersembunyi sebuah candi kecil yang menyimpan misteri sejarah panjang. Candi Banyunibo, yang berdiri di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Candi ini menjadi saksi bisu perjalanan spiritualitas Buddha di tanah Jawa abad ke-9 Masehi. Meski ukurannya tak sebesar tetangganya, candi ini menyimpan nilai arkeologis yang luar biasa—sebuah puzzle sejarah yang terus dipecahkan para ahli hingga kini.

Penemuan yang Nyaris Terlupakan

Tahun 1940-an menjadi titik balik bagi Candi Banyunibo. Ketika itu, struktur candi hampir sepenuhnya terpendam tanah dan ditumbuhi semak belukar. Hanya puncak atapnya yang mencuat, diabaikan oleh penduduk setempat yang menyebutnya “gundukan batu tua”. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan ekskavasi pertama, mengungkap struktur candi yang relatif utuh di bawah timbunan tanah vulkanik.

Nama “Banyunibo” sendiri berasal dari bahasa Jawa, “anyu” (air) dan “nibo” (meresap atau jatuh), merujuk pada kondisi tanah di sekitar candi yang mudah menyerap air hujan. Nama ini telah melekat sejak zaman kolonial dan dipertahankan hingga sekarang.

Pemugaran besar-besaran baru dilakukan pada 1977-1987 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. Proses anastylosis—metode rekonstruksi dengan mengembalikan batu-batu asli ke posisi semula—berhasil mengembalikan wujud candi hingga 90 persen. Dari 1.500-an batu candi yang tersebar, lebih dari 1.300 batu berhasil diidentifikasi dan dikembalikan ke tempat aslinya.

Arsitektur: Dialog Buddha-Hindu

Candi Banyunibo menampilkan percampuran unik gaya arsitektur Buddha dengan sentuhan Hindu—fenomena yang mencerminkan dinamika politik dan keagamaan Mataram Kuno abad ke-9. Struktur candi berdenah bujur sangkar (6×6 meter) dengan tinggi mencapai 15 meter, berdiri di atas satu basement tinggi tanpa halaman berundak seperti candi-candi Buddha umumnya.

Yang menarik, candi ini menghadap ke barat—orientasi khas candi Buddha yang melambangkan arah nirwana dalam kosmologi Buddha Mahayana. Namun, ornamen makara (makhluk mitologi berkepala gajah bermulut buaya) di atas pintu masuk dan atap stupa yang menjulang mengingatkan pada langgam Hindu Jawa Tengah.

Bilik utama candi berukuran 3,7 x 3,7 meter dengan langit-langit berbentuk kubah. Di tengah ruangan, terdapat altar berbentuk padmasana (teratai) yang dulunya menjadi tempat arca Buddha utama. Sayangnya, arca tersebut telah hilang—kemungkinan besar diambil pada masa kolonial atau dicuri oleh pemburu artefak.

Dinding bilik dihiasi 26 relung kecil (niche) yang tersebar di keempat sisi. Para arkeolog memperkirakan relung-relung ini dulunya berisi arca-arca Bodhisattva atau dewa-dewa pelindung dalam tradisi Buddha Mahayana. Beberapa relung masih memperlihatkan bekas pahatan halus dan jejak cat mineral yang mengindikasikan candi pernah dicat berwarna-warni.

Relief: Kitab Batu yang Berbicara

Relief Candi Banyunibo menjadi jendela paling jelas untuk memahami fungsi dan makna spiritual bangunan ini. Berbeda dengan relief naratif di Borobudur yang menceritakan kisah kehidupan Buddha, relief Banyunibo lebih bersifat simbolis dan ikonografis.

Relief Kala-Makara: Di ambang pintu utama, terukir motif kala (wajah raksasa tanpa rahang bawah) yang dikelilingi makara di kedua sisinya. Dalam tradisi Jawa kuno, kala berfungsi sebagai penolak bala dan penjaga kesucian. Makara, dengan belalai melengkung menyemburkan sulur-suluran, melambangkan transisi dari dunia profan ke sakral. Kombinasi ini menunjukkan sinkretisme—kala berasal dari tradisi Hindu, sementara makara adalah simbol universal dalam seni India kuno.

Panel Pohon Kalpataru: Di sisi luar dinding candi, ditemukan relief pohon kalpataru (pohon kehidupan) yang diapit dua ekor burung dan kijang. Dalam kosmologi Buddha, kalpataru melambangkan pencerahan dan pemenuhan segala keinginan spiritual. Motif ini identik dengan relief di Candi Kalasan dan Sari, menguatkan dugaan bahwa Banyunibo dibangun dalam periode dan aliran yang sama.

Motif Geometris dan Bunga Padma: Bagian atas dinding dihiasi deretan medaliun berisi bunga teratai (padma) yang mekar sempurna. Dalam ajaran Buddha, teratai melambangkan kemurnian spiritual—tumbuh dari lumpur namun tetap bersih dan indah. Relief geometris berbentuk vajra (vajra thunderbolt) juga ditemukan di beberapa sudut, menandakan pengaruh Buddha Vajrayana yang mulai berkembang pada akhir abad ke-9.

Temuan Arkeologis: Membuka Tabir Masa Lalu

Ekskavasi bertahap yang dilakukan sejak 1977 menghasilkan temuan arkeologis penting yang mengubah pemahaman tentang Candi Banyunibo:

1. Fragmen Arca Bodhisattva (1979)

Penggalian di halaman candi menemukan 27 fragmen arca berbahan batu andesit. Setelah direkonstruksi, diketahui ini adalah bagian dari arca Bodhisattva Avalokitesvara setinggi 80 cm dengan gaya seni Jawa Tengah klasik. Arca ini mengenakan mahkota jata-mukuta dan gelang-gelang halus, dengan tangan kanan dalam posisi varada mudra (gerakan memberi). Kini arca ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

2. Prasasti Batu Kapur (1982)

Penemuan paling mengejutkan adalah fragmen prasasti beraksara Jawa Kuno dengan angka tahun 828 Saka (906 M). Meski hanya tersisa empat baris, prasasti ini menyebut nama “Rake Panangkaran” dan frasa “sangkhara buddha” (bangunan Buddha). Ini mengonfirmasi bahwa Banyunibo dibangun pada masa pemerintahan dinasti Sanjaya yang beragama Hindu, namun tetap mengakomodasi pembangunan candi Buddha—bukti toleransi beragama di era Mataram Kuno.

3. Miniatur Stupa Perunggu (1984)

Di bawah altar utama, arkeolog menemukan 19 miniatur stupa perunggu berukuran 5-8 cm. Stupa-stupa ini diletakkan dalam pola mandala—4 di setiap arah mata angin, 2 di atas dan bawah, dan 1 di tengah. Pola ini mencerminkan kosmologi Buddha Mahayana tentang alam semesta bersusun. Analisis logam menunjukkan stupa dibuat dari campuran tembaga dan timah dengan teknik cire perdue (lost wax), teknik yang juga digunakan di India dan Tibet pada periode yang sama.

4. Batu Yoni dan Linga (1988)

Dalam penggalian lanjutan di halaman timur, ditemukan fragmen yoni-linga—simbol Hindu yang mengejutkan di kompleks candi Buddha. Ini memperkuat teori bahwa Banyunibo adalah produk masa transisi atau hasil kompromi politik antara aliran Buddha dan Hindu. Beberapa ahli berpendapat ini adalah “remainders” dari bangunan Hindu yang lebih tua, sementara yang lain meyakini ini adalah bukti praktik sinkretisme yang umum di Jawa abad ke-9-10.

5. Tembikar dan Kepingan Keramik Asing (1995-2000)

Ekskavasi di area sekitar candi menemukan ratusan fragmen tembikar lokal dan beberapa kepingan keramik dari Tiongkok (Dinasti Tang). Ini mengindikasikan bahwa area Banyunibo bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bagian dari permukiman atau kompleks biara (vihara). Temuan ini mengubah asumsi bahwa candi adalah struktur terisolasi.

Kontroversi Kronologi

Perdebatan tentang tahun pembangunan Candi Banyunibo terus berlanjut. Prasasti 906 M yang ditemukan dianggap sebagai prasasti “consecration” (pentahbisan), bukan prasasti “pendirian”. Analisis paleografi menunjukkan gaya tulisan prasasti lebih mirip dengan periode 850-an hingga 870-an M, menimbulkan hipotesis bahwa candi mungkin mulai dibangun pada masa Rakai Pikatan (pertengahan abad ke-9) dan baru diresmikan 40-50 tahun kemudian.

Dr. John Miksic, arkeolog dari National University of Singapore, dalam penelitiannya tahun 2010 menyatakan bahwa gaya arsitektur Banyunibo “transisional”—berada di antara periode Candi Kalasan (778 M) dan Candi Plaosan (825-850 M). Ini menempatkan konstruksi awal kemungkinan di kisaran 800-830 M.

Fungsi: Candi Pemujaan atau Biara?

Tidak seperti candi-candi besar seperti Borobudur atau Sewu yang jelas-jelas adalah kompleks ritual, fungsi Banyunibo masih diperdebatkan. Beberapa teori yang berkembang:

Teori 1: Candi Pemujaan Pribadi: Ukurannya yang relatif kecil dan tidak adanya kompleks pendukung menunjukkan ini mungkin candi pemujaan pribadi bangsawan tinggi atau anggota keluarga kerajaan. Prasasti yang menyebut “Rake Panangkaran” mendukung teori ini.

Teori 2: Bagian dari Kompleks Biara: Temuan tembikar dan struktur fondasi di sekitarnya mengindikasikan Banyunibo mungkin adalah candi utama dari kompleks biara yang lebih besar. Bangunan kayu (tidak bertahan) mungkin pernah mengelilinginya sebagai sel-sel biksu.

Teori 3: Candi Peralihan: Beberapa ahli meyakini Banyunibo dibangun sebagai “jembatan” ideologis antara Buddha dan Hindu di masa transisi kekuasaan—semacam simbol toleransi atau kompromi politik.

Warisan yang Terus Hidup

Hari ini, Candi Banyunibo berdiri tenang di tengah sawah dan perkampungan. Meski tidak setenar Prambanan, candi ini menarik minat para peneliti, peziarah Buddha, dan wisatawan yang mencari pengalaman spiritual lebih intim. Setiap tahun saat Waisak, umat Buddha menggelar ritual di halaman candi, menghidupkan kembali fungsi sakral yang sempat terlupakan selama berabad-abad.

Balai Pelestarian Cagar Budaya terus melakukan penelitian dan konservasi. Teknologi terbaru seperti 3D scanning dan ground-penetrating radar digunakan untuk memetakan kemungkinan struktur tersembunyi di bawah tanah. Siapa tahu, masih ada misteri yang menunggu untuk diungkap dari tanah Cepit ini.

Candi Banyunibo mengajarkan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang monumen megah, tetapi juga tentang jejak-jejak kecil yang menyimpan cerita besar tentang toleransi, seni, dan spiritualitas manusia di masa lampau. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement