Connect with us

Kabar

Membaca Kembali Sang Guru

Published

on

Latar wilayah konflik tahun 1960-an, sebagai ajang separatisme Republik Maluku Selatan (RMS) dan Perjuangan Semesta (Permesta), menyadarkan kembali keberdayaan susastra sebagai sumber sejarah, walau Sang Guru bukan roman sejarah.

___________________________________

Membaca kembali, artinya mungkin saya pernah membacanya setelah terbit kali pertama tahun 1973 (data tulisan tangan saya 1974); tetapi juga bisa berarti membacanya dengan cara lain. Dalam hal saya, saat membacanya kali pertama, pada usia 16, tanpa kesadaran kritis apapun, saya bahkan tidak bisa mengingat lagi isinya—kemungkinan besar berhenti sebelum rampung.

Mungkin saya tidak lanjut membaca karena tidak menemukan apa yang saya cari. Apa itu? Sensasi. Pada 1973, kami—saya dan kawan-kawan sebaya—tersihir oleh Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar) yang dimuat bersambung di Kompas maupun Karmila (Marga T). Modal budaya (cultural capital—teori Bourdieu: aset non-finansial) lain adalah Rahasia Salib Mesir Kuno (Ellery Queen), serta cerita silat gubahan SH Mintardja, Asmaraman S. Kho Ping Hoo, dan kisah petualangan Karl May yang juga penuh sensasi. Tidak cukup untuk membeli Sang Guru.

Padahal cerita-cerita Gerson Poyk (1931-2017) lain yang kemudian saya baca, saya sukai justru karena sensasinya, yang sebetulnya terdapat juga pada Sang Guru—hanya saja saya sudah berhenti sebelum sampai ke halaman itu. Rupanya perbedaan format ikut berperan. Disebut roman, tentu Sang Guru lebih panjang dari cerita pendek, yang salah satu kiat penulisannya (Putu Wijaya misalnya) adalah menggedor sejak baris pertama. Soal lain, saya teringat merasa terasingkan oleh nama Frits, yang mungkin lain jadinya jika bernama Paimo.

Kini saya membacanya kembali, pada benda buku yang sama, 52 tahun kemudian, dan tersihir justru oleh kontra-sensasi sejak halaman pertama:

Aku bangun bersama matahari pagi di atas kapal yang merapat pelan-pelan ke pelabuhan Ternaté. Sepintas lalu mataku tak tertarik sama sekali pada pulau ini. Sebuah pulau yang merupakan segumpal tanah yang tersembul di atas laut, berbentuk seperti kukusan, ditumbuhi pohon-pohon pala dan kelapa yang hanya berharga kepada para pedagang dan bukan berharga secara langsung kepada seorang guru sekolah seperti aku.
Ibu kandungku yang kubawa serta sudah tentu tidak banyak tahu tentang pulau ini. Aku biarkan dia ngomong-ngomong dengan teman sekamarnya, seorang guru SKP yang baru naik dari Manado.
Aku bersandar di pinggir kapal sambil berpikir dan berangan-angan bahwa di sinilah hari-hariku akan tiba; di sinilah tenagaku yang masih muda diperlukan orang. Tidak! Aku bukan pahlawan. Rasanya bukan semata-mata orang lain yang memerlukan aku, tetapi akulah yang memerlukan sesuatu (h. 5)

………………………………………………………………………………………….

Kalimat-kalimat yang tenang dan juga terkendali itu mengantarkan cerita tentang seorang guru muda yang berasal dari Rote, tetapi mendapat penempatan di Ternate. Dengan pengalaman di berbagai kota besar, bahkan ke luar negeri karena bekerja di kapal, peran Ben yang bercerita sebagai orang pertama, mendapat kesahihan dalam posisi menilai.

Melalui sudut pandangnya pembaca dapat mengikuti pengalaman guru muda itu, yang berkisah dengan jujur, tetapi juga kritis, selain juga sentimental—dan ternyata cukup impulsif; yang belakangan ini menyalakan alur romannya, misalnya, ketika jatuh cinta dan bercinta di pantai dengan seorang guru muda lain.

Bagi saya nilai dokumenter roman ini penting, tanpa mengabaikan pencapaian bahasanya yang transparan; artinya penulisan tidak berusaha menarik perhatian pada dirinya sendiri, melainkan apa yang disampaikannya–seperti gaji guru yang berbulan-bulan terlambat dapat ditalangi oleh seorang pengusaha warung sekolah di tempatnya mengajar.

Kehidupan guru tidak mengungkap aspek pendidikan, yang tentu akan membosankan jika menggurui, melainkan gairah orang-orang muda di daerah yang pada 1960-an dalam kenyataannya terpencil. Menjadi penting bahwa daerah itu masih terbias oleh konflik bersenjata historis akibat kehadiran Republik Maluku Selatan (RMS) dan Perang Semesta (Permesta) sebelumnya, yang meski tidak membuat narator berpihak ke mana pun, menjadi penentu alur dan bahkan mengakhiri roman. Ben, ibunya, Sofie isteri barunya yang hamil, harus pindah ke Manado, melupakan profesi guru—bahkan Ben sempat menjadi tentara.

Masalah politik baru muncul belakangan. Sebelum itu, saya selalu merasa mendapatkan pemandangan eksotik dan romantik, bukan hanya Ternate, tetapi juga Rote tempat asal Ben, walau keduanya pernah saya kunjungi, sehingga seharusnya kebal terhadap eksotisme dan romantisme itu.

Aku adalah anak gembala yang hidup siang dan malam di padang-padang. Di malam hari, hidup di dangau yang dibuat di atas pohon kesambi, dan angin dari gurun Australia melengking mengebas-ngebas badan. Namun demikian, aku masih bertahan tidur nyenyak dan bangun pagi dengan badan yang sehat. Di siang hari, kataku padanya, kalau matahari mulai ‘menggoreng’ seluruh sabana dan karang-karang, aku dan teman-teman gembala menceburkan diri ke kolam-kolam yang kuning, atau ke sungai-sungai kecil yang agak dalam, dan berenang berjam-jam. Begitulah masa kecilku, masa tiada penyakit. Aku menceritakan padanya dalam perjalanan pulang ke rumahnya, tanpa malu-malu karena ia, menurut katanya sangat senang mendengar aku bercerita (h. 39).

Dari cara berbahasanya dapat ditengarai apa yang saya maksudkan, bahwa  bahasanya tidak memamerkan diri sebagai gejala susastra, melainkan sekadar bercerita. Juga untuk sesuatu yang lebih besar kemungkinannya disepakati sebagai indah, kali ini di sebuah pantai di Ternate:

Bulan-bulan pertama sudah aku lupakan. Aku sudah hapal segala hal yang bagiku penting seperti juga aku menghapal nama murid-muridku. Lambat-laun, aku jadi ingin berenang di setiap hari Minggu. Dan sudah dua bulan lamanya aku berenang terus-menerus. Anehnya, badanku tahan terhadap angin laut dan kecapaian. Pantai yang berpasir putih, buah kelapa muda dan airnya yang dingin dan manis, bunga karang dan ikan-ikannya yang berwarna-warni adalah sahabatku yang paling kucintai.
Di hari Minggu, sehabis ke gereja, aku ke jembatan untuk satu atau dua jam lamanya membawa empat biji kail yang diikat gabung, lalu kuturunkan ke bawah jembatan, ke tengah ikan-ikan yang berserakan seperti kelikir. Lalu aku melentingkan gagang kail ke atas dan terkaitlah satu atau dua tiga ekor ikan. Mengail tanpa umpan begini, dalam tempo dua jam yang dapat menghasilkan ikan satu waskom kecil. Kubawa ikan itu ke rumah dan bebaslah kami dari keharusan mengeluarkan uang belanja. Suasana hatiku tidak lagi sebagai pagi pertama, ketika aku menjadi kecil dalam keluasan laut. Sekarang serasa akulah yang memenuhi laut (h. 42).

Dua kalimat terakhir itu: Suasana hatiku tidak lagi sebagai pagi pertama, ketika aku menjadi kecil dalam keluasan laut. Sekarang serasa akulah yang memenuhi laut, merupakan perbandingan melalui lapisan-lapisan dimensional yang dapat dibaca sebagai kontruksi dimensional roman ini juga. Dari penggambaran alam dan lingkungan secara visual, selapis demi selapis masuk ke persoalan manusia, mulai dari yang personal, sosial, kemudian politis. Apa yang semula eksotis dan romantis, menjadi realistis—dalam arti yang buruk bagi kemanusiaan.

Kedua anak buahnya berkeliling rumah dalam keadaan ‘combat ready’ ketika dia masuk. “Sialan betul,” katanya. “Saya mendapat sampah-sampah RMS. Anak-anak buah saya pemberani, suka berkelahi, keras kepala. Mereka bukan polisi. Mereka perlu dididik untuk disiplin militer,” katanya dengan napas yang terengah-engah. “Mereka berkelahi di pasar karena perempuan dan judi, dengan perjurit-perjurit ingusan dari benteng VOC. Salah seorang anak buah saya ditikam dengan pisau, kemudian dia berlari ke asrama dan menghasut teman-teman dan sekelompok mereka datang kepada saya, dengan mata yang merah, mengancam saya untuk memimpin pertempuran untuk membela seorang anak buah yang ditikam oleh musuh-musuh. Saudara pikir, kalau saya tolak saat itu, mungkin saya ditembak. Sekarang harus saya atasi dengan cara licik. Saya ikuti kemauan cèlèng-cèlèng yang marah itu sekadar taktik (h. 79).

…………………………………………………………………………………………………

“Hari raya?” orang itu membelalakkan matanya. “Masa tidak pernah mendengar radio!” katanya lalu terburu-buru pergi.
“Tunggu,” kataku. Dan orang itu menoleh. “Dengar juga, tetapi hanya lagu-lagu pilihan pendengar,” kataku senyum-senyum.
“Tolol, bisa mati konyol,” katanya, “ada perang saudara,” katanya. “Daerah kita sudah jadi daerah Permésta,” katanya.
“Apa artinya?” kataku sambil meletakkan pinang muda dan kedondong isteriku.
“Artinya: Perjuangan Semésta,” katanya.
“Bagaimana dengan Ternate? Saya dari Ternate,” kataku.
“Entah, tetapi dalam keadaan sekarang, orang-orang seperti saudara dan saya tidak akan bergerak ke mana-mana!” katanya lalu membalik pergi (h. 167).

Demikianlah apa yang semula sungguh eksotik dan romantik, semakin ke tengah semakin realistis dengan berbagai masalah sosial, ekonomi, maupun politik, tepatnya separatisme, yang biasnya sahaja berlangsung brutal. Ben menjadi tentara sekadar untuk mencari makan—hanya untuk dikeluarkan karena koneksi istri yang tidak setuju, dan mengalihkan pekerjaan untuk sementara menjadi pemarut kelapa.

Menjadi jelas pula bagaimana episode kehidupan Ben menjadi bagian dari episode historis negara republik. Namun, betapapun autobiografisnya Sang Guru, sebagai roman yang berkategori fiksi (baca: bukan fiktif), karena tidak dengan sendirinya sahih sebagai deskripsi sejarah, mengundang refleksi atas hubungan susastra dan ilmu sejarah.

***

Merujuk Lukacs melalui Taufik Abdullah (“Sastra dan Ilmu Sejarah di Indonesia”, Budaya Jaya, 1976), format romanterhubungkan dengan Sehari dalam Kehidupan Ivan Denisovich (Odin den iz zhizni Ivana Denisovicha, 1962). Walau tertulis sebagai roman, Sang Guru tidak lebih panjang dari gubahan Solzhenitsyn yang oleh Lukacs disebut novela.

Dalam The Historical Novel (1968) disebutkan, dari sudut historis novela mendahului kebesaran epik dan drama dalam penaklukan realitas, justru ketika tidak berusaha menggubah segenap realitas sosial, selain faktor situasi (ekstrem) yang berkemungkinan, pada khalayak tertentu pada suatu tahap keterhubungan, yang karena berkemungkinan itu maka menjadi karakteristik dari khalayak dan tahapan tersebut. Disebutkan pula, secercah situasi penggambaran novela adalah simptom atawa simbol dari yang jauh lebih rumit dan mendalam.

Berbanding dengan struktur sosial historis zamannya, bahwa Solzhenitsyn kemudian masih mempublikasikan Bangsal Kanker  (Раковый корпус, 1966) dan Lingkar Pertama (В круге первом, 1968) sebagai novel “sesungguhnya”, maka novelanya hanya berfungsi memotret krisis sistem sosialisme negara paling terkemuka.

Sebagai pemikir Marxis, berarti Lukacs membacanya sebagai dinamik epik, antara novela (perantara) dan novel (“sesungguhnya”) dalam melihat dialektika perkembangan sosial: kemantapan (epik)—krisis (novel)—kemantapan (epik) lagi. Melalui Lukacs jelas terbaca pemikiran: bagaimana antara susastra dengan lingkungan historisnya terlibat suatu keutuhan; dan bagaimana bentuk pengungkapan estetik adalah penghadiran kembali dari segenap situasi.

Dalam konteks ilmu sejarah, keberadaan susastra mengatasi masalah metodologi ilmiah yang tidak dianggap memperkaya pengetahuan faktual. Namun bersama itu harus dicatat, betapa penekanan pada perkara empiris, tanpa kesempatan refleksi, menghilangkan kesadaran tentang relevansi.

Jadi bagaimanakah kiranya susastra dapat menjadi bukti sejarah? Dari Chomsky didapatkan pernyataan bahwa sejarah terlibat dengan makhluk yang menggunakan bahasa, sehingga struktur leksikon (perbendaharaan kosakata seseorang, suatu bahasa atau cabang pengetahuan) adalah gambaran dari struktur masyarakatnya pula.

Kesadaran atas peralihan arti dan perubahan konteks dalam penggunaan (bahasa) akan menghindarkan sejarawan dari kesalahan rekonstruksi dan integrasi. Memungkinkannya untuk lebih tepat dalam menangkap nuansa, karena manusia berlaku menurut arti yang diberikannya kepada kata.

Struktur leksikon, betapapun, meski menggambarkan adanya struktur sosial, tidak memberi aktualitas dari struktur tersebut—ini barulah terungkap, apabila kritik teks internal sudah terkait suatu analisis atas masyarakatnya tersebut.

Bagi Raymond Williams, susastra adalah “struktur perasaan” yang berakar dari hidup kolektif. Sebagai hasil kreativitas individual, menjadi bagian lingkungan yang menghasilkannya, sebagai usaha berkomunikasi dengan realitas di luar dirinya.

Susastra mempersoalkan hubungan manusia, ketika penggubah dalam keterpencilannya menjadi mungkin mengajukan bentuk baru, dari hubungan dan alternatif lain pengelompokan sosial. Demikianlah sosiologi susastra akan mengantarkan masalah ini kepada para pembelajarnya.

Lucien Goldmann lantas menyejajarkan situasi sosial dan sejarah yang konkret, untuk dihadapkan kepada penentuan struktur internal teks atawa gubahan susastra. Dari keduanya disusun suatu abstraksi pandangan dunia, sebagai bangunan (construct) yang dibentuk setelah dialog antara teks dan lingkungan sekitarnya diadakan.

Model ini dipekerjakan untuk analisis teks dan situasi sosial. Jadi terdapat prosedur yang diawali penyusunan bahan mentah, yang ukurannya dikembalikan kepada bahan yang dipakai. Mana objek mana subjek saling melibat sebagai totalitas, dalam apa yang disebut Goldmann metode struktural historis. Tersedia bagi sejarawan untuk mengembangkan kajian ilmu sejarahnya; sebagaimana dapat berlaku pula terhadap pemanfaatan disiplin lain selain ilmu susastra, seperti sosiologi, antropologi, maupun ilmu politik.

Melalui susastra, sejarawan dapat menghayati dunia makna, dan memperdalam kesadaran sejarahnya. Abdullah mengutip Sartre: susastra tidak menerangkan, sebab itu tugas filsafat—tetapi susastra memberikan pengertian, ketika imaji-imaji hadir dari suatu situasi. Dengan terlibat pada kajian susastra, penulisan sejarah mendapat peluang kemampuan penceritaan, maupun keunggulan dalam pengungkapan peristiwa—demi relevansi ilmu sejarah dalam kehidupan.

Demikianlah dari Chomsky, William, Goldmann, sampai Sartre, terlacak jejak keterhubungan gubahan susastra dengan ilmu sejarah: semenjak (1) struktur leksikon menggambarkan struktur sosial; (2) susastra menjadi alternatif pengelompokan sosial; (3) kesejajaran situasi sosial dan sejarah sebagai pandangan dunia membentuk struktur susastra; dan bahwa (4) imaji situasi dalam gubahan susastra memberikan pengertian.

Kiranya menjadi tantangan kajian dengan banyak peluang, apabila, misalnya, menghadapi teks-teks dari Sang Guru seperti berikut:

“Serdadu-serdadu Jawa, Ambon, Makasar, dan Manado membakar warungku. Dan sekarang guru-guru Manado dan Timor membikin patah batang leher anakku. Enak saja Saudara omong bawa ke Manado dan Jawa tanpa memikirkan dari mana saya dapat uang!” katanya keras sambil memegang tinjunya yang besar—tinju yang tergantung di ujung tangan seorang tukang sapu dan pengangkut karung!”
Aku menjadi gemetar. Angin laut yang bertiup kencang dan dingin ditambah dengan sore yang mulai samar membikin badan dan hatiku menjadi ciut. Tetapi hatiku masih lapang sehingga aku masih bisa berkata padanya: “Saya yang membayar semua, nanti. Saya harus bertanggungjawab. Percayalah saya, pak Ismail.”  (h. 123).

Teks di atas tampak cukup eksplisit sebagai materi literer-historis. Menyejajarkannya dengan materi faktual-historis, memungkinkan pendalaman kajian dengan nuansa yang relevan dari peristiwa sejarah.

Namun historisitas teks berikut, meski memiliki relevansi historis yang sama sebagai bagian Sang Guru, ternyata secara intertekstual membentuk historisitas susastra terpisah, seolah-olah telah menjadi pendahulu bagi gubahan susastra lain:

Melihat ia, aku pun memilih suatu tempat yang tersembunyi dan melakukan pekerjaan yang sama. Edan! – pikirku. Di rumah Frits ada tempat yang lebih baik, mengapa si kunyuk Ismail mengajak aku datang ke rumpun-rumpun pisang ini dan melakukan yang demikian? Pakai naik dokar lagi! Aku menjadi geli sendiri dan terkekeh kecil sendiri gara-gara Ismail.
“Pak guru, sini pak guru!” panggilnya.
“Hmmm!” jawabku. Setelah aku selesai aku datang padanya dan: astaga! --- Ismail sedang mengorek-ngorek kotorannya dengan copstik di satu tangan dan tangan yang lain menyumbatkan sapu tangannya ke mulut dan hidung.
“Jangan jorok dan edan, pak Ismail!” bentakku. Sekarang benar-benar kuanggap Ismail telah gila!
“Sekarang marilah kita mulai menghitung,” katanya.
“Apa yang perlu dihitung?” tanyaku keheranan.
“Mutiara yang kuselamatkan dari A Tong dan doane Manado!” katanya sambil menjongkok dan memperhatikan mutiara-mutiara itu. "Saya menelan beberapa biji dan sisanya saya kembalikan kepada yang empunya. Yakh, hidup adalah lingkaran yang anéh. Kotoran manusia menjadi pupuk untuk pisang, kelapa dan sayur mayur, yang tersedia di atas méja makan, dan demikian pula mutiara-mutiara ini yang diperoléh dari perbuatan-perbuatan kotor manusia: tembak-menembak, rusak-merusak, pembakaran, licik-melicik, penyelundupan, dan akhirnya dia menjadi modal untuk hidup kita, untuk membiayai anak saya dan untuk membuka warung di Menado!" Akhirnya semuanya terkumpul. Pak Ismail membungkusnya dengan daun pisang lalu ia bangun, "Kita mencucinya sebentar, pak,
Ajaknya lalu kami berjalan ke luar dari rumpun-rumpun pisang dan muncul di pasir putih pantai Manado yang indah dan bersih dan kemudian kami berhadapan dengan lidah-lidah gelombang.
Pak Ismail mencucinya bersih-bersih dan kemudian kami menghitungnya kembali. Kemudian kami membagi di mutiara-mutiara itu. Badan pak Ismail nampak lemas tetapi lega dan bahagia. Ia duduk di atas pasir sebentar, sambil menarik-narik nafas. '"Tadi, di rumah orang tua Frits, saya gelisah karena Mutiara ini kepingin keluar saja!" kata pak Ismail sambil menggeleng-geleng kepala.
Aku menahan ketawaku dengan perutku --- tetapi perutku mendesak-desak karena geli mengingat betapa pak Ismail menahan semua itu semenjak duduk minum kopi dan pisang goreng, dan semenjak makan nasi goreng yang dicekok lagi oleh ayah Frits, dan semenjak naik dokar (h. 150-1).

Dalam konteks historisitas-literer roman, potongan ini mendukung penembusan lapisan-lapisan dimensional yang sudah saya sebutkan: dari tampak visual eksotik-romantik, menuju realitas sosial dalam situasi politis dengan realisme brutal, dipuncaki kini oleh sarkasme humor.

Namun yang menarik perhatian secara intertekstual adalah kesejajarannya dengan cerita “Pispot” (1982) gubahan Hamsad Rangkuti (1943-2018): seseorang menjambret kalung dan menelannya, polisi berusaha mengeluarkan isi perutnya, tapi kalung itu tidak pernah ditemukan; maka, setelah keluar dari kantor polisi, peran Aku pun meminta maaf karena keliru telah menudingnya, tetapi penjambret itu mengaku, bahwa setiap kali kalung itu keluar bersama kotorannya, ia menelannya kembali.

Sama-sama dilakukan demi pengobatan anak, meski format dan bentuknya sama sekali lain, kesejajarannya bagi saya mencengangkan, karena gejala menelan kembali barang curian dari dalam kotoran itu, sepanjang saya tahu, setidaknya dalam susastra Indonesia, semestinyalah langka. Terpaut sembilan tahun data penggubahannya, sebagai kasus intertekstual saya kira perbandingannya menarik dilakukan.

Sejauh ini “Pispot” bersama sejumlah cerita lain pernah saya tengok dalam “Tinja dalam Susastra” (Kompas, 13 Mei 2001).

Sampai di sinilah, Pembaca, perbincangan roman Sang Guru gubahan Gerson Poyk untuk sementara saya cukupkan.

Pondok Ranji,
Jumat 20 Maret 2026. 13:56.

SENO GUMIRA AJIDARMA, partikelir

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement