Connect with us

Feature

KATA-KATA KETIGA: Buku Kata-kata Abai Qunanbayuly

Published

on

Di manakah letak muasal terjadinya kerenggangan antara orang-orang Kazakh, sehingga tumbuh benih kebencian dan niat buruk mereka terhadap satu sama lain? Mengapa mereka tidak tulus atas ucapan mereka, begitu malas, dan dirasuki oleh nafsu akan kekuasaan?

Orang bijak di dunia ini telah lama mengamati: Seorang pemalas, pada dasarnya, pengecut dan bertekad lemah; seorang yang bertekad lemah adalah pengecut dan sombong; seorang pembual adalah pengecut, bodoh, dan bebal; seorang bebal itu tak memiliki firasat tentang kehormatan, sementara ia yang tak memiliki kehormatan menempel pada si pemalas – ia tak pernah puas, tidak tekendali dan tidak berguna; tak ada niat baik dalam dirinya terhadap orang-orang di sekitarnya.

Muara keburukan sifat ini adalah karena kaum kita sibuk dengan satu hal saja: memiliki ternak sebanyak mungkin demi meraih kehormatan dan penghargaan. Jika saja mereka tekun bercocok tanam atau berdagang, atau pun tertarik menggali ilmu dan seni, ini tidak akan terjadi.

Orang tua, setelah memperbanyak ternaknya sendiri, mereka berusaha sekuat tenaga agar ternak milik anak-anak mereka semakin gemuk, agar ternak mereka dapat dipelihara oleh para penggembala sehingga mereka dapat berongkang kaki menikmati mewahnya hidup yang penuh kemalasan – menikmati daging dan koumiss [1] (susu kuda betina), bersenang-senang dengan wanita cantik, dan memuaskan keinginan dan kegemaran mereka terhadap kuda pacu.

Hingga akhirnya, padang rumput yang menghidupi mereka di setiap musim, kala musim dingin maupun musim panas, semakin mengecil, lalu dengan menggunakan pengaruh atau kedudukan mereka, segala cara pun dihalalkan untuk membeli, membujuk, bahkan merebut padang rumput tetangga mereka. Orang yang telah dianiaya tadi, bahkan setelah ditipu dan dibohongi, akan menekan tetangga lainnya, atau memilih untuk meninggalkan tanah airnya. Bagaimana mungkin orang-orang ini saling mendoakan?

Semakin miskin dan papa mereka, semakin murah tenaga kerja mereka. Semakin bertambah mereka yang melarat, semakin banyak padang rumput gratis di musim dingin. Tetanggaku begitu menantikan keterpurukanku, dan aku pun ingin ia merasakan kemiskinan. Sedikit semi sedikit, permusuhan tersembunyi antara kami tumbuh menjadi perseteruan yang terbuka dan pahit. Kami saling benci, berselisih hukum, terpecah belah menjadi kelompok-kelompok dan menyuap orang-orang berpengaruh untuk mendapatkan dukungan, demi memperoleh keuntungan dari lawan-lawan kami, dan kami memperebutkan kedudukan dan uang jabatan.

Seorang pecundang tak akan rela bersusah payah dan meneteskan keringat – ia akan mencari kekayaan dengan berbagai cara licik; ia tidak tertarik untuk berdagang atau menggarap tanah – satu masa ia berpihak pada atu orang, masa lain berpihak pada yang lainnya, menjual dirinya dan berada dalam kesengsaraan dan aib. Saling merampas padang rumput terus terjadi tak ada habisnya. Jika ada persatuan di antara kaum kami, mereka tak akan pernah mengampuni seorang pencuri yang menggunakan dukungan dari satu kelompok ke kelompok lain, dan terus merampik lagi tanpa tahu malu.

Para pemilik padang rumput yang jujur menjadi korban kejahatan tuduhan palsu, dan menjadi sasaran interogasi yang memalukan. Saksi-saksi yang siap bersumpah dihadirkan untuk sesuatu yang tak pernah mereka lihat atau dengar sebelumnya. Dan semua ini demi mencorengkan noda pada orang jujur agar ia terhalang mendapatkan kedudukan yang tinggi. Apabila sang terhukum, ingin menyelamatkan diri, meminta bantuan kepada bedebah lain yang sama buruknya, ia akan mengorbankan kehormatannya; jika ia menolak untuk tunduk pada mereka, ia akan dituntut secara tidak adil; hingga akhirnya datanglah padanya penderitaan, kekurangan, dan kesulitan, ia pun tak kuasa menemukan jabatan dan pekerjaan yang layak baginya.

Setelah menggenggam kekuasan dengan kecurangan dan tipu daya, kepala desa menghindari orang-orang jujur nan sederhana bagaikan menghindari wabah, dan mencari sekutu orang-orang yang serupa dengannya, licik dan jahat, yang sesungguhnya pun ia akan melawannya.

Lahirlah pepatah baru: Yang menentukan itu orangnya, bukan persoalannya. Dengan kata lain, kesuksesan tidak tergantung pada kebenaran sebuah persoalan, tetapi pada kecerdasan orang yang terlibat.

Para kepala desa yang terpiih menjabat selama tiga tahun. Mereka menghabiskan tahun pertama di kantor mendengarkan berbagai jenis keluhan dan pengaduan: “Jangan lupa kami memilihmu!? Di tahun kedua waktu mereka pun habis memikirkan cara melawan calon saingan, dan tahun ketiga mereka kembali ikut kampanye pemilihan.

Kemudian apa yang tersisa?

Melihat kaumku tenggelam lebih dalam dan semakin dalam ke jurang perselisihan, akhirnya ku tiba pada kesimpulan bahwa kepala desa seharunya dipilih dari orang-orang yang setidaknya memiliki pendidikan Rusia, sedikit apa pun. Jika tidak ada, atau hanya segelintir orang yang tidak ingin dicalonkan, maka biarlah kepala desa ditunjuk oleh pemerintah daerah dan gubernur militer. Ini akan bermanfaat dalam beberapa hal. Pertama, orang Kazakh yang ambisius akan memastikan anak-anak mereka mengenyam pendidikan; kedua, kepala desa tidak lagi tunduk pada keinginan tokoh-tokoh setempat, tetapi menjalankan perrintah mereka dari otoritas yang lebih tinggi. Untuk menghindari keberatan dan pengaduan yang tak terelakkan, orang yang ditunjuk tidak boleh terkait dengan kekuasaan atau pengesahan lokal apa pun.

Kami telah berkesempatan untuk melihat betapa sia-sianya pemilihan hakim di setiap desa. Tak semua orang mampu menegakkan keadilan. Memimpin pengadilan adalah “bagaikan berada di puncak Gunung Kultobe”, seperti yang kita katakan, penting untuk mengetahui bahwa semua hukum diturunkan dari leluhur kita: “Radiant Pathway (Jalan Terang) oleh Kasym-khan”, “Ancient Pathway (Jalan Kuno)” oleh Esim-khan, dan “Steven Canons (Tujuh Hukum Agama) oleh Az Tauke-khan. Bahkan hukum-hukum ini pun sudah menjadi kuno dan ketinggalan zaman seiring berlalunya waktu dan butuh perubahan serta orang yang bisa menerjemahkannya dengan tepat, meskipun tak banyak, jika ada, dari kaum kita sendiri.

Mereka yang paham dengan cara Kazakh pasti berkata: “Ketika dua hakim berkumpul, pasti akan ada empat perselisihan”. Kurangnya hakim agung dan banyaknya hakim yang menangani kasus perselisihan hanya akan mempersulit keputusan. Untuk apa menambah jumlah hakim? Tidakkah lebih baik memilih tiga orang yang berpendidikan dan cerdas di setiap desa untuk masa jabatan yang tidak terbatas, dan menggantikan mereka jika perilakunya tidak pantas?

Biarlah perselisihan hukum diselesaikan oleh dua mediator, satu dipilih oleh masing-masing pihak, dan seorang perantara yang diterima oleh keduanya. Jika kebenaran tak mampu diraih dan kesepakatan tak bisa digapai, barulah sengketa tersebut dibawa ke salah satu dari tiga hakim tetap. Dengan demikian tuntutan hukum tak akan berlangsung lama dan berlarut-larut.

Catatan kaki:

[1] Koumiss: susu kuda betina ]

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement