Connect with us

Kabar

Tusuk Konde, Antara Fungsi Budaya dan Mistis

Published

on

Gde Mahesa

Tusuk konde biasa dipakai pada rambut yang di sanggul, para wanita zaman dulu sering menggunakan tusuk konde ini pada rambutnya. Namun masa sekarang hanya dipergunakan pada saat acara-acara tertentu, sebab trend fashion wanita sekarang cenderung berkerudung, dan melupakan adat tradisi budayanya.

Secara budaya, tusuk konde juga memiliki makna simbolis seperti kesucian, harapan masa depan yang berkah, status sosial, serta aspek moral dan spiritual. Beberapa budaya menambahkan makna lain, seperti kesabaran dan ketulusan dalam pembuatannya, serta penanda status pernikahan. 

Selain di Indonesia, perempuan negara lain yang juga memakai tusuk konde adalah Jepang. Dihiasi dengan permata, sehingga menambah cantik tatanan rambut. Di Jepang, tusuk rambut dikenal dengan nama kanzashi yang dianggap sebagai hiasan rambut tradisional.

Pada 12.000 – 300 Sebelum Masehi (SM), masyarakat setempat percaya bahwa kanzashi memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh jahat.

Sedangkan, perempuan bangsa Mesir menggunakan tusuk konde berhias dan terbuat dari emas merupakan hal umum.

Tusuk konde kayu juga ditemukan dalam budaya Romawi, hal mana menunjukkan bahwa alat tersebut banyak dipakai di kalangan masyarakat.

Di Indonesia, salah satu tokoh yang sering kali terlihat menggunakan tusuk konde dalam berbagai kesempatan adalah almarhumah Ibu Tien Soeharto (istri Presiden RI ke 2).

Khasiat tusuk konde beragam, mulai dari fungsi praktis sebagai aksesoris rambut dan penguat sanggul, hingga makna filosofis dan magis yang diyakini oleh sebagian orang.

Secara umum, tusuk konde berfungsi sebagai pemanis penampilan, pelengkap busana adat, simbol keanggunan, dan bisa juga dianggap sebagai alat untuk meningkatkan rasa percaya diri, terutama pada penari atau acara sakral.

Di sisi lain, ada pula kepercayaan akan khasiat magisnya seperti pemikat.  

Dalam kepercayaan lain, tusuk konde dapat menjadi penangkal atau pelindung terhadap gangguan gaib, bahkan terkait dengan kewibawaan seseorang. Sejarah juga mencatat, ada jenis tusuk konde (patrem) yang juga berfungsi sebagai senjata tersembunyi untuk bela diri kaum wanita.

Tusuk konde juga mengandung makna moral dan spiritual. Misalnya, jumlah cunduk mentul yang merupakan sejenis tusuk konde pada pengantin Jawa melambangkan rukun Islam (lima), trimurti (tiga), atau wali songo (sembilan).

Namun sebaliknya dalam dunia perdukunan, tusuk konde dapat dipakai sebagai media santet, dimana merupakan jenis ilmu hitam yang terkenal paling kuat, diyakini berasal dari Pulau Jawa.

Santet ini menggunakan tusuk konde sebagai alat utama untuk menyakiti target.
Menurut kepercayaan masyarakat, tusuk konde yang sudah diritualkan bisa menjadi ‘senjata gaib’ yang dikendalikan oleh dukun. Korban santet ini akan mengalami berbagai macam penyakit aneh yang sulit disembuhkan.

Dalam prosesnya, dukun biasanya meminta tumbal sebagai syarat, seperti kerbau hitam atau ayam cemani. Hewan-hewan ini dipercaya memiliki energi mistis yang memperkuat efek santet.

Namun jangan  khawatir dengan ilmu hitam ini, ada beberapa cara yang dipercaya bisa menangkalnya :

  1. Beriman dan berdoa agar terhindar dari energi negatif.
  2. Gunakan benda pelindung seperti garam, bambu kuning, atau rajah yang dipercaya bisa menangkal santet. 
  3. Taburkan garam, bakar dupa, atau tanam pohon bidara untuk menangkal energi negatif.
  4. Menghindari konflik dengan siapa pun.
  5. Yang paling menarik, konon tusuk konde amat sangat dapat mempengaruhi kecantikan. Tak tanggung-tanggung karena tusuk konde menjadikan kecantikan Ratu laut selatan Nyai Roro Kidul tak pernah pudar, serta awet muda.
  6. Percaya atau tidak, semua kembali kepada keyakinan masing-masing. Yang terpenting adalah selalu menjaga pikiran positif dan melindungi diri dengan cara-cara yang baik, jangan lupa sruputtt kopi pahitnya bullll bullll klepussss….
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *