Siraman Rohani dan Memori ala Al Fath 09

 Siraman Rohani dan Memori ala Al Fath 09
Belakang dari kiri: H. Sutiyono. H. Hariyadi, H. Hafifie, H. Pri, H. Wardoyo, H. Royani, ustadz Darmawan, H. Joko, H. Roso Daras, H. Adhe Fajar, dan H. Muhsin T. Assegaf. Tengah: Hj. Harry Mulyati, Hj. Yane, Hj. Asri Kahar Muang, Hj. Cici, Hj. Yuni, dan Hj. Mira. Duduk depan: Hj. Dian, Hj. Fie, Hj. Najmah, Hj. Wiwied, dan Hj. Nur. (foto: istimewa)

Jayakarta News – Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah “persaudaraan alumni haji”. Wajar jika para jamaah haji Maktour Al-Fath-09, merasa perlu untuk merayakan “persaudaraan haji” yang sudah terajut satu dasa warsa lamanya.

Minggu (8/9/2019) siang kemarin, keluarga persaudaraan Haji Al Fath 09 berkumpul di kediaman H. Wardoyo – Hj. Mira, di Jl. Munggang, Condet, Jakarta Timur. Acara siang itu menjadi istimewa, karena dihadiri ustadz Darmawan yang akrab disapa Dai Wawan atau Gus Wawan. Ia datang langsung dari Dumpiagung, Kembangbahu, Lamongan, Jawa Timur, tempat ia tinggal sehari-hari sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Hikmah.

Ketua persaudaraan Haji Al Fath 09, H. Sutiyono membuka acara dengan mengilas balik kebersamaan 10 tahun lalu, sebagai tamu Allah. Ia mengajak semua yang hadir bersyukur, karena kebersamaan 10 tahun lalu, masih terjaga hingga hari ini, dan insya Allah seterusnya.

“Sudah tidak terhitung berapa kali kita bersilaturahmi. Dari mulai yang banyak peserta, sampai yang ‘empat-L’, lu-lagi-lu-lagi. Tap alhamdulillah, hari ini tidak lagi ‘empat-L’, tapi banyak L. Sungguh siang ini sangat membanggakan sekaligus mengharukan,” ujar penghobi golf yang dinobatkan teman-teman hajinya sebagai ‘ketua abadi’ itu.

Persaudaraan haji Al-Fath 09, memiliki anggota di banyak kota, mulai dari Jakarta dan sekitarnya, Medan, Surabaya, Bandung, Malang, Solo, Lampung, Kalimantan dan lain-lain. Silaturahmi pun tidak selalu diselenggarakan di Jakarta, tetapi pernah juga di Medan, Surabaya, Bandung, Batu (Malang), dan kota-kota lain. “Mudah-mudahan, anggota Al-Fath 09 bisa silaturahmi ke ustadz Wawan di Pondok Pesantren Bustanul Hikmah, Lamongan,” ujar Pak Ketum, disahut “amin” hadirin.

Lalu, dengan permohonan memimpin doa bersama untuk saudara-saudara Al-Fath 09 yang sudah wafat, mic pun diserahkan kepada ustadz Wawan. Sebelum memulai tausyiahnya, ustadz Wawan pun memimpin doa untuk almarhum Zainal Abidin, almarhum Bambang Widyastomo, dan almarhum Murdani. Usai berdoa, ustadz Wawan mulai menyirami rohani jamaah yang hadir.

Ustadz Darmawan memberi tausyiah. (foto: sutiyono)
Dari kiri: Udtadz Darmawan, H. Hafifie, H. Wardoyo, H. Roso Daras, H. Joko Suharjo, dan H. Hariyadi Soepangkat. (foto: istimewa)

Mendengarkan ustadz Wawan memberi tausyiah, serasa mendapatkan dua siraman yang menyejukkan sekaligus menyegarkan. “Dapat dua sekaligus. Siraman rohani dan siraman memori. Yang pertama, tausyiahnya menyentuh hati, dan kedua, sosok dan kehadirannya mengingatkan kita pada perjalanan ke Baitullah sepuluh tahun lalu,” ujar H. Muhsin T. Assegaf yang hadir bersama istri, Hj. Najmah Shihab.

Ditambah, ustadz Wawan pun memiliki memori yang cukup baik untuk segera mengenali satu per satu jamaah yang pernah dibimbingnya dulu. Ustadz murah senyum ini, tahun 2009 adalah salah satu muthawif Maktour yang mendampingi jemaah haji Al-Fath. Waktu itu, usianya 29 tahun, dan sedang menyelesaikan program doktoralnya. Tidak saja membimbing selama prosesi haji, tetapi juga acap memberi kultum di sejumlah kesempatan, seperti di dalam bus saat bersafari, atau saat jamuan makan malam di hotel. Artinya, sosoknya begitu lekat di benak jemaah Al Fath 09.

Kini, Doktor Darmawan, selain muthawif Maktour, juga pengasuh Ponpes Bustanul Hikmah dan pengajar UIN Sunan Ampel Surabaya, prodi Manajemen Zakat dan Wakaf. Nyaris tidak ada yang berubah. Tetap murah senyum, lembut tutur kata, santun, dan bernas dalam membawakan topik ceramah. Lebih dari itu –kecuali sebagian rambutnya yang mulai menipis di bagian depan—secara postur, ia masih seperti 10 tahun lalu.

Lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1999 itu tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada H. Wardoyo dan Hj. Mira sebagai tuan rumah. Atas undangannya pula, ia bisa bersilaturahmi dengan para jamaah Al Fath 09.

Siang itu, ustadz Wawan membawakan tema “nata ati” (menata hati). Intinya, adalah sia-sia sholat kita, sedekah kita, dan semua amalan baik kita jika hati tidak bersih. Karenanya, ada lima kotoran hati yang harus dibuang dari dalam hati. “Yang pertama, buang rasa benci dari dalam hati kita. Jangankan kepada saudara, teman, kerabat atau orang-orang yang kita kenal. Bahkan kepada musuh sekalipun kita dilarang membenci,” ujarnya.

Yang kedua, rasa sombong. “Indikasi paling sederhana adalah, manakala kita masih merasa penting untuk dihormati, itu tanda-tanda kesombongan. Lalu yang ketiga adalah sifat iri. Seperti pameo yang sering kita dengar, ‘susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah’,” tambahnya.

Kotoran hati yang keempat adalah riya’, sebuah perasaan ingin dipuji dan senang pamer. Hal kelima adalah pikiran negatif. “Mulailah untuk menghapus kata suudzon dan mengganti dengan husnudzon. Hapus prasangka buruk, dan ganti hanya dengan prasangka baik,” tegas Gus Wawan sambil mengutip hadits atau contoh-contoh kisah inspiratif yang menarik.

Berkali-kali dai Wawan menekankan, betapa sia-sia sholat lima waktu kita, sholat tahajud kita, sholat dhuha kita, sholat-sholat sunah kita jika hati kita masih kotor, jika hati kita masih menyimpan rasa benci, sombong, iri, riya’, dan suudzon. “Ada hijab, atau penghalang, atau tabir yang menghambat semua amalan kita,” tandasnya.

Tausyiah singkat yang begitu mengena. Dibawakan dengan sangat baik, hingga tak terasa ketika Dai Wawan mengakhirinya. Tak terasa pula, pertemuan yang dijadwal pukul 11.00 itu melaju cepat hingga matahari lekas condong ke barat. Jamaah Al Fath 09 sempat dua kali sholat berjamaah, dhuhur dan ashar dengan imam ustadz Darmawan.

Berdiri: Hj. Yuni, Hj. Dian, Hj. Mira, Hj. Wiwied, Hj. Asri Kahar Muang. Duduk: Hj. Yane, Hj. Najmah, Hj. Cici, Hj. Harry, dan Hj. Fie. (foto: istimewa)
Ibu-ibu Al-Fath 09 dari kiri: Hj. Asri Kahar Muang, Hj. Cici, Hj. Najmah, Hj. Wiwied, Hj. Yuni, Hj. Dian, dan Hj. Harry di meja hidangan. (foto: istimewa)

Makan siang pun terhidang aneka menu. Ada nasi liwet, urap, bakso malang, dan yang spesial nasi briyani buah tangan H. Joko Suharjo dan istri, Hj Fie Roeskandar. “Istri saya spesial masak nasi briyani, untuk menyempurnakan nostalgia kita di Tanah Suci,” ujar H. Joko sambil tertawa.

Belum lagi aneka jajan tradisional buah tangan H. Sutiyono dan Hj. Harry Mulyati. Mirip-mirip gathering ala potluck, beberapa jamaah hadir lengkap dengan buah tangan. Sementara, Hj. Mira sebagai tuan rumah pun tak kurang dalam menyiapkan aneka hidangan, minuman, dan cemilan. H. Wardoyo menyempurnakannya dengan sajian durian musang king yang istimewa. Tidak cukup dengan itu, ia menambahkannya dengan sajian durian monthong.

Reaksi hadirin lucu-lucu. Ada yang terbelalak ingin menyantap, tetapi sadar usia dan hanya bisa menelan ludah. Ada yang membaui saja tidak mau. Ada yang niatnya mencicip satu pongge, tapi nambah dan nambah lagi.

Syahdan, ketika satu per satu tamu pamit, sejumlah jamaah masih tinggal, di antaranya H. Hariyadi dan Hj. Cici yang datang dari Surabaya. Mereka ditemani Ketum H. Sutiyono dan Hj. Harry, H. Joko dan Hj Fie.

Saat H. Hariyadi rebahan di karpet, Ketum Sutiyono “meninabobokkan” dengan lantunan lagu merdu Broery Marantika dan Dewi Yull dari monitor karaoke set. Adalah Hj. Fie yang berperan sebagai Dewi Yull.

Ketum H. Sutiyono “Marantika” dan Hj. Fie “Dewi Yull” karaokean. (foto: mira)

Sungguh, potret persaudaraan haji yang terpelihara dengan baik. Berbagai kegiatan bersama, diyakini telah merekatkan semua anggota. Berbanjir-banjir di sejumlah titik di Jakarta saat menyerahkan bantuan, menjadi pengalaman batin bersama yang membekas. Tetes air mata saat menyambangi korban tsunami Banten, pun menjadi pengalaman rohani kolektif. Satunya tekad menjadi insan-insan bermanfaat bagi manusia yang lain, kiranya makin merekatkan jalinan silaturahmi yang telah terbina. (rr)

Santai di teras. Dari kiri: H. Wardoyo, H. Roso Daras, H. Sutiyono, H. Joko, H. Pri, dan H. Hafifie. (foto: mira)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *