Di Balik Syuting Dokumenter UPJA di Klaten

 Di Balik Syuting Dokumenter UPJA di Klaten
Sekda Klaten Jaka S (baju putih), Wawan dan Intan sedang melakukan reading untuk syuting panen padi. (foto: teguh)

Jayakarta News – Kemajuan pertanian berkat penggunaan peralatan modern di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah perlu ditularkan ke daerah lain. Untuk itu Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian secara khusus membuat film dokumenter berdurasi 9.5 menit yang nantinya akan ditayangkan di IG TV.

Angka durasi 9.5 menit bukan kebetulan. Tapi telah dilakukan riset terlebih dahulu dan hasilnya angka tersebut yang paling optimal. ”Saya maunya nanti hasil video dokumenter itu berdurasi 9, 5 menit. Karena akan ditayangkan di IG TV, ” tutur Sumadi dari Ditjen PSP.

Demi mendapatkan hasil yang maksimal, Sumadi secara khusus mengawal syuting yang dilakukan di Desa Jimbung. Bukan hanya itu, Sumadi juga yang menentukan pemeran traveler dalam cerita video dokumenter tersebut.

Sebelum syuting dilakukan, tim produksi yang terdiri dari Teguh Yuswanto, Jufri Marzuki, Kiting, dan Syahidan Abdullah mengkondisikan lokasi syuting. Menentukan angle pengambilan gambar dan alur cerita dalam video dokumenter tersebut.

Kiting, sutradara sedang memberi pengarahan kepada petani yang sedang membajak swah dengan traktor. (foto: teguh)
Kiri: Kiting memberi arahan kepada Intan seputar dialog penanaman padi dengan mesin. Kanan: Intan sedang belajar menanam padi dengan mesin. (foto-foto: teguh)

Kiting yang didapuk sebagai sutradara dalam pembuatan video dokumenter ini sengaja memulai cerita dengan seorang traveler yang diperankan Intan, terkagum-kagum melihat kondisi pertanian Desa Jimbung. Dalam video itu diceritakan, Intan tengah duduk di sebuah gubuk di tepi sawah. Di tangannya ada catatan tentang perjalanan dia selama ini. Di sampingnya ada tas ransel miliknya. Tak lupa sebuah kacamata hitam yang tegantung di baju kotak-kotak merah dari bahan flanel.

Intan yang cantik tampak tekun menuliskan catatan di buku hariannya. Matahari pagi yang membawa semangat dan keceriaan cahayanya menerpa wajah Intan. Intan lalu bangkit dari gubuk itu. Dia berjalan penuh ceria dan kekaguman atas pertanian di Desa Jimbung yang maju. Saat berjalan Intan bertemu seorang ibu tua yang masih sanggup menuntun sepedanya.

“Jadi ceritanya, Intan ini seorang traveler yang telah menjelajah ke mana-mana. Dia juga seorang pecinta lingkungan. Dia tertarik dan kagum pada Desa Jimbung yang telah menggunakan alat pertanian modern. Kekaguman itu dituangkan dalam buku dan ekspresi wajahnya,” tutur Kiting sebagai sutradara.

Karena kagum, masih menurut Kiting, sosok traveler ini sengaja secara khusus ingin melihat lebih detil sistem penggunaan alat-alat pertanian itu. Intan juga memperhatikan kesibukan seorang petani yang sedang membajak tanah dengan traktor roda dua. Intan juga langsung mencari patok sawah yang sedang proses penanaman bibit padi dengan mesin tanam atau planter.

Karena merasa penasaran, Intan bahkan ikut mencoba menanam dengan mesin tanam bibit tersebut. Tentu saja si petani dengan suka-cita mengajarkan cara menanam bibit dengan mesin. Pasalnya di Desa Jimbung banyak anak muda yang tidak tertarik lagi pertanian. Sehingga hadirnya Intan yang mau belajar memggunakan mesin itu diharapkan bisa menginspirasi pemuda desa lain.

“Betapapun dalam video itu, Intan seorang traveler yang suka pada pemandangan indah. Maka kita ambil gambar Intan saat mengunjungi Bukit Potrum salah satu obyek wisata di sana,” tambah Kiting lagi pada Rabu (4/9) lalu.

Suasana diskusi bedah naskah untuk syuting esok hari. (foto: teguh)
Kiri: Kiting sedang mengrahkan Intan sebagai pemeran traveler di video dokumenter ini. Kanan: Kiting sedang memberi arahan kepada Syahidan Abdullah (DOP) sesaat sebelum syuting dilakukan. (foto-foto: teguh)

Video dokumenter ini sesungguhnya lebih sebagai video tutorial alat-alat pertanian. Video Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian atau UPJA, tapi dikemas secara halus. “Jadi yang menjadi obyek dalam video dokumenter ini adalah alat-alat pertanian. Kehadiran Intan sebagai seorang traveler lebih sebagai jembatan dalam menjelaskan alat-alat pertanian modern ini, ” kata Sumadi memberi pengarahan.

Itu sebabnya, Sumadi mewanti-wanti agar detil-detil video alat pertanian yang diambil secara close up tidak diabaikan.

Kiting salah satu sutradara muda yang mempunyai potensi. Dia sangat memahami keinginan user yang ingin menyampaikan pesan ini bisa diterima oleh kaum milenial.

Tentu saja tidak lengkap jika Intan tidak menyaksikan masyarakat Jimbung sedang memanen padi dengan alat pemetik padi.

Syuting bisa dikatakan dilakukan selama dua hari. Hari pertama tim mengambil gambar persawahan Desa jimbung. Kemudian sore hari hingga malam Sumadi memberi pengarahan tentang syuting yang akan dilakukan pada keesokan harinya.

Video dokumenter ini makin berbobot dengan kehadiran Sekda Kabupaten Klaten, Jaka S  yang menyaksikan syuting video dokumenter sekaligus berperan sebagai dirinya dan menyampaikan solusi untuk pertanian di Desa Jimbung pada khususnya dan Klaten pada umumnya. (teguh)

Kiting yang juga merangkap kameraman dan Syahidan mengambil gambar Intan secara close up. (foto: teguh)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *