JAYAKARTA NEWS— Menteri BUMN Erick Thohir berkesempatan menonton gala premier (galprem) film ‘Lembayung’ di Studio 1 Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Jumat (13/9/2024). Didampingi stafnya, Erick Thohir tampak enyoy menikmati film horor karya debut sutradara Baim Wong ini.
“Ceritanya diangkat dari thread horor ‘Jin Poli Gigi’ yang ditulis oleh Pica di medsos Twitter,” kata Erick yang duduk bersebelahan dengan Baim Wong dan Emilka Chaidir selaku produser di bioskop yang megah di Jaksel ini.
“Saya menilai pak Baim Wong punya talenta luar biasa sebagai sutradara. Para pemain juga mampu bermain elok dan bagus walau dari sisi ceritanya cukup menyeramkan,” ungkap Erick Thohir yang memang kerap nonton beberapa film nasional yang baik dan bermutu.
Beberapa pemeran seperti Oka Antara, Arya Saloka, Yasamin Jasem, Taskya Namya, Anna Jobling (aktris dari Malaysia), Wulan Guritno dan Erik Estrada mengaku film ‘Lembayung’ sebagai film horor yang berbeda.
“Di sisi lain, Lembayung juga banyak mengupas sisi-sisi humanis manusia yang jarang diangkat ke layar lebar,” tutur Arya Saloka yang berperan sebagai dokter Teto. Baim Wong yang juga aktor terkenal menjelaskan ketika syuting di Jogjakarta, skenario kerap diubah.
Baim Wong (kanan) dan Arya Saloka (kiri) yang bermain apik (foto tiger wong)
“Plot alias alur cerita sering saya ganti jadi begini begini yang berbeda dari cerita awalnya. Tentu, sebelumnya saya berkonsultasi lebih dulu dengan produser dan beberapa pemeran. Bagaimana kalau kayak gini ya. Enaknya begini begini enggak yang begitu begitu,” timpal Baim Wong yang pernah memproduseri film ‘Berbalas Kejam’.
Kisah cerita yang penuh kejanggalan dan kengerian terjadi di Klinik Lembayung. Runutan kejadian tragis menimpa dua perawat magang (PKL) bernama Arum dan Pica di poli gigi. Saat Arum kerasukan, Pics berusaha membongkar misteri Klinik Lembayung sebelum sahabatnya menjadi korban. (pik)
JAYAKARTA NEWS – Istri
aktor Baim Wong, Paula Verhoeven (31 tahun) kini tengah hamil satu bulan, setelah mengalami keguguran
sebelumnya.
“Puasa Ramadan di hari pertama (6/5/2019) lancer dan saya enggak mengalami apa-apa. Baru puasa di hari kedua, ketiga dan seterusnya, saya mengalami pusing-pusing dan mual. Mas Baim sarankan, saya ke dokter kandungan dan saya dianjurkan enggak usah puasa. Toh di hukum Islam, bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui anaknya, tidak diwajibkan berpuasa,” kata Paula di sela-sela acara peragaan busana merayakan ultah ke I Supermodels Project, di La Moda Cafe, Plaza Indonesia, Jakarta, Minggu (12/5).
Kini, setelah minum obat, Paula lebih tenang dan jalan kaki
pun, tidak perlu terburu-buru. “Kalau perlu, saya hanya mengenakan sepatu
kets, tidak boleh high heels (sepatu hak tinggi),” ujar Paula yang dalam dirinya mengalir darah
Belanda-Tionghoa dari ayah (Eddy Verhoeven) dan Jawa Semarang (Herlina).
Meski demikian, Paula tetap bangun pagi dan menamani Baim
Wong sahur. “Mas Baim paling suka makanan yang panas dan mengurangi
minuman dingin. Untungnya, dia juga enggak merokok dan minum kopi,” ungkap
Paula yang pernah membintangi film ‘Supernova’.
Alumnus London School of Public Relation jurusan Kehumasan
tahun 2005-2009 ini sebenarnya ingin berpuasa pol tahun ini. Tapi mengingat
dirinya sedang hamil, dia lebih memerhatikan kesehatan jabang bayinya.
“Nanti kalau anak saya sudah lahir dan sudah besar,
kalau dibolehkan, saya akan berpuasa lagi. Juga, saya akan mengajarkan salat
dan membaca kitab suci Al Quran kepada anak saya,” papar Paula yang rajin
beribadah lima waktu (ketika menanti acara, Paula aktif menjalankan salat ashar
dan salat magrib di lantai atas Plaza Indonesia).
Anda rajin
beribadah, siapa yang mengajarkan Anda ? “Sejak kecil, saya sudah salat
lima waktu sama ibu saya di Semarang. Bahkan, ayah memanggil guru mengaji ke
rumah. Setelah saya menikah dan hengkang ke Jakarta, saya tentunya salat sama
suami saya, mas Baim Wong. Belakangan, mas Baim Wong juga menyarankan agar saya
memakai jilbab. Tapi saya belum siap,” imbuhnya.
Mengingat namanya yang beraroma Belanda, banyak yang mengira
(termasuk penulis), Paula Verhoeven itu non-muslim. Bahkan, suaminya, Baim Wong
sejak awal akan dikenalkan lewat ‘comblang’ Teuku Zacky, menyangka Paula itu
bukan seorang muslimah.
Maklum, kala itu Baim Wong usianya sudah 37 tahun dan belum
menikah (malah Baim Wong dijuluki Raja Jomblo). Dengan Marshanda, hubungannya
putus dan Marshanda menikah dengan pria lain. Ini kok Teuku Zacky mau
mengenalkan dirinya dengan wanita non-muslim ?
Namun, sahabat-sahabatnya seperti Zaskia Sungkar dan Raditya
Dika memberi semangat dan kepercayaan bahwa Paula Verhoeven itu beragama Islam.
Kalau tidak percaya, Baim Wong boleh buka Google.
“Lalu, saya googlingan. Ternyata, dugaan saya salah dan
omongan teman-teman saya benar. Ada foto Paula Verhoeven sedang pakai jilbab
dan menjalankan ibadah umroh ke tanah suci bersama teman-temannya. Yahhh….
menyesal deh saya… kemudian saya mengadakan ‘pdkt’ lebih atraktif ke Paula.
Yang lucu, Paula juga cari informasi lewat Google. Dikatakan, Baim Wong itu
gonta ganti pacar dan playboy, walau orangnya baik. Pokoknya, peristiwa saling
cek dan ricek ini akhirnya gol.
Persahabatan terjadi dan Paula dilamar, dan puncaknya, Baim Wong menikahi Paula
Verhoeven tahun 2018.
Paula yang tingginya 1.82 meter ini, mengukir prestasi
melalui jenjang paling bawah : juara II Abang None Jakarta Barat (2006), juara
harapan 3 Abang None Jakarta tingkat Nasional (2006), juara I Voice of Asia
(2012), berkarir menjadi peragawati di Singapura (2014) dan dikontrak agency di
Milan-Italia selama tiga bulan dan terjun ke dunia film.
Mantan model Elite Look Model sejak usia 16 tahun ini
terakhir membuka usaha Sekolah Model Supermodels Project bersama Kelly
Tandiono, Dominique Diyose, dan Laura Mulyadi tahun 2018 di Melawai, Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan. Puluhan anak didiknya kini sudah banyak yang menjadi
model terkenal dan mengisi acara-acara peragaan busana di Jakarta dan kota
lain. (pik)
Satu lagi film terbaru yang akan tayang di awal September 2018 berjudul JEJAK CINTA. Rumah produksi Trazz Production dan Scene Film akan membuat film layar lebar yang mengangkat cerita tentang penyakit kanker serviks.
Sejumlah aktor dan aktris ternama terlibat di dalam film yang tayang pada 6 September 2018 mendatang. Mulai dari Baim Wong, Prisia Nasution, Mathias Muchus, Della Perez, dan Zora Vidayanata.
Menurut sang sutradara, Tarmizi Abka mengatakan, film ini sangat menarik ditonton. Pasalnya, banyak pesan positif yang bisa diambil dari jalan cerita tersebut.
“Film JEJAK CINTA membawa pesan bagi para wanita yang terkena kanker serviks untuk menyikapi penyakit tersebut secara positif. Pada saat bersamaan, film ini juga mengusung pesan kepada para wanita untuk mencegah dan menghindari penyakit kanker serviks tersebut,” kata Tarmizi Abka, belum lama ini.
Film ini memvisualkan beberapa objek wisata di Singkawang, Kalimantan Barat, seperti pawai tatung dan naga-nagaan dalam perayaan Cap Go Meh menarik dilihat. Selain itu, juga ada ramalan perjodohan di kelenteng dimana Prisia diramal bakal berjodoh dan menikah dengan Baim Wong. ‘Jejak Cinta’ didedikasikan untuk almarhumah Julia Perez (Jupe) yang wafat tahun silam karena kanker serviks. (pik).
BUKAN rahasia lagi kalau film horor adalah salah satu genre populer di Indonesia. Untuk genre tontonan di layar bisokop Indonesia ini, film “Gentayangan” siap tayang.
Film yang antara lain dibintangi Baim Wong, Nadine Alexandra, dan Christ Laurent ini bertutur tentang kisah satu keluarga yang terpaksa tinggal di sebuah hotel karena usahanya yang bangkrut.
Baim Wong sendiri sudah merasakan kejanggalan pada hotel warisan yang sebenarnya ingin ia jual tersebut. Namun, berbagai kejadian buruk berdatangan.
Di tengah cerita, sebenarnya ada seorang kakek tua yang sudah mengingatkan Abimanyu, Baim Wong untuk segera keluar dari tempat tersebut.
Namun karena penyelidikan kepolisian masih harus tetap berjalan, dirinya dan keluarga harus tetap berdiam di sana hingga waktu yang tidak ditentukan.
Gentayangan sendiri diproduksi oleh sutradara asal India, yakni Shyam Ramsay yang sudah pernah menyutradarai film Bandh Darwaza dan Nagin di akhir tahun 1990-an.
Meski dikemas dengan alur cerita yang sudah bisa ditebak, tetapi film ini cukup mendetail menampilkan suasana menyeramkan di sekitar hotel yang mampu meneror perasaan penonton. [Ipik Tanoyo]
KOMIKA, sutradara sekaligus aktor Raditya Dika telah resmi menikahi kekasihnya, Anissa Aziza di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Jakarta, baru baru ini.
Pria berusia 33 tahun ini kini telah bahagia sudah bisa melepas status jomblo dan menjadi seorang suami. Resmi menikah, julukan Raja Jomblo, yang dinobatkan oleh warganet kepada Radit, otomatis hilang.
Radit pun dengan bangganya memamerkan buku pernikahan yang dimilikinya dalam akun instagram. Dia memposting foto pernikahannya berdua bersama Annisa, sambil memegang buku nikah. “Buat yang gak tahu, ini namanya buku nikah,” tulis Radit di akun instagramnya, @raditya_dika.
Para warganet langsung membanjiri postingan Radit tersebut dengan ucapan selamat. Postingannya tersebut bahkan mendapat 1,2 juta like. “Congratulations ka dikaa,” kata seorang warganet.
“Oh itu ya buku nikaah ????” tulis warganet lainnya.
Seorang warganet dengan bercanda mempertanyakan apakah benar Radit sudah menikah, dan bukan tengah syuting film. “Nikah beneran kan ini? Bukan film kan?” katanya.
Gelar Raja Jomblo kini diserahkan kepada Baim Wong. Hal itu diutarakan Radit usai akad nikah. “Ya, bersama dengan terlaksananya akad nikah ini maka tanggung jawab itu (raja jomblo) gue serahkan ke Baim Wong,” kata Radit. ***
Egy Massadiah, di antara Joko Widodo (ketika itu Gubernur DKI Jakarta) dan Jusuf Kalla (Ketua Umum PMI). Foto: Ist
SEKIAN banyak orang mengklaim diri sebagai pelaku dan penggiat kebudayaan. Percayalah, hanya sedikit yang memiliki komitmen dan konsistensi tinggi. Dari yang sedikit itu, nama Egy Massadiah ada di dalamnya.
Bisa jadi, salah satu sebabnya karena dia orang Makassar, suku yang terkenal dengan kegigihannya. Jiwa petualang, semangat merantau yang mereka sebut sompe’, melandasi setiap gerak, langkah, dan keputusannya.
Akan tetapi, tahukah Anda, bahwa Egy merantau ke Jakarta tahun 80-an ketika usianya masih belasan tahun? Tentu Anda tidak pernah berpikir, seorang anak ingusan datang ke Ibu Kota dengan modal pengalaman akting. Anda juga tidak salah, jika menduga Egy merantau tanpa kemampuan tulis-menulis. Ya, dia datang dengan modal DOT, dengkul, otot, tekad.
Bahwa kemudian Egy Massadiah dikenal sebagai aktor teater/film, sutradara, bahkan produser (teater dan film)….
Bahwa kemudian Egy Massadiah menduduki posisi decision maker di redaksi sebuah tabloid (Wanita Indonesia-pen)….
Bahwa kemudian Egy Massadiah juga dikenal sebagai penulis buku….
Atau, bahwa kemudian Egy Massadiah dikenal sebagai salah satu tokoh muda Partai Golkar, sebuah partai besar dan mapan….
Serta “bahwa-bahwa” yang lain, itu semua, kata Egy suatu hari, “Tak lepas dari garis tangan. Artinya, ini bagian dari takdir.”
Tentu, alur kehidupan seorang Egy tidak akan menjadi sebuah drama kehidupan yang menarik, jika tidak dikuak bagaimana penggalan kisah sejak menginjakkan kaki di Ibu Kota, hingga –setidaknya—hari ini: Tanggal 9 Mei 2018.
Pernah dengar istilah, “Jakarta keraaasss….”? Egy belia langsung dihajar keras dan kejamnya Ibu Kota yang bahkan dijudul-filmkan, “Kejamnya Ibu Tiri tak Sekejam Ibu Kota”. Film produksi tahun 1981 yang disutradarai oleh Imam Tantowi itu, seperti sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan seorang Egy Massadiah dari Makassar ke Ibu Kota.
Tak urung, Egy harus berhadapan langsung dengan kerasnya Ibu Kota. Dengan sekuat tenaga, Egy berusaha survive. Apa pun ia kerjakan, asalkan halal. Jadilah Egy memiliki sederet profesi rendahan yang pernah dijalaninya. Menjadi sopir, kuli panggung, kenek tukang batu, sampai pengamen.
Sekalipun begitu, tekad menaklukkan Jakarta begitu bergelora. Pantang pulang sebelum jadi “orang”. Karenanya, apa pun jenis pekerjaan disadarinya sebagai batu loncatan untuk menggapai mimpi yang telah ia gantungkan tinggi di langit sana.
Putu Wijaya dan Egy Massadiah.
Biduk hidup mulai menuju jalur yang sesuai dengan suara hatinya, justru ketika ia menekuni dunia teater. Sempat bergabung dengan beberapa grup teater kecil, akhirnya Egy tertambat di Teater Mandiri yang didedengkoti Putu Wijaya pada tahun 1983. Egy menunjukkan totalitasnya di Teater Mandiri. Semua pekerjaan produksi teater pernah ia lakoni, sebelum Putu mempercayakan sebuah peran.
Sebagai “cantrik” yang baik, Egy senantiasa haus ilmu. Semua diskusi yang menyerempet lintas bidang, mulai dari budaya, sosial, sampai politik, dan nilai-nilai kehidupan ia ikuti di sanggar Teater Mandiri. Putu Wijaya yang penulis produktif baik karya sastra maupun esai, pun coba ditirunya. Egy belajar dan berlatih menulis. Menulis sastra hingga akhirnya reportase jurnalistik.
Syahdan, Egy Massadiah pun merintis karier kepenulisan sebagai penulis lepas di sejumlah suratkabar pada 1987-1994, dengan jabatan terakhir Redaktur Pelaksana. Prestasi atas kreativitasnya juga telah ia buktikan dengan memenangi lomba penulisan esai Diplomasi Kebudayaan Indonesia-Amerika dalam rangka KIAS tahun 1987 dan menerima honorarium sebesar Rp 75 ribu.
Ia juga menulis buku antara lain Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia; Top Eksekutif Indonesia; Top Pengusaha Indonesia pada tahun ‘90 an. Buku terakhirnya adalah Bung Karno Ata Ende yang ia tulis bersama Roso Daras yang merupakan bagian dari pembuatan Film Ketika Bung di Ende pada 2013, di mana Egy bertindak selaku produser.
Di sela tugas-tugas jurnalistik, ia aktif sebagai pemain teater di kelompok Teater Mandiri. Dunia teater, dengan sendirinya, mendekatkan Egy ke dunia akting film. Tercatat, Egy pun mulai terjun di dunia film. Tahun 2007, ia pernah membintangi film yang ia produseri sendiri Lari Dari Blora. Sebagai produser, ia juga pernah mementaskan teater “Mega Mega” Karya Arifin C. Noer di Gedung Kesenian Jakarta sebagai bagian dari Art Summit International Festival 2013. Ia pernah menjadi sutradara lakon BOM karya Putu Wijaya di Slowakia pada 2012.
Yang menarik, di luar dunia seniman, ia aktif membantu Wakil Presiden RI Jusuf Kalla atau JK sebagai staf ahli dan pada 2013, menangani pertemuan organisasi perdamaian Centris Asia Pacific Democratic International (CAPDI) di mana JK adalah ketuanya. Tahun 2014, ia bahkan pernah dicalonkan menjadi Caleg oleh Partai Golkar untuk Dapil Jakarta IV (Jakarta Selatan dan Luar Negeri). Sayang, ia gagal menembus Senayan. “Semua ada hikmahnya. Mungkin memang lebih baik jika saya berkiprah di luar politik,” ujar Egy suatu hari.
Egy Massadiah berrsama Jusuf Kalla dan Ibnu Munzir. Foto: Ist
Nama Egy Massadiah pun lebih lekat sebagai seniman, dibanding politisi. Totalitasnya pada dunia teater, ia tunjukkan dengan membuat berbagai inovasi. Salah satu inovasi Egy adalah Teater Striping. Istilah yang biasa dipakai untuk serial sinetron, digunakan Egy di dunia teater. “Banyak mimpi-mimpi saya untuk dunia teater. Muaranya adalah bagaimana seni teater bisa berkontribusi bagi pembentukan karakter bangsa, sekaligus ikon bangsa,” ujar lelateki berperawakan tegap ini.
Ambisi Egy juga menjadikan teater sebagai kantong yang mengolah generasi muda Indonesia untuk siap pakai dalam membangun NKRI. Menurut Egy, kehidupan dan negara adalah sebuah panggung teater yang memerlukan pekerja-pekerja yang ulet, setia, dan terlatih. Tak hanya cerdas, tetapi juga bijak, gesit dan memiliki kepekaan tinggi pada kemanusiaan.Teater yang mencakup hampir seluruh cabang kesenian dan juga berbagai aspek dari disiplin lain (psikologi, filsafat, sejarah, politik, hukum bahkan ekonomi dan sebagainya) akan menjadi bengkel pelatihan bukan saja bagi mereka yang ingin menjadi pekerja teater, tetapi seluruh kemungkinan profesi dari kelas pekerja maupun pemimpin.
Karena itu, Egy tidak pernah berpaling dari pernyataan, bahwa dirinya yang sekarang, adalah lahir dari tempaan dunia teater. Itu membuktikan, bahwa di dunia teater, juga berkembang disiplin pengetahuan yang lain. Konsistensinya pada dunia teater, telah mengantarkan Egy bersama Teater Mandiri sukses menembus panggung-panggung bertaraf Internasional di New York Off Broadway, Seatlle, Coneccticut, San Fransisco, Singapore, Cairo, Tokyo, Cheko, Slovakia, Hongkong, Taiwan, dll.
Film Sejarah
Sebagai anak bangsa, Egy segaris dengan ajaran Bung Karno yang salah satunya mengingatkan kita agar “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Karena itulah, ia antusias menggarap film-film bergenre sejarah. Tahun 2013, ia menjadi produser film Ketika Bung di Ende. Film yang digarap sutradara Viva Westy itu menampilkan pemeran utama Baim Wong (Bung Karno), Paramitha Rusady (Inggit Garnasih), dan sejumlah aktor kawakan lain seperti Tio Pakusadewo.
“Film itu didanai oleh Kemendikbud, yang artinya menggunakan dana APBN. Karena itu, sesuai aturan menjadi tidak bisa dikomersialkan. Itu sebabnya film tadi tidak diputar di gedung-gedung bioskop. Saya terus terang masih punya perasaan mengganjal, lantaran film Ketika Bung di Ende tidak bisa disiarkan secara massif. Harusnya pemerintah memiliki solusi. Sebab, ketika Pemerintahan Jokowi berbicara mengenai Revolusi Mental, bicara mengenai Pancasila, maka film Ketika Bung di Ende itu bisa menjadi media yang sangat tepat untuk sosialisasi,” papar Egy, yang juga ikut berakting di film itu.
Egy Massadiah di antara Paramitha Rusady dan Baim Wong sebagai pemeran Inggit Garnasih dan Bung Karno, dalam film Ketika Bung di Ende, yang diproduseri Egy. Foto: Ist
Egy belum menyerah untuk bisa memutar film Ketika Bung di Ende secara lebih massif. Pemerintah harusnya memiliki solusi atas kondisi ini. Kondisi adanya kebutuhan sarana sosialisai dan sarana pendidikan karakter bangsa, antara lain melalui penayangan film. Di sisi lain, sarana atau film itu sudah ada, tetapi tidak bisa diputar di bioskop umum dengan menjual karcis, karena tidak ada mekanismenya secara administrasi keuangan negara.
“Saya yakin ada solusi. Entah bentuknya menjadi PNBP (penerimaan negara bukan pajak), atau solusi lain. Apa sulitnya mengkoordinasikan persoalan itu lintas-kementerian dan APH (aparat penegak hukum). Bagaimana tujuan sosialisasi pembangunan karakter bangsa tercapai, tetapi tidak melanggar aturan tata-kelola keuangan negara,” paparnya, seraya menambahkan, “saya akan mencari jalan untuk menghubungi pejabat-pejabat atau para tokoh yang kompeten.”
Lepas dari film Bung Karno, beralih ke tokoh pahlawan nasional Pangeran Antasari dari Banjarmasin. Kembali tahun 2017, Egy mendapat kepercayaan menjadi produser film Pangeran Antasari “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”. “Alhamdulillah keseluruhan proses pembuatan film sudah selesai. Bahkan sudah diputar di Banjarmasin, di mana pak Gubernur nobar bersama rakyat,” kata Egy.
Egy Massadiah di antara Egy Fadly dan Hemalia Putri dalam film Antasari. Foto: Ist
Film yang antara lain mengangkat kisah Perang Banjar, itu, mengambil dua setting dalam satu film. Pertama, setting kekinian, dan kedua setting sejarah Pangeran Antasari. “Ada sekitar 50-an kru kami bawa dari Jakarta. Selebihnya, kami gunakan aktor lokal, sebab banyak dialog dalam film ini menggunakan bahasa Banjar. Hanya tokoh utama dimainkan aktor dari Jakarta, di antaranya Hemalia Putri dan Egy Fadly. Sutradaranya dosen IKJ Irwan Siregar,” kata Egy pula.
Film Pangeran Antasari, dibuka dengan kehadiran pelajar Sekolah Dasar zaman sekarang. Kisahnya, mereka ingin mencari tahu sosok Pangeran Antasari dan perjuangannya yang heroik. Itu menjadi satu segmen. Segmen berikutnya adalah masa perjuangan Pangeran Antasari tahun 1850-an.
Film berdurasi sekitar 100 menit ini mendapat dukungan penuh Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor yang memang sangat mencintai dunia kebudayaan khususnya senin peran dan teater. “Ini film edukasi tentang pahlawan Banjar, banyak keteladanan yang bisa dipetik oleh generasi sekarang,” ungkap pria yang akrab disapa Paman Birin, di kesempatan terpisah.
Sejarah mencatat, Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batubara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859. Dibantu para panglima dan pengikut setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.
Pertempuran makin sengit antara pasukan Pangeran Antasari dengan pasukan Belanda. Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun dia tetap pada pendiriannya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861. “Dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut kemerdekaan.”
Bahasa Ibu Terancam
Ditanya, mengapa ia begitu peduli dengan film-film sejarah, yang bagi sebagian produser dinilai kurang komersial? Egy tegas menjawab, sangat prihatin atas terjadinya gap yang lebar, tentang sejarah masa lalu dengan pemahaman generasi sekarang. “Seliberal-liberalnya Amerika Serikat, murid-murid SD-nya paham sejarah, mengerti kisah para founding fathers-nya. Mengerti George Washington, Thomas Jefferson, dan seterusnya. Sedangkan di Indonesia?” kata Egy penuh keprihatinan.
Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor dan Egy Massadiah, yang ikut bermain dalam film Antasari. Foto: Ist
Karena itu, ia sangat mengapresiasi Gubernur Kalimantan Selatan yang mendukung produksi film Pangeran Antasari. “Karena itu pemerintah harus punya solusi terhadap film-film sejarah yang sarat muatan nation and character building ini bisa diputar secara massif. Tidak ada persoalan tanpa solusi,” tandasnya.
Film Pangeran Antasari, menurut Egy lebih 70 persen menggunakan bahasa Banjar, bahasa daerah setempat. “Sengaja saya buat menggunakan bahasa daerah, dan nanti di-subtitel bahasa Indonesia dan Inggris. Saya akan ikutkan festival film daerah di luar negeri,” tekad Egy.
Penggunaan bahasa daerah, menjadi penting karena menurut Egy, makin terpinggirkan, bahkan terancam punah. “Penyebabnya bisa banyak hal. Misalnya, keluarga yang bapak-ibunya berasal dari dua daerah yang berbeda, cenderung memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Itu artinya, dua bahasa daerah hilang di satu keluarga. Nah, yang seperti ini sangat banyak di Indonesia. Jangankan itu, kedua orang tua sama-sama dari suku yang satu, kemudian hidup dan beranak-pinak di Jakarta, hampir bisa dipastikan, anak-anaknya tidak menguasai lagi bahasa ibu. Kalaupun tahu, sifatnya pasif. Pada keturunan kedua, praktis akan hilang,” paparnya.
Penyebab lain, tidak adanya upaya strategis dari pengampu kepentingan untuk melestarikan bahasa daerah. “Ini sungguh PR besar bangsa kita. Apa yang saya lakukan, sungguh hanya sebutir pasir di laut. Semoga sebulir pasir tadi bisa bermakna dan menginspirasi,” pungkas Egy Massadiah. ***
AKTOR tampan Baim Wong untuk pertama kalinya main film horor bertajuk ‘Titisan Setan’ garapan sutradara Agusti Tanjung.
Tak lupa, Baim pun mengunggah poster film terbarunya di Instagram. Pada foto yang diunggah itu, Baim tampak berlumuran darah.
Melalui postingannya, Baim mengaku ia sempat merasa kesulitan bermain di film horor. “Shooting horor ternyata mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi, kalau dilakukan secara benar.
Continuity emosi yang paling sulit dalam drama film horor,” ungkap Baim Wong. Postingan Baim menuai komentar dari netizen.
Sebagian netizen justru salfok dengan penampilan Baim yang lusuh namun tetap terlihat tampan. Selain Baim, film ini juga dibintangi oleh Wendy Wilson, Saykoji, Diah Permatasari dan Muthia Datau. ***