Kabar
Refleksi Atas Waktu Menurut Orang Jawa
Oleh Supriyadi S.Fil
Bagi masyarakat Jawa, waktu bukanlah sekadar deretan angka linier tanpa makna. Waktu adalah semacam Angka Wijaya, yang berati bilangan yang hidup.
Waktu juga sering dipersonifikasikan dalam wujud Batara Kala. Akibat adanya kamasalah/kama wurung yang melahirkan sosok raksasa yang menakutkan, yang bisa menelan siapa saja yang tidak bisa memanfaatkan waktu secara sebaik-baiknya.
Waktu terus melaju, sementara tidak semua manusia mampu memanfaatkan dengan baik sehingga terjebak pada penderitaan tak berkesudahan. Leluhur Nusantara tahu bagaimana keluar dari belenggu waktu yang profan(sakala) ini menuju ke alam kesejatian (niskala), yakni melalui proses nggelar dan nggulung. Persoalannya maukah kita belajar kepada jejak langkah para leluhur?
Pemaknaan waktu sejak awal telah dilakukan oleh masyarakat Nusantara. Waktu dipandang sebagai penyambung keselarasan Trihitakarana, yakni Palemahan, Pawongan, dan Parahyangan.
Pada masa kuno, setidaknya ada 15 unsur yang biasa digunakan di dalam prasasti untuk menandai peristiwa, yaitu: warsa, masa, paksa, tithi, wara, karana, wuku, muhurta, yoga, naksatra, dewata, grahacara, parwesa, mandhala, serta rasi. Pada masa kuno, warsa menggunakan tarikh saka, yang dimulai pada tahun 78 Masehi. Tarikh ini digunakan bahkan diseluruh Asia Tenggara.
- Warsa, Tahun 78 M merupakan awal penggunaan Kalender Śaka, sistem penanggalan ini berakar pada astronomi India yang diciptakan oleh raja Salivahana yang memerintah di Pratishtana. Tarikh tersebut mulai digunakan secara seremonial di awal abad II M pada wilayah Asia Tenggara seperti Kamboja dan Campa, metode dalam perhitungan 1 tahun Śaka merupakan hasil dari gabungan antara perputaran satelit bumi dan pusat tatasurya selama 360 hari yang terpecah menjadi 12 bulan. Caitra merupakan nama dari awal bulan sementara Phālguņa adalah nama dari akhir bulan (Casparis, 1978). Ada dua model yang satu ditulis berdasarkan angka tahun, semntara yang kedua dengan menggunakan sengkalan(sandi warsa).
- Masa, ini dihitung berdasarkan Peredaran matahari dan bulan, yang lamanya satu tahun solar(samkranti) adalah 365,25 hari dan terbagi menjadi 12 bulan, dari bulan Mina Samkranti(22 Maret) hingga Kumbha Samkranti(tanggal 20 Februari). Satu tahun Saka ini terbagi menjadi 12 dan masing-masing bulan sekitar 30 hari, dimana penentuan waktu itu didasarkan pada peredaran Matahari terhadap Bumi(geosentris) disebut bulan solar(samkramti). Satu samkranti rata-rata 30 hari, 10 jam, 30 menit. Sementara Bulan Lunar(masa) dihitung berdasarkan waktu edar bulan mengelilingi bumi, dalam periode sinodik(Matahari-Bulan-Bumi) berada pada satu garis lurus pada saat konjungsi, yaitu 29,53059 hari. Sehingga jumlah satu tahun lunar adalah 12 x 29,53059= 354,36708 hari. Bulan Lunar(masa) dihitung berdasarkan waktu edar bulan mengelilingi bumi, dalam periode sinodik(Matahari-Bulan-Bumi) berada pada satu garis lurus pada saat konjungsi, yaitu 29,53059 hari. Sehingga jumlah satu tahun lunar adalah 12 x 29,53059= 354,36708 hari. Sebutkan nama-nama samkranti dan nama-nama masa secara jelas dan waktu berdasarkan bulan masehi.
- Paksa. Penanda waktu yang berikutnya adalah Paksa. Zoetmoelder menyebutnya sebagai paruh bulan. Setiap bulan dibagi menjadi dua bagian: 1-15 dan 16-29/30. Tanggal 1-15 disebut dengan paruh terang(suklapaksa), sementara 16-29/30 disebut dengan paruh gelap(krsnapaksa).
- Tithi adalah hari menurut peredaran bulan. Pada masa kuna penyebutan tanggal tidak dengan menuliskan angka, tetapi dengan menyebutkan “hari ke….”dari kemunculan bulan di langit pada malam hari. Sekali dalam dua bulan aka nada satu tithi yang hilang(kasya tithi) karena bulan itu hanya berjumlah 29 hari. Nama tithi itu adalah: Pratipada, Dwitiya, tretiya, caturthi, pancami, sasti, Saptami, astami, nawami, dasami, ekadasti, dwadasi, trayodasi, caturdasi, pancadasi.
- Wara, adalah hari dalam seminggu, yang meliputi sadwara(siklus 6/peringkelan), pancawara(Siklus 5 hari/pasaran) dan saptawara(Siklus 7 hari/dina). Masyarakat kuna telah terbiasa menyingkat nama hari pada naskah yang ditulisnya. Adapun sadwara itu meliputi: Tunglai(Tu/Tung), Hariyang/Ariyang(Ha), Wurukung(Wu), Paniruan(Pa), Was(Wa), Mawulu(Ma), Mawulu(Ma). Pancawara(siklus 5 harian), meliputi : Pahing(Pa), Pon(Po), Wagai(Wa), Kaliwuan(Ka), Umanis(U/Ma), sementara Saptawara(Siklus 7 hari), meliputi: Raditya/ Aditya (Ra/A), Soma/candra(So), Anggara(Ang), Budha(Bu), Wrhaspati(Wr), Sukra(Su), dan Saniscara(Sa).
- Karana. Satuan waktu yang lebih kecil adalah karana. Satu hari dua karana, dimana 1 karana=0.492 hari. Nama-nama karana itu adalah: Kimtughna(Cacing/nama karana setiap awal bulan), Wawa(Singa), Walawa(harimau), Kolawa(Babi), Taithila(Keledai), Garadi(gajah), Wanija(Sapi), Wisti(Anjing). Sesudahnya akan Kembali ke Wawa, walawa dan seterusnya dan diakhiri Sakuni(Alap-alap),Catuspada(Zebra), Naga(Ular). Karana ini untuk mendukung pembacaan tithi, apakah sudah benar. Sakuni, Catuspada, Naga, dan Kimtughna(Hanya muncul sekali di akhir Krishna Paksha – paruh bulan gelap)
- Wuku. Perhitungan wuku berdasarkan siklus 7 hari(Saptawara), setiap 7 hari adalah 1 wuku. Satu siklus pawukon adalah 30 wuku, sehingga satu siklus membutuhkan waktu 7 x 30=210 hari. Mulai dari Sinta, yang jatuh pada hari Tunglai-Pahing-Raditya. Pawukon ini tidak dikenal di India, sehingga ini besar kemungkinan kreatifitas asli bangsa Nusantara. Demikian juga, sadwara dan pancawara.
Nama 30 wuku, diantaranya adalah Sinta, Landĕp, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbrĕg, Warigalit, Warigagung Julungwangi, Sunsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Madasiha, Julung Pujut, Pahang, Kuruwlut, Marakih, Tambir, Madangkungan, Mahatal, Wuyai, Manahil, Prang Bakat, Balamuki, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut, serta Watu Gunung.
Unsur wuku tidak terindetifikasi pada astronomi India, sehingga wuku merupakan unsur penanggalan Jawa. Wuku merupakan sebuah kombinasi antara 3 jenis wara (Casparis, 1978) asal usul penanggalan wuku ini dapat ditemukan dalam kitab Babad Tanah Jawi. (Damais, 1951).
- Muhurta. Dalam prasasti ada satuan waktu yang terkecil yang dikenal dengan Muhurta. Satu Muhurta adalah 48 menit. Nama-nama Muhurta adalah sebagai berikut: Rudra (06:00–06:48), Āhi (06:48–07:36), Mitra (07:36–08:24), Pitṝ (08:24–09:12), Wasu (09:12–10:00), Wārāha (10:00–10:48), Wiśwedewā (10:48–11:36), Widhi (11:36–12:24), Sutamukhī (12:24–13:12), Puruhūta (13:12–14:00), Wāhinī (14:00–14:48), Naktanakarā (14:48–15:36), Waruṇa (15:36–16:24) Aryaman (16:24–17:12), Bhaga(17:12–18:00), Girīśa (18:00–18:48), Ajapāda (18:48–19:36), Ahir-Budhnya (19:36–20:24), Puṣya(20:24–21:12), Aświnī (21:12–22:00) Yama (22:00–22:48), Agni (22:48–23:36), Widhātṛ (23:36–00:24), Kaṇḍa (00:24–01:12), Aditi (01:12–02:00), Jīwa/Amṛta (02:00–02:48), Wiṣṇu (02:48–03:36), Dyumadgadyuti (03:36–04:24), Brahma (04:24–05:12), Samudra (05:12–06:00).
- Yoga, Gerak bersamaan antara bulan dan matahari pada posisi 13°20”. Dalam satu putaran bulan mengelilingi bumi 360°:13°20”=27 yoga. Satu yoga lamanya: 0,941 hari. Satu siklus yoga membutuhkan 25,420 hari. Wiṣkaṃbha, Prīti, Āyuṣmān, Saubhāgya, Śobhana, Atigaṇḑa, Sukarmā, Dhṛti, Śūla, Gaṇḑa, Wṛddhi, Dhruwa, Wyāghāta, Harṣaṇa, Wajra, Siddhi, Wyātīpāta, Warīyān, Parigha, Śiwa, Siddha, Sādhya, Śubha, Śukla, Brahma, Indra, dan Waidhṛta.
- Naksatra. Ada 27 naksatra, dimana setiap naksatra 1,012 hari. Satu kali siklus membutuhkan 27, 324 hari. Nama-nama Naksatra adalah sebagai berikut: 1. Aswini 2. Bharani 3. Kritika 4. Rohini 5.Mrigashira 6. Ardra 7. Punarwasu 8. Dorong 9. Ashlesha 10. Magha 11. Purwa Phalguni 12.Uttara Phalguni 13. Cepat 14. Chitra 15. Swati 16. Wishakha 17. Anuradha 18. Jyeshtha 19. Mula 20. Purva Ashada 21. Uttara Ashada 22. Shravana 23.Dhanishtha 24. Shatabhisha 25. Purva Bhadrapada 26. Uttara Bhadrapada 27. Revati (Casparis, 1978).
Dan jangan lupa untuk menyampaikan beberapa patah kata tentang Abhijit yang termasuk dalam sistem 28 Nakshatra kuno yang tidak standar.
- Dewata. Nama-nama Dewata ini sesuai dengan naksatranya, adalah sebagai berikut:
- Aswini – Aswini Kumara (Dewa kembar tabib para dewa)
- Bharani – Yama (Dewa kematian/keadilan)
- Krttika – Agni (Dewa api)
- Rohini – Brahma (Dewa pencipta)
- Mrgasirsa – Soma/Candra (Dewa bulan)
- Ardra – Rudra (Dewa badai, bentuk Siwa)
- Punarwasu – Aditi (Dewi ibu para dewa)
- Pusya – Brhaspati (Dewa guru/Jupiter)
- Aslesa – Nagas/Sarpa (Dewa ular/Naga)
- Magha – Pitr (Para leluhur)
- Purwaphalguni – Bhaga (Dewa keberuntungan/kebahagiaan)
- Uttaraphalguni – Aryaman (Dewa kontrak dan persahabatan)
- Hasta – Sawitr/Surya (Dewa matahari)
- Citra – Wiskarma (Dewa arsitek surgawi)
- Swati – Wayu (Dewa angin)
- Wisakha – Indra & Agni (Dewa perang dan api)
- Anuradha – Mitra (Dewa persahabatan/perjanjian)
- Jyestha – Indra (Raja para dewa)
- Mula – Nirrti (Dewi kehancuran/pembusukan)
- Purwasadha – Apah (Dewa air)
- Uttarasadha – Wiswadevas (Dewa-dewa universal)
- Srawana – Wisnu (Dewa pemelihara/penjaga)
- Dhanistha – Astawasus (Delapan dewa kekayaan/bumi)
- Satabhisa – Waruna (Dewa air kosmik/langit)
- Purwabhadrapada – Ajaikapada (Dewa satu kaki, bentuk Siwa)
- Uttarabhadrapada – Ahirbudhnya (Naga/ular laut dalam)
- Rewati – Pusa/Pushan (Dewa pelindung perjalanan/perkawinan)
- Grahacara. Graha acara adalah perjalanan planet dalam posisi zodiac. Grahacāra bermakna planet, jika merujuk terhadap penanggalan India terdapat sembilan buah planet, yakni Ravi, Soma, Sukra, Budha, Manggala, Bŗhaspati, Sani, Rahu serta Ketu (Sutton,2001).
Diantara nama-nama graha yang ditemukan di prasasti adalah:
Nairitisthana, posisi barat daya
Anggarasthana/Bayabyasthana, posisi Barat Laut
Aisanyasthana, posisi Timurlaut
Agneyasthana, posisi Tenggara
Sunyasthana, posisi Tengah.
Adityasthana/Purwasthana, posisi timur
Daksinasthana, posisi Selatan
Pascimasthana, posisi Barat
Uttarasthana, posisi utara
- Parwesa. Parwesa dapat diartikan kelompok bintang. Akan tetapi belum terdapat informasi lebih lanjut tentang penjelasan Parwesa, selain itu hal ini tidak pernah disinggung dalam penanggalan India. Dalam penanggalan Jawa terdapat beberapa nama parweśa, diantaranya Brahma(Tengah), Saśi(Timur Laut), Nairitiya(Barat Daya), Kuwera(Utara), Baruņa(Barat), Kala(Barat Laut), Agni(Tenggara), Indra(Timur) serta Yama(Selatan) (Zoetmulder, 1983).
- Mandala/Benda Angkasa
Mandala merupakan orbit dari benda langit, terdapat 8 nama dari Mandala yakni Mahendra(Timur), Kuwera(Utara), Nairrti(barat daya), Baruņa(Barat), Yama(Selatan), Agni(Tenggara), Siwa(Timur laut) serta Wāyu(Barat Laut). Setiap nama tersebut memiliki pembagian tempatnya kekuasaannya masing-masing.
- Rāsi
Rāsi bermakna sejumlah bintang atau zodiak (Levacy, 2006) dalam jangka waktu satu tahun terdapat 12 zodiak di penanggalan Jawa, yakni Meśa, Wŗsabha, Mithuna, Karka(ţa), Siŋha, , Tula, Vŗscika atau Mŗcchika, Dhanu(s), Makara, Kumbha, serta terakhir Mina (Basham, 1955).

Gambar 1. Prasasti Cane di Museum Nasional Jakarta
Adapun sebagai contoh penanggalan pada masa kuno seperti pada kutipan dari penanggalan Prasasti Cane adalah sebagai berikut.
1. //0//swasti sakawarsātīta 943 kārtika māsa tithi ca
2. turthi krsnapakşa tu wa su wāra landěp pūrnnawasu nakşatra śubha yo
3. ga ariditi dewatā grahacāra purwwastha wawa karaņa bāyabya mandala irikā diwaśanyā
4. jñā śrī mahārāja rakai halu śrī lokeśwara dharmmawańśa airlanganānta wikramotungadewa tinadah rakryān ma
5. hamantri i hino śrī sangramawijaya dharmmaprasādotungadewi uminsor ri rakryān pada pu dwija rakryān jaśun mapapan pu rakti kumonaknikana karāmānicane…
Pada kutipan Prasasti Cane, dapat diketahui bahwa unsur-unsur penanggalannya adalah sebagai berikut:
a. Warsa: tahun 943 Śaka atau 1021 Masehi.
b. Masa: kartika.
c. Tithi: empat parogelap.
d. Sadwara: tunglai (hitungan yang terdiri 6 hari). Pancawara: wagai (hitungan yang terdiri 5 hari). Saptawara: sukra (Hitungan yang terdiri 7 hari).
e. Wuku: landěp.
f. Naksatra: pūrnnawasu.
g. Yoga: śubha.
h. Dewata: ariditi.
i. Grahacara: pūrwwastha.
j. Karana: wawa.
k. Mandala: bayabya.
Terlepas unsur-unsur penanggalan yang bersifat ritual, dapat dikonversikan angka tahun pada Prasasti Cane ke dalam tahun Masehi, yakni jatuh pada tanggal 27 Oktober 1021 (Dwiyanto, 1989: 29-30).
Sedemikian detailnya bangsa Nusantara melakukan pencatatan suatu peristiwa, dengan mengkoneksikan segala sesuatunya dengan jagad agung. Inilah salah satu indicator bahwa leluhur bangsaNusantara adalah bangsa yang beradab.
- Waktu Era Sultan Agung Hanyakra Kusuma
Pada tahun 1555 Śaka (1633 Masehi), Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram melakukan sebuah revolusi kebudayaan yang jenius. Saat itu, masyarakat Jawa menggunakan kalender Śaka yang berbasis peredaran matahari (solar), sementara di sisi lain, tradisi Islam yang semakin kuat menggunakan kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan (lunar).
Perbedaan ini menimbulkan disharmoni sosial-ritual. Hari-hari besar Islam (seperti Idul Fitri) terus bergeser terhadap penanggalan Jawa Śaka. Sultan Agung menyadari bahwa sebagai pemimpin masyarakat yang religius namun tetap memegang teguh tradisi agraris kuno, ia memerlukan sebuah sistem waktu yang mampu menyatukan Kalender Syamsiah (Perputaran Matahari) dan Kalender Qomariah (Perputaran Bulan).
Sultan Agung tidak menghapuskan kalender Śaka, melainkan melakukan “pribumisasi” terhadap sistem Hijriah. Berikut adalah bentuk adaptasi yang dilakukan:
- Pelestarian Angka Tahun: Sultan Agung memutuskan untuk tetap melanjutkan angka tahun Śaka yang saat itu berada di angka 1555, bukan menggantinya menjadi tahun Hijriah (1043 H). Ini adalah bentuk penghormatan terhadap garis linier sejarah leluhur agar tidak terputus.
- Perubahan Basis Perhitungan: Meskipun angka tahunnya meneruskan Śaka, metode perhitungannya diubah total dari matahari (solar) menjadi bulan (lunar), mengikuti kaidah Hijriah.
- Unsur-unsur dari masa kuno seperti Pancawara (Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon) dan Saptawara tetap dipertahankan. Sinergi ini melahirkan konsep Weton, di mana waktu lahir seseorang adalah perpaduan harmonis antara siklus 7 dan siklus 5.
- Dalam kalender Sultan Agungan, juga melahirkan siklus 8 tahun yang disebut Windu (Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir). Serta huruf, yakni perhitungan per 120 tahunan. Adaptasi ini menunjukkan betapa Sultan Agung tetap menjaga semangat “Sakala-Niskala”; bahwa waktu memiliki ritme naik-turunnya energi (nasib) yang berulang setiap delapan tahun.
Melalui konsep waktu, orang jawa melahirkan konsep tentang Jangka, Sengkalan, eka wara sampai dasawara, hurup, abad, windu, tahun, Wulan, dimana semua itu bisa digunakan untuk membaca tentang hidup dan kehidupannya, dulu, kini, hingga yang akan datang. (*)
RUJUKAN :
- Basham, A.L. (1955) The Wonder That Was India: A Survey of the Culture of the Indian Sub-Continent Before the Coming of the Muslim, New York: Macmillan
- Casparis, J.G. de, (1978), Indonesian Chronology. Leiden: E.J. Brill.
- Damais, Louis C, (1951), Études d’épigraphie Indonésienne I: Méthode de réduction des dates javanaises en dates européennes, dalam BEFEO 45 , Penanggalan Jawa Kuno”, dalam Epigrafi dan Sejarah Nusantara: Pilihan Karangan Louis-Charles Damais,. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
- Zoetmulder, P.J., (1983), Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan. 2004, Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Bekerjasama dengan S.O. Robson. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, cet.ke-4
- Sutton, Komilla., (2001), The Essentials of Vedic Astrology. Bournemouth: The Wessex Astrologer Ltd.
- Levacy, William.R, (2006), Vedic Astrology Simply Put: An Illustrated Guide to the Astrology of Ancient India. Carlsbad: Hay House, Inc.
