Potret Nelayan Cilincing

 Potret Nelayan Cilincing

KETIKA bau amis menyergap hidung, itu artinya Anda sudah memasuki kampung nelayan Cakung Drain, Cilincing, Jakarta Utara. Lamat-lamat terdengar irama dangdut. Sebagaian nelayan tampak bersantai di beranda, sebagian lain tampak masih bekerja di atas kapal.

Seorang ibu bernama Kati, sedang duduk menunggu suami turun dari kapal. Wajahnya tampak cerah. “Suami saya sudah pulang bawa tangkapan lumayan. Sekarang dia sedang merapikan jaring,” ujarnya.

Kategori pendapatan lumayan bagi nelayan adalah, “cukup buat makan dan bayar cicilan”. Ya, mereka umumnya terjerat utang, tidak saja kepada satu pihak, tetapi biasanya kepada beberapa pihak. Seperti, penyedia kapal, penyedia perlengkapan melaut, sampai cicilan-cicilan kebutuhan sekunder seperti beli televisi dan peralatan rumah tangga.

Menurut Kati, tangkapan “lumayan” baru saja dalam beberapa hari. Sebelumnya, hampir setengah tahun, setiap melaut, hasilnya sedikit. Tidak cukup buat makan, tidak cukup buat bayar cicilan, “boro-boro menabung,” sergah Kati.

Kati ini berasal dari Indramayu. Sejak umur 10 tahun, diajak orangtuanya pindah ke Cilincing. Sekadar pindah begitu saja. Profesinya tetap: Di Indramayu juga nelayan, di Cilincing, nelayan juga. Ia bahkan menikah dan beranak-pinak di Cilincing. “Zaman bapak saya, ikan masih banyak, tidak seperti sekarang,” katanya. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *