Rekomendasi Umbul Terbaik di Klaten untuk Padusan Jelang Ramadhan

JAYAKARTA NEWS – Jelang bulan suci Ramadhan, masyarakat di Jawa biasanya melakukan ritual padusan.

Padusan merupakan ritual menyucikan diri dengan air. Saat padusan ini, wisata  umbul biasanya jadi destinasi yang banyak diserbu masyarakat.

Berikut dikutip dari Kabar BUMN, Sabtu (9/3/2024), rekomendasi wisata umbul di Klaten yang bisa dikunjungi saat padusan:

1. Umbul Cokro

Air terjun buatan di Umbul Cokro. (Instagram/@kaeaji_)

Lokasinya ada di Cokro, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Umbul ini memiliki kolam yang memanjang seperti sungai dengan air yang sangat jernih.

Di sini juga ada air terjun yang memukau.

2. Umbul Pluneng

Umbul Pluneng, Klaten. (Instagram/@umbul_pluneng)

Tempat wisata ini berlokasi di Dukuh Miren, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ini adalah umbul terluas di Klaten yang memiliki banyak kolam.

Umbul ini juga memiliki banyak wahana permainan air yang seru.

3. Umbul Besuki

Umbul Besuki, destinasi wisata ala Ghibli di Klaten. (Instagram/@klatentulen)

Lokasinya ada di Desa Ponggok, Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Umbul ini memiliki vibes ala Ghibli yang aesthetic.

Itu karena suasananya yang tenang dan rindang berkat banyaknya pepohonan yang tumbuh subur di sini.

4. Umbul Kapilaler

Umbul Kapilaler, tempat wisata unik di Klaten. (Instagram/@pras_djoyobisono)

Tempatnya ada di Umbulsari, Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Air di umbul ini merupakan salah satu sumber bahan baku utama sebuah pabrik air mineral terkenal di Indonesia.

Daya tarik utama di umbul ini adalah keberadaan pohon beringin berukuran cukup besar yang tumbuh di samping kolam.***/mel

Ada Infak Anda di Rojolele Ini

Joko Intarto dan rojolele Klaten produk Lazismu–foto istimewa

Oleh: Joko Intarto

Ini salah satu hasil nyata zakat, infak dan sedekah untuk produktivitas. Dari zakat, infak dan sedekah Anda, jadilah beras Rojolele organik.

Beras ini bukan sembarang beras. Tetapi beras Rojolele yang ditanam di habitat aslinya: Klaten, Jawa Tengah.

Rojolele Klaten itu karakternya mirip dengan Pandan Wangi Cianjur. Hanya bisa menghasilkan beras dengan citarasa khas di habitat aslinya.

Sifat asli Rojolele itu unik. Tingginya bisa mencapai 160 Cm – 2 meter. Usia panennya 180 hari alias 6 bulan.

Kualitas berasnya memang jos. Tidak ada yang meragukan lagi. Tapi budidayanya sulit. Usia panennya yang 6 bulan merupakan kesulitan tersendiri bagi petani. Dari mana airnya untuk dua bulan tersisa?

Tingginya yang hampir 2 meter juga menjadi masalah. Apalagi produksi gabahnya tergolong tinggi. Batang padi Rojolele yang sudah mulai berisi pasti patah atau rebah kalau tertiup angin kencang. Mati. Gagal panen.

Para petani Klaten kemudian bekerjasama dengan BATAN. Untuk melakukan perbaikan bibit Rojolele. Agar batangnya bisa lebih pendek. Usia panennya juga lebih cepat.

Setelah berlangsung 12 tahun, program perbaikan genetika Rojolele dinyatakan berhasil. Rojolele baru menghasilkan padi dengan tinggi 120 Cm dan usia panen 120 hari. Sama dengan padi pada umumnya.

Citarasa berasnya tidak berubah. Tetap sama seperti aslinya. Pun produktivitasnya tidak menurun.

Keberhasilan ini tentu membahagiakan para petani Klaten. Mereka sekarang mulai menanam Rojolele lagi. Bahkan, Rojolele dianggap sebagai produk beras unggulan asli Klaten untuk pasar beras premium  nasional. Karena hanya di Klaten lah Rojolele bisa tumbuh dan menghasilkan beras yang empuk, pulen dan wangi.

Semangat para petanu itu ditangkap Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah. Majelis kemudian mengajak Lazismu untuk menggalang zakat, infak dan sedekah untuk program pengembangan Rojolele organik bagi para petani dhuafa di Klaten. Penanaman perdana dilakukan pada tahun 2018 yang lalu.

Sekarang program itu telah menghasilkan panen. Totalnya sudah lebih dari 100 ton beras. Beras sudah dikemas dalam plastik kedap udara dengan berat 1 Kg per bungkus.

Berapa harganya? Harga jual di tingkat petani Klaten Rp 20.000 per Kg. Harga di Jakarta naik karena ada ongkos kirim dari Klaten Rp 2.000 per Kg ditambah infak Rp 3.000 per Kg. Jadinya Rp 25.000 per Kg.

“Lazismu ini bukan lembaga bisnis. Kelebihan atas harga akan dicatat sebagai infak. Bukan keuntungan,” kata Eny Wijayanti, ketua badan pengurus Lazismu yang menjadi project manager Rojolele Klaten itu.

Program Rojolele van Klaten itu rupanya menarik perhatian banyak pihak. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, misalnya, langsung berlangganan 10 ton per bulan. Khusus untuk memenuhi kebutuhan dosen dan karyawan UMY.

Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta Timur juga langsung menyatakan minatnya untuk jatah konsumsi karyawan dan pasien. “Gudang kebencanaan Lazismu Manggarai Jakarta Selatan juga mendapat order dari donatur sebanyak 1 ton Rojolele Klaten,” kata Lambang Saribuana.

Tidak semuanya pembeli besar. Ada juga pembeli kecil. Misalnya, saya. Hanya membeli 5 Kg untuk kebutuhan konsumsi di rumah sendiri.

Nah, kalau Anda juga mau, bolehlah nitip beli lewat saya….***

Pesona Kerajinan Batik Kayu Mendunia

KERAJINAN batik kayu Indonesia sudah sejak lama dikenal di manca negara. Bahkan sebelum dikenal luas di dalam negeri, kerajinan batik kayu sudah menjadi favorit para kolektor kerajinan di Eropa. Maka tak heran, di era 90 an ekspor kerajinan batik kayu tergolong tinggi. Miyono dan kakaknya yang pengusaha kerajinan batik kayu, sempat merasakan masa keemasan batik kayu di era 90-an dimana banyak produknya diekspor ke mancanegara. “Dulu kerajinan batik kayu kita justru sangat dikenal buyer asing. Permintaan ekspornya tinggi. Sementara permintaan di dalam negeri tidak terlalu banyak,” tutur Miyono, pengusaha batik kayu dari Klaten, Jawa Tengah.

Namun seiring waktu, tambahnya, masyarakat kita pun sudah semakin mengenal kerajinan batik kayu, sehingga permintaan dalam negeri pun tak kalah banyaknya. Saking tingginya permintaan, tuturnya, ia dan kakaknya kerap didatangi pedagang-pedagang besar yang minta dibuatkan kerajinan batik kayu.

“Mereka (pedagang besar) sudah menyiapkan bahan-bahan mentahnya. Kami tinggal membatik dan memberi pewarnaan saja. Hasil produk kami itu kemudian disuplay ke berbagai daerah seperti Jakarta, Bali, dan daerah lain, sebagian lagi untuk ekspor,” jelasnya.

Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, tempat dimana Miyono berasal, merupakan desa pengrajin batik kayu. Kebetulan, kata bapak dua anak ini, di desanya bahan mentah (kayu) untuk pembuatan kerajinan tidak sulit didapat. “Kayu mahoni, sengon dan albasia, misalnya, mudah  dibudidayakan,” ucapnya.

Ketika kerajinan batik kayu booming, tutur Miyono, banyak pengrajin desanya beralih menjadi pengusaha kerajinan. “Sebagian warga desa kami yang pengrajin batik kayu mulai mengembangkan bisnisnya ke luar Klaten. Mereka umumnya datang ke Yogyakarta, karena di sana terkenal sebagai daerah wisata. Banyak turis mancanegara datang ke sana, termasuk kakak saya yang membuka usaha kerajinan batik kayu di Yogyakarta di awal tahun 90-an,” lanjutnya.

Entah bagaimana, tambahnya, orang luar justru mengira asal usul kerajinan batik kayu dari Yogyakarta, padahal  sebenarnya ‘embrio’ justru dari Klaten, khususnya dari Kecamatan Bayat. Saat ini, katanya, kerajinan batik kayu yang tersebar di seluruh Indonesia kebanyakan berasal dari tiga daerah yakni; Kecamatan Bayat Klaten, Dusun Krebet Bantul dan Gunung Kidul. “Jadi yang di Jakarta, Bali, dan daerah-daerah lainnya adalah produksi dari tiga daerah itu,” tambahnya.

Miyono sendiri mengaku mulai menekuni bisnis ini diawali dengan membantu sang kakak di bagian produksi tahun 1998.  “Saya banyak belajar dari beliau. Mulai dari produksi hingga pemasaran. Dua tahun belajar, kemudian saya pun membuka usaha sendiri. Jadi saya dan kakak mempunyai usaha yang sama, kami saling membantu,” tutur Miyono yang hingga kini rutin melakukan ekspor ke mancanegara. “Salah satu pelanggan saya ada di Belanda. Sudah dua tahun ini saya rutin ekspor ke sana,” ungkap Miyono yang rajin mempromosikan produknya lewat dunia maya.

Sukses menekuni kerajinan batik kayu, Miyono melakukan diversifikasi kerajinan, salah satunya dengan membuat kain batik pewarna alam yang dimulai tahun 2008. “Saya ikut pelatihan di Balai Batik Yogya tahun 2007, kemudian 2008 mulai mencoba membuat. Ternyata hasilnya bagus, banyak yang suka karena pewarnanya dari alam (tumbuh-tumbuhan),” jelasnya.

Beberapa pewarna alami yang digunakannya antara lain; kulit mahoni untuk mendapatkan warna coklat, untuk warna biru menggunakan tanaman tarum atau juga dikenal dengan sebutan indigo, dan buah jolawe yang menghasilkan warna kuning kehijauan hingga hitam. “Sebenarnya kunyit juga bisa, namun dari hasil penelitian di Balai Batik, warna kunyit tidak begitu tahan, maka saya tidak menggunakannya,” tambah Miyono.

Dulu, tambahnya lagi, saat baru memulai bisnis kain batik tulis pewarna alami, pemain di bisnis tersebut belum lah sebanyak sekarang. Namun seiring waktu, ketika permintaan akan batik pewarna alami meningkat tajam, maka penjual pun semakin banyak.

“Dulu permintaan batik pewarna alami banyak sekali. Saya sempat kewalahan karena memproduksinya membutuhkan waktu lama. Memproduksi satu kain batik sampai siap digunakan membutuhkan waktu 2-3 hari. Karena rumitnya memproduksi ini maka harganya pun berlipat-lipat dibanding batik pewarnaan sintetis. Di sisi lain SDM pengrajin batik kurang karena mereka banyak yang sudah membangun bisnis sendiri,” kata Miyono yang menjual satu lembar kain batiknya ukuran 2,5 M x 1,1 M seharga Rp400 ribu.

Meski produksi tergolong rumit, ia mengaku belum berminat merambah ke pembuatan batik pewarna sintetis. “Memang batik sintetis lebih cepat laku karena harganya lebih murah, tapi saya sekarang ingin belum terpikir  ke sana (memproduksi batik pewarna sintetis), ya. Saya masih bertahan dengan pewarna alami saja,” ucapnya. ***