Pameran Seni Rupa Virtual “Rengkuh Ragam”

 Pameran Seni Rupa Virtual “Rengkuh Ragam”

Biodiversitas Ciptakan Energi Agar Bumi Lestari

JAYAKARTA NEWS – Bumi diciptakan untuk hancur. “Tapi apakah dengan alasan itu lantas manusia boleh berlaku semena-mena terhadap bumi dan melajukan kehancurannya?” Empat perupa yang bersatu dalam pameran Seni Rupa “Rengkuh Ragam” menggugah kesadaran manusia untuk menjaga lingkungan dan mencintai bumi. Pameran virtual bertema “Biodiversitas” ini digelar dalam rangka Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April.

“Warga Laut” karya Vipassati Varra

“Rengkuh Ragam” dibuka pada Kamis (22/4).  Karya peserta diunggah di IG rengkuhragamexh dua hari berturut-turut mulai Jumat (23/4) dan Sabtu (23/4). Kini, setiap saat, para penikmat seni bisa mengapresiasi karya-karya itu dengan berbekal hape pintar dimana pun dan kapan pun. Program ini diselenggarakan sebagai bagian dari matakuliah Tinjauan Kelola Pameran 1 Prodi S-1 Tata Kelola Seni FSR ISI Yogyakarta.

Empat seniman pendukung pameran ini beserta alamat instagram masing-masing berturut-turut adalah Avin Dimetrodon @dimetrodon.t, Enka Nkomr @enkankomariah, Ganangeat @ganangeat, Vipassati Varra @varrasati. Ada sejumlah 96 karya yang diposting dalam media sosial rengkuhragam_exh.   

Karya seni yang akan ditampilkan dalam pameran ini berisi EcoArt yang dibuat dari medium yang bervariasi, mulai dari medium konvensional seperti lukisan, ke medium eksperimental seperti video, audio hingga seni media baru. Karya-karya seni tersebut mengangkat berbagai isu lingkungan yang terkait dengan kepentingan biodiversitas.

Penyelaras Antargenerasi

Enka Nkmor, “Tenaga Pohon Kelapa x Kelapa Sawit” Acryclic on Canvas 150 x 150 cm, 2019.

Pengkaji seni yang juga Ketua Jurusan Tata Kelola Seni Dr. Mikke Susanto, S.Sn., M.A menjelang pembukaan pamaren menyatakan bahwa  mahasiswa Prodi Tata Kelola Seni (art management) perlu menjadi penyelaras antar generasi. “Keterpisahan antar pengguna media perlu difasilitasi dengan baik. Di sinilah perlunya kajian, studi, dan pengetahuan pengelolaan budaya seni untuk memayungi yang konvensional dengan yang eksperimental, yang tradisi dengan yang kontemporer, yang manual dan yang digital,” kata Mike Susanto. 

Lebih jauh Mike memaparkan bahwa tujuan penting lain adalah pameran virtual harus mampu mengingatkan umat manusia tentang keselamatan bersama alam semesta. Salah satunya peringatan hari bumi yang dilaksanakan oleh penyelenggara pameran “Rengkuh Ragam” ini.

“Prince of Destruction” karya Avin Dimetrodon

Video berjudul “Warga Laut” karya Vipassati Varra misalnya. Karya digital ini bukan video biasa. Ia tak sekadar merekam dunia laut dengan keindahan dan segala pernak-pernik kerusakannya.  Ia tak sekadar ekspresi audio visual yang berkampanye soal pentingnya menyelamatkan laut dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Tetapi di beberapa titik, karya ini menampilkan seni lukis yang disuguhkan langsung lewat sapuan kuas. Ini menjadikan “Warga Laut” tampil unik, merengkuh yang digital dengan yang manual. Lewat karya eksperimentalnya ini Varra mengingatkan bahwa laut bukanlah sekadar suatu genangan air asin raksasa, tetapi laut berperan penting menjadi tempat tinggal banyak sekali makhluk hidup. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *