Merti Bendung Kayangan “Disengkuyung” Para Pelukis Yogya

 Merti Bendung Kayangan “Disengkuyung” Para Pelukis Yogya

Tradisi merti Bendung Kayangan di Kulonprogo. Salah satu yang khas adalah ritual “guyang jaran”. (foto: harian jogja)

Kembul Sewu Dulur Saparan Rebo Pungkasan

Jayakarta News – Pepatah Jawa menyebutkan “desa mawa cara negara mawa tata”. Peribahasa melukiskan dengan kalimat “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Artinya kurang lebih sama, masing-masing daerah memiliki adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda.

Yang ini tentang adat masyararakat Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ada ritual unik yang dinamakan “kembul sewu dulur”. Jika diartikan secara harfiah kembul artinya kumpul. Sewu artinya seribu. Dulur artinya saudara. Kumpul Seribu Saudara.

Inti dari Kembul Sewu Dulur adalah melakukan kegiatan bersama dengan orang-orang yang dianggap saudara sendiri. Budaya Kembul Sewu Dulur merupakan tradisi untuk memperingati Saparan Rebo Pungkasan. Sebuah tradisi yang dilakukan setiap bulan Sapar. Bulan sapar adalah bulan kedua dalam kalender Jawa. Artinya, tradisi ini dilaksanakan setiap hari Rabu akhir di bulan Sapar.

Hakikat ritual adalah menolak bala dan berharap keberkahan. Di berbagai belahan daerah, ritual “Rebo Pungkasan” atau “Rebo Wekasan” dilakukan dalam corak dan ciri yang berbeda-beda, meski memiliki hakikat dan makna serupa.

Godod Sutejo

Tradisi merti Bendung Kayangan tahun ini menjadi lebih istimewa, karena berlangsung dalam suasana pandemi Covid-19. Meski begitu, tidak menyurutkan partisipasi para pelukis Yogyakarta. Diprakarsai Koordinator Paguyuban Desa Budaya Menoreh, Godod Sutejo, sejumlah pelukis akan melukis bersama di acara tersebut.

“Sejak tahun 1990, kami para pelukis senantiasa nyengkuyung ritual budaya di Bendung Kayangan. Berhubung suasana Covid-19, para pelukis yang bergabung dalam kegiatan ‘melukis bersama’ di acara Kembul Sewu Dulur Saparan Rebo Pungkasan tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya,” ujar Godod.

Godod menegaskan, upacara tradisional “Kembul Sewu Dulur, Saparan Rebo Pungkasan” yang dilakukan setiap tahun di Bendung Kayangan Pendoworejo Kulonprogo, tahun ini tetap diselenggarakan meskipun pesertanya tidak sebanyak tahun-tahun sebelum pandemi.

Acara yang digelar Rabu 14 Oktober 2020 mulai jam 10.00 sampai jam 13.00 ini akan dihadiri Bupati Kulonprogo Drs. H. SUTEJO WIHARSO, Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Dinas Pariwisata, dan beberapa calon investor. Selain itu, sejumlah pelukis akan menyertai upacara dengan melukis on the spot.

Sejak 1990-an sejumlah seniman tak pernah absen mengikuti ritual unik ini. Awalnya hanya beberapa pelukis seperti Sutopo, Suyono dan lain-lain yang dikomandani Godod Sutejo. Tahun ini sederet pelukis ternama tak ketinggalan akan mengabadikan moment langka ini ke dalam kanvas-kanvas mereka dengan beragam gaya dan corak. Di masa pandemi ini peserta dibatasi, beberapa pelukis yang terpilih untuk melukis on the spot ini antara lain Ledek Sukadi, Totok Bukhori, Nanang Wijaya, Rakhmat Supriyono, Astuty Kusumo, Enggar Yuwono, Suyono, dan Kondang Sugito.

Dalam acara Saparan ini para pelaku spirutual akan memandikan kuda lumping di sungai Bendung Kayangan yang merupakan petilasan Brawijaya.

Menurut pengamatan Godod Sutejo yang aktif mengikuti acara ini sejak 1990, semenjak dilakukan ritual di Bendung Kayangan ini, masyarakat sekitar semakin makmur. Tidak hanya pertanian yang subur, namun daerah ini semakin ramai dikunjungi wisatawan. Wisata kuliner di daerah Pendoworejo ini pun kian merebak. Beberapa kafe dan warung eksotik yang selalu ramai dikunjungi tamu antara lain Kopi Ampirono, Kopi Ingkar Janji, Iwak Progo, Banyu Bening, dll.

Tahun-tahun terakhir, tidak hanya kuda lumping yang dimandikan di sungai keramat ini, namun ada bocah belasan tahun ikut dimandikan, hewan-hewan ternak dan bahkan ada yang ikut memandikan sepeda. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *