“Banjir Azwar AN” oleh Perupa Yogya

JAYAKARTA NEWS – Lebih 100 pelukis lintas aliran dan lintas generasi, membanjiri halaman Taman Budaya Yogyakarta, 31 Maret 2022 siang hingga sore ini. Mereka turut serta dalam hajat “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”. Acara yang didedikasikan untuk mengenang 100 hari wafatnya tokoh teater Yogyakarta itu.

“Semula kami hanya menargetkan 60 peserta. Secara kebetulan, ada yang mensponsori pengadaan 60 kanvas. Tapi ternyata antusiasme teman-teman pelukis Yogya begitu luar biasa, sehingga akhirnya kami tidak lagi membatasi. Kami mengapresiasi semangat teman-teman dalam memperingati 100 hari wafatnya guru kami, Azwar AN,” ujar Chamit Arang, koordinator event.

Hingga kemarin, 30 Maret 2022, sudah terdaftar 113 pelukis yang menyatakan ikut serta dalam kegiatan melukis on the spot, dengan tema lukisan “Sosok Bang Azwar AN”. “Sangat mungkin, jumlah peserta akan bertambah,” ujar Chamit.

Berikut ini adalah nama-nama pelukis terlibat dalam kegiatan melukis bersama “Sosok Bang Azwar AN”.

1. Ikhman Mudzakir
2. Barlin Srikaton
3. Mujiono
4. Dab Herry
5. Otok Bima Sidarta
6. Probo Wulandari
7. Beda Sudirman
8. Jedink Alexander
9. Yosefh Banyu
10. Noni Pratiwi
11. Tales Suparman
12. Joan Mirroe
13. Djumadi TVRI
14. Raden Raharjo
15. Retno Anjawati
16. Susyanto Mulyo
17. Rosalia Ratih
18. Picuk Siwi Asmara
19. Dn. Koestolo
20. Irma PR
21. Yaya Maria
22. Ratih Alsaira
23. Totok Buchori
24. Yusman
25. Tarman
26. Joko Wasis
27. Klowor Agus
28. Ledek Sukadi
29. Agung Manggis
30. Sulardi Wiyana
31. Liek Suyanto
32. Tertib Suratmo
33. Eddy Subroto
34. Tatang MP
35. Nonodiono W
36. Giri MC
37. Lukman
38. Wibowo
39. B’djo Ludiro
40. Ki Mujar Sangkerta
41. Sunardan Sadu
42. Ifat utuh
43. Anggiring Anggi
44. Yudi Sulistyo
45. Rizqi Zakki
46. Yamiek
47. Irwan Sukendra
48. Slamet Jumiarto
49. Nur Azizah
50. Boedex
51. Hajar Pamadhi
52. Sukoco Hayat DP
53. Watie Respatie
54. Bay Djuri
55. Djoko Sardjono
56. Kel. IKAISO
57. Kel. IKAISO
58. Kel. IKAISO
59. Kel. IKAISO
60. Kel. IKAISO
61. Ratnaning Wijayani
62. Joseph Wiyono
63. Nanang Widjaya
64. Teguh Eswe
65. Nuri Isnaeni
66. Daliya
67. Berlianingtyas AD
68. Wasis Subroto
69. Faisal Budiharso
70. Bowo Sru
71. Dewantara
72. Bambang Joni
73. Dgam Haryo
74. Ganung
75. Ashari
76. Herlina Tojo
77. Alfi Ardyanto
78. Idho
79. Sigit Sepur
80. Raka Wanena|
81. Njedit
82. Pak Yoyok
83. Tri Wahyono
84. Niluh Sudarti
85. Risdiyanto
86. Muhammad Shodiq
87. Endang Apriyanto
88. Sri Siswanti
89. Justina
90. Petrus
91. Edi Maesar
92. Kristina Koe
93. Padang Arofah
94. Risan Hadi
95. R Kirman
96. Anna
97. Agus Nuryanto
98. Noor Rakhmawati (Inung)
99. Andi Santa Jaya
100. Achmad Masih
101. Dodot
102. Sitopati
103. Agus Katro
104. Lio GV
105. Budi Utomo (Momi)
106. Maman Rahman
107. Edi Dwiyantoro
108. Biyan Subiyanto
109. Yoyok Suryo
110. Kartika Yunianto
111. Eli Petrus
112. Nadia Iskandar
113. Yulikodo

Para pelukis Yogyakarta umumnya mengenal Azwar AN dengan sangat baik. Kekerabatan serta kedekatannya dengan maestro pelukis batik Amri Yahya, menjadikan Azwar seniman teater yang juga dekat dengan dunia seni lukis. Pada tanggal 5 Desember 1979, Azwar AN turut membidani lahirnya Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO). (roso daras)

Merti Bendung Kayangan “Disengkuyung” Para Pelukis Yogya

Kembul Sewu Dulur Saparan Rebo Pungkasan

Jayakarta News – Pepatah Jawa menyebutkan “desa mawa cara negara mawa tata”. Peribahasa melukiskan dengan kalimat “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Artinya kurang lebih sama, masing-masing daerah memiliki adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda.

Yang ini tentang adat masyararakat Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ada ritual unik yang dinamakan “kembul sewu dulur”. Jika diartikan secara harfiah kembul artinya kumpul. Sewu artinya seribu. Dulur artinya saudara. Kumpul Seribu Saudara.

Inti dari Kembul Sewu Dulur adalah melakukan kegiatan bersama dengan orang-orang yang dianggap saudara sendiri. Budaya Kembul Sewu Dulur merupakan tradisi untuk memperingati Saparan Rebo Pungkasan. Sebuah tradisi yang dilakukan setiap bulan Sapar. Bulan sapar adalah bulan kedua dalam kalender Jawa. Artinya, tradisi ini dilaksanakan setiap hari Rabu akhir di bulan Sapar.

Hakikat ritual adalah menolak bala dan berharap keberkahan. Di berbagai belahan daerah, ritual “Rebo Pungkasan” atau “Rebo Wekasan” dilakukan dalam corak dan ciri yang berbeda-beda, meski memiliki hakikat dan makna serupa.

Godod Sutejo

Tradisi merti Bendung Kayangan tahun ini menjadi lebih istimewa, karena berlangsung dalam suasana pandemi Covid-19. Meski begitu, tidak menyurutkan partisipasi para pelukis Yogyakarta. Diprakarsai Koordinator Paguyuban Desa Budaya Menoreh, Godod Sutejo, sejumlah pelukis akan melukis bersama di acara tersebut.

“Sejak tahun 1990, kami para pelukis senantiasa nyengkuyung ritual budaya di Bendung Kayangan. Berhubung suasana Covid-19, para pelukis yang bergabung dalam kegiatan ‘melukis bersama’ di acara Kembul Sewu Dulur Saparan Rebo Pungkasan tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya,” ujar Godod.

Godod menegaskan, upacara tradisional “Kembul Sewu Dulur, Saparan Rebo Pungkasan” yang dilakukan setiap tahun di Bendung Kayangan Pendoworejo Kulonprogo, tahun ini tetap diselenggarakan meskipun pesertanya tidak sebanyak tahun-tahun sebelum pandemi.

Acara yang digelar Rabu 14 Oktober 2020 mulai jam 10.00 sampai jam 13.00 ini akan dihadiri Bupati Kulonprogo Drs. H. SUTEJO WIHARSO, Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Dinas Pariwisata, dan beberapa calon investor. Selain itu, sejumlah pelukis akan menyertai upacara dengan melukis on the spot.

Sejak 1990-an sejumlah seniman tak pernah absen mengikuti ritual unik ini. Awalnya hanya beberapa pelukis seperti Sutopo, Suyono dan lain-lain yang dikomandani Godod Sutejo. Tahun ini sederet pelukis ternama tak ketinggalan akan mengabadikan moment langka ini ke dalam kanvas-kanvas mereka dengan beragam gaya dan corak. Di masa pandemi ini peserta dibatasi, beberapa pelukis yang terpilih untuk melukis on the spot ini antara lain Ledek Sukadi, Totok Bukhori, Nanang Wijaya, Rakhmat Supriyono, Astuty Kusumo, Enggar Yuwono, Suyono, dan Kondang Sugito.

Dalam acara Saparan ini para pelaku spirutual akan memandikan kuda lumping di sungai Bendung Kayangan yang merupakan petilasan Brawijaya.

Menurut pengamatan Godod Sutejo yang aktif mengikuti acara ini sejak 1990, semenjak dilakukan ritual di Bendung Kayangan ini, masyarakat sekitar semakin makmur. Tidak hanya pertanian yang subur, namun daerah ini semakin ramai dikunjungi wisatawan. Wisata kuliner di daerah Pendoworejo ini pun kian merebak. Beberapa kafe dan warung eksotik yang selalu ramai dikunjungi tamu antara lain Kopi Ampirono, Kopi Ingkar Janji, Iwak Progo, Banyu Bening, dll.

Tahun-tahun terakhir, tidak hanya kuda lumping yang dimandikan di sungai keramat ini, namun ada bocah belasan tahun ikut dimandikan, hewan-hewan ternak dan bahkan ada yang ikut memandikan sepeda. (roso daras)