Connect with us

Kolom

Merawat Ingatan Bumi

Published

on

Perjalanan Panjang Konsep Geopark UNESCO dan Dua Belas Mahkota Geologi Indonesia

Oleh : Heri Mulyono

Di balik gunung yang meletus, fosil yang membatu, dan kawah yang berasam, tersimpan narasi paling purba di planet ini — kisah pembentukan bumi — yang kini dijaga oleh sebuah konsep bernama Geopark UNESCO.

Dari Dolomit ke Dunia: Kelahiran Sebuah Gagasan

Gagasan tentang geopark tidak lahir dari ruang konferensi yang dingin. Ia tumbuh dari kegelisahan para ilmuwan dan pelestari lingkungan di penghujung abad ke-20 yang menyaksikan betapa warisan geologi bumi — batuan berumur ratusan juta tahun, kaldera purba, dan formasi karst yang mengagumkan — perlahan terpinggirkan dari perhatian publik dan kebijakan pelestarian global.

Pada tahun 1991, di Digne-les-Bains, sebuah kota kecil di pegunungan Prancis selatan yang kaya akan fosil ikan laut purba berumur 300 juta tahun, sekelompok ilmuwan dari empat kawasan ikonik — Pegunungan Haute-Provence (Prancis), Majelis Petrified Forest (Yunani), Lembah Lesvos (Yunani), dan Pegunungan Gerolstein (Jerman) — menandatangani sebuah deklarasi. Deklarasi itu menegaskan bahwa warisan geologi adalah bagian tak terpisahkan dari warisan budaya umat manusia, dan karena itu wajib dilindungi sekaligus dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk pendidikan dan pembangunan ekonomi lokal.

Lahirlah European Geopark Network (EGN) pada tahun 2000, sebuah jaringan yang merangkul kawasan-kawasan bergeologi istimewa di seluruh Eropa. Hanya dua tahun berselang, UNESCO turut merangkul gerakan ini. Melalui program UNESCO Geoparks, badan PBB itu memberikan pengakuan internasional kepada kawasan-kawasan yang tidak sekadar indah, tetapi secara ilmiah bermakna bagi pemahaman sejarah bumi.

Momen paling bersejarah tiba pada Oktober 2015. Dalam Sidang Umum UNESCO di Paris, seluruh negara anggota secara aklamasi menetapkan UNESCO Global Geoparks sebagai label resmi dengan status setara program besar UNESCO lainnya seperti Warisan Dunia dan Cagar Biosfer. Sejak itu, geopark bukan sekadar istilah ilmiah — ia adalah pengakuan diplomatik tertinggi atas kekayaan geologi sebuah kawasan.

Apa Itu Geopark? Bukan Sekadar Taman Batu

Banyak orang mengira geopark hanyalah taman nasional dengan nama berbeda. Anggapan itu keliru. UNESCO Global Geopark (UGGp) adalah kawasan geografis tunggal yang terkelola secara terpadu, di mana situs dan bentang alam yang memiliki nilai geologi internasional dirawat dengan tiga pilar utama: perlindungan (protection), pendidikan (education), dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Berbeda dari kawasan konservasi konvensional yang cenderung membatasi akses manusia, geopark justru menempatkan manusia — terutama komunitas lokal — sebagai aktor utama pengelolaan. Masyarakat adat, petani, nelayan, pemandu wisata, hingga pengrajin lokal semuanya menjadi bagian dari ekosistem geopark. Mereka bukan penonton, melainkan pewaris aktif dari warisan bumi itu.

Syarat untuk mendapatkan status UGGp sangat ketat. Kawasan tersebut harus memiliki nilai geologi yang diakui secara internasional — entah dari sisi usia batuan yang langka, proses geomorfologi yang unik, atau rekaman peristiwa bumi yang belum ada duanya. Di atas fondasi geologi itu, kawasan juga wajib memperlihatkan keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya yang hidup, serta sistem pengelolaan yang terstruktur, inovatif, dan melibatkan masyarakat. Status ini bukan permanen. Setiap empat tahun, UNESCO melakukan evaluasi ulang. Kawasan yang gagal mempertahankan standar dapat dicabut pengakuannya — sebuah tekanan positif yang mendorong pengelolaan berkelanjutan.

Per April 2025, tercatat 229 UNESCO Global Geopark yang tersebar di 50 negara, dengan China sebagai pemegang terbanyak diikuti Eropa. Indonesia kini berdiri tegak sebagai salah satu kekuatan besar geopark dunia dengan 12 kawasan yang diakui.

Indonesia di Jalur Cincin Api: Laboratorium Geologi Alami

Tidak ada negara di dunia yang lebih ditakdirkan untuk menjadi kekuatan geopark selain Indonesia. Terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik besar — Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik — kepulauan Nusantara adalah laboratorium geologi paling dinamis di planet ini. Di sinilah gunung berapi terbentuk, punah, lalu aktif kembali. Di sinilah kerak samudra terangkat menjadi pegunungan. Di sinilah fosil tertua dan batuan paling purba tersimpan di bawah hutan tropis yang lebat.

Perjalanan Indonesia dalam dunia geopark dimulai pada 2012 — tepat satu tahun setelah konsep UGGp mulai menguat secara global. Sejak itu, secara bertahap, satu demi satu kawasan geologi luar biasa di nusantara mendapat pengakuan UNESCO. Puncaknya terjadi pada April 2025, ketika Sidang ke-221 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris resmi menetapkan Geopark Kebumen dan Geopark Meratus sebagai anggota baru, menggenapi daftar menjadi 12 geopark.

Dua Belas Mahkota: Geopark Indonesia dan Keunikannya

Geopark Batur, Bali (2012) — Geopark pertama Indonesia yang diakui UNESCO ini menampilkan keajaiban vulkanik paling ikonik di Pulau Dewata. Kawasan ini mencakup kaldera ganda Gunung Batur yang terbentuk dari dua letusan besar di masa prasejarah, dan di dalamnya bertakhta Danau Batur — danau kaldera terluas di Bali. Sebanyak 21 situs warisan geologi tersebar di wilayah Kintamani, masing-masing menyimpan catatan erupsi, aliran lava, dan pembentukan topografi yang berbeda-beda. Gunung Batur yang masih aktif hingga kini terus menghasilkan material vulkanik yang digunakan warga setempat untuk membangun rumah — sebuah simbol hidup dari harmoni manusia dan geologi.

Geopark Gunung Sewu, Yogyakarta-Jawa Tengah-Jawa Timur (2015) — Membentang di tiga provinsi dengan luas ribuan kilometer persegi, Gunung Sewu adalah salah satu kawasan karst tropis terbaik di dunia. Nama ‘sewu’ dalam bahasa Jawa berarti seribu — merujuk pada ribuan bukit kapur berbentuk kerucut yang muncul bagai lautan batu dari permukaan bumi. Proses karstifikasi selama jutaan tahun telah membentuk gua-gua bawah tanah, sungai bawah laut, dan lembah tersembunyi yang menjadi habitat fauna purba. Di sini pula ditemukan situs arkeologi penting yang menunjukkan jejak peradaban manusia prasejarah.

Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat (2018) — Di pesisir selatan Jawa Barat, sebuah amfiteater alam raksasa terbuka menghadap Samudra Hindia. Ciletuh adalah salah satu dari sedikit kawasan di Pulau Jawa yang memperlihatkan batuan berumur 65 juta tahun — peninggalan dari era kepunahan massal dinosaurus. Formasi batuan sedimen dan metamorf kuno ini tersingkap di sepanjang tebing dramatis yang diapit air terjun bertingkat dan teluk biru kehijauan. Kawasan ini memadukan warisan geologi dengan lanskap pesisir yang luar biasa cantik.

Geopark Rinjani-Lombok, Nusa Tenggara Barat (2018) — Gunung Rinjani, yang berdiri pada ketinggian 3.726 meter, adalah gunung berapi aktif kedua tertinggi di Indonesia dan ikon spiritual masyarakat Sasak dan Hindu Bali. Di dalam kaldera besarnya, bersemayam Danau Segara Anak dan gunung baru Gunung Barujari yang terus tumbuh. Geopark ini merangkum keanekaragaman luar biasa dalam satu kawasan: hutan hujan tropis, savana kering, padang edelweiss, hingga pantai berpasir putih — semuanya dirangkum dalam satu ekosistem yang terkoneksi secara geologis.

Geopark Kaldera Toba, Sumatra Utara (2020) — Danau Toba adalah bekas luka terbesar yang pernah ditinggalkan sebuah gunung berapi di muka bumi. Sekitar 74.000 tahun lalu, sebuah letusan supervolcano dengan skala Volcanic Explosivity Index 8 — skala tertinggi yang dikenal ilmu pengetahuan — melontarkan material setara ribuan kali lipat letusan Gunung Pinatubo. Peristiwa itu membentuk kaldera seluas 1.707 km² yang kini menjadi danau terbesar di Asia Tenggara. Di tengah danau berdiri Pulau Samosir, sebuah pulau dalam pulau yang menjadi jantung peradaban Batak. Geopark ini mengintegrasikan 16 geosite dengan kekayaan budaya Batak yang kaya — musik gondang, arsitektur rumah adat, dan tradisi tenunan ulos.

Geopark Belitong, Kepulauan Bangka Belitung (2021) — Pulau yang dipopulerkan novel Laskar Pelangi ini menyimpan geologi yang tak kalah dramatis dari kisahnya. Geopark Belitong didominasi oleh formasi granit raksasa berumur 208 juta tahun yang tersebar di sepanjang pantai — batuan tua yang terbentuk jauh sebelum dinosaurus berjalan di bumi. Formasi granit Tanjungpandan menjadi penanda geologi tertua di pulau ini, sedangkan pantai-pantai berpasir putih yang mengelilinginya menyimpan ekosistem laut yang kaya. Kekayaan timah yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi pulau ini juga merupakan warisan proses geologi yang sama.

Geopark Ijen, Jawa Timur (2023) — Kawah Ijen adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia tempat dua fenomena geologi langka hadir secara bersamaan: danau kawah berisi air asam sulfurik terbesar di dunia dengan volume 200 juta liter dan keasaman mendekati pH 0, serta fenomena blue fire — api biru yang muncul dari pembakaran gas belerang pada suhu ekstrem. Bagi para penambang belerang tradisional yang setiap dini hari menuruni tebing kawah, Ijen bukan hanya geologi — ia adalah kehidupan dan penghidupan. Geopark ini mencakup seluruh ekosistem vulkanik di ujung timur Jawa, termasuk Gunung Raung, Gunung Merapi Ijen, dan berbagai kaldera tersembunyi.

Geopark Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan (2023) — Di balik lembah karst yang dramatis di Sulawesi Selatan, tersimpan salah satu seni cadas tertua di dunia. Gua-gua di Maros-Pangkep menyimpan lukisan tangan dan figur babi rusa berumur lebih dari 45.000 tahun — menggeser status Eropa sebagai satu-satunya pusat seni purba manusia. Secara geologi, kawasan ini menampilkan tower karst Maros — menara-menara batu kapur dengan ketinggian hingga ratusan meter yang terbentuk selama puluhan juta tahun. Keunikan geopark ini terletak pada persilangan langka antara warisan geologi kelas dunia dan warisan arkeologi yang mengubah pemahaman tentang asal-usul seni manusia.

Geopark Merangin, Jambi (2023) — Di tepian Sungai Merangin yang mengalir deras di jantung Sumatra, tersimpan salah satu fosil flora paling signifikan yang pernah ditemukan di Asia Tenggara: jejak tumbuhan dari Periode Permian Awal, berumur sekitar 296 juta tahun — jauh sebelum dinosaurus, sebelum bunga pertama mekar, dan sebelum Pulau Sumatra terbentuk dalam wujudnya yang sekarang. Batuan tempatnya tersimpan merekam perubahan iklim global dan evolusi kehidupan tumbuhan di belahan bumi selatan. Geopark Merangin adalah arkip hidup dari era yang nyaris tak bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.

Geopark Raja Ampat, Papua Barat Daya (2023) — Raja Ampat dikenal sebagai surga penyelaman dunia, tetapi di bawah keindahan terumbu karangnya yang legendaris, tersimpan geologi yang jauh lebih tua dari semua itu. Di Pulau Misool, batuan berumur 439 hingga 360 juta tahun — dari era Silur hingga Devon — tersingkap ke permukaan, menjadi salah satu singkapan batuan tertua yang bisa dilihat langsung oleh manusia di permukaan bumi. Sejarah geologi Raja Ampat mewakili hampir sepersepuluh usia bumi itu sendiri. Di atas warisan geologi itu, ekosistem laut Raja Ampat menjadi habitat bagi lebih dari 75 persen spesies karang keras yang dikenal ilmu pengetahuan.

Geopark Kebumen, Jawa Tengah (2025) — Kawasan ini menyimpan geologi yang membuat para geolog tertegun: formasi batuan tertua di Pulau Jawa dengan usia lebih dari 120 juta tahun. Di Pantai Menganti dan sekitarnya, lapisan-lapisan bumi terbuka seperti halaman buku teks geologi raksasa. Geopark Kebumen mengelola 41 situs geologi, 8 situs biologi, dan 10 situs budaya — sebuah integrasi tiga dimensi warisan alam dan manusia yang mengesankan. Batuan ofiolit kuno yang ada di kawasan ini memberikan petunjuk berharga tentang proses tektonik purba yang membentuk Pulau Jawa.

Geopark Meratus, Kalimantan Selatan (2025) — Pegunungan Meratus adalah kisah tentang kekerasan geologi yang berubah menjadi keindahan. Jutaan tahun lalu, tabrakan dua lempeng benua mengangkat kerak samudra dari kedalaman 6.000 meter di bawah permukaan laut ke ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan bumi. Batuan ofiolit — fragmen lantai samudra kuno — kini dapat dijangkau oleh tangan manusia di lereng-lereng Meratus. Di atas geologi yang dramatis ini, hidup masyarakat adat Dayak Meratus yang telah memelihara hutan dan kearifan lokal mereka selama berabad-abad, menjadikan kawasan ini perpaduan sempurna antara geologi dan kebudayaan.

Geopark Sebagai Masa Depan

Dua belas geopark yang kini berdiri di bawah bendera UNESCO bukan sekadar daftar prestasi diplomatik. Mereka adalah komitmen — kepada sains, kepada masyarakat lokal, dan kepada generasi yang akan datang. Di dalamnya, seorang anak Batak yang tumbuh di tepi Danau Toba belajar bahwa tanahnya adalah bekas letusan terbesar dalam sejarah manusia. Seorang nelayan di Raja Ampat menyadari bahwa terumbu karang yang ia jaga adalah ekosistem paling kaya keanekaragaman hayati di bumi.

Geopark mengajarkan bahwa konservasi bukan tentang melarang, melainkan tentang memahami. Bahwa bumi memiliki cerita yang jauh lebih panjang dari sejarah manusia. Dan bahwa merawat warisan geologi adalah cara paling fundamental untuk merawat masa depan.

Indonesia, dengan 12 geopark yang tersebar dari Bali hingga Papua, dari Sumatra hingga Kalimantan, telah memilih untuk menjadi penjaga cerita bumi — bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh umat manusia. (*)

Referensi: UNESCO Global Geoparks Network (2025); Badan Geologi, Kementerian ESDM RI; Sidang ke-221 Dewan Eksekutif UNESCO, Paris, April 2025; Detik News, Kompas, CNN Indonesia, Indoraya News.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *