Kapolda Kepri Puji Muslimat NU dan Ubhara Jaya Inisiasi Deklarasi Tangkal Radikalisme

 Kapolda Kepri Puji Muslimat NU dan Ubhara Jaya Inisiasi Deklarasi Tangkal Radikalisme


KAPOLDA Kepulauan Riau (Kepri) Irjen Pol Drs Sam Budigusdian, MH, memuji Muslimat NU Kepri dan Univesitas Bhayangkara Jakarta Raya, yang menginisiasi “Deklarasi Penangkalan Radikalisme dan Terorisme”. Kemauan kalangan ibu-ibu dan kampus untuk mendukung Polri dalam mencegah dan memerangi radikalisme dan terorisme, perlu diapresiasi dan diikuti dengan langkah serupa di wilayah lain di tanah air.

Berbicara dalam Halaqoh Umaro dan Ulama yang bertema “Mencari Strategi Bersama Peningkatan Keamanan Daerah dalam Rangka Penangkalan Radikalisme dan Teroroisme”, Jumat (4/11/2017) di Asrama Haji Batam. Halaqoh itu diisi dengan ceramah yang disampaikan Kapolda Kepri, Kepala Puskamnas Ubhara Jaya Prof Hermawan Sulistyo, Ph.D, dan pengurus PWNU Kepri M Zainuddin, M.Sc. Setelah mendengarkan paparan mengenai radikalisme dan terorisme dari tiga nara sumber tersebut, kemudian ditutup dengan Deklarasi Penangkalan Radikalisme dan Terorisme. Deklarasi itu antara lain ditandatangani oleh Ketua Muslimat NU Kepri Hj. Noorjanah Gani Lasa, Djuni Thamrin (Ubhara Jaya), M . Zainuddin MSc, dan beberapa perwakilan Muslimat dari Kabupatan/Kota di Kepri.

Kapolda mengungkapkan, penangkalan radikalisme dan terorisme tidak bisa hanya dengan mengandalkan kepada Polri semata, tetapi juga memerlukan peran serta masyarakat seperti ibu-ibu dari Muslimat NU, dan kalangan kampus. “Kami sangat surprise, ternyata ibu-ibu di sini memiliki kepedulian yang baik terhadap masalah ini,” katanya.

Kepala Puskamnas Ubhara Jaya, Hermawan Sulistyo mengungkapkan untuk mencegah radikalisme dan terorisme memang membutuhkan peran dari keluarga, terutama ibu-ibu. “Ibu-ibu silahkan tidak peduli dengan bahaya radikalisme dan terorisme, jika tidak masalah akan kehilangan anak-anaknya, karena diajak berjuang oleh ISIS atau kelompok teroris lainnya. Tetapi, kalau ibu-ibu peduli dengan masa depan anak-anak, mari kita perangi radikalisme, kita mulai dari kepedulian kita di keluarga,” katanya.

Penyebaran paham radikalisme ini bahkan menyasar anak kyai di kalangan NU, yang anaknya telah dicuci otaknya. “Beberapa biulan anaknya yang kuliah di sebuah universitas di kawasan Jakarta Selatan menghilang, tiba-tiba ketika pulang mengkafirkan bapaknya, karena memeluk Islam sedari kecil,” kata peneliti yang biasa dipanggil Mas Kikiek itu.

Zainuddin mengungkapkan, radikalisme memang di antaranya memang menyasar kalangan kampus. Mereka menyebarkan takfiriyah/ “Sedikit-sedikit membid’ahkan orang lain. Sedikit-sedikit, karena pemahamannya mereka mengenai Islam memang sedikit. Jadi, kalau dibantah dengan dalil yang kuat, meraka pasti menyerah,” katanya.

Dosen sebuah perguruan tinggi di Batam itu mengungkapkan, untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme ke kampusnya, dia pun menempatkan kader NU yang “mumpuni” untuk menjadi imam di masjid kampus. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *