Empati dan Cemeti dari Pak Suryohadi

 Empati dan Cemeti dari Pak Suryohadi

Ketika seseorang telah kembali ke haribaan-Nya, tak ada yang bisa dikenang selain kebaikannya. Kalaupun mungkin ada ucapan atau tindakan yang membuat orang lain, baik keluarga, teman sejawat maupun komunitas lain tak berkenan atau bahkan sempat terluka, umumnya fitrah manusia akan melupakannya.

Apalagi jika kita sadari pula bahwa setiap insan tak luput dari salah dan khilaf. Setiap jiwa juga memiliki kebaikan dan kelebihan yang sering kali menakjubkan. Juga jasa-jasa  yang layak kita jadikan tatapan, bahkan inspirasi yang memacu semangat orang lain melakukan hal-hal yang dianggap baik bagi hidupnya, karirnya, pekerjaannya, dan kegiatan lain yang bermakna.

Kepergian Pak Suryohadi, Pemimpin Redaksi Harian Jayakarta (1989-1998),  meski kita tahu beliau sudah sepuh tetap saja mengagetkan. Saya pun terkejut ketika membuka ponsel di grup WA Jayakarta, ada lebih dari 50 pesan dalam  beberapa jam saja. Ada yang ulang tahun? Ada kabar baikkah atau sebaliknya?

Benar. Sinyal keterkejutan saya ternyata dalam satu frekuensi dengan teks pertama yang  saya baca di WAG. Berita duka; Bapak Suryohadi wafat di Gresik  pada 31 Desember 2022.

Kabar itu seketika mengingatkan saya ke tahun 1994. Kata-kata Pak Sur yang sederhana, biasa-biasa saja, di hari-hari berikutnya ternyata acap menjadi semacam bara semangat dalam pekerjaan saya. Sebagai jurnalis atau sebut saja penulis.

Hari itu saya datang ke kantor Jayakarta di Jalan Arus, Cawang, Jakarta Timur agak siang.  Baru sampai di ruang tamu dan bicara dengan petugas operator, tiba-tiba Pak Sur muncul dari ruang Redaksi. Beliau memberikan surat pemberitahuan dari PWI Pusat kepada saya sambil mengatakan;  Is, kamu dapat juara nih. Selamat ya, tapi gak tahu juara berapa itu.

Surat yang ditujukan kepada Pemimpin Redaksi itu adalah surat pemberitahuan sekaligus undangan bahwa wartawan Jayakarta yakni saya,  termasuk salah satu pemenang Lomba Penulisan Sinetron “Kesaksian” yang berkisah tentang Jogun Ianfu di masa penjajahan Jepang.

Sinetron yang dibintangi Yenny Rachman itu terdiri empat episode. Tertera pula dalam surat pemberitahuan itu tanggal dan jam penerimaan penghargaan/ hadiah di  di Gedung Bioskop 21 di Blok M Mall. Lomba penulisan sinetron yang tayang di SCTV itu memang merupakan kerjasama SCTV dan PWI Pusat.

Saya tentu saja senang mendapat kabar kemenangan tersebut meski belum tahu nomor ke berapa atau jangan-jangan juara harapan. Tapi saat itu lumayan juga kalau menjadi pemenang harapan, dapat Rp 500 ribu. Yang membuat rasa syukur saya bertambah adalah tulisan saya yang berjudul, “Saudara Tua, Kesaksian Ini untuk Anak Cucu Kita”, dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari wartawan/  penulis terkenal,  antara lain Rosihan Anwar.

Setelah masuk ke ruang kerjanya beberapa saat, Pak Sur keluar lagi dan mengatakan pada saya yang sedang bicara dengan teman atau petugas operator. “Nanti saya coba cari informasi, dapat juara berapa,“  ujar Pak Sur. Begitulah kurang lebih kata-kata Pak Sur yang bisa saya ingat, karena sudah hampir 30 tahun silam.

Lalu, sebelum masuk lagi ke ruang kerjanya, Pak Sur berkata cukup serius, Kalau dapat (juara) harapan, nanti saya tambah hadiahnya.

Bukan isi kalimat itu yang menambah ceriah hati saya, namun yang lebih mempesona adalah empati seketika yang beliau tunjukkan atas surat pemberitahuan dari PWI Pusat itu.  

Saya pun kemudian masuk ruang redaksi dan mulai mengerjakan tugas rutin. Mengedit beberapa naskah untuk edisi Jayakarta Minggu. Sekitar sejam kememudian Pak Sur memberitahu saya bahwa saya menjadi juara ketiga. Senang bukan main. Terbayanglah saya akan menerima hadiah Rp 2 juta untuk juara 3, seperti yang tercanang dalam pemberitaan sebelumnya, bahwa juara pertama dapat Rp 5 juta, juara 2 Rp 3 juta, dan ketiga Rp Rp 2 juta.

Namun yang lebih membuat saya senang dan tersanjung adalah respon Pak Sur atas kemenangan saya kala itu. Pak Sur tampaknya benar-benar senang anak buahnya dapat juara. Ke sanalah kemudian angan saya lebih menggeliat. Respon pimpinan itu selanjutnya menjadi cemeti bagi saya dalam menulis,  apalagi kompetisi-kompetisi penulisan, ternyata ada orang lain yang turut senang atas kesenangan kita. Empati itu bagi saya sungguh bermakna.

Mengingat semua itu, setelah Pak Suyohadi tiada, ada torehan penyesalan karena saya belum pernah mengutarakan  ucapan terima kasih atas respon dan perhatian beliau saat itu, yang kemudian acap meletupkan semangat. Dari sana pula saya belajar mengenal suatu pemahaman bahwa empati di saat yang tepat dan disampaikan natural ternyata sungguh bernilai.

Dan sebelumnya, tahun 1991 kenangan saya di Jayakarta yang terkait peran Pak Sur adalah ketika saya menulis resensi buku Cermin Diri karya Mien R. Uno, ibunda Sandiaga Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). Buku tersebut merupakan kumpulan artikel Mien Uno di pelbagai media, terutama majalah yang kontennya banyak menyoroti dunia wanita dengan segala intrik dan sosialitanya.

Karena buku itu pemberian Pak Sur, maka tulisan resensi atas buku tersebut saya berikan ke Pak Sur. Setelah dibaca, Pak Sur mengatakan, Is  tulisan ini saya muat di Suara Pembaruan. Sebagaimana kita tahu, Jayakarta waktu itu dalam satu payung  perusahaan atau anak perusahaan Grup SP.

Ya, tentu saja saya mengiyakan, bahkan senang juga. Dapat tambahan honor dari SP. Namun yang mengesankan adalah saya dapat faksimili dari Ibu Mien R. Uno, perempuan terkenal, beken di era 1980-an dan pimpinan sekolah kepribadian USA, John Robert Power Indonesia.

Ibu Mien Uno tidak hanya mengucapkan terimaksih atas resensi buku yang saya tulis, tapi cuatan kata-kata pujiannya membuat saya  merasa tersanjung, dan itu menambah rasa percaya diri saya untuk menulis , terutama resensi, baik resensi buku, sinetron maupun film. Dan buahnya memang saya petik di belakang hari.

Terima kasih pak Sur. Selamat jalan menuju taman indah nan abadi! (Iswati)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.