Mutiara Pancasila dalam Serpihan Tanah Surga

Catatan Iswati

Peringatan kelahiran Pancasila setiap 1 Juni tak semeriah hari ulang tahun (HUT) Kemerdekaan RI, 17 Agustus. Tak soal tentunya dengan seremonial HUT, asal kita sejenak mengenang dan terpekur mensyukuri  di hari yang bersejarah itu. Mengetahui proses kelahirannya yang kemudian menjadi dasar negara.

Butir-butir isinya boleh kita pandang sebagai ”mutiara ideologi bangsa”, melampaui ideologi lain di jagat buana. Ini bukan karena infeksi eksepsionalisme, namun rangkuman sila-silanya memang pengejahwantahan esensi fitrah anak manusia yang selalu rindu akan hidup yang damai dan sejahtera.

Pancasila tidak semata hasil buah pikiran, saringan budi luhur peradaban yang digali dari bumi Nusantara, tapi perwujudannya juga terinspirasi lewat bersitan nurani, gerak hati, atau suara-suara halus dalam renungan panjang seorang Sukarno.

Setting waktunya di era perjuangan dulu,  ketika Indonesia belum merdeka. Namun ikhwal dasar negara telah mengaduk-aduk pikiran Sukarno. Bukan hanya di masa pembuangannya di Ende – di bawah pohon sukun- melainkan jauh sebelum itu tatkala cita-cita Indonesia merdeka menggedor-gedor jiwa mudanya. Ketika pergulatan intelektualnya telah mengenal ”isme-isme” dan terolah dalam konseptualnya yang senantiasa berpijak pada nilai-nilai kesejatian bangsa.

Adalah hal lumrah tentunya jika kali ini peringatan hari lahirnya Pancasila kita rayakan dengan penuh rasa syukur. Karena keberadaannya kian tampak seperti pilar penyangga yang kokoh menopang payung besar yang bernama Indonesia. Nilai-nilai ajarannya menjadi pedoman arah hidup bagi segenap anak bangsa. Dan hingga kini pula seperti mantera ampuh dan jadi pandangan hidup kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila adalah dasar filsafat negara, ideologi, pandangan hidup, kepribadian, dan jiwa bangsa Indonesia. Dan hakikat atau inti ajaran Pancasila adalah ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. (Sunoto, Mengenal Filsafat Pancasila-Pendekatan Melalui Etika Pancasila, Hanindita Yogyakarta,1986 )

Aman-aman Saja

Tengok sejenak beberapa bulan silam. Pemilu Legislatif dan Pilpres 14 Februari tahun 2024 ini bisa dibilang aman-aman saja. Sebelum dan sesudah pencoblosan, aktivitas masyarakat berlangsung seperti sediakala. Biasa-biasa saja. Pasar tetap ramai, pertokoan pun sama. Kegiatan sekolah tak terganggu. Begitu pun perkantoran, kesibukan karyawan tak berubah, dan pabrik-pabrik pun tetap beroperasi.

Keamanan secara nasional cukup kondusif. Kalau pun ada riak-riak protes di beberapa TPS tak menimbulkan keributan, apalagi dibilang kerusuhan yang menimbulkan hati miris atau ketakutan. Sungguh,  itu tiada ! Habis nyoblos kita bisa ngopi-ngopi pinggir jalan, atau makan dimanapun kita suka.

Gawe nasional itu sukses. Dalam arti keamanan masyarakat tetap terjamin. Di sini saya tidak menyoroti nilai demokrasi yang konon, sesuai pemberitaan yang tercanang, ternodai karena adanya intervensi aparat dan pihak yang berkuasa. Namun di sinilah justru fokus saya, bagaimana pun proses yang berlangsung dan kurang memuaskan bagi pihak  tertentu, tapi situasinya baik-baik saja.

Pasangan calon yang unggul segera diketahui lewat hitung cepat, yakni nomor urut 2, Prabowo Subiyanto dan Gibran Rakabuming Raka dengan perolehan suara lebih dari 58,582 %, lalu disusul Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar sekitar 24,95 %, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD 16,47 %.

Eloknya, yang tereliminasi dan pendukungnya seperti bersikap nrimo (menerima), meski belum tampak aura legowonya. Jalur hukum ditempuhnya lewat Mahkamah Kontitusi terkait temuan-temuan pelanggaran yang dilakukan pemenang yang  dihimpun penggugat. Namun putusan MK tak menggugurkan sang pemenang. Sehingga KPU pun segera mengesahkan keputusannya bahwa Prabowo Subiyanto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029.

Sungguh itu hajatan demokrasi besar yang damai ! Meski riuh dan hingar-bingar, tapi tak menyulut konflik dari kubu yang tersisih. Karena kita mengedepankan kerukunan. Persatuan ! Butir ketiga Pancasila itu benar-benar telah menjiwai dan diterapkan.

Nilai persatuan ini telah diteladankan para tokoh bangsa. Bung Karno, Presiden pertama dalam suatu pidatonya pernah mengatakan; Tetaplah bersatu padu membangun negeri ini tanpa pertumpahan darah.

Di kala posisinya dalam kemelut pun, di akhir kekuasaannya, pidatonya masih menggemakan wejangan yang menunjukkan betapa besar cintanya pada rakyatnya, ”Hei anakku…., simpan segala yang kau tahu. Jangan ceritakan berita sakitku kepada rakyat. Biarkan aku jadi korban asal rakyat tetap bersatu.”

Gus Dur, Presiden RI ke-4  pun bersikap  serupa. Saat dilengserkan, ia tampak legowo meski para pendukung dan simpatisannya siap “membentengi istana”. Ia lebih mementingkan keselamatan rakyat dan perdamaian ketimbang mempertahankan kekuasaan.  

Sebagai anak bangsa sewajarnya kita bersyukur, dan bangga atas mantra Pancasila. Dan kebanggaan saya kali ini tersorong pula kata-kata Coach Timo, bule Jerman yang tampak begitu menganggumi Pancasila. Di YouTube lewat chanel Uncak TV Kapuas Hulu, Timo maupun kakaknya sama-sama mengagumi Pancasila. “Luar biasa Pancasila ini”,  katanya.  

Seorang remaja asal Malaysia, Dharsine Suresh Kumar yang pernah kuliah di Universitas Udayana, Bali, dalam suatu diskusi tahun 2020 lalu yang diunggah di YouTube, juga menyatakan kekagumannya.

Ia kagum atas kepercayaan masyarakat Indonesia khususnya anak muda terhadap Pancasila. Hidup mereka berlandaskan Pancasila, the way of life, kata Dharsine yang ketika itu sebagai   ahli majelis tertinggi persatuan kebangsaan pelajar Malaysia di Indonesia.

Ia amati pula, orangtua di Indonesia mengajarkan Pancasila sebelum anak bersekolah. Sementara Rukun Negara, atau dasar negaranya hanya terdapat di kulit buku. Karena itu ia ingin Rukun Negara itu dipahamkan kepada anak-anak khususnya generasi muda Malaysia agar mengerti dan menerapkan isi Rukun Negara yang terdiri lima baris.

Sementara dalam pandangan Timo, yang membuat Indonesia spesial adalah  kemajemukannya. Penyatuan dari begitu banyak bahasa, suku, agama. Itu yang membuat Indoesia spesial. Dan itu harus dijaga, harapnya pula.

Yang dimaksud tentu penjagaan atas penerapan sila-silanya dalam kehidupan, dan hal itu tidak akan datang dengan sendirinya. Harus di-push, katanya. Sebagaimana teknologi, juga tidak datang dengan sendirinya. Menyitir perkataan Elon Musk, teknologi itu tidak datang dengan sendirinya, harus di-push.

Sudah kodratinya tentu, tanah air kita yang terdiri lebih dari 17 ribu pulau memiliki keberagaman suku, bahasa dan agama dengan adat istiadat yang berbeda pula. Menurut data BPS tahun 2010, Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, sekitar 1.340 suku bangsa. Sementara berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terdapat 718 bahasa yang tersebar di tanah air. Agama yang diakui ada 6; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu.

Bule Jerman itu juga memuji pilihan kata dalam sila-sila Pancasila yang dinilainya bagus.  Termasuk runut  sila-silanya. Nilai rasa bahasanya dipahami apik, seakan itu bahasa ibunya. Inilah Analisa pandangannya.

  1. Ketuhanan Yang Mahaesa. Kenapa ini di awal ? Karena Tuhan itu dasar dari segalanya. Dasar dari moralitas, dasar dari tujuan hidup. Apa artinya hidup ini kalau tidak bertuhan.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.  Manusia kalau mau adil dan beradab harus percaya pada Tuhan. Makanya kemanusiaan itu harus dekat dengan Tuhan. Supaya bisa adil dan beradab harus dekat dengan Tuhan. Kalau merasa dekat dengan Tuhan tapi tidak adil dan tidak beradab, (pasti) ada yang salah.
  3. Persatuan Indonesia. Kalau tidak adil dan beradab, sulit menyatukan kepentingan masing-masing agama, suku, bahasa yang begitu banyak di Indonesia. Kalau tidak ada persatuan Indonesia,  tidak ada Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Ini tentang demokrasi ala Indonesia yang tidak mengesampingkan nilai-nilai leluhurnya.

Menurutnya, leluhur Indonesia itu welcome pada semua bangsa. Monggo, silakan datang tapi jangan sampai mengganggu. Kesimpulannya, ujar Timo, sebenarnya hanya ada dua (tipe) orang  di Indonesia. Pertama, orang-orang yang membantu Indonesia, membangun (Indonesia), dan kedua, orang-orang yang merusak Indonesia, mengganggu Indonesia.

  • Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kenapa ditaruh di posisi kelima, karena ini tujuan dari berbangsa dan bertanah air, supaya kita merasa keadilan sosial yang merata. Itulah tujuan dari adanya Indonesia.

Tanah Surga

Dua tipe orang di Indonesia yang dimaksud Timo,  khususnya yang merusak, inilah yang  ingin kita tahu. Karena negeri yang subur, kekayaan laut melimpah, tambang nikel terbaik, serta emas yang menggunung, namun masih banyak rakyatnya yang miskin.

Kelompok yang merusak Indonesia, yang paling tampak di permukaan/pemberitaan adalah para penjarah negeri atau koruptor. Narasi ini tersirat dalam lagu lama, Balada Sekeping Taman Surga yang dinyanyikan Bimbo.

Sekeping taman surga yang dimaksud tentu tanah air Indonesia ini. Ada pula yang menyebutnya serpihan tanah surga, karena pelbagai kekayaan bumi dan lautnya dan hamparan kenikmatan lain yang tak ada di belahan bumi lain, seperti cahaya matahari yang menerangi  saban hari.

Inilah petikan syair Balada Sekeping Taman Surga:

/Pesona hamparan penuh warna/ Indahnya tiada terkira/

/Bukit, lembah, sungai, dan lautan/ Bagai untaian permata,

hingga mereka menyebutnya sekeping taman surga/

 ………

 Namun pada bait selanjutnya, realitasnya juga mirip fenomena Indonesia kini;

/Sekeping taman surga telah berubah menjadi neraka dunia/

/Banyak anak bangsa menjadi durhaka/ Menjarah segalanya

/Bumi pun telah hilang barokahnya/

/Bahkan membunuh masa depannya, dirinya,

anaknya, dan bangsanya/…

Jika lagu lama tersebut adalah suara-suara nyata zaman kini, dimana laju dan cara korupsi kian tak terbendung dan disebut makin ugal-ugalan, kiranya butir-butir Pancasila yang indah dan bermakna itu sangat tak dihiraukan. Telah membutakan mata hatinya, lalu menjarah negerinya, sehingga membunuh masa depan dirinya dan membunuh masa depan bangsanya. (*)

*) Iswati, jurnalis senior, peraih Adinegoro 2018

Empati dan Cemeti dari Pak Suryohadi

Ketika seseorang telah kembali ke haribaan-Nya, tak ada yang bisa dikenang selain kebaikannya. Kalaupun mungkin ada ucapan atau tindakan yang membuat orang lain, baik keluarga, teman sejawat maupun komunitas lain tak berkenan atau bahkan sempat terluka, umumnya fitrah manusia akan melupakannya.

Apalagi jika kita sadari pula bahwa setiap insan tak luput dari salah dan khilaf. Setiap jiwa juga memiliki kebaikan dan kelebihan yang sering kali menakjubkan. Juga jasa-jasa  yang layak kita jadikan tatapan, bahkan inspirasi yang memacu semangat orang lain melakukan hal-hal yang dianggap baik bagi hidupnya, karirnya, pekerjaannya, dan kegiatan lain yang bermakna.

Kepergian Pak Suryohadi, Pemimpin Redaksi Harian Jayakarta (1989-1998),  meski kita tahu beliau sudah sepuh tetap saja mengagetkan. Saya pun terkejut ketika membuka ponsel di grup WA Jayakarta, ada lebih dari 50 pesan dalam  beberapa jam saja. Ada yang ulang tahun? Ada kabar baikkah atau sebaliknya?

Benar. Sinyal keterkejutan saya ternyata dalam satu frekuensi dengan teks pertama yang  saya baca di WAG. Berita duka; Bapak Suryohadi wafat di Gresik  pada 31 Desember 2022.

Kabar itu seketika mengingatkan saya ke tahun 1994. Kata-kata Pak Sur yang sederhana, biasa-biasa saja, di hari-hari berikutnya ternyata acap menjadi semacam bara semangat dalam pekerjaan saya. Sebagai jurnalis atau sebut saja penulis.

Hari itu saya datang ke kantor Jayakarta di Jalan Arus, Cawang, Jakarta Timur agak siang.  Baru sampai di ruang tamu dan bicara dengan petugas operator, tiba-tiba Pak Sur muncul dari ruang Redaksi. Beliau memberikan surat pemberitahuan dari PWI Pusat kepada saya sambil mengatakan;  Is, kamu dapat juara nih. Selamat ya, tapi gak tahu juara berapa itu.

Surat yang ditujukan kepada Pemimpin Redaksi itu adalah surat pemberitahuan sekaligus undangan bahwa wartawan Jayakarta yakni saya,  termasuk salah satu pemenang Lomba Penulisan Sinetron “Kesaksian” yang berkisah tentang Jogun Ianfu di masa penjajahan Jepang.

Sinetron yang dibintangi Yenny Rachman itu terdiri empat episode. Tertera pula dalam surat pemberitahuan itu tanggal dan jam penerimaan penghargaan/ hadiah di  di Gedung Bioskop 21 di Blok M Mall. Lomba penulisan sinetron yang tayang di SCTV itu memang merupakan kerjasama SCTV dan PWI Pusat.

Saya tentu saja senang mendapat kabar kemenangan tersebut meski belum tahu nomor ke berapa atau jangan-jangan juara harapan. Tapi saat itu lumayan juga kalau menjadi pemenang harapan, dapat Rp 500 ribu. Yang membuat rasa syukur saya bertambah adalah tulisan saya yang berjudul, “Saudara Tua, Kesaksian Ini untuk Anak Cucu Kita”, dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari wartawan/  penulis terkenal,  antara lain Rosihan Anwar.

Setelah masuk ke ruang kerjanya beberapa saat, Pak Sur keluar lagi dan mengatakan pada saya yang sedang bicara dengan teman atau petugas operator. “Nanti saya coba cari informasi, dapat juara berapa,“  ujar Pak Sur. Begitulah kurang lebih kata-kata Pak Sur yang bisa saya ingat, karena sudah hampir 30 tahun silam.

Lalu, sebelum masuk lagi ke ruang kerjanya, Pak Sur berkata cukup serius, Kalau dapat (juara) harapan, nanti saya tambah hadiahnya.

Bukan isi kalimat itu yang menambah ceriah hati saya, namun yang lebih mempesona adalah empati seketika yang beliau tunjukkan atas surat pemberitahuan dari PWI Pusat itu.  

Saya pun kemudian masuk ruang redaksi dan mulai mengerjakan tugas rutin. Mengedit beberapa naskah untuk edisi Jayakarta Minggu. Sekitar sejam kememudian Pak Sur memberitahu saya bahwa saya menjadi juara ketiga. Senang bukan main. Terbayanglah saya akan menerima hadiah Rp 2 juta untuk juara 3, seperti yang tercanang dalam pemberitaan sebelumnya, bahwa juara pertama dapat Rp 5 juta, juara 2 Rp 3 juta, dan ketiga Rp Rp 2 juta.

Namun yang lebih membuat saya senang dan tersanjung adalah respon Pak Sur atas kemenangan saya kala itu. Pak Sur tampaknya benar-benar senang anak buahnya dapat juara. Ke sanalah kemudian angan saya lebih menggeliat. Respon pimpinan itu selanjutnya menjadi cemeti bagi saya dalam menulis,  apalagi kompetisi-kompetisi penulisan, ternyata ada orang lain yang turut senang atas kesenangan kita. Empati itu bagi saya sungguh bermakna.

Mengingat semua itu, setelah Pak Suyohadi tiada, ada torehan penyesalan karena saya belum pernah mengutarakan  ucapan terima kasih atas respon dan perhatian beliau saat itu, yang kemudian acap meletupkan semangat. Dari sana pula saya belajar mengenal suatu pemahaman bahwa empati di saat yang tepat dan disampaikan natural ternyata sungguh bernilai.

Dan sebelumnya, tahun 1991 kenangan saya di Jayakarta yang terkait peran Pak Sur adalah ketika saya menulis resensi buku Cermin Diri karya Mien R. Uno, ibunda Sandiaga Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). Buku tersebut merupakan kumpulan artikel Mien Uno di pelbagai media, terutama majalah yang kontennya banyak menyoroti dunia wanita dengan segala intrik dan sosialitanya.

Karena buku itu pemberian Pak Sur, maka tulisan resensi atas buku tersebut saya berikan ke Pak Sur. Setelah dibaca, Pak Sur mengatakan, Is  tulisan ini saya muat di Suara Pembaruan. Sebagaimana kita tahu, Jayakarta waktu itu dalam satu payung  perusahaan atau anak perusahaan Grup SP.

Ya, tentu saja saya mengiyakan, bahkan senang juga. Dapat tambahan honor dari SP. Namun yang mengesankan adalah saya dapat faksimili dari Ibu Mien R. Uno, perempuan terkenal, beken di era 1980-an dan pimpinan sekolah kepribadian USA, John Robert Power Indonesia.

Ibu Mien Uno tidak hanya mengucapkan terimaksih atas resensi buku yang saya tulis, tapi cuatan kata-kata pujiannya membuat saya  merasa tersanjung, dan itu menambah rasa percaya diri saya untuk menulis , terutama resensi, baik resensi buku, sinetron maupun film. Dan buahnya memang saya petik di belakang hari.

Terima kasih pak Sur. Selamat jalan menuju taman indah nan abadi! (Iswati)

Kuantar Sampai Liang Lahat

Kematian adalah peristiwa biasa di muka bumi. Namun bagi keluarga terdekat seperti tragedi besar. Tentu hal ini dialami banyak orang  yang apabila salah satu anggota keluarganya wafat, pasti berduka. Meski kematiannya wajar karena sakit. Bukan akibat bencana, kecelakaan, ataupun tindak kejahatan.

Lewat apa pun kepergian insan ke alam malakut, tampaknya selalu ada rentetan kejadian yang mengiringinya. Dan seringkali tak disadari tanda-tandanya, kendati bersitan di hati kadang nyata.  Sehingga meninggalkan pilu, sesal, dan tentu deraian air mata. Begitupun yang saya alami hampir setahun silam.

Saya ingin menuangkan pengalaman di hari-hari yang terasa panjang setelah kematian suami. Dan tentu berharap ada hikmah di kemudian hari. Saya seperti terpenjara oleh perasaan diri sendiri.  Penjara duka yang sempat membelenggu keseharianku. Saat itu pula terdorong keinginan menulis, untuk menghibur diri, tapi tak mampu. Dan hari ini baru bisa menuangkannya.

Ketika sedang mengalaminya, serasa mimpi, padahal nyata. Yang hidup akhirnya fana, dan fana itu nyata. Jasad itu diam, tak bergerak. Dan abadi. Padahal empat hari sebelumnya masih bercanda-ria dan membuatku terpingkal-pingkal. Beberapa jam lalu juga masih minta minum dan mengunyah buah segar.

Mengingat semua itu semakin menikamkan luka. Dan anehnya di saat demikian, segala yang jauh  berlalu datang membayang. Kembara pikiran jadi liar, dan segala rasa teraduk-aduk dalam emosi  yang seakan menggali duka kian dalam.

Ketika menuju rumah sakit, kakinya di pangkuanku. Dia duduk  selonjor menyita jok tengah dengan punggung bersandar di dinding mobil. Dan ketika kembali ke rumah, aku harus membiarkan dia di belakangku. Terbujur kaku di dalam keranda. Sementara aku duduk di samping sopir. Tak ada yang lain lagi di ambulan itu.

Sesekali aku menoleh ke belakang. Ke keranda bertudungkan kain warna hijau itu. Tanpa tetesan air mata. Apalagi sesenggukan. Aku seperti perempuan yang tegar, kendati bayangan saat berangkat ke rumah sakit silih berganti dengan kondisi saat itu,  dengan jasad di belakangku.

Tiba di rumah, para tetangga sudah menyiapkan semuanya. Jenazah segera dimandikan. Keluarga dekat diminta pak ustadz untuk menyiramkan air bunga.  Itulah terakhir kali aku melihat wajah dan badan wadag suamiku. Ruhnya entah dimana. Terasa masih dekat denganku. Masih di rumah.

Beberapa hari aku merasakan ia tak kemana-mana. Kendati kusaksikan dengan mata kepala bahwa badan wadag yang terbungkus kafan itu dimasukkan ke liang lahat lalu diurug tanah pekuburan, ditaburi aneka bunga. Batu nisan bertuliskan hari kelahiran dan kematiannya terpasang pula.

Membaca nisan itu, lagi-lagi perasaanku seperti mimpi. Manusia, kalau sudah sampai azalnya, kemana pula harus pergi, kalau bukan kembali ke asal. Jasad masuk tanah, dan ruh sesuai keyakinan dan pengetahuan kita yang sedikit ini kembali ke alam kelanggengan. Ke jagat nan abadi.

“Sabar ya. Tabah! Semua akan mengalami,“  Ini kata-kata yang  berseliweran, diucapkan keluarga yang datang, juga para tetangga dan handai tolan.

Ya, itu ucapan klise dan menjadi semacam ritual rutin bagi orang-orang yang takziah. Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, kata-kata penghiburan itu menjadi sangat bertuah, serupa doa yang membesarkan jiwa.

Aku baru bisa menangis saat pembacaan doa dalam tahlilan selepas maghrib. Seperti disadarkan kembali bahwa dia sudah tiada. Dalam doa bersama itu, dia sudah disebut/dipanggil arwahnya saja, ruhil ahlil kubur. 

Keesokan hari, hingga beberapa hari ke depan, kondisiku seperti rapuh. Tak ada selera makan, pun tak ada rasa lapar. Anak-anak dan keluargalah yang selalu mengingatkan. Juga teman-teman kendati lewat pesan singkat.

Berdialog dengan “kata kematian” merupakan keasyikan tersendiri saat itu, meskipun dalam rasa duka yang dalam. Ikhlas dan sabar, adalah bahasa doa yang selalu kupanjatkan. Dan tentu istigfar, mohon ampun pada Illahi atas kesalahan almarhum dan juga keluarga yang ditinggalkan.

Aku menjadi ingin tahu perasaan ibu-ibu dan saudara dan siapapun yang telah ditinggalkan  oleh pasangannya. “Memang begitu, tak mudah melupakan. Hanya waktu yang akan mengobati.” Itulah jawaban yang sering terlontar.

Dalam istilah Jawa, istri/suami disebut garwa. Akronem dari sigarane nyawa. Belahan jiwa. Seperti dalam lagu, separuh jiwaku pergi menghadapi kematian itu. Ya, terasa ikut melayang. Tak kubayangkan aku akan jatuh dalam kepedihan yang dalam.

Selama ini aku menganggap kematian itu keniscayaan. Kepastian. Siapa pun akan mengalami. Jika tak mau ditinggalkan, tentunya meninggal terlebih dulu. Namun tak kusangka, bahwa kepedihan itu langsung bersarang dan menghujam di kalbu. Ibarat elang, sayap-sayapku patah. Terasa rapuh benar ketika itu. Hanya harapan yang terus kupupuk, kugantang dan kupatri dalam pikiranku bahwa aku akan baik-baik saja. Tuhan akan mencabut dukacita ini.

Benar. Seiring pergantian siang dan malam, pekan demi pekan berulang dan bulan pun berubah, kesedihan itu menghilang. Sabar dan ikhlas bak khasanah kata yang serasa bisa ter-update setelah berhari-hari dalam pagutan duka. Bahkan terbitnya fajar dan corat-coret arunika di langit Timur seperti membawa harapan baru dan semangat baru. (iswati)