Kesehatan
BRIN Kembangkan Terapi Kanker Payudara dari Kulit Manggis
JAYAKARTA NEWS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan terapi kanker payudara dari senyawa turunan alfa mangostin berasal dari kulit buah manggis, yang disebut dengan AMB10.
“Kami melihat bahwa AMB10 memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai radiofarmaka teranostik, yaitu senyawa yang dapat digunakan sekaligus untuk mendeteksi dan mengobati kanker payudara yang bergantung pada reseptor estrogen (ERα-positif),” ungkap Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB), BRIN Isti Daruwati dikutip Jumat (23/1/2026).
Isti menyebutkan, sekitar 75 persen penderita kanker payudara memiliki jenis kanker yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon estrogen.
“Pada kanker jenis ini, sel kanker memiliki reseptor estrogen (ER+) yang merupakan tempat hormon estrogen menempel dan merangsang pertumbuhan sel kanker,” jelas Isti.
Oleh karena itu, lanjut Isti, dibutuhkan terapi seperti tamoksifen yang termasuk golongan selective estrogen receptor modulators (SERMs), yang dapat menghalangi estrogen menempel pada reseptor di jaringan payudara, sehingga pertumbuhan sel kanker dapat ditekan dan diperlambat.
Berdasarkan hasil pengujian tersebut, AMB10 telah disintesis di Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan dipilih untuk diteliti lebih lanjut sebagai kandidat radiofarmaka baru untuk teranostik kanker payudara.
“Senyawa yang merupakan turunan alfa-mangostin ini diberi label radioaktif menggunakan iodin-131 (I-131) yang diperoleh dari Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy, kemudian diiodinasi melalui oksidasi kloramin-T, sehingga menghasilkan kemurnian radiokimia yang tinggi,” terang Isti.
Menurut Isti, saat diuji di laboratorium pada sel kanker payudara, senyawa ini banyak masuk dan terakumulasi di sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen positif.
“Setelah melalui berbagai pengujian dan karakterisasi sifat fisikokimia serta studi komputasi, hasilnya menunjukkan bahwa senyawa tersebut cenderung mengenali dan berikatan secara khusus dengan sel kanker yang memiliki reseptor estrogen,” jelas Isti.
Berdasarkan data The Global Cancer Observatory (GCO), pada 2022 kanker payudara menempati urutan pertama sebagai jumlah kasus terbanyak di Indonesia, yakni 66.271 kasus, serta menjadi penyumbang kematian ketiga akibat kanker. (yog)
